Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Dengan gerakan yang sangat protektif, Alex menarik kursi dan mempersilakan Ayu duduk. "Terima kasih," ucap Ayu pelan. "Sama-sama, baby," balas Alex disertai senyum manis yang menghiasi wajahnya.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawakan menu. "Kau ingin makan apa, sayang?" tanya Alex lembut. "Spageti bolognese saja," jawab Ayu singkat.
Alex sedikit mengerutkan kening. "Apa kau sedang sakit? Kenapa cuma pesan satu macam?" Ayu menggeleng lemah. "Tidak, aku hanya sedang tidak terlalu lapar." "Baiklah kalau begitu." Alex beralih pada pelayan. "Tolong pesankan ini, dan ini. Tambahkan juga salad sayur."
Setelah mencatat pesanan, pelayan itu berbalik untuk kembali ke dapur. Namun, sebuah tabrakan kecil tak terhindarkan. Pelayan itu hampir limbung saat menabrak sosok pria yang baru saja melangkah masuk dengan aura yang begitu dominan.
"Maafkan saya!" seru si pelayan panik. "Tidak apa-apa," jawab sebuah suara bariton yang berat dan sangat familiar.
Alex, yang duduk tak jauh dari sana, langsung mendongak. Matanya berbinar mengenali sosok itu. "Mr. Arga?"
Tubuh Ayu seketika membeku. Darahnya seolah berhenti mengalir mendengar nama itu disebut. Dengan gerakan kaku, ia memberanikan diri menoleh. Di sana, Arga sedang berdiri tegak, membantu pelayan itu merapikan nampannya dengan sikap yang tampak sangat sopan. Namun, bagi Ayu, kehadiran Arga di sana terasa seperti malaikat maut yang sedang mengetuk pintu.
Tubuh Ayu mulai bergetar hebat. Kenangan-kenangan lima tahun lalu mendadak berputar seperti film rusak di kepalanya.
"Oh, Mr. Alex. Anda di sini juga?" sahut Arga, pura-pura terkejut. Langkahnya mendekat, setiap ketukan sepatunya di lantai restoran terdengar seperti lonceng kematian bagi Ayu.
"Ya! Saya sedang makan malam bersama calon istri saya," jawab Alex bangga sembari merangkul bahu Ayu, menariknya mendekat.
Rahang Arga mengeras seketika. Sorot matanya yang semula tenang, mendadak berkilat penuh amarah yang disembunyikan dengan rapi. Ia menatap langsung ke arah Ayu,menatap wanita yang kini tampak pucat pasi dan panik karena kehadirannya yang tiba-tiba.
"Oh... jadi dia tunangan yang Anda ceritakan tempo hari?" tanya Arga dengan nada rendah yang bergetar. Matanya setajam pisau, menguliti setiap inci wajah Ayu meski ia tetap memasang senyum tipis di depan Alex.
"Ya. Cantik, bukan?" tanya Alex tanpa menyadari badai yang sedang berkecamuk.
Arga tidak melepaskan pandangannya dari mata Ayu yang berair. "Sangat cantik," desisnya. "Bahkan jauh lebih cantik dari terakhir kali aku melihatnya."
"Bergabunglah bersama kami di sini, Mr. Arga," ajak Alex dengan nada ramah, tanpa menyadari bahwa ia baru saja mengundang serigala ke dalam kawanannya.
Arga tidak langsung duduk. Ia melirik Ayu dengan sudut mata yang dingin. "Apa tunangan Anda tidak keberatan jika saya mengganggu kencan kalian?"
"Tentu saja tidak. Bukan begitu, baby?" Alex beralih menatap Ayu, mencari dukungan. Tanpa menunggu jawaban, ia melanjutkan, "Kau masih ingat ceritaku tempo hari tentang proyek Cityland yang akan segera berjalan? Beliaulah yang akan memimpin proyek raksasa itu."
Ayu memberanikan diri mendongak, namun detik berikutnya nyalinya menciut. Ia kembali menunduk saat mendapati mata Arga masih terus "menguliti" dirinya tanpa ampun.
"I-iya, aku ingat," jawab Ayu lirih, suaranya nyaris hilang ditelan bising restoran.
Arga menarik kursi tepat di hadapan Ayu, lalu duduk dengan gerakan yang sangat elegan namun penuh intimidasi. "Sepertinya tunangan Anda ini tipe wanita yang sangat pemalu ya, Mr. Alex?" tanya Arga, nadanya terdengar seperti sebuah ejekan yang tersamar.
Alex tertawa renyah, lalu merangkul bahu Ayu lebih erat. "Ya, dia memang selalu canggung dengan orang asing. Tapi itulah yang kusukai darinya; dia tidak akan mudah tergoda oleh pria mana pun. Bukan begitu, Sayang?"
"Alex, jangan bicara begitu..." bisik Ayu, merasa mual karena ironi yang terjadi di meja itu.
Di seberang meja, Arga terkekeh,sebuah kekehan yang terdengar perih dan tajam di telinga Ayu. "Benarkah begitu? Kesetiaan memang barang langka sekarang ini," sahut Arga. Matanya tak lepas dari Ayu. "Karena aku pernah mengenal seekor rubah liar yang sangat berani. Saking beraninya, dia sanggup melarikan diri dariku."
Alex mengernyitkan dahi, bingung dengan arah pembicaraan Arga. "Rubah?"
"Ah, sudahlah. Saya hanya teringat dengan peliharaan saya dulu. Seekor rubah betina yang sangat lincah dan ceria. Tapi siapa sangka... ternyata dia bisa menjadi makhluk yang sangat kejam," lanjut Arga dengan suara yang memberat di kata terakhir.
"Benarkah? Apa di Indonesia ada hewan semacam rubah?" tanya Alex, benar-benar tidak menangkap metafora yang sedang dilemparkan.
"Ada. Dan hanya ada satu-satunya rubah seperti itu di dunia ini. Dan dia adalah milikku," jawab Arga, menekankan setiap kata seolah-olah sedang menancapkan belati ke jantung Ayu.
Wajah Ayu memanas, memerah padam karena amarah dan ketakutan yang bercampur menjadi satu. Jemarinya meremas kain gaun yang ia kenakan hingga kusut masai. Ia tak tahan lagi.
"Aku... aku ke toilet sebentar," ucap Ayu dengan suara bergetar, berusaha mencari jalan keluar dari sindiran maut Arga.
"Mau kutemani?" tanya Alex cemas melihat perubahan wajah Ayu.
"Tidak usah. Aku hanya ingin mencuci muka saja." Ayu segera berdiri dengan terburu-buru, langkahnya hampir tersandung saat ia setengah berlari menuju arah toilet, meninggalkan dua pria itu dalam keheningan yang menyesakkan.
Ayu berdiri di depan cermin toilet, tangannya gemetar hebat saat membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia mencoba mengatur napas yang terasa putus-putus. "Tenang, Ayu. Tenang. Dia tidak akan berani melakukan apa pun di sini," bisiknya pada pantulan dirinya yang tampak pucat pasi.
Namun, saat ia berbalik untuk keluar, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di ambang pintu lorong remang-remang yang menuju toilet, sosok tinggi tegap itu sudah berdiri di sana. Arga menyandarkan bahunya di dinding, menghalangi jalan keluar satu-satunya. Ia sedang memainkan pemantik api di tangannya.cetek, cetek,suaranya bergema mengerikan di koridor yang sepi itu.
"Mau lari ke mana lagi, rubah?" suara Arga rendah, namun cukup untuk membuat bulu kuduk Ayu berdiri.
Ayu mencoba menguatkan nyalinya. "Minggir, Arga. Alex menungguku di meja."
Mendengar nama itu, Arga tertawa sinis. Ia melangkah maju, perlahan tapi pasti, memaksa Ayu mundur hingga punggung wanita itu membentur dinding dingin. Arga mengunci pergerakan Ayu dengan kedua tangannya yang bertumpu pada dinding, memerangkapnya dalam jarak yang sangat intim sekaligus mengancam.
"Alex?" Arga berbisik tepat di telinga Ayu, aroma parfumnya yang maskulin dan dingin menyeruak masuk ke indra penciuman Ayu.
Arga mencengkeram dagu Ayu dengan lembut namun tegas, memaksanya menatap mata elang itu.
"Jangan sebut nama pria lain jika kita sedang berdua,baby."Bisik Arga lirih.
"Apa maumu?"
bersambung
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it