NovelToon NovelToon
Di Bawah Payung Yang Sama

Di Bawah Payung Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:659
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.

Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.

Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.

Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Sisa waktu pagi itu berlalu dengan cepat bagi Kim Ae Ra.

Ia bekerja dengan semangat yang baru, setiap tugas yang ia selesaikan terasa lebih ringan karena ada antisipasi yang hangat di hatinya—makan siang bersama Hyun Jae Hyuk.

Pikirannya sesekali melayang membayangkan bagaimana percakapan mereka nanti, apakah mereka hanya akan membahas pekerjaan atau mungkin membicarakan hal-hal yang lebih pribadi.

Namun, ia berusaha keras untuk tetap fokus, memastikan semua tugasnya selesai dengan sempurna sebelum jam makan siang tiba.

Rapat dengan tim hukum yang diadakan sebelum makan siang berjalan lancar dan produktif.

Jae Hyuk mempresentasikan catatan dan draf revisi yang dibuat oleh Ae Ra, dan hasilnya sangat memuaskan.

Para ahli hukum di tim Aegis terkesan dengan ketelitian dan pemahaman yang ditunjukkan oleh Ae Ra, bahkan salah satu pengacara senior berkomentar bahwa poin-poin yang Ae Ra angkat sangat krusial dan bisa menyelamatkan perusahaan dari potensi kerugian besar di masa depan.

Mendengar pujian itu, wajah Ae Ra bersinar merah padam karena malu namun juga bangga, sementara Jae Hyuk hanya menatapnya dengan senyum bangga yang tak bisa ia sembunyikan.

"Bagus. Kalau begitu, kita sudah siap untuk pertemuan berikutnya dengan Haesung," kata Jae Hyuk saat rapat ditutup.

"Terima kasih untuk kerja keras kalian semua. Silakan istirahat sekarang."

Para anggota tim bubar dengan wajah puas, meninggalkan Ae Ra dan Jae Hyuk di ruang pertemuan kecil itu.

"Bagus sekali kerjaanmu, Ae Ra," kata Jae Hyuk pelan, menatap gadis itu dengan tatapan hangat.

"Mereka semua terkesan, dan aku juga. Kau benar-benar hebat."

"Terima kasih, Tuan. Saya hanya melakukan apa yang saya bisa," jawab Ae Ra rendah hati, senyumnya tak pernah pudar dari wajahnya.

"Nah, sekarang waktunya istirahat. Ayo kita pergi? Aku tahu tempat yang cukup bagus dan tenang di sekitar sini," ajak Jae Hyuk, mengangkat tas kerjanya dengan santai.

"Tentu, Tuan."

Mereka berjalan beriringan menuju lift, meninggalkan gedung Aegis Corp dan berjalan kaki singkat menuju sebuah restoran fine dining yang terletak di lantai atas gedung perkantoran lain di dekat sana.

Restoran itu memiliki pemandangan indah ke arah kota Seoul, dan suasananya sangat tenang dan elegan, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk jalanan.

Saat mereka duduk di meja yang agak terpencil di sudut ruangan, pelayan segera mendekat untuk memberikan menu dan mengambil pesanan.

Setelah pelayan pergi meninggalkan mereka berdua, suasana hening sejenak namun terasa sangat nyaman.

"Jadi," kata Jae Hyuk memulai pembicaraan, menatap Ae Ra dengan senyum santai.

"Bagaimana perasaanmu sekarang? Lebih lega setelah rapat tadi?"

Ae Ra mengangguk pelan.

"Iya, Tuan. Sangat lega. Tadi saya agak gugup saat presentasi, tapi melihat tim hukum setuju dengan usulan saya, rasanya beban di pundak saya jadi jauh lebih ringan."

"Wajar jika kau gugup, tapi kau menanganinya dengan sangat profesional. Aku tidak terkejut sama sekali," balas Jae Hyuk lembut.

"Dan aku harap, ini juga sedikit banyak membantu meringankan beban pikiranmu soal Haesung dan soal Seo Jun. Setidaknya sekarang kita tahu apa yang harus kita waspadai, dan kita sudah siap menghadapinya."

Ae Ra terdiam sejenak, menyentuh gelas air putih di depannya dengan jari-jarinya.

"Iya, Tuan. Mungkin ini cara Tuhan menunjukkan kebenaran pada saya. Meski rasanya sakit mengetahui bahwa Seo Jun menyembunyikan identitasnya, tapi setidaknya sekarang saya bisa melihat segalanya dengan lebih jelas. Saya tidak lagi hidup dalam ketidaktahuan."

Jae Hyuk mengangguk pelan, mendengarkan dengan saksama.

"Kau selalu bisa melihat sisi baik dari segala sesuatu, Ae Ra. Itu salah satu hal yang paling aku kagumi darimu. Di tengah situasi yang sulit sekalipun, kau tetap bisa berpikir positif dan dewasa."

Pujian itu membuat wajah Ae Ra kembali memanas. Ia buru-buru menunduk sedikit, menyembunyikan senyum malu-malu nya.

"Terima kasih, Tuan. Saya hanya berusaha untuk tidak menyerah pada keadaan."

"Dan kau berhasil melakukannya dengan sangat baik," kata Jae Hyuk tegas.

Percakapan mereka terhenti sebentar saat pelayan datang membawa hidangan yang mereka pesan.

Aroma makanan yang lezat langsung memenuhi udara, membuat perut Ae Ra terasa lapar yang selama ini ia abaikan karena kesibukan. Mereka mulai menyantap makanan dengan nikmat, dan percakapan pun berlanjut dengan suasana yang lebih santai dan cair.

Mereka membicarakan banyak hal—tentang hobi Ae Ra yang suka membaca novel, tentang kesukaan Jae Hyuk pada musik klasik, tentang kenangan masa kecil yang lucu, dan tentang impian-impian mereka di masa depan.

Untuk pertama kalinya, Ae Ra merasa bisa berbicara dengan Jae Hyuk tanpa batasan formalitas sebagai bos dan sekretaris. Di sini, di restoran yang indah ini, mereka hanyalah dua orang biasa yang sedang berbagi cerita dan tawa.

Ae Ra bisa melihat sisi lain dari Jae Hyuk—sisi yang lebih santai, lebih humoris, dan sangat manusiawi. Dan Jae Hyuk pun tampak semakin terpesona oleh kecerdasan, kelembutan, dan ketulusan yang dimiliki oleh Ae Ra.

Namun, di tengah obrolan yang asik itu, pikiran Ae Ra tak sengaja melayang kembali ke masa lalu, ke momen samar yang selalu ia ingat saat hujan turun—sosok di bawah payung, suara yang menenangkan, dan kalimat tentang dinginnya air sungai.

Ia menatap Jae Hyuk yang sedang tertawa kecil mendengar ceritanya, dan tiba-tiba rasa familiar itu meledak kembali di dadanya dengan lebih kuat dari sebelumnya.

"Tuan," panggil Ae Ra pelan, membuat Jae Hyuk berhenti tertawa dan menatapnya dengan tatapan bertanya.

"Ada apa, Ae Ra?"

"Saya…" Ae Ra ragu sejenak, tapi akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

"Saya ingin bertanya sesuatu. Tentang masa lalu. Tadi pagi, saat Tuan bilang bahwa Tuan juga ingat pernah melihat seseorang di jembatan saat hujan… apakah Tuan ingat apa yang orang itu katakan saat itu? Atau apa yang Tuan katakan padanya?"

Jae Hyuk terdiam sejenak.

Tatapannya berubah menjadi lebih serius dan dalam, seolah ia sedang membaca pikiran Ae Ra atau sedang mempertimbangkan jawabannya dengan sangat hati-hati.

Ia meletakkan sendok dan garpunya di piring, lalu menatap mata Ae Ra lekat-lekat.

"Aku ingat cukup jelas, sebenarnya," jawab Jae Hyuk pelan, suaranya rendah dan terdengar emosional.

"Saat itu, hujan sangat deras, dan gadis itu berdiri di pinggir jembatan, basah kuyup. Aku merasa ada yang tidak beres, jadi aku mendekat. Aku ingat aku berkata padanya… 'Kalau kelamaan kena hujan nanti kamu bisa sakit karena kedinginan. Dan air sungai itu bahkan lebih dingin dari air hujan.'"

Darah di tubuh Ae Ra seakan berhenti mengalir sejenak. Matanya terbelalak menatap Jae Hyuk, mulutnya terbuka sedikit namun tidak ada kata yang keluar. Itu kalimat yang sama.

Kalimat yang selalu terdengar samar di mimpinya, kalimat yang menjadi akar dari rasa aman yang selalu ia rasakan saat bersama Jae Hyuk.

"Itu…" suaranya bergetar hebat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Itu kalimat yang sama yang ada di ingatan samar saya, Tuan. Itu suara yang selalu saya dengar saat hujan turun."

Jae Hyuk menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan ketulusan dan emosi yang mendalam.

Ia mengangguk pelan, perlahan mengkonfirmasi kebenaran yang selama ini menjadi tanda tanya besar bagi mereka berdua.

"Ya, Ae Ra," bisik Jae Hyuk pelan, seolah ia sedang berbicara pada dirinya sendiri juga.

"Itu aku. Aku yang ada di sana saat itu. Aku yang menemani kau di bawah payung, dan aku yang berbicara padamu. Aku tidak tahu apakah kau ingat semuanya, tapi aku… aku sangat ingat momen itu. Itu adalah momen yang mengubah segalanya bagiku."

Air mata yang sejak tadi menggenang akhirnya jatuh membasahi pipi Ae Ra. Ia tidak bisa menahannya lagi.

Rasa haru, kaget, dan rasa bahagia yang luar biasa bercampur menjadi satu di dadanya.

Jadi itu benar. Pria yang ada di hadapannya sekarang, pria yang menjadi bosnya, pria yang selama ini mendukungnya, adalah orang yang sama yang pernah menyelamatkan nyawanya bertahun-tahun lalu di jembatan Sungai Han itu. Ikatan di antara mereka bukanlah kebetulan semata. Itu adalah takdir.

"Jadi… Tuan yang menyelamatkan saya saat itu?" tanya Ae Ra pelan, suaranya bergetar hebat.

"Tuan yang menjadi alasan kenapa saya masih ada di sini sampai sekarang?"

Jae Hyuk mengangguk pelan, matanya juga sedikit berkaca-kaca melihat reaksi gadis itu.

"Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar saat itu, Ae Ra. Aku tidak berpikir panjang. Aku hanya tidak ingin hal buruk terjadi padamu. Dan melihatmu berdiri di sini sekarang, kuat dan tangguh, itu adalah hadiah terindah yang pernah aku terima."

Ae Ra tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa menangis bahagia sambil menatap Jae Hyuk.

Selama ini ia merasa sendirian, merasa tidak ada yang mengerti dirinya, tapi ternyata, penyelamatnya, orang yang paling mengerti rasa sakitnya, telah berada di sisinya selama ini.

Jae Hyuk mengulurkan tangannya di atas meja, dan dengan perlahan, ia menggenggam tangan Ae Ra yang tergeletak di sana.

Genggaman itu hangat, kuat, dan penuh dengan rasa sayang serta perlindungan.

"Aku sudah menunggu saat ini, Ae Ra," kata Jae Hyuk pelan, matanya menatap mata gadis itu dengan dalam.

"Menunggu saat di mana kau mulai mengingat, atau menunggu saat di mana aku bisa memberitahumu kebenaran ini. Dan sekarang, saat semuanya terungkap, aku hanya ingin kau tahu satu hal. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu ada di sini, untuk melindungimu, untuk mendukungmu, dan untuk menjadi alasan kenapa kau tetap bertahan di dunia ini."

Di restoran yang indah itu, di tengah kota Seoul yang sibuk, rahasia terbesar akhirnya terungkap sepenuhnya.

Ikatan masa lalu yang samar kini menjadi jelas dan nyata. Dan di saat itu juga, hubungan di antara mereka berdua berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam, jauh lebih kuat, dan jauh lebih berharga dari sebelumnya.

Mereka bukan lagi sekadar bos dan sekretaris, atau dua orang yang saling menyukai.

Mereka adalah dua jiwa yang telah dipertemukan oleh takdir dalam momen nyawa dipertaruhkan, dan kini, takdir itu kembali menyatukan mereka dalam ikatan cinta yang abadi.

1
Lisa
Amin..kalian berdua harus kuat yaa..
Lisa
Senangnya akhirnya Jae Hyuk & Ae Ra sudah mengetahui masa lalu itu dan membuat hubungan mereka makin dekat 👍👍
Lisa
Semangat y Ae Ra..💪👍
Lisa
Kmu harus kuat Ae Ra..ada Jae Hyuk yg selalu mendampingimu..
Lisa
Wah gimana ya suasananya pertemuan bisnis itu..makin seru aj nih ceritanya
Lisa
Ceritanya menarik jg nih ternyata Ae Ra adalah anak dr org yg dibunuh oleh papa dr direktur tmptnya bekerja saat ini..moga aj kebenaran itu dapat terungkap.
Lisa
Wah gmn y acara rapat besarnya..jadi penasaran nih 😊
Lisa
Ae Ra punya masa lalu yg berhubungan dgn CEO
Lisa
Tetap semangat y Ae Ra 💪👍
Lisa
Seo Jun sebenarnya siapa y..apakah dia org penting.
zhafira: hayoo siapa ya?🤭
masih 'Rahasia' 🧐
total 1 replies
Lisa
Wah berarti ada mata² di toserba itu
zhafira: wahh hayoo ada siapa?? 😁
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!