Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Algoritma Kematian & Eksorsisme Siber
Lokasi: Safe House BPCBAN (Apartemen Dimas dan Sarah), Depok.
Waktu: 15.00 WIB.
Udara di dalam apartemen lantai 15 itu terasa dingin dan steril, kontras dengan kekacauan badai di luar jendela.
Dimas duduk bertelanjang dada di atas kursi bar dapur. Lengan kanannya mengalami luka bakar spiritual kini sedang diolesi salep lidah buaya yang telah dicampur dengan tumbukan daun sirih merah oleh Sarah.
Setiap kali jari Sarah (yang terbalut sarung tangan medis di atas perbannya sendiri) menyentuh kulit Dimas, pria itu mendesis pelan menahan perih.
“Tahan sedikit, Prof,” gumam Sarah tanpa mengalihkan pandangannya dari luka tersebut. “Energi Lemuria itu merusak jaringan selulermu seperti radiasi nuklir tingkat rendah. Kalau nggak di netralisir pakai sirih merah, lukanya bakal menjalar sampai ke tulang.”
“Aku lebih memilih digebuk Golem batu daripada harus melawan asap hitam yang bisa main TikTok, Sar,” keluh Dimas sambil memejamkan mata.
Sarah selesai membalut lengan Dimas dengan perban elastis baru. Ia berjalan menuju Command Center mini disudut ruang tengah—meja bundar yang dipenuhi tiga monitor lengkung, server tower pendingin cair, dan kabel-kabel optik yang berserakan.
Sarah menjatuhkan dirinya ke kursi gaming ergonomisnya, menyeduh kopi hitam instan ketiganya hari ini, lalu mulai mengetik dengan kecepatann iblis.
“Oke. Mari kita bedah anatomi digital si “Pemakan’ ini,” kata Sarah, memanggil layar Dashboard crawler miliknya.
Dimas memakai kaus hitam bersih, berjalan mendekat dan berdiri di belakang kursi Sarah. Ia menatap layar monitor yang menampilkan barisan kode dan grafik gelombang suara.
“Aku berhasil mengkloning cache memori dari ponsel Rara saat kita di ruang kesehatan tadi,” jelas Sarah. Tangannya bergerak lincah menavigasi folder-folder terenkripsi. “Aku mengekstrak video terakhir yang dia tonton di FYP-nya sebelum dia mencoba melompat.”
Sebuah video vertikal berdurasi 15 detik muncul di layar monitor tengah.
Visualnya sangat sederhana, namun sangat menganggu: rekaman hitam-putih dari rel kereta api yang kosong, bergerak maju dengan lambat, dipadukan dengan teks putih bertuliskan: “Kamu sudah terlalu lelah, kan? Istirahatlah di sini.”
“Visualnya standar edgy content,” komentar Dimas. “Anak-anak depresi sering lihat yang begini. Tapi di mana letak sihirnya?”
“Di sini,” Sarah memisahkan track audio dari video tersebut dan melemparkannya ke monitor sebelah kanan, yang langsung mengubah suara itu menjadi grafik spektrum warna (Spectogram).
Grafik audio itu dipenuhi warna biru dan ungu, menunjukkan frekuensi yang sangat rendah.
“Rara bilang dia denger suara gamelan dan bisikan. Tapi kalau kamu dengar audio normalnya…” Sarah menekan tombol play.
Video itu berputar. Namun tidak ada suara gamelan. Hanya ada suara dengungan angin malam (white noise) yang sangat pelan.
“Nggak ada suara gamelan,” Dimas mengerutkan kening.
“Secara sadar, telinga manusia normal nggak akan dengar,” Sarah tersenyum miring, senyum seorang hacker yang baru saja menemukan celah keamanan. “Makhluk ini cerdas banget, Dim. Dia meletakkan suara gamelan dan bisikan itu di frekuensi Infrasound—dibawah 20 Hertz. Telinga kita nggak bisa denger, tapi otak mamalia kita meresponnya secara langsung.”
Sarah menekan beberapa filter akustik pada software-nya, lalu memperbesar tampilan spektrum audio tersebut hingga piksel-piksel grafiknya terlihat jelas.
Dimas mencondongkan wajahnya ke layar. Matanya melebar tak percaya.
“Sar…” bisik Dimas merinding. “Grafik suara itu…”
Puncak dan lembah dari gelombang suara infrasonik itu, ketika divisualisasikan secara dua dimensi di layar monitor… membentuk pola garis yang sangat spesifik. Melengkung seperti ombak, bersudut tajam di bagian bawah.
Itu adalah Aksara Lemuria.
Gelombang suara itu secara harfiah membentuk visual mantra kutukan purba yang Dimas lihat di dinding Gunung Padang!
“Dia mengonversi mantra gaibnya menjadi frekuensi audio digital,” Sarah menyenderkan punggungnya ke kursi, menggeleng takjub. “Dan karena ini cuma file audio berukuran beberapa kilobyte, algoritma platform media sosial mendeteksinya sebagai tren suara. Algoritma itu otomatis menyebarkan ke jutaan pengguna yang memiiki profiling data ‘Depresi’, ‘Insecure’, atau ‘Sedih’.”
“Sihir yang disebarkan lewat cloud,” Dimas menelan ludah. “Kalau video ini viral, malam ini bakal ada ribuan orang yang tiba-tiba merasa ingin mengakhiri hidup mereka di seluruh Jakarta.”
“Kita nggak bisa minta pemerintah blokir internet atau takedown videonya,” kata Sarah cepat. “Birokrasi butuh berhari-hari. Jutaan orang udah keburu lompat. Kita harus bikin ‘Vaksin Digital’ dan menyuntikkannya langsung ke jantung algoritma.”
“Gimana caranya nyuntik vaksin ke entitas gaib?”
Sarah memutar kursinya, menatap suaminya dengan mata berbinar.
“Kita pakai metode Cyber-Excorsism. Aku butuh kamu bikin mantra penyegel—mantra paling kuat yang kamu punya. Sesuatu yang efeknya kebalikan dari mantra Lemuria ini.”
Dimas berpikir keras. “Aku punya Rajah Rajahing Jiwo (Segel Pengikat Jiwa). Di Trowulan, itu dipakai buat mengurung roh ke dalam benda pusaka.”
“Sempurna,” Sarah menjentikkan jarinya. “Kamu rapalkan mantra itu. Aku bakal rekam suaramu pakai mikrofon kondensor beresolusi tinggi. Terus, aku bakal manipulasi gelombang suaramu menjadi frekuensi infrasound juga.”
Dimas mulai menangkap ide gila istrinya. “Kamu mau mengadu gelombang suaraku dengan gelombang suara makhluk itu di dunia maya?”
“Bukan cuma mengadu,” Sarah mulai mengetik barisan kode malware di monitor kirinya. “Aku bakal bikin Botnet raksasa. Sebuah virus Trojan yang membawa frekuensi mantramu. Aku bakal lepas Trojan ini ke server lokal media sosial tersebut. Saat Sang Pemakan mencoba menarik energi dari para korbannya lewat internet… BAM! Dia malah menelan frekuensi penyegelmu.”
“Vaksin itu bakal bikin makhluk itu terlempar keluar dari dunia digital,” simpul Dimas.
“Tepat! Algoritma nggak akan bisa lagi dipakai sama dia. Dia bakal kehilangan sayapnya di internet,” Sarah menatap grafik di layarnya dengan tajam. “Tapi ada satu masalah.”
“Apa?”
“Waktu dia tertendang keluar dari internet, energi makhluk itu bakal memadat di dunia fisik. Dia bakal mewujud di satu lokasi dunia nyata secara penuh, di mana sinyalnya paling kuat. Dan dia bakal ngamuk parah karena makanannya kita rebut.”
Sarah melacak IP address dari titik penyebaran awal video tersebut. Matanya menelusuri koordinat GPS yang muncul di layar.
“Dim,” suara Sarah berubah tegang. “Lokasi server fisik bayangan yang dia pakai buat mengendalikan algoritma ini… ada di Jakarta Timur. Sebuah proyek gedung mangkrak berlantai 30 yang sudah kosong sejak krisis moneter 1998.”
“Menara Manggala,” sebut Dimas, mengenali sejarah gelap gedung tersebut. “Gedung itu terkenal sebagai pusat urban legend bunuh diri. Aura negatif di sana sudah menumpuk puluhan tahun. Tempat yang sempurna buat dia menggerami telur.”
“Malam ini jam 23.59,” Sarah melihat jam di sudut monitornya. “Berdasarkan hitungan algoritmaku, itu jam di mana traffic pengguna internet yang depresi mencapai puncaknya. Dia bakal panen raya.”
Dimas mengangguk tegas. Ia berbalik dan berjalan menuju lemari senjatanya.
“Kita jalankan rencanamu, Sar. Rekan mantraku, sebar Trojan-nya jam 23.50. Kita tendang dia keluar dari internet…”
Dimas mengeluarkan sebuah Tombak Trisula pendek berkarat yang dibalut kain mori dari dalam peti kayunya.
“… dan saat dia jatuh ke dunia fisik di Menara Manggala, aku bakal ada di sana buat nabrak dia pakai logam pusaka ini.”
Sarah ikut berdiri, mengambil sabuk taktisnya dan mengecek magasin SIG Sauer-nya.
“Kita nggak pergi ke sana sekarang. Kita harus setup perangkat pemancarku di atap Menara Manggala sebelum tengah malam.”
Dua jam sebelum tengah malam. Langit Jakarta seolah menahan napas. Pertarungan akhir melawan Sang Pemakan telah ditetapkan, bukan di medan perang berdarah seperti Bubat, melainkan di atas gedung kosong yang dipenuhi sinyal WiFi dan bayang-bayang keputusasaan.