NovelToon NovelToon
Hotnews: I Love You

Hotnews: I Love You

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Kantor / Action
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.

Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.

Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Seperti biasa, kantor redaksi Hotnews.com hari ini sibuk. Artikel terkini harus sudah masuk Content Management System dalam waktu tiga puluh menit. Masing-masing orang sibuk dengan komputer di depan mereka. Hanya terdengar suara keyboard, notifikasi dan telepon yang sesekali berdering.

Di tengah kesibukan itu, Alena dengan santai melenggang menuju meja Pak Indra Wijaya, editor Hotnews.com yang berbadan tambun dengan rambut sedikit botak di bagian depan.

"Cek, Pak," kata Alena santai sambil menyerahkan lembaran kertas berisi artikel tulisannya. Pak Indra, dengan wajah datar, melirik ke arah arloji di tangan kirinya.

"Kebiasaan. Kebiasaan, Alena. Terlalu mepet," komentar Pak Indra sambil meraih kertas yang dibawa Alena.

"Tenang, Pak. Saya yakin Bapak bakalan langsung bilang 'lanjut'," kata Alena percaya diri. Pak Indra menatap Alena tajam, sebelum akhirnya membaca artikel garapannya.

Kehangatan di Balik Es Gabus

‎Kakinya yang renta tak kenal lelah berjalan menyisir gang-gang sempit, menjajakan es gabus yang merupakan sumber kehidupannya sehari-hari.

Pak Ramli, pria berusia 58 tahun itu, selama tiga puluh tahun, setiap hari berjalan bertelanjang kaki sambil membunyikan lonceng kecil dengan nada yang khas. Suara lonceng yang mungkin terdengar sebagai panggilan jajan untuk anak-anak itu adalah sebagai penanda perjuangannya melewati jalan berkerikil dan terik mentari yang menyengat.

...

Pak Indra melirik ke arah Alena dari balik kertas artikelnya. Alena terlihat tersenyum lebar tanpa merasa ada yang salah dengan artikelnya. Pak Indra meletakkan kertas artikel Alena.

"Lanjut," kata Pak Indra.

"Yes! Siap, Pak!" kata Alena sambil dengan cepat mengambil kertas artikel dari meja Pak Indra lalu berbalik menuju mejanya.

"Bruk,"

Alena terjatuh. Kertas artikelnya terlempar ke udara. Sebuah tangan meraih kertas yang masih melayang-layang di udara itu. Dengan kecepatan penuh, pemilik tangan itu lalu melakukan skimming and scanning artikel di tangannya.

"Hh! Melow," komentar Andrean, pemilik tangan yang meraih kertas artikel Alena yang melayang tadi.

"Whatever! Yang penting lolos," ucap Alena sambil mengambil artikelnya dengan kasar lalu melangkah pergi.

"Kita ini jurnalis, Alena. Kita nulis berita. Bukan novelis yang kebanyakan nulis drama," kata Andrean.

Alena menghentikan langkahnya. Dia berbalik lalu berjalan perlahan ke arah Andrean.

"Lo tau arti kata evolusi, Andrean? Nah, drama itu bentuk evolusi dari jurnalisme yang kuno. Drama is part of modern journalism," kata Alena sambil menyunggingkan senyum kemenangan. Andrean menatap Alena dengan tatapan datar dan dingin.

Ruang redaksi Hotnews.com seketika terasa sangat dingin. Alena dan Andrean saling menatap dengan tatapan sengit, seperti ada sengatan aliran listrik tak terlihat keluar dari mata keduanya.

"Deadline di depan mata, mereka malah sibuk perang idealisme," komentar Roni, fotografer, rekan kerja sekaligus sahabat Andrean.

"Mereka bener-bener nggak bisa dijadiin satu ruangan," tambah Rina, rekan kerja sekaligus tempat curhat Alena.

Roni dan Rina saling melongok dari balik komputer mereka. Lalu kembali fokus, mengingat deadline yang sudah dekat.

"Deadline!" teriakan Pak Indra menyadarkan Alena.

"Wasting time ngurusin robot jurnalistik kek lo," kata Alena lalu meninggalkan Andrean yang mengerjapkan mata sambil menahan marah.

'Robot jurnalistik dia bilang? Ini yang disebut profesionalisme,'

***

"Bisa-bisanya dia ngatain gue novelis," gerutu Alena saat makan siang di warung prasmanan Bu Darmi yang terletak di depan kantor redaksi.

"Bagus dong novelis. Paling nggak kerjaan lo masih nulis. Bukan ngemis," kata Rani sambil menyendokkan nasi pecel ekstra pedas ke mulutnya.

"Bener juga lo," kata Alena sambil mengunyah gado-gado favoritnya.

"Eh, ngomong-ngomong, artikel dia apaan?" tanya Alena lalu menyeruput es teh manis pesanannya.

"Dia? siapa?" tanya Rani pura-pura tak tahu.

"Ck. Raniiii... Si robot jurnalistik lah, siapa lagi?" kata Alena gemas.

"Oooo... Sssss.... Andrean maksud lo? Sssss... Cek aja di website. Ssss...," kata Rani sambil sibuk kepedasan akibat memakan nasi pecelnya hingga tuntas.

Dengan muka malas, Alena mengeluarkan ponselnya dan mulai mengunjungi website Hotnews.com. Alena mengusap-usap layar ponselnya dan berhenti di sebuah artikel.

Diduga Rem Blong, Minibus Tabrak Warteg

UNGARAN, 24 Februari 2026 – Sebuah minibus yang memuat 5 penumpang pada Senin pagi pukul 08.00 WIB menabrak sebuah warung makan tepi jalan di Jl. Anggrek, Ungaran. Kecelakaan tunggal ini diduga akibat rem blong. Beruntung warung dalam keadaan sepi sehingga tidak menimbulkan korban jiwa, namun supir minibus dan dua penumpang mengalami luka ringan dan telah dilarikan ke rumah sakit terdekat. Petugas kepolisian saat ini sedang mengevakuasi badan minibus menggunakan alat berat.

...

"As usual. Membosankan," kata Alena.

"Namanya juga straight news, Lena. Lo mau gimana? Masa' iya, 'Karena tak mampu menguasai dirinya, sebuah minibus menabrakkan diri ke warung pinggir jalan,' kan enggak juga," kata Rani mencoba mendinginkan hati Alena yang panas, sepanas berita perselingkuhan artis papan atas yang terkenal religius.

"Bahasa straight news kan emang gitu. Beda sama bahasa human interest kek yang lo garap," tambah Rani.

Alena tak peduli. Menurutnya Andrean itu adalah robot jurnalistik yang terkurung dalam konsep jurnalistik kuno.

"Lagian, kenapa tiap kali ketemu kalian selalu debat? Mau nyalon presiden?" tanya Rani heran.

"Dia yang mulai duluan. Liat kan tadi? Bukannya minta maaf udah nabrak gue, malah dibilang novelis," kata Alena membela diri. Rani menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan kelakuan Alena.

Sementara itu di warung bakso Pak Haji Hasan —sebelah warung Bu Darmi— Andrean dan Roni sedang mendiskusikan proyek liputan sambil menikmati semangkok mie ayam bakso andalan Pak Haji Hasan.

"Oke. Jadi, besok kita langsung ketemu di lapangan aja kan?" tanya Roni memastikan jadwal besok hari sambil menyuapkan sesendok kuah terakhir ke mulutnya.

"Ya. Jangan telat. Jam sembilan kita mulai wawancaranya," kaya Andrean, kaku seperti biasa.

"Siap!"

Andrean menikmati makan siangnya dalam diam. Roni sibuk dengan ponselnya.

"Wuih, Alena ini kalo nulis... Ckckck... Suka bikin baper," komentar Roni spontan. Ternyata Roni sedang mambaca artikel garapan Alena. Andrean mendengus.

"Itu bukan berita, Ron," komentar Andrean.

"Itu cuma narasi aja. Nggak ada informasi penting di dalemnya," lanjut Andrean.

"Kalo menurut gue sih, kadang orang butuh artikel kek gini, buat berkaca kalo kehidupan mereka jauh lebih beruntung daripada orang-orang ini," kata Roni.

"Orang nggak butuh baca narasi kek gitu buat merasa lebih bersyukur, Ron. Lo liat tuh depan kantor redaksi kita, ada berapa pedagang kaki lima yang berusia senja?" kata Andrean mencoba menyangkal bahwa tulisan Alena akan memberi dampak signifikan bagi masyarakat.

"Ngapain baca artikel, kalo kita bisa lihat itu di sekitar kita?" tambah Andrean. Roni hanya menaikkan kedua bahunya, menyerah, percuma berdebat dengan si perfeksionis jurnalistik satu itu.

Saat Andrean dan Roni keluar dari warung Pak Haji Hasan, saat itu pula Alena dan Rani keluar dari warung Bu Darmi. Andrean dan Alena saling memberi tatapan dingin.

'Jurnalisme itu harus hidup dan manusiawi. Bukan kaku dan tegang macem robot,'

***

1
Nanaiko
Aaaa bersambung😅
Nanaiko
Bisa tidak yaa sehari updatenya 5 bab sekalian, Thor? hehehe
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤
Purnamanisa: kapasitas author sehari nulis cuma 3 bab kak 😅😅😅 2 bab disini, 1 bab di I Love You, Miss!!!🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!