"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Yang Terucap {2}
Denting logam Nichirin bertemu dengan aspal jalanan di depan gerbang Dojo menciptakan percikan api biru yang dingin. Yuuichi tidak membiarkan satu detik pun terbuang. Saat tubuh Akari yang kelelahan jatuh tersungkur di atas kerikil putih halaman, Yuuichi sudah melenting di udara. Tiga zombie pelari itu, dengan rahang yang menganga dan mata merah yang hanya dipenuhi rasa lapar, melompat secara bersamaan dari tiga sudut yang berbeda.
"Terlalu lambat," desis Yuuichi.
Dalam gerakan yang tampak seperti tarian di mata Akari yang setengah sadar, Yuuichi melakukan tebasan melingkar rendah. Bilah pedangnya tidak hanya memotong, tetapi meninggalkan jejak kristal es yang seketika membekukan sendi-sendi kaki para pengejar itu. Suara krak yang tajam terdengar saat es itu mengunci gerakan mereka, disusul dengan hantaman telapak tangan Yuuichi yang meledakkan kepala mereka menjadi butiran salju hitam.
Yuuichi menyarungkan pedangnya dengan satu sentakan bersih. Ia berbalik dan berlutut di samping Akari. Gadis itu terengah-engah, seragam sekolahnya basah oleh keringat dan beberapa noda darah yang nampaknya bukan miliknya.
"Akari, kau aman sekarang. Bernapaslah," ucap Yuuichi, suaranya rendah dan menenangkan.
"Yuuichi... syukurlah..." Akari mencengkeram lengan jaket Yuuichi, air mata akhirnya mengalir membasahi wajahnya yang kotor. "Sekolah... sekolah sudah hancur. Shido-sensei... dia gila."
Yuuichi mengangkat tubuh Akari dengan gaya princess carry. Tubuh gadis itu terasa sangat ringan, bergetar hebat karena trauma. Ia membawa Akari masuk ke dalam halaman Dojo dan memberikan isyarat pada Sakura untuk menutup serta mengunci gerbang ganda itu kembali.
Di teras rumah utama, Chika sudah menunggu dengan handuk bersih dan air hangat. Sebagai seorang perawat sekolah, instingnya langsung mengambil alih. Namun, matanya sesekali melirik ke arah Yuuichi yang menggendong Akari dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara simpati dan rasa posesif yang mulai tumbuh.
"Bawa dia ke dalam, Shiro-kun. Aku akan memeriksa lukanya," ujar Chika sambil membimbing mereka menuju ruang kesehatan darurat yang mereka siapkan semalam.
"Poin Empati bertambah. Akari merasa sangat terlindungi. Namun, waspadalah pada Rina Suzuki. Dia sedang berdiri di pojok lorong dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa dia tidak menyukai variabel baru ini."
Yuuichi meletakkan Akari di atas futon. Chika mulai bekerja dengan cekatan, membersihkan luka lecet di lutut Akari menggunakan kemampuannya yang baru, Aura Penyembuhan Kristal. Cahaya biru lembut terpancar dari telapak tangan Chika, membuat wajah Akari yang tadinya pucat perlahan kembali merona.
Setelah beberapa saat, Akari mulai tenang. Ia duduk bersandar pada bantal besar, sementara Rina Suzuki masuk ke ruangan dengan menyilangkan tangan di depan dada, tatapannya dingin di balik kacamata.
"Akari-san," panggil Rina, nadanya formal dan tanpa basa-basi. "Bagaimana kau bisa sampai ke sini? Secara statistik, peluang seorang siswi tanpa senjata untuk menempuh jarak dari sekolah ke distrik ini sendirian adalah kurang dari 1%."
Akari menunduk, tangannya meremas selimut. "Aku tidak sendiri awalnya. Ada beberapa siswa lain... tapi mereka semua tertangkap oleh monster di pasar. Aku bersembunyi di dalam truk sampah selama berjam-jam. Tapi ada satu hal yang membuatku berani lari ke sini."
Akari menatap Yuuichi dengan serius. "Shido-sensei... dia melakukan kontak dengan sebuah helikopter hitam di atap gedung olahraga sebelum aku lari. Aku mendengarnya bicara tentang 'Pembersihan Total'. Dia bilang, jika mereka tidak bisa mengambil kembali 'Aset 007', maka seluruh distrik ini akan diratakan dengan tanah."
Keheningan seketika menyelimuti ruangan itu. Sakura yang berdiri di ambang pintu mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih.
"Diratakan dengan tanah? Maksudmu pengeboman?" tanya Sakura dengan suara gemetar.
"Aku tidak tahu pasti... tapi dia menyebutkan tentang fajar besok," bisik Akari.
Yuuichi berdiri, berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah kota. Di kejauhan, ia bisa melihat kepulan asap hitam yang masih membumbung tinggi.
"Miu, analisis pernyataan Akari. Apakah ada tanda-tanda mobilisasi militer atau serangan udara?"
"Memindai satelit Chimera yang berhasil diretas Rina... Kakak, dia tidak berbohong. Ada tiga skuadron pengebom taktis yang sedang disiagakan di pangkalan udara terdekat. Mereka menyebutnya 'Proyek Sterilisasi'. Target utama adalah Dojo ini karena keberadaanmu dianggap sudah terlalu tidak terkendali."
Yuuichi mendengus. Sebuah senyum miring muncul di wajahnya. Mereka pikir mereka bisa menghapus jejak kegagalan mereka dengan membakar semuanya.
"Rina, berapa lama waktu yang kita punya untuk memperkuat ruang bawah tanah ini agar bisa menahan hantaman bunker buster?" tanya Yuuichi.
Rina langsung membuka laptopnya, jemarinya bergerak secepat kilat. "Jika kita menggunakan struktur beton Dojo yang sudah ada dan kau memperkuatnya dengan manipulasi es permanenmu... kita punya peluang 75% untuk selamat. Tapi kita butuh bahan tambahan dari toko bangunan di ujung jalan."
Yuuichi menoleh ke arah ketiga (sekarang empat) wanita di ruangan itu. "Rencana berubah. Kita tidak punya waktu untuk latihan perlahan. Sakura, ambil pedangmu. Chika, siapkan suplai medis untuk dibawa ke bawah tanah. Akari, jika kau ingin hidup, kau harus membantu Rina memindahkan peralatan elektronik ke bunker."
"Lalu kau, Yuuichi-kun? Apa yang akan kau lakukan?" Chika bertanya, matanya penuh kekhawatiran.
Yuuichi mengambil katananya, hawa dingin yang luar biasa mulai keluar dari tubuhnya, membuat suhu ruangan turun beberapa derajat.
"Aku akan memberikan mereka alasan untuk membatalkan serangan itu," ucap Yuuichi pelan. "Aku akan pergi menemui 'tamu' yang sedang menuju ke sini dari arah gerbang depan."
"Peringatan! Deteksi unit elit Chimera dalam radius 500 meter. Mereka tidak menggunakan zombie, mereka adalah manusia dengan zirah tempur. Ini adalah regu penjemputan paksa, Kakak."
Yuuichi melangkah keluar menuju halaman. Matahari sudah mulai meninggi, menyinari Dojo yang tenang namun kini di ambang kehancuran. Ia berdiri tepat di tengah halaman kerikil, menunggu.
"Sakura," panggil Yuuichi tanpa menoleh.
"Ya, Yuuichi-kun?" Sakura berdiri di belakangnya, memegang katananya dengan posisi siaga yang baru ia pelajari.
"Jangan biarkan siapa pun masuk ke rumah ini selain aku. Jika ada yang mencoba... gunakan teknik es yang aku berikan padamu. Jangan ragu."
"Aku mengerti," jawab Sakura tegas.
Di kejauhan, suara deru mesin kendaraan berat mulai terdengar mendekat. Yuuichi menutup matanya, merasakan aliran energi di sekelilingnya. Dunia mungkin sedang berakhir, tapi bagi Yuuichi, ini hanyalah hari pertama di mana ia benar-benar memegang kendali atas takdirnya sendiri.