Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 27 - OLAHRAGA GABUNGAN 1
Pengumuman itu ditempel di papan informasi di koridor lantai dua, Rabu pagi.
Ara membacanya sambil berjalan, lalu berhenti tepat di depan papan. Via berdiri di sampingnya. Ara membaca ulang baris kedua, karena baris pertama saja sudah cukup bikin kaget.
Pelajaran Olahraga Gabungan: Kelas XI-A vs XI-C
Jumat, lapangan utama sekolah
Putri: pertandingan voli
Putra: pertandingan sepak bola
Perwakilan kelas dipilih oleh guru olahraga
Via membaca sekali.
Lalu menoleh ke Ara.
"XI-C."
"Iya."
"Itu kelas Gill."
"Iya."
Via kembali melihat kertas pengumuman itu, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Olahraga gabungan biasanya cuma buat latihan biasa. Ini sudah seperti pertandingan."
"Iya."
"Berarti ada yang menang dan ada yang kalah."
Ara meliriknya.
"Iya, Via. Aku juga bisa baca."
Via mengangguk pelan.
Bukan karena meragukan Ara, tapi karena memang sedang memproses informasi dengan caranya sendiri.
"Menarik," katanya akhirnya.
Mereka lalu berjalan kembali ke kelas.
Guru olahraga mereka, Pak Rendra, mengumumkan perwakilan kelas di jam pertama hari itu.
Caranya sangat sederhana.
Dan tidak memberi ruang untuk protes.
"Untuk voli putri, saya sudah lihat kemampuan kalian dari latihan minggu-minggu kemarin," kata Pak Rendra sambil memegang daftar nama.
"Saya yang menentukan siapa yang main. Ini bukan demokrasi. Ini olahraga."
Beberapa siswa tertawa kecil.
"Setter: Tiara Alexsandra."
Ara mengangguk dari bangkunya.
Posisi setter bukan hal baru untuknya. Ia sudah cukup sering bermain di posisi itu saat pelajaran olahraga. Posisi itu cocok dengan caranya membaca permainan di lapangan.
"Libero: Via Liana."
Via tidak bereaksi.
Ia hanya menulis sesuatu di buku catatannya dengan santai, seolah baru saja dipilih mewakili kelas adalah hal yang biasa saja.
Pak Rendra melanjutkan menyebut nama pemain lain.
Ara mencatatnya setengah serius.
Karena setengah pikirannya sedang memikirkan hal lain.
Bagaimana dengan kelas XI-C?
Bagaimana dengan tim sepak bola mereka?
Dan yang lebih penting…
Apakah Gill — yang aktivitas fisiknya selama ini hanya Ara lihat berjalan ke atap sekolah dan sekali berlari mengejar kucing yang akhirnya mencakar tangannya — benar-benar bisa bermain sepak bola?
Di kelas XI-C, situasinya sedikit berbeda.
Pak Rendra mengumumkan daftar pemain sepak bola dengan cara yang sama.
Tidak ada diskusi.
Tidak ada negosiasi.
Sampai satu nama disebut.
"Gian William. Kiper."
Kelas langsung hening sebentar.
Marco, yang duduk di sebelah Gill, langsung menoleh dengan wajah yang sangat antusias.
Gill menatap Pak Rendra.
"Aku tidak—"
"Kamu pernah jadi kiper waktu kelas tujuh," potong Pak Rendra tanpa melihat ke arahnya. "Tiga orang di kelas ini yang merekomendasikan."
Gill menoleh ke tiga orang yang dimaksud.
Mereka langsung pura-pura melihat ke arah lain.
"Itu tiga tahun lalu," kata Gill.
"Kemampuan kiper tidak hilang dalam tiga tahun."
"Aku tidak pernah main lagi sejak itu."
"Berarti Jumat ini kamu main lagi."
Pak Rendra akhirnya menoleh ke Gill.
"Ada masalah?"
Gill diam satu detik.
"Ada," jawabnya. "Aku tidak mau."
Pak Rendra menatapnya dengan wajah tenang, seperti guru olahraga yang sudah terlalu sering menghadapi siswa keras kepala.
"Daftar ini sudah final."
"Aku bisa membuat tim kita didiskualifikasi."
"Kamu tidak akan melakukan itu."
Gill mengangkat alis sedikit.
"Dari mana Bapak tahu?"
"Karena kamu bukan tipe orang yang sengaja merugikan orang lain."
Pak Rendra kembali melihat daftar.
"Latihan Kamis pagi. Jangan terlambat."
Gill menatap punggung gurunya yang sudah berjalan pergi.
Di sebelahnya, Marco sudah tersenyum lebar.
"Jangan," kata Gill tanpa menoleh.
"Aku belum bilang apa-apa."
"Kamu mau bilang sesuatu."
"Aku cuma senang."
"Itu lebih buruk."
Marco mencoba membuat wajahnya netral.
Gagal.
Sudut bibirnya masih naik.
"Gill, ini bagus," katanya. "Kamu ketemu Ara di lapangan. Romantis."
"Itu bukan alasan yang relevan."
"Tapi tetap alasan."
Gill tidak menjawab.
Bukan karena tidak punya jawaban.
Lebih karena Marco, dengan cara menyebalkannya yang selalu tepat sasaran, sudah mengatakan sesuatu yang sebenarnya juga ada di pikiran Gill.
Jam makan siang.
Gill sudah duduk di atap lebih dulu dari biasanya.
Di tangannya ada mie cup dari kantin. Bekalnya sudah habis sejak jam ketiga, dan ia tidak mau turun lagi ke kantin yang penuh.
Beberapa menit kemudian Ara datang.
Ia langsung membuka bekalnya dan makan beberapa suap sebelum berkata,
"Aku dengar kamu dipilih jadi kiper."
"Dari siapa?"
"Sekolah ini kecil." Ara mengangkat bahu. "Gill, kamu bisa main sepak bola?"
"Dulu bisa."
"Dulu kapan?"
"SMP."
Ara menyendok nasi.
"Dan kamu mau ikut?"
"Tidak ada pilihan."
"Pak Rendra yang paksa?"
Gill diam sebentar.
Menyeruput mie cup-nya dulu sebelum menjawab.
"Marco."
Ara menoleh.
"Marco yang paksa?"
"Marco yang mengancam."
"Mengancam bagaimana?"
Gill menatap mie cup-nya.
"Dia bilang akan mengadu ke Fio kalau aku tidak ikut."
Ara berkedip.
Sekali.
Dua kali.
"Mengadu ke Fio?" ulangnya.
"Dia tahu Fio pasti kecewa kalau aku menolak tanpa alasan jelas."
Gill melanjutkan makan mie-nya dengan nada datar.
"Itu ancaman yang efektif."
Ara menatapnya tiga detik.
Lalu menunduk ke bekalnya.
Bahunya mulai bergerak.
"Ara," kata Gill.
"Hm."
Bahunya masih bergerak.
"Kamu tertawa."
"Tidak."
Suaranya sedikit goyah.
"Bahumu bergerak."
"Itu refleks."
"Refleks apa?"
Ara mengangkat kepala.
Ekspresinya sudah kembali normal, tapi matanya masih bersinar.
"Marco pintar."
"Marco menyebalkan."
"Keduanya bisa benar."
Gill menatapnya lelah.
"Jangan ulang kata-kataku."
"Itu kalimat bagus," kata Ara santai. "Layak diulang."
Ia kembali makan.
"Jadi Jumat kamu jadi kiper."
"Iya."
"Aku setter di voli."
"Iya."
"Berarti kita di lapangan yang sama."
"Lapangan berbeda," kata Gill. "Tapi area yang sama."
Ia melihat ke arah cakrawala kota Eldria.
"Voli di lapangan dalam. Sepak bola di lapangan luar."
Ara tersenyum kecil.
"Aku bisa lihat kamu dari sana."
Gill tidak menjawab.
Tapi juga tidak mengganti topik.
Beberapa menit mereka makan dalam diam.
Lalu Ara berkata lagi,
"Gill."
"Hm."
"Kamu tidak perlu gugup."
"Aku tidak gugup."
"Kamu makan mie cup."
Gill menatapnya.
"Kamu tidak pernah makan mie cup kalau bekalmu masih ada," lanjut Ara.
Gill melihat mie cup di tangannya.
Lalu menatap Ara.
"Bekalku habis di jam ketiga."
"Iya." Ara tersenyum kecil. "Itu yang kamu bilang tadi."
Gill kembali makan tanpa berkata apa-apa.
Dan Ara melanjutkan makan bekalnya dengan sudut bibir yang masih sedikit terangkat.