Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.
Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Lukas
Suara langkah kaki Faisal dan dua notaris di belakang Faisal semakin jelas menghampiri tengah ruangan. Semua mata tertuju pada mereka, Nick sudah menyeka darah dari sudut bibirnya, Nathan berusaha berdiri dengan tubuh yang masih goyah, sementara Nayla dan Nayra masih saling memeluk, mata mereka penuh dengan rasa cemas yang menggelegak.
"Keluarga Kennedy." Salah satu notaris yang lebih tua, pak Ridwan, mengeluarkan amplop berwarna hitam dari kantong jasnya. Suaranya kalem namun penuh dengan keabsahan, membuat setiap orang pun terdiam sepenuhnya. "Kami datang untuk membacakan surat wasiat terakhir dari almarhum Bapak Lukas Ananta Kennedy, yang telah ditetapkan sebelum wafatnya beliau."
Nagara melangkah maju dengan langkah yang stabil, meskipun wajahnya masih terpampang ketegangan yang mendalam. "Silakan, pak Ridwan. kami semua siap mendengarkan."
"Pak Tarjo dan bi Surti?" Tanya pak Ridwan mengedarkan pandangan, seolah mencari keberadaan nama yang tadi ia sebutkan
"Saya di sini tuan" jawab bi Surti yang berdiri di ujung ruangan bersama suami nya
"Sini bi, bergabung saja" pinta pak Ridwan
"Tidak Tuan, saya di sini saja tidak apa-apa" ucap bi Surti sungkan
"Tapi tetap dengarkan apa yang saya bicarakan ya pak, bi" ucap pak Ridwan sopan yang gegas di angguki oleh pasangan suami-istri itu
Pak Ridwan membuka amplop dengan hati-hati, kemudian mengeluarkan sehelai kertas bergaris yang sudah sedikit menguning di ujungnya. Dia menoleh ke semua arah, memastikan setiap saudara bisa mendengar dengan jelas
"Dengan nama Tuhan Yang Maha Esa, surat wasiat ini dibuat oleh saya, Lukas Ananta Kennedy, pada tanggal 15 November tahun lalu, dalam keadaan akal sehat dan penuh kesadaran."
"Untuk anak sulung saya, Nagara Ananta Kennedy, yang telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang layak, saya berikan 60% saham seluruh perusahaan utama milik keluarga Kennedy."
Nick mengerutkan kening, tapi tidak mengeluarkan suara apa-apa. Nagara hanya menatap lurus ke depan, tangan nya terlipat rapat di depan dada.
"Untuk anak kedua saya, Nicholas Ananta Kennedy, yang telah memilih jalan nya sendiri sebagai pilot. saya berikan 10% saham perusahaan, serta 50 hektar kebun sawit yang sudah siap panen berlokasi di Provinsi Sumatra Selatan."
Matanya berkedip-kedip, seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Air mata mulai mengumpul di sudut matanya tapi dia berusaha menahannya.
"Untuk anak ketiga saya, Nathan Ananta Kennedy, yang telah membangun bisnis restoran kelas atas dengan tangan nya sendiri, saya berikan 10% saham perusahaan, serta rumah utama keluarga Kennedy dengan luas 1000 M² yang kini menjadi tempat tinggal kita semua.(maaf jika tidak adil, tapi setidaknya papa sudah membantu beberapa restoran yang kau bangun)"
Nathan yang baru saja berdiri langsung terpaku. Bibirnya bergetar, dan dia menoleh ke arah Nayra yang masih terisak di belakang Nayla. Wajahnya mulai tampak bingung, menggantikan amarah yang tadi membara.
"Untuk anak perempuan kembar saya yang tercinta, Nayla Agata Kennedy, yang lahir lebih dulu dengan penuh keajaiban. saya berikan 10% saham perusahaan, serta 3 buah hotel bintang lima yang berada di kawasan Jakarta, dan lima bangunan mall yang terletak di beberapa kota."
"Untuk anak bungsu saya, Nayra Agata Kennedy, yang kelahirannya telah membuat saya kehilangan istri tercinta namun juga memberikan anugerah besar dalam hidup saya, saya berikan 10% saham perusahaan, serta 1 toko baju branded yang berlokasi di pusat kota jakarta. Selain itu ada juga 1 perusahaan yang sekarang di pegang Awan dengan aset sekitar 100 miliar"
Nayla menangis lebih deras, dia meraih tangan Nayra dengan erat. "Nay, dengar... Papa tidak pernah melupakan kita..." bisiknya pelan
Pada saat itu, Nayra tidak bisa menahan tangisnya lagi. Dia menangis sambil menyembunyikan wajahnya di bahu Nayla, sedangkan Nick akhirnya meraih bahu kedua kembar itu dengan lembut, tangannya gemetar.
"Selain itu, setiap satu dari kalian lima bersaudara akan mendapatkan uang tunai sebesar 50 miliar rupiah, yang akan dicairkan segera setelah surat wasiat ini dibacakan."
"Dan selebihnya ada sisa uang cash sebesar 10 miliar yang akan di berikan ke pak Tarjo dan bibi Surti yang sudah setia terhadap keluarga Kennedy selama puluhan tahun, kedepannya saya menitipkan anak-anak saya kepada bi Surti dan pak Tarjo"
"Masyallah" gumam pak Tarjo dan bi Surti secara bersamaan dengan mata berkaca-kaca
Pak Ridwan mengakhiri pembacaan dengan lembut, kemudian melipat kembali surat itu. "Demikian isi surat wasiat almarhum. Semua pembagian ini telah diatur dengan jelas dan tercatat di kantor notaris kami."
Hening menyelimuti ruangan. Setelah sekian lama penuh dengan amarah dan dendam, kini hanya tersisa suara tangisan yang perlahan berubah menjadi hembusan napas lega. Nick melangkah mendekat ke Nathan, kemudian mengangkat tangannya untuk menyeka darah yang masih menetes di pipi sang adik. Nathan hanya menatapnya dengan mata yang sudah lelah, lalu mengangguk perlahan.
Nagara menghampiri keempat adiknya, kemudian membentangkan tangannya untuk merangkul mereka semua dalam pelukan yang erat. "Papa memang tidak pernah berhenti mencintai kita semua... bahkan saat dia merasa kesakitan." bisiknya dengan suara yang penuh emosi.
Setelah pelukan hangat itu terlepas, bi Surti dengan hati-hati menghampiri mereka membawa kain lap dan air hangat. Pak Tarjo sudah menyuruh asisten rumah tangga membersihkan pecahan kaca di lantai, sementara Faisal dan para notaris menunggu di sisi lain dengan wajah penuh penghormatan.
"Terimakasih, karena bibi dan bapak juga dapat bagian" lirih bi Surti dengan mengusap wajah Nathan menggunakan kain
"Kita harus bicarakan ini dengan tenang," ujar Nagara sambil menepuk bahu Nick dan Nathan bergantian. "Semua yang Papa berikan adalah hasil dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun, dan pasti ada maksudnya di balik setiap pembagian itu."
Nick mengangguk, matanya masih merah karena tangisan yang baru saja dihalangi. "Aku... aku salah, Kak. Aku tidak seharusnya memukul Athan. Aku terlalu terbawa emosi karena selalu merasa tidak adil sama Nayra."
Nathan menggeleng perlahan, lalu memegang tangan Nick. "Aku juga salah, Kak Nick. Aku menyalahkan Nayra tanpa alasan yang benar. Padahal Papa sendiri sudah memaafkannya, kenapa aku tidak bisa?"
Saat itu, Nayra akhirnya mengangkat wajahnya dari bahu Nayla. Matanya masih bengkak karena menangis, tapi kini ada cahaya di dalamnya. "Aku tidak pernah menyalahkan Papa atau kalian... aku tahu, kelahiranku membuat semua orang terluka."
"Nay, jangan pernah berpikir begitu lagi!" ucap Nayla dengan suara tegas. "Kita adalah kembar, apa yang terjadi padamu juga terjadi padaku. Dan sekarang kita tahu, Papa mencintaimu sama seperti mencintai kita semua."
Pak Ridwan kemudian mendekat dengan membawa beberapa berkas tambahan. "Maafkan saya, Bapak dan Saudari-saudari. Almarhum juga menyisakan sebuah catatan khusus untuk kalian berlima." Dia mengeluarkan sehelai kertas kecil yang tampak ditulis dengan tangan.
"Untuk anak-anak ku tercinta, Aku tahu selama ini ada celah di antara kalian, terutama karena peristiwa kelahiran Nayra yang membuat aku kehilangan ibu kalian. Aku sendiri dulu tidak bisa menerima kenyataan itu, dan itu membuat aku menyakiti hati Nayra tanpa sadar. Namun sebelum aku pergi, aku menyadari bahwa cinta seorang ayah tidak boleh pernah terbagi atau berpihak. Setiap bagian warisan yang aku berikan adalah sesuai dengan bakat dan jalan hidup masing-masing dari kalian. Nagara untuk memimpin, Nick untuk memiliki tempat yang bisa dia kembangkan sendiri jauh dari kota, Nathan untuk memiliki rumah yang selalu jadi pangkal keluarga, Nayla untuk mengelola bisnis yang sesuai dengan hasratnya pada perhotelan, dan Nayra untuk menjalankan bisnis yang sesuai dengan minatnya pada mode. Semoga kalian bisa bekerja sama, merawat satu sama lain, dan menjadikan nama keluarga Kennedy lebih terhormat lagi. Cintaku selalu ada untuk kalian semua, Lukas Ananta Kennedy."
Setelah membaca catatan itu, kelima bersaudara saling melihat dengan mata yang penuh makna. Tanpa perlu banyak kata, mereka kembali saling merangkul, kali ini dengan rasa damai dan janji untuk menjalani hidup bersama sebagai keluarga yang utuh.
Faisal kemudian menyampaikan bahwa semua proses hukum akan diurus segera, dan uang tunai serta dokumen kepemilikan akan diberikan dalam waktu tiga hari ke depan. Bi Surti sudah mulai menyuruh memasak makanan hangat untuk semua orang, sambil berkata dengan suara lembut, "Akhirnya bibi bisa melihat kalian semua rukun seperti ini, bapak dan ibu pasti senang melihatnya dari sana."
Di malam hari nya, mereka berlima duduk bersama di taman belakang rumah, tempat dimana mereka dulu sering bermain bersama saat kecil. Mereka berbicara tentang masa depan, tentang bagaimana akan menjalankan bagian warisan masing-masing sambil tetap saling mendukung. Nick bahkan mengajak Nathan untuk membuka restoran khusus di salah satu hotel Nayla, sementara Nayra berencana untuk membuat koleksi baju khusus untuk karyawan perusahaan keluarga.
Nagara melihat ke atas ke langit yang penuh bintang, lalu tersenyum. "Papa dan Mama pasti sedang melihat kita sekarang..." ujarnya pelan.
"Ya Kak," sahut Nayra dengan senyum pertama yang muncul di wajahnya sejak lama. "Mereka pasti bangga."