NovelToon NovelToon
The Instant Obsession

The Instant Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.

Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.

Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.

Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Kayuhan Sepeda dan Skenario Baru

Setelah keriuhan sarapan mereda, Selene tampak sibuk memeriksa deretan lemari kayu di dapur yang sudah mulai kosong. Ia mencatat beberapa hal di secarik kertas kecil, dahinya berkerut serius.

"Beras tinggal sedikit, bumbu dapur juga habis," gumam Selene pelan. Ia menoleh ke arah Damian yang masih setia berdiri di dekatnya. "Damian, aku harus ke pasar sekarang. Banyak stok yang harus dibeli untuk makan malam anak-anak."

"Aku antar," potong Damian cepat. Ia sudah membayangkan kenyamanan kabin mobil jeep-nya yang ber-AC, jauh dari debu jalanan.

Selene menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Tidak perlu, Damian. Pasarnya dekat dari sini. Masuk ke gang-gang kecil lebih cepat jalan kaki atau pakai sepeda. Mobil besarmu itu tidak akan bisa lewat."

"Aku tetap akan mengantarmu. Aku bisa parkir di depan gang dan menunggumu," Damian bersikeras. Bayangan Selene membawa belanjaan berat sendirian—atau lebih buruk lagi, bertemu si Andre di jalan—membuat sisi protektifnya bangkit.

Selene menatap Damian dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pria ini tampak sangat "mahal", namun kegigihannya untuk membantu benar-benar keras kepala. Sebuah ide jahil tiba-tiba melintas di benak Selene.

"Baiklah, kau boleh ikut," ujar Selene dengan mata berbinar jenaka. "Tapi kita tidak pakai mobil. Kita pakai sepeda. Lebih sehat dan lebih cepat sampai ke jantung pasar."

"Sepeda?" Damian mengangkat alis. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia menyentuh stang sepeda. Di dunianya, kendaraan adalah simbol status dengan tenaga ratusan kuda, bukan dua roda yang digerakkan oleh otot kaki.

"Kenapa? Asisten keluarga Nicholas yang hebat tidak bisa naik sepeda?" tantang Selene sambil berjalan menuju gudang samping.

Selene mengeluarkan sebuah sepeda tua berwarna biru yang catnya sudah sedikit mengelupas, lengkap dengan keranjang besi di bagian depan.

"Hanya ada satu sepeda, Selene," ujar Damian sambil menatap benda besi itu dengan ragu.

"Kau yang membonceng, aku duduk di belakang. Atau kau mau aku yang memboncengmu?" Selene tertawa kecil melihat wajah bingung Damian.

Damian akhirnya menghela napas pasrah. Ia melepas kancing manset kemejanya, menggulungnya lebih tinggi, dan memegang stang sepeda itu. "Naiklah. Jangan protes kalau jalannya sedikit goyang."

Sepanjang perjalanan menuju pasar, pemandangan itu menjadi tontonan unik bagi warga sekitar. Seorang pria jangkung dengan wajah setampan model majalah dan postur tubuh yang atletis, sedang bersusah payah mengayuh sepeda tua dengan seorang gadis cantik yang duduk manis di boncengan belakang sambil memegangi pinggangnya agar tidak jatuh.

"Damian, pelan-pelan! Kau terlalu semangat mengayuhnya!" seru Selene sambil tertawa, tangannya tanpa sadar mencengkeram kemeja Damian lebih erat.

Aroma cokelat dari rambut Selene tertiup angin dan langsung menyapa indra penciuman Damian. Meskipun kakinya mulai terasa pegal karena beban yang tidak biasa, Damian merasa ini adalah perjalanan terbaik yang pernah ia tempuh. Tak ada kemacetan yang menyebalkan, hanya ada suara tawa Selene di belakang punggungnya.

Matahari semakin meninggi, membiarkan cahaya keemasannya menyapu jalanan setapak yang mereka lalui. Angin pagi yang berembus tidak lagi terasa dingin, namun justru membawa kehangatan yang pas di kulit. Damian terus mengayuh sepeda tua itu dengan ritme yang terjaga, mengabaikan keringat tipis yang mulai muncul di pelipisnya.

Di balik punggungnya, Selene tampak menikmati perjalanan, sesekali ia bersenandung kecil yang membuat Damian merasa dunianya menjadi jauh lebih tenang. Namun, fokus Damian bukan pada pemandangan sekitar, melainkan pada wangi khas yang terus-menerus menggelitik indra penciumannya.

Setiap kali angin berembus dari arah depan, aroma cokelat murni bercampur dengan kesegaran seperti bunga liar dari tubuh Selene langsung mengepungnya. Wangi itu begitu organik, bukan tipe parfum kimiawi yang menyengat seperti yang biasa dipakai wanita-wanita di pesta kolega bisnisnya.

"Bagaimana bisa seseorang berbau semanis ini tanpa usaha?" batin Damian.

Pikiran posesifnya mulai bekerja. Damian bahkan mulai berpikir untuk segera menghubungi pakar parfum terbaik di Prancis begitu ia kembali ke kantor. Ia ingin menciptakan aroma yang identik dengan wangi tubuh Selene saat ini. Ia ingin menyemprotkan aroma itu di ruang kerjanya, di bantalnya, dan di dalam mobilnya, agar ia merasa Selene selalu ada di dekatnya, bahkan saat gadis itu tidak berada dalam jangkauan matanya.

"Damian, kau melamun? Belok kiri di depan itu!" seru Selene sambil sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan untuk menunjuk jalan.

Napas Selene yang hangat mengenai leher Damian, membuat pria itu hampir kehilangan keseimbangan sepedanya.

"Aku tidak melamun, Selene. Aku hanya sedang menghafal jalan," bohong Damian dengan suara serak.

"Kau terlihat sangat serius hanya untuk pergi ke pasar," Selene tertawa, tangannya tanpa sadar menepuk bahu kokoh Damian. "Rileks sedikit, Tuan Asisten. Kita tidak sedang akan melakukan negosiasi kontrak dengan mafia."

Damian tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh arti. Kau salah, Selene, pikirnya. Negosiasi dengan mafia jauh lebih mudah daripada mencoba menahan diri untuk tidak memutar balik sepeda ini dan membawamu ke tempat di mana hanya ada kita berdua.

"Kita sampai!" Selene melompat turun dari boncengan begitu mereka tiba di gerbang pasar yang ramai.

Damian mengerem sepedanya dan turun dengan gerakan yang masih terlihat elegan meski ia hanya mengendarai sepeda berkarat. Ia menatap kerumunan orang di pasar dengan dahi berkerut, tangannya secara posesif langsung meraih pergelangan tangan Selene.

"Jangan jauh-jauh dariku. Tempat ini terlalu ramai," ucap Damian tegas.

Selene menatap tangannya yang digenggam erat oleh Damian. "Hanya pasar, Damian. Bukan hutan rimba. Dan... bisakah kau lepaskan tanganku? Orang-orang melihat kita."

1
Leny Enick
ditunggu selajutnya 💪semngat thor
YuWie
ada2 aja tingkah org kaya tuh ya..nyamar segala..adakah di dunia nyata..hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!