Dia adalah Kezia Putri Ramadhan – CEO muda berusia 25 tahun yang menguasai bisnis tekstil keluarga dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan rapat bisnis, target penjualan, dan tanggung jawab berat hingga dia tak punya waktu untuk cinta. Namun, semuanya berubah ketika keluarga dihadapkan pada kehancuran keuangan yang hanya bisa dihindari dengan satu cara: menikahi putra keluarga Wijaya.
Yang tak disangka, calon suaminya adalah Rizky Wijaya – seorang anak SMA berusia 18 tahun yang baru saja lulus ujian masuk kampus, suka bermain game, ngemil keripik, dan masih sering lupa menyetrika baju!
Tanpa pilihan lain, mereka menjalani pernikahan yang tak diinginkan. Di rumah besar Kezia, tingkah lucu Rizky tak pernah berhenti: memasak yang malah membuat kompor berasap, menempelkan stiker kartun di laptop kerja istri, hingga menyuruh asisten perusahaan memanggilnya "Mas Rizky". Tapi bukan hanya kelucuannya yang menghiasi kehidupan mereka – rasa cemburu sang suami muda yang masih dibawa umur ju
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHAMILAN YANG TIDAK DI HARAPKAN
Suatu pagi yang cerah, Kezia bangun dengan perasaan tidak nyaman di perutnya. Dia merasa ingin muntah dan tubuhnya terasa sangat lelah meskipun sudah tidur cukup lama. Maya yang melihatnya langsung merasa khawatir dan menyarankan agar dia memeriksakan diri ke dokter. "Bu Kezia, kamu wajahnya pucat banget nih. Yuk kita periksa ke dokter aja biar tenang," ucap Maya dengan suara penuh kekhawatiran sambil membantu Kezia berdiri dengan hati-hati.
Setelah diperiksa oleh dokter keluarga mereka, dr. Siti, hasilnya membuat kedua mereka terkejut – Kezia sedang hamil selama dua bulan. Rizky yang menemani nya di rumah sakit langsung merasa seperti berada di atas awan dan di dalam lubuk yang dalam pada saat yang sama. Tangannya gemetar saat menerima hasil pemeriksaan, matanya berkaca-kaca karena campuran kegembiraan dan rasa takut yang luar biasa.
"Aku akan jadi ayah?" tanya Rizky dengan suara gemetar, melihat ke arah Kezia yang juga sedang menahan emosi. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak sangat serius, bahkan sedikit pucat karena kejutan yang tidak terduga.
Dokter Siti tersenyum hangat dan mengangguk. "Betul sekali, muda muda. Istri kamu sedang dalam kondisi hamil yang baik. Kalian harus lebih memperhatikan kesehatan dan pola makannya dari sekarang. Jangan sampai terlalu banyak bekerja dan pastikan dia cukup istirahat ya."
Setelah pulang dari rumah sakit, mereka duduk bersama di ruang tamu dengan suasana yang campur aduk. Rizky merasa sangat bahagia tapi juga sangat takut – dia masih belum lulus kuliah, belum memiliki pekerjaan tetap selain sebagai asisten dosen dan pengelola proyek kecil, dan dia merasa belum siap menjadi ayah. Dia berjalan bolak-balik di ruang tamu sambil menggaruk kepalanya yang sudah mulai berantakan.
"Kak Kezia, aku minta maaf ya," ucap Rizky dengan suara pelan setelah beberapa saat berdiam diri. "Aku belum bisa memberikan kehidupan yang layak untuk kamu dan anak kita. Aku masih kuliah dan belum punya pekerjaan yang stabil. Bahkan aku masih sering minta uang saku ke orang tuaku untuk keperluan kecil!"
Kezia mengambil tangannya dengan lembut dan menariknya untuk duduk di sebelahnya. Dia menatapnya dengan mata yang penuh cinta dan pengertian. "Kamu tidak perlu merasa bersalah, Rizky. Anak ini adalah anugerah yang indah untuk kita berdua. Kita akan menghadapinya bersama-sama, seperti kita menghadapi semua masalah sebelumnya. Uang dan pekerjaan bisa kita cari bersama, tapi kebahagiaan memiliki anak tidak bisa dibeli dengan uang apa pun."
Namun rasa khawatir Rizky tidak mudah hilang. Dia mulai bekerja lebih keras dari sebelumnya – selain kuliah dan menjadi asisten dosen, dia juga mengembangkan proyek bisnis nya dengan lebih giat dan bahkan mencari pekerjaan paruh waktu lain sebagai tutor matematika untuk siswa SMA. Kadang-kadang dia pulang ke rumah terlambat hingga jam 11 malam dan sangat lelah, membuat Kezia merasa khawatir dengan kondisinya.
Suatu malam, Kezia menunggu Rizky dengan menyediakan makanan hangat di meja makan. Ketika Rizky akhirnya datang dengan wajah yang sangat lelah dan mata yang merah karena kurang tidur, dia tidak bisa menahan perasaannya lagi. "Saya khawatir kamu akan jatuh sakit jika terus bekerja seperti ini, Rizky. Kamu sudah tiga hari tidak tidur cukup dan hanya makan mie instan saja!" ucap Kezia dengan suara penuh kekhawatiran, bahkan sedikit marah karena melihat kondisi suaminya yang semakin memprihatinkan.
"Tidak apa-apa, Kak Kezia. Aku harus bekerja keras agar bisa menyediakan segala sesuatu untuk kamu dan anak kita. Aku tidak ingin kamu merasa sulit atau harus mengorbankan sesuatu karena aku belum mampu," jawab Rizky dengan suara yang sudah mulai lemah karena kelelahan. Dia bahkan hampir tersandung kursi saat akan duduk karena tubuhnya sudah sangat capek.
Beberapa hari kemudian, Rizky tiba-tiba jatuh sakit saat sedang memberikan kuliah tamu tentang bisnis muda di salah satu SMA di Palembang. Dia sedang menjelaskan tentang pentingnya kreativitas dalam bisnis ketika tiba-tiba merasa sangat pusing dan pandangannya menjadi kabur. Sebelum bisa berkata apa-apa, dia langsung pingsan dan jatuh ke lantai dengan suara terdengar keras. Teman-temannya yang ikut bareng langsung panik dan membawanya ke rumah sakit terdekat, kemudian memberitahu Kezia tentang kejadian itu dengan cepat.
Ketika Kezia tiba di rumah sakit dengan hati yang berdebar kencang, dia melihat Rizky yang sedang terbaring lemah di ranjang dengan wajah yang pucat dan monitor detak jantung yang berdenyut dengan tidak teratur. Dokter yang merawatnya menjelaskan bahwa Rizky mengalami kelelahan akut karena bekerja terlalu keras dan tidak memperhatikan kesehatan dirinya sendiri. Bahkan kadar gula darahnya sangat rendah karena jarang makan makanan bergizi dan terlalu banyak mengandalkan mie instan dan makanan cepat saji.
"Kamu harus beristirahat dengan cukup, muda muda. Kondisimu saat ini tidak baik untukmu dan juga untuk istri kamu yang sedang hamil. Stres berlebihan dan kurangnya nutrisi bisa berdampak buruk bagi kesehatanmu dan juga perkembangan janin di dalam kandungan istri kamu," ucap dokter dengan suara serius sebelum keluar dari kamar untuk memberikan kesempatan bagi pasangan muda itu untuk berbicara.
Kezia duduk di sisi ranjang Rizky dengan mata yang berkaca-kaca. Air mata mulai mengalir di pipinya saat melihat kondisi suaminya yang lemah seperti itu. "Mengapa kamu harus bekerja terlalu keras seperti ini, Rizky? Kita sudah punya cukup uang untuk memenuhi kebutuhan kita. Aku tidak ingin kamu sakit hanya karena ingin memberikan yang terbaik untukku dan anak kita. Anak kita juga butuh ayahnya yang sehat, bukan ayah yang sakit dan tidak bisa merawatnya!"
Rizky mengambil tangannya dengan lembut dan juga mulai menangis. Matanya yang masih sedikit kabur melihat ke arah Kezia dengan penuh rasa bersalah. "Aku hanya ingin menjadi ayah dan suami yang layak untuk kamu, Kak Kezia. Aku tidak ingin kamu merasa menyesal telah memilihku sebagai suamimu. Aku takut kamu akan merasa bahwa aku terlalu muda dan belum mampu menjaga kamu berdua dengan baik."
Kezia merasa hatinya sakit mendengar kata-kata itu. Dia mencium dahinya dengan lembut dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya. "Kamu sudah menjadi suami yang luar biasa untukku, Rizky. Dan aku tahu kamu akan menjadi ayah yang luar biasa juga. Kesehatanmu jauh lebih penting daripadapun uang atau materi apa pun. Kita bisa menghadapi segala sesuatu bersama-sama – tidak perlu kamu menanggung semuanya sendirian. Ingat ya, kita adalah pasangan, dan pasangan harus saling membantu dan mendukung satu sama lain, bukan saling membebani."
Setelah pulang dari rumah sakit, Rizky mulai belajar untuk mengatur waktu dengan lebih baik. Dia masih bekerja keras untuk kuliah dan proyek bisnis nya, tapi sekarang dia juga memperhatikan kesehatan dirinya dan lebih sering menghabiskan waktu bersama Kezia. Mereka sering berjalan-jalan santai di taman kota setiap sore setelah Rizky pulang dari kampus, membicarakan tentang masa depan mereka bersama anak mereka, dan bahkan mulai merencanakan nama untuk bayi yang akan lahir.
"Saya ingin anak kita punya nama yang berarti, Kak Kezia," ucap Rizky satu malam saat mereka sedang melihat buku nama bayi di kamar tidur. Cahaya dari lampu malam yang lembut membuat suasana menjadi sangat hangat dan romantis. "Misalnya, jika anak kita laki-laki, kita bisa namainya Rafi – yang berarti pemimpin yang bijaksana. Semoga dia bisa menjadi orang yang kuat tapi juga penuh kasih sayang seperti kamu. Jika perempuan, kita bisa namainya Rania – yang berarti wanita yang penuh rahmat. Semoga dia bisa memiliki kecerdasan dan kelembutan seperti kamu."
Kezia tersenyum lembut mendengarnya, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Rizky. Dia meraba perutnya yang mulai sedikit membuncit dengan penuh cinta. "Nama yang sangat bagus, Rizky. Aku suka sekali. Dan apapun jenis kelaminnya, aku tahu dia akan menjadi anak yang baik karena memiliki ayah yang sangat mencintainya."
Mereka juga mulai menghadiri kelas persiapan menjadi orang tua bersama-sama setiap hari Sabtu pagi. Di sana, Rizky sering menjadi sorotan karena usianya yang masih muda – kebanyakan peserta adalah pasangan yang sudah bekerja dan berusia lebih tua dari mereka. Tapi dia tidak peduli – dia dengan senang hati belajar tentang cara merawat bayi, bagaimana menghadapi tantangan menjadi orang tua muda, dan bagaimana membangun hubungan yang baik dengan anak-anak. Dia bahkan sering bertanya kepada instruktur dan peserta lain yang sudah memiliki anak untuk mendapatkan nasihat yang berharga.
"Saya merasa lebih siap sekarang, Kak Kezia," ucap Rizky setelah selesai salah satu kelas, sambil membawa makanan ringan yang dia buat sendiri untuk Kezia. "Aku tahu bahwa menjadi orang tua tidak akan mudah. Ada banyak hal yang harus aku pelajari dan banyak tantangan yang akan kita hadapi. Tapi aku siap untuk menghadapi semua itu bersama kamu. Aku akan belajar menjadi ayah yang baik, bahkan jika terkadang aku masih melakukan kesalahan atau bertingkah seperti anak kecil."
Kezia memeluknya dengan erat dan mencium bibirnya dengan lembut. Udara segar di taman dekat tempat kursus membuat suasana menjadi lebih menyegarkan. "Aku tahu kamu siap, sayangku. Dan aku sangat bersyukur memiliki kamu sebagai pasangan hidupku. Kamu mungkin masih muda, tapi kamu memiliki hati yang sangat besar dan cinta yang sangat dalam untukku dan anak kita. Itu saja yang paling penting."
Beberapa minggu kemudian, mereka melakukan pemeriksaan kehamilan rutin dan bisa melihat bayi mereka yang sedang tumbuh dengan baik di dalam kandungan melalui USG. Rizky menangis haru saat melihat bayangan kecil itu bergerak dengan aktif di layar monitor. Dia meraba perut Kezia dengan sangat lembut dan berbisik, "Aku mencintaimu, sayangku. Ayah akan selalu menjagamu dan ibumu dengan sekuat tenaga."
Kezia juga menangis melihat ekspresi cinta di wajah suaminya. Dia tahu bahwa meskipun mereka masih muda dan belum memiliki banyak hal, mereka memiliki cinta yang kuat yang akan membawa mereka melalui segala rintangan dalam hidup. Dan itu sudah cukup untuk membangun keluarga yang bahagia dan penuh kasih sayang.
👉Nasehat untuk pembaca: "Menjadi orang tua adalah salah satu tugas terberat namun paling memuaskan dalam hidup. Namun ingatlah bahwa usia atau status ekonomi bukanlah faktor penentu keberhasilanmu sebagai orang tua – yang paling penting adalah cinta, perhatian, dan kesediaan untuk belajar dan tumbuh bersama anak-anakmu. Jangan pernah merasa minder karena belum siap secara materi, karena cinta dan kasih sayang adalah anugerah terbesar yang bisa kamu berikan kepada buah hati. Selain itu, jangan pernah melupakan kesehatanmu sendiri, karena hanya dengan tubuh yang sehat kamu bisa merawat dan melindungi orang-orang tersayang dengan baik. Hidup bersama anak adalah perjalanan yang penuh warna – ada suka, duka, tawa, dan tangis, tapi setiap momennya akan menjadi kenangan berharga yang tidak bisa digantikan dengan apa pun di dunia ini."👈