Menjadi seorang dukun bukanlah sebuah pilihan atau cita-cita, tapi sebuah panggilan jiwa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual, Arjuna Telon
Hawa panas seketika mengalir dalam tubuh Rizki saat pria itu menjabat tangan Pranyoto. Aroma khas bunga telon begitu kuat.
Saat ia menatapnya bola mata Pranyoto pun menyambutnya. Keduanya saling bertatapan.
Aura mistis jelas terpancar dari tatapannya. Rizki bisa menangkapnya.
"Siapa namamu Le?" tanya Pranyoto membuyarkan lamunannya
"Rizki, Pak Dhe," jawabnya singkat
Pranyoto tersenyum kemudian menepuk pundaknya.
"Terimakasih sudah menjaga Joko selama di Bandung,"
Pranyoto kemudian mengajaknya duduk di bilik bambu. Pria itu bahkan mengajaknya untuk makan siang. Namun Rizki menolaknya karena dia sudah makan.
Ia kemudian duduk disebelah Joko.
"Bagaimana, apa yang kamu melihat sesuatu??" tanya Joko menggunakan batinnya
"Aromanya berbeda, ada yang tidak beres dengan bapakmu??"
Netra Joko membelalak.
"Apa yang terjadi dengannya??"
"Sama seperti mu dia juga sedang melakukan sebuah perjanjian dengan makhluk gaib, semacam ilmu pengasihan,"
"Ehemm!!"
Tiba-tiba keduanya menoleh kearah Pranyoto saat pria itu berdehem, seolah bisa mendengar pembicaraan batin mereka.
"Apa dia bisa mendengar pembicaraan kita??" tanya Rizki
Joko mengangguk.
Ia kemudian mengajak Rizki untuk berjalan-jalan melihat padi yang sudah menguning.
Sementara itu Pranyoto terus memperhatikan keduanya.
Meskipun Rizki dan Joko berbicara dengan menggunakan bahasa isyarat namun Pranyoto seolah memahaminya. Terkadang ia tersenyum dan terlihat tidak senang melihat keduanya berbincang dari kejauhan.
Tak mau jadi perbincangan putranya, Pranyoto menghampiri keduanya.
Kedua pria itu terhenyak saat Pranyoto merangkul keduanya.
"Tidak udah berbicara di belakang le, mari kita bicara terang-terangan saja, itu lebih baik," ucap Pranyoto dengan senyum khasnya.
Ia mengajak keduanya menuju ke gubuk dan duduk di bilik bambu. Angin semilir membuat mereka begitu nyaman meskipun mentari bersinar begitu terik siang itu.
"Kalau kau ingin tahu apa yang terjadi pada ayahmu, tak perlu mengajak orang lain untuk mengetahuinya, karena bapak bisa menjelaskannya padamu,"
Joko menunduk, ia merasa bersalah karena sudah meminta Rizki untuk menyelidikinya.
"Maafin Joko pak, Joko hanya khawatir dengan Bapak dan takut terjadi sesuatu pada Bapak,"
"Hmm," Pranyoto menarik nafas panjang
"Baiklah, kalau kamu ingin tahu apa yang terjadi pada Bapak, aku akan menceritakan semuanya padamu. Toh kamu juga sudah tahu tentang dunia kita, dunia gaib," ucap Pranyoto
Pranyoto mulai menceritakan tentang kisah masa mudanya dimana ia menyukai seorang wanita di kampungnya. Ia berniat serius dengannya makannya ia datang melamarnya. Saat itu ia sudah menyiapkan lamaran berupa tiga ekor kerbau dan beberapa seserahan sesuai dengan adat istiadat di kampungnya.
Namun saat ia datang melamar kerumah gadis itu , bukan hanya penolakan yang ia dapatkan, namun juga cacian dan hinaan. Tidak hanya itu saja, ia bahkan mengalami trauma setelah pihak wanita meludahinya. Sakit hati, tentu saja itu yang ia rasakan
Wajar saja, saat itu memang para pribumi tidak menyukai warga etnis minoritas China. Mereka menganggap orang China adalah penganggu. Mereka merebut beberapa sektor penghasilan mereka. Mereka dianggap mengambil pekerjaan mereka. Jadi wajar jika Pranyoto selalu di tolak saat menyukai seorang wanita pribumi.
Kebetulan Pranyoto adalah keturunan China. Ayahnya adalah seorang China Kejawen sedangkan ibunya adalah wanita keturunan Arab Jawa. Jadi ia memang sulit mendapatkan wanita pribumi, dengan kondisinya. Meskipun dari segi ekonomi keluarga Pranyoto adalah keluarga berada. Bahkan Sang ibu adalah keturunan bangsawan, tapi tetap saja karena dia seorang keturunan China membuatnya menjadi tidak di sukai.
Berbagi Penolakan dan penghinaan itu membuatnya sakit hati dan trauma. Ia bahkan berpikir untuk tidak menikah seumur hidupnya.
Kesedihan Pranyoto membuat sang ayah ikut merasakan kesedihannya. Hingga suatu hari sang ayah memanggilnya.
"Jujur, aku gak bisa terima kamu dipermalukan seperti ini le, bapak sedih, sakit hati dan juga dendam," ucap pria itu
Matanya berkaca-kaca seolah menahan kesedihan yang mendalam.
"Ini tak bisa dibiarkan le, kamu harus membalas mereka, apapun caranya, jangan sampai ada lagi wanita yang menolak mu. Jika perlu kamu harus menikah dengan wanita yang paling cantik, paling kaya, dan berkuasa,"
Pranyoto muda menatap nanar wajah sang ayah.
"Bagaimana caranya??" tanyanya bingung
"Jika kamu mau bapak bisa mengajarkan mu satu ilmu yang, tapi kamu harus sungguh-sungguh. Karena ajian ini tidak main-main. Dan untuk memutuskannya kamu harus memiliki sekian istri, baru bisa putus,"
Pranyoto terdiam sesaat. Sebagai seorang remaja yang belum bisa berpikir panjang Pranyoto langsung mau untuk belajar ajian yang di tawarkan sang ayah.
"Tentu saja aku akan bersungguh-sungguh. Jadi aku manut saja sama bapak, aku tahu ini pasti yang terbaik buat aku," jawab Pranyoto
"Beneran kamu serius, karena kalau tidak serius aku tidak akan menurunkan ilmu ini padamu. Ajian ini sangat berat le, bukan hanya kamu harus memiliki banyak istri, tapi ada banyak lagi pantangan yang harus kamu lakukan!"
"Sebaiknya kamu pikirin dulu mateng-mateng, jangan buru-buru," ucapnya
Joko mengangguk. Ia pun menurut saja. Dua hari kemudian ia menemui sang ayah dan memberitahunya jika ia serius untuk belajar ilmu tersebut
"Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan??" tanya Pranyoto
"Pamit dulu sama ibumu, minta restunya?" jawab sang Ayah
"Pamit??" Pranyoto sedikit bingung
"Karena kamu akan melakukan tirakat di suatu tempat,"
Pranyoto mengangguk paham, ia kemudian menemui sang Ibu dan berpamitan. Begitupun sang bapak yang ikut berpamitan.
"Hati-hati ya le, dimanapun kamu tirakat kamu harus menjaga dirimu dengan baik, pulang dengan selamat,"
"Baik Bu,"
Pranyoto dan sang ayah pun melakukan perjalanan menuju ke kota B. Sebuah kabupaten penghasil susu terbesar di Jawa Tengah.
Mereka tiba di sebuah umbul peninggalan kerajaan Majapahit. Namanya Umbul plempeng. Pranyoto akan melakukan ritual di pemandian itu untuk mendapatkan ajian Arjuna telon. Sebuah ajian untuk memberikan daya tarik tinggi hingga menolak gangguan-gangguan gaib.
Setibanya di sana, Pranyoto dan Bapak beristirahat.
Sang ayah kembali menanyakan kesiapannya untuk melakukan ritual.
"Le, kamu sudah siap belum?"
"Tentu saja saya sudah siap pak, bahkan saya sudah siap dengan resiko yang akan saya harap di masa mendatang," jawab Pranyoto mantap
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita mulai ritualnya sebelum gelap,"
Bapak kemudian menyuruh Pranyoto untuk menanggalkan semua pakaiannya.
Ia kemudian memandikannya di umbul plempeng. Umbul Plempeng adalah sebuah kolam pemandian yang terdiri dari tiga bagian. Yang pertama adalah pemandian khusus wanita, yang kedua pemandian khusus pria dan yang satunya adalah kolam pemandian khusus untuk melakukan tirakat. Jika kedua kolam pemandian lain terlihat seperti pemandian pada umumnya. Pemandian khusus untuk tirakat terlihat berbeda.
Di sana terdapat banyak pepohonan besar yang memberikan kesan angker. Letaknya yang terpisah dan di kelilingi pepohonan besar membuatnya terlihat menyeramkan.
Selesai memandikan Pranyoto, Bapak menyuruhnya naik ke atas kolam.
Ia kemudian memberikan wejangan kepadanya sebelum pergi meninggalkannya.
"Le, setelah ini Bapak akan pergi meninggalkan mu. Kamu akan melakukan tirakat selama 7 hari tujuh malam,"
Pria itu kemudian memberitahu apa yang harus ia lakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh Pranyoto selama melakukan ritual.
"Selama ritual kamu tidak boleh tidur, sampai seorang Dewi datang kepada dan memberikan sesuatu padamu, maka kau sudah berhasil menjalani ritual Arjuna telon ini,"
Tabarakallah....
Alhamdulillah....
setelah mengetahui Joko merasa kepanasan maka Maryati reflek membacakan doa sambil mengusap kepala Joko
karena Maryati sering membaca ayat-ayat Al Qur'an seeeh
padahal saat itu, Pranyoto bukan lah berasal dari kaum bangsawan atau pejabat lhooo tapi bisa memperistri Maryati yang berasal dari bangsawan
ada apa gerangan yang terjadi dengan rumah Maryati ??
kenapa mendadak hawa di rumah nya menjadi sejuk meski tak ada AC
pake maen bisik-bisik segala neeeh
kita-kita kan jadi ikutan keeepooo 🏃🏃
lalu kamu mau apalagi lhooo Joko ???
kenapa kamu masih aja belum merasa puas👉👈
jaadiiii.... secara tak langsung Maryati juga ikutan menelan darah itu donk😱😱😱
selama 2 bulan, mata kanan Joko mengeluarkan darah lalu dokter juga udah memvonis jika matanya Joko membusuk😭😭😭
tentu aja hal ini yang membuat Maryati semakin sedih
kenapa mata kanan Joko terus-menerus mengeluarkan darah saat barusan dilahirkan 👉👈