Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dasar Perempuan Manja
Pertemuan pertama mereka terjadi saat usia Shaneen 5 tahun, dan Michael 8 tahun. Bocah nakal itu membuat Shaneen menangis hanya karena permainan konyol, siapa kalah—kepalanya akan dijentik. Dan sayangnya, Shaneen selalu kalah. Sepertinya itu adalah pertemuan pertama, dan hari ini adalah pertemuan kedua setelah sekian lama. Tapi bagi Shaneen, ini adalah pertemuan ketiganya.
Shaneen Lorica Tizon, bukan lagi gadis imut tapi wanita matang dengan usia 27 tahun. Ayahnya meninggal lima tahun yang lalu, akibat tembakan peluru tepat di dada kirinya. Saat itu terjadi tragedi besar. Sebagai seorang mafia, tentu saja dia sangat banyak musuh. Apalagi saat itu tuan Tizon sedang lagi naik-naiknya. Tapi naiknya nama itu bukan karena aksi jual beli barang ilegal apalagi transaksi gelap. Sejak dulu memang terkenal kaya dan sebelas dua belas dengan sahabat baiknya Tuan Reyes Miguel.
Mereka berdua adalah sahabat baik yang punya ambisi yang sama sama, yaitu mempunyai kekayaan tanpa batas. Makin lama kedekatan mereka bukan lagi sekedar sahabat melainkan sudah seperti saudara satu sama lain yang membutuhkan uluran tangan. Dan sejak saat itu, Tuan Tizon membuat permintaan sesaat sebelum terjadi tragedi besar itu. Tuan Tizon meminta agar Reyes Miguel mau menjaga dan menerima Shaneen seperti putrinya sendiri. Tentu saja Reyes Miguel tidak keberatan, dan memikirkan cara agar mereka benar-benar terikat dalam sebuah keluarga.
Sedangkan Michael Reins Miguel, usia 30 tahun. Wajah yang tampan, garis rahang yang sempurna, postur tubuh tegak dan bahu yang lebar menggambarkan manusia ini sangat-sangat sempurna. Tatapan mata yang tajam, dingin dan aura Black flag nya yang terpancar. Namun siapa sangka, dia adalah orang berhati hangat pada ibunya.
Mendapatkan kabar bahwa mereka akan dijodohkan, tentu saja keduanya keberatan. Tapi mau gimana lagi, Shaneen juga masih punya ibu. Tidak mungkin tuan Reyes Miguel mengadopsinya sebagai anak, jadi lebih baik dia menjadikan Shaneen sebagai menantu agar benar-benar menjadi keluarga seperti rencananya pada Orlando Tizon dulu.
Setelah pertemuan mereka di restoran beberapa hari yang lalu. Bagi Shaneen itu adalah pertemuan konyol, dia seharian bicara terus tapi seperti orang yang berbicara dengan tembok. Manusia yang duduk tegak dihadapannya itu benar-benar mengabaikan dirinya.
Michael hanya fokus lurus kedepan makanannya, sedangkan Shaneen sibuk membahas masalah pernikahan mereka nantinya. Bukannya memberikan tanggapan, saran atau sekedar solusi. Michael hanya duduk diam mendengar celoteh Shaneen. Shaneen benar-benar dibuat kesal, andaikan bukan kemauan ayahnya. Mana mau dia menikah dengan manusia kaku seperti Michael itu.
"Bu? Apa gak bisa ya pernikahan ini batal saja?" Tanya Shaneen disela-sela makan malamnya yang hanya menyisakan berdua dengan ibunya.
"Sayang, kamu kan tau kalau ayah kamu dan tuan Reyes itu sahabat baik."
"Bersahabat baik itu tidak harus langsung terikat seperti keluarga Bu!" Dia masih mencoba merayu ibunya.
"Iya, ibu tau. Tapi kan ini kemauan mendiang ayahmu Ninin." Shaneen hanya cemberut memanyunkan bibirnya.
Sera yang melihat putrinya itu hanya tersenyum gemas. Walau bagaimanapun, Shaneen bukan lagi anak-anak yang harus dituruti kemauannya seperti kemarin-kemarin. sekarang dia sudah beranjak dewasa, jika tidak dilakukan hal seperti ini, maka dia akan terus menunda hari yang kita sebut bahagia itu.
Setiap kali ditanya, pasti jawabnya 'iya nanti' bagi Shaneen—ayahnya adalah cinta pertamanya sekaligus cinta satu-satunya. Tidak ada cinta yang lebih besar dan tulus selain dari ayah dan ibunya itu. Baginya, semua pria sama saja—mendekatinya hanya karena maksud tertentu. Dia bosan dengan pria seperti itu. Tapi kali ini, dia tidak punya pilihan selain menerima perjodohannya dengan Michael, si manusia menyebalkan yang kaku itu.
...***...
Hari ini; Suara gemerincing lonceng di pintu masuk butik mewah itu disambut oleh bungkuk hormat para pelayan. Michael melangkah masuk dengan tangan di saku celana, wajahnya sedatar papan kayu. Di sampingnya, Shaneen berjalan dengan langkah centil, sesekali berhenti untuk menyentuh manekin dengan ekspresi tidak puas.
"Michael, lihat! Masa mereka menyarankan gaun dengan potongan A-line?" Shaneen mengadu sambil menarik-narik lengan jas Michael. "Kamu tahu kan pinggangku ini kecil sekali? Aku akan terlihat seperti lampion kalau pakai itu!"
Michael menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah pilar marmer besar di tengah butik. Ia menatap Shaneen dengan tatapan mematikan. "Shaneen, ini sudah butik kelima. Pakai saja apa pun yang menurut mereka bagus, dan mari kita selesaikan ini dalam sepuluh menit."
"Sepuluh menit?! Kamu pikir aku mau menikah pakai daster?" Shaneen mendengus, lalu berbalik menuju deretan gaun pengantin yang harganya bisa membeli sebuah apartemen.
Sambil menunggu Shaneen masuk ke ruang ganti, Michael merogoh saku celananya dengan gerakan kasar. Ia menarik ponselnya, jarinya bergerak cepat di atas layar, memantau pergerakan pengiriman senjata di pelabuhan yang sedang bermasalah. Pikirannya jauh dari urusan pernikahan, sampai suara tirai yang disingkap mengalihkan perhatiannya.
Shaneen keluar dengan gaun ballgown yang sangat mekar, penuh dengan payet kristal yang berkilauan. "Gimana? Jelek ya? Aku merasa seperti kue tart raksasa."
Michael bahkan tidak melihat gaunnya. Matanya tertuju pada pantulan Shaneen di cermin besar. Gadis itu tampak sibuk memutar tubuh, tapi Michael menangkap sesuatu—gerakan kaki Shaneen saat berputar sangat stabil dan seimbang, tidak seperti gadis manja yang biasanya gampang tersandung.
"Bagus. Ambil yang itu," ucap Michael pendek tanpa ekspresi.
"Ih! Kamu bahkan tidak melihatnya dengan benar!" Shaneen melangkah mendekat, gaun besarnya menyapu lantai. Ia berdiri tepat di depan Michael, lalu menengadah. "Michael, fokus dong!"
Karena merasa terganggu, Michael mengangkat tangannya dan—Plak!—ia menjentik dahi Shaneen dengan jari tengahnya.
"Aduh! Michael!" Shaneen memekik, tangannya langsung menutupi dahinya yang memerah. "Sakit tau! Jidatku kan aset!"
"Asetmu adalah mulutmu yang tidak bisa berhenti mengeluh," balas Michael dingin. "Masuk dan ganti pakaianmu. Sekarang."
Shaneen menghentakkan kakinya dengan kesal, lalu berbalik masuk ke ruang ganti. Begitu tirai tertutup rapat, ekspresi merengek di wajah Shaneen hilang seketika. Ia berdiri tegak, napasnya tenang.
Sambil pura-pura melepas ritsleting gaun, tangannya yang tersembunyi di balik kain tebal itu merogoh sesuatu dari balik korsetnya—sebuah alat komunikasi kecil. Ia menekan tombol mute dan berbisik sangat rendah, "Bagaimana? Apakah kamu sudah mendapatkan apa yang aku mau?"
Di luar, Michael kembali bersandar pada pilar, kembali merogoh ponselnya, tidak menyadari bahwa calon istrinya yang baru saja ia sentil adalah wanita bertopeng yang ia cari selama ini.
"Dasar perempuan manja," gumam Michael pelan.
Tanpa dia tahu, wanita tangguh itu sedang berada dua meter darinya, sedang kesulitan melepas gaun pengantin karena ritsletingnya sengaja ia sangkutkan agar punya alasan untuk berlama-lama di dalam.
Michael mengalihkan pandangannya fokus dan menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Eh, sudah lewat dua puluh menit dan kenapa Shaneen belum juga keluar.
"Shaneen? Bisa tidak cepat sedikit? Aku harus kembali ke kantor setelah ini." Teriaknya sambil menatap tajam kearah tirai yang sedari tadi belum juga terbuka.
"Apa yang dia lakukan? Kenapa lama sekali. Hei kau, cepat cek didalam." Perintahnya dengan nada sedikit meninggi. Pelayan itu segara melangkah terbirit-birit menuju tirai. Shaneen yang berpikir Michael akan masuk melihatnya ternyata hasil yang nihil, mana mau dia melihat perempuan yang ia anggap membosankan dan menyebalkan itu.