“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”
Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.
Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.
Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Semua Mulai Bermain
“Aku butuh posisi yang lebih kuat di hidup Mas Raka,” ucap Anita datar. “Selama ini aku cuma wanita yang dia panggil saat dibutuhkan. Aku capek ada di posisi itu.”
Sandy tersenyum miring. “Oh … jadi sekarang kamu mau naik kelas?” sindirnya. “Dari simpanan jadi istri sah?”
“Kalau bisa, kenapa enggak?” balas Anita tenang.
Sandy menatapnya tajam. Sorot matanya berubah dingin.
“Terus aku?” suaranya merendah. “Aku ini apa buat kamu, Anita? Kamu lupa semua rencana kita? Atau kamu memang nggak pernah serius dari awal?”
Anita terdiam sesaat, lalu melangkah mendekat. Tangannya mencoba meraih lengan Sandy, tapi pria itu menepisnya.
“Kamu tetap penting,” ucap Anita pelan, menahan kesal. “Dan ini juga buat kita.”
Sandy tertawa sinis.
“Jangan bawa-bawa ‘kita’ kalau ujung-ujungnya kamu tetap tidur sama laki-laki lain bahkan sampai hamil anaknya,” desisnya. “Kamu sendiri yang bilang nggak mau punya anak, kan?”
Anita mengembuskan napas panjang. Kesabarannya mulai menipis, tapi ia menahannya.
“Kamu mau perusahaan kamu selamat, kan?” tanyanya langsung, memotong emosi Sandy.
Sandy terdiam.
“Semua ini nggak gratis, Sandy.” lanjut Anita. “Mas Raka itu jalan kita buat keluar dari semua masalah ini. Kamu pikir aku nyaman ada di posisi ini? Aku juga nggak mau punya anak. Aku nggak mau repot, tapi anak ini adalah aset kita.”
Tatapan Sandy berubah. Tidak lagi hanya marah—ada sesuatu yang lain. Ia benci mengakuinya, tapi rencana Anita terdengar bagus.
Bukankah ini justru bagus? Aku nggak perlu repot-repot memikirkan nafkah karena Anita sudah punya sarang duitnya sendiri. Bahkan aku lebih bebas menikmati semuanya. Aku bisa menikmati tubuh Anita dan hartanya juga. Sementara Raka yang bekerja keras. Itu ide yang brilian, kan?
“Kamu yakin dia bakal tanggung jawab?” tanyanya pada akhirnya.
Anita tersenyum tipis. “Dia laki-laki yang terlalu menjaga nama baiknya, San. Dia nggak akan mempertaruhkan nama baiknya hanya karena seorang bayi.”
“Lalu bagaimana dengan istrinya?”
“Itu bukan masalah besar. Dia itu wanita polos yang nggak tahu apa-apa. Dia selalu nurut apa kata suaminya. Jadi aku yakin, ini bukan masalah besar.”
Sandy terdiam sejenak. Ia mengusap wajahnya kasar. “Ini gila,” gumamnya.
Anita mendekat lagi, kali ini suaranya lebih lembut. “Tapi ini satu-satunya cara, Sayang. Kepalang tanggung. Kita sudah sejauh ini, jadi kenapa kita nggak lanjutkan saja?”
Sandy menatap Anita tajam.
“Tapi berjanjilah satu hal, kamu nggak akan ninggalin aku demi laki-laki itu, kan?”
Anita menggelengkan kepalanya. “Enggak dong, sayang. Aku melakukan semua ini juga demi kita.”
***
Maisya meletakkan segelas minuman di hadapan Sekar. Tatapannya masih menyimpan kekhawatiran, seolah berharap perempuan itu mengurungkan niatnya.
“Sekar, Mbak bukannya mau ikut campur,” ucapnya pelan. “Tapi ini berbahaya. Kamu nggak benar-benar tahu alasan Langit melakukan semua ini.”
Ia berhenti sejenak.
“Raka memang salah. Mbak juga nggak membela dia. Tapi … belum tentu Langit lebih baik.”
Sekar mengangguk pelan, seolah sudah memikirkan itu sejak awal.
“Aku tahu, Mbak,” jawabnya tenang. “Makanya aku juga nggak sepenuhnya percaya pada siapa pun.”
Maisya mengernyit. “Maksud kamu?”
Sekar terdiam sebentar. Tatapannya kosong, seperti kembali ke masa lalu.
“Sebelum Ayah meninggal … beliau pernah bilang sesuatu sama aku,” ucapnya pelan.
Ia menarik napas. “Kalau suatu saat kamu merasa nggak punya siapa-siapa untuk dipercaya … jangan tunjukkan itu pada siapa pun.”
Ia berhenti sejenak, seolah mengingat ulang setiap kata sementara Maisya terdiam, mendengarkan.
“Tapi membaur lah. Tetap terlihat seperti biasa. Tapi di dalam … kamu yang pegang kendali. Susun langkahmu sendiri. Bukan untuk lengah, tapi supaya kamu waspada. Pelan-pelan, kenali siapa yang benar-benar di pihakmu dan siapa yang hanya berpura-pura.”
Sekar tersenyum tipis. “Aku dulu nggak terlalu paham maksud Ayah. Tapi sekarang … mungkin ini saatnya aku melakukan apa yang ayah katakan.”
Maisya menatapnya lekat.
“Kamu yakin kuat menjalani semua ini? Kenapa kamu nggak ungkap semuanya dan pergi saja dari mereka, Sekar?”
Sekar tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap gelas di depannya, jemarinya mengusap sisi kaca perlahan.
“Aku harus kuat, Mbak,” ucapnya akhirnya. “Aku nggak mau pergi sebelum mengambil semua yang jadi hakku dan hak anakku.”
Ia menarik napas panjang. “Dia sudah menghancurkan aku sejak awal. Sekarang aku yang akan membuat dia membayar semuanya.”
Sekar terdiam sejenak, lalu melanjutkan lebih pelan.
“Aku mungkin belum sepenuhnya paham maksud Ayah waktu itu. Tapi aku bisa jalani mulai sekarang. Karena itu aku mau kuliah lagi. Aku harus berdiri di kakiku sendiri. Aku akan amankan semua aset dan hakku—sebagai istri, dan sebagai ibu.”
Ia tersenyum tipis, samar.
“Supaya saat waktunya tiba, aku nggak kehilangan apa pun.” Ia berhenti sejenak. “Kecuali rasa cintaku sama Mas Raka.”
Maisya menelan ludah pelan. “Lalu Langit?”
Sekar menggeleng tanpa ragu.
“Nggak ada apa-apa di antara aku dan Mas Langit selain kesepakatan.” Suaranya tegas. “Dan saat semua ini selesai aku akan pergi, Mbak.”
Ia menunduk, mengusap perutnya perlahan. “Aku akan membesarkan anakku sendiri.”
Maisya mengembuskan napas panjang.
“Mbak cuma nggak mau kamu jatuh dan sakit untuk kedua kalinya, Sekar.”
Sekar langsung memeluknya erat.
“Mbak … aku sudah nggak punya siapa-siapa selain Mbak,” bisiknya pelan. “Aku butuh kamu. Setidaknya tetaplah berada di samping aku.”
Pelukan itu dibalas hangat.
“Mbak juga sudah kehilangan Om dan Tante,” ucap Maisya lirih. “Dan sampai sekarang … kita bahkan nggak benar-benar tahu apa yang terjadi.”
Sekar terdiam. Tatapannya kosong sesaat, sebelum akhirnya ia menarik napas panjang.
“Aku sudah berusaha menerima itu, Mbak,” katanya pelan. “Kalau memang polisi bilang itu kecelakaan, ya, sudah.”
Ia menunduk. “Nggak ada bukti. Nggak ada saksi. Dan semuanya juga sudah cukup lama.”
Sekar menarik napas pelan. “Anggap saja itu memang kecelakaan.”
Maisya menatap sepupunya iba. Bukan hal yang mudah menjadi Sekar, kehilangan kedua orang tuanya di waktu yang bersamaan. Dan sekarang, ia kembali menghadapi pahitnya kehidupan.
***
Beralih ke sudut kota yang cenderung sepi, Langit duduk bersandar di sofa tak jauh dari kaca jendela. Sebatang rokok terselip di jemarinya, asapnya mengepul pelan di udara. Secangkir kopi yang tersaji di hadapannya belum tersentuh.
“Sudah berbulan-bulan, tapi kita belum juga menemukan bukti rekaman video itu,” gumamnya datar.
Di hadapannya, Bagas menunduk sejenak sebelum menjawab, “Saya sudah coba cari ke beberapa tempat yang kemungkinan jadi lokasi penyimpanan, Pak Tapi hasilnya masih nihil.”
Langit mengembuskan napas panjang. Rahangnya mengeras.
“Kita harus menemukannya,” ucapnya tegas. “Sebelum semuanya terlanjur terbuka tanpa kendali kita.”
Bagas mengangguk, lalu ragu sejenak sebelum kembali bersuara.
“Pak, apa Bu Sekar perlu tahu soal ini?” tanyanya hati-hati. “Saya takut beliau semakin salah paham sama saya.”
Langit langsung menggeleng.
“Tidak perlu,” jawabnya singkat. “Biarkan saja dia dengan prasangkanya sendiri.”
Ia mematikan rokoknya di asbak.
“Itu justru lebih aman. Kita sendiri belum pegang bukti. Terlalu cepat membuka kartu hanya akan memperumit keadaan.”
Bagas terdiam. Langit melanjutkan kembali. Kali ini suaranya lebih tenang, tapi penuh perhitungan.
“Sekar bukan perempuan bodoh,” ujarnya. “Keputusannya untuk kuliah, itu justru menguntungkan kita.”
Bagas mengernyit. “Maksud Bapak?”
Langit menyesap kopinya sebentar, lalu meletakkan cangkir itu perlahan.
“Perempuan hamil kuliah itu tidak mudah,” ucapnya tenang. “Dia pasti butuh bantuan.”
Ia menatap Bagas.
“Dan itu artinya… saya punya alasan untuk lebih sering berada di dekatnya.”
Bagas terdiam, mulai memahami arah pembicaraan itu.
“Selama ini kita kesulitan mencari bukti di rumah Raka, kan?” lanjut Langit. “Sekarang, kita punya jalur yang lebih aman.”
Bagas tampak masih ragu.
“Bapak yakin itu tidak berbahaya?”
Sudut bibir Langit terangkat tipis.
“Tidak ada peluang yang datang tanpa risiko, Bagas. Tinggal kita cukup siap atau tidak.”
Beberapa detik hening. Langit kembali menatap Bagas.
“Bagaimana dengan proyek itu?”
Bagas segera menjawab, “Proposal pengadaan sudah masuk, Pak. Sekarang sedang diproses di bagian keuangan.”
Langit mendecakkan lidah pelan, lalu tersenyum miring.
“Dasar idiot,” gumamnya kesal. “Dia benar-benar buta hanya karena perempuan.”
Ia meneguk kopinya dengan sekali tenggak, lalu meletakkan cangkir itu sedikit lebih keras dari seharusnya.
“Awasi terus,” lanjutnya dingin. “Dan salin semua data yang masuk. Sekecil apa pun.”
Bagas mengangguk mantap. “Baik, Pak.”
Langit menyandarkan tubuhnya kembali. Tatapannya kosong, tapi pikirannya jelas sedang bekerja.
***
Senyum puas terukir di bibir Anita saat notifikasi uang masuk muncul di layar ponselnya.
Ia merapat, menyandarkan kepala di dada Raka dengan manja.
“Makasih, Sayang … jadi makin cinta, deh, sama kamu,” ucapnya lembut.
Raka hanya tersenyum miring. Tangannya menahan dagu Anita, lalu mengecupnya sekilas tanpa banyak bicara.
“Selama kamu bisa bikin aku puas,” gumamnya rendah, “uang itu bukan masalah.”
Anita terkekeh kecil. “Tenang saja, Mas. Aku selalu tahu caranya,” balasnya santai. “Besok aku mau ke dokter. Kita lihat apa yang bisa aku lakukan untuk semakin membuat kamu betah.“ Matanya mengerling nakal sementara tangannya menyentuh dada Raka provokatif.
“Dasar nakal, ya, kamu.” Raka menarik tubuh Anita lebih dekat, nada suaranya setengah menggoda.
“Nakal cuma buat Mas, kok,” bisik Anita pelan.
Lampu kamar tetap menyala redup, menyisakan bayangan mereka yang bergerak liar di balik tirai.
Di tempat lain, layar ponsel menyala di tangan Sekar. Notifikasi itu masih terpampang jelas.
Transfer keluar. Lima belas juta rupiah.
Sekar menatap angka itu cukup lama. Tidak ada amarah di wajahnya. Tidak juga tangis. Hanya diam tanpa bicara.
Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis. “Lima belas juta …,” gumamnya pelan.
“Lumayan,” lanjutnya datar.
Tatapannya berubah lebih dalam. Lebih dingin.
“Kita lihat … apa yang bisa aku dapatkan dari angka itu.”
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂