Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan yang Mengguncang Akademi
Arena Akademi Arclight menjadi sangat sunyi ketika Selene akhirnya melangkah maju. Bahkan para siswa yang sebelumnya bersorak kini hanya bisa menatap dengan tegang. Mereka tahu satu hal yang jelas: ketika Selene mulai bergerak, pertandingan ini tidak lagi sekadar duel antar siswa.
Ren berdiri di tengah arena dengan energi gelap yang masih berputar di sekeliling tubuhnya. Retakan di tanah di bawah kakinya menunjukkan betapa besar kekuatan yang baru saja ia lepaskan beberapa detik lalu.
Selene berhenti sekitar lima meter di depannya.
Tatapan mereka saling bertemu.
Angin yang sebelumnya hanya berhembus pelan kini mulai berputar di sekitar arena, seolah-olah merespon energi yang keluar dari dua orang itu.
Nyra berdiri di belakang Selene sambil menyilangkan tangan dan tersenyum lebar.
“Ini dia yang kutunggu,” katanya santai.
Di sisi lain arena, Mira juga berhenti menyerang Lilia untuk sesaat.
“Ini tidak bagus,” gumamnya.
Lilia menatap Selene dengan serius.
“Ya… kalau mereka benar-benar bertarung, arena ini mungkin tidak akan bertahan lama.”
Aria yang berdiri di belakang Ren terlihat semakin tegang. Ia memperkuat perisai sihirnya secara refleks.
“Energi mereka terlalu besar…”
Di tengah arena, Ren akhirnya berbicara.
“Kamu terlihat sangat ingin bertarung denganku.”
Selene menjawab dengan tenang.
“Karena aku tahu kamu menahan diri.”
Ren mengerutkan kening sedikit.
“Turnamen ini bukan tempat untuk mengeluarkan kekuatan penuh.”
Selene menggeleng pelan.
“Kamu tidak punya pilihan.”
Energi hitam mulai muncul di sekitar tubuhnya seperti kabut tipis.
“Aku ingin melihatnya.”
Matanya menyipit sedikit.
“Kekuatan yang membuat Ordo Umbra mencarimu selama bertahun-tahun.”
Ren terdiam beberapa detik.
Mendengar nama organisasi itu di tengah arena membuat dadanya terasa sedikit berat.
Namun sebelum ia sempat menjawab—
WHOOSH.
Selene tiba-tiba menghilang dari tempatnya berdiri.
Ren langsung merasakan perubahan energi di sekitarnya.
Ia memutar tubuhnya tepat saat Selene muncul di sampingnya.
Tangannya sudah dipenuhi energi hitam.
“Night Strike.”
Ren mengangkat lengannya untuk menahan serangan itu.
BOOM.
Benturan mereka menciptakan gelombang energi yang menyapu tanah arena.
Debu langsung terangkat ke udara.
Ren mundur dua langkah.
Selene mundur satu langkah.
Nyra bersiul pelan.
“Cepat sekali.”
Ren menatap Selene dengan sedikit terkejut.
Gerakannya jauh lebih cepat dibanding saat mereka bertarung sebelumnya.
Selene tidak memberinya waktu untuk berpikir.
Ia mengangkat tangannya lagi.
Lingkaran sihir hitam muncul di udara.
“Dark Spear.”
Tiga tombak energi hitam muncul dan langsung melesat ke arah Ren.
Ren melompat ke samping untuk menghindari dua tombak pertama.
Tombak ketiga hampir mengenai bahunya, tetapi ia menghancurkannya dengan pukulan energi.
CLANG.
Percikan hitam menyebar di udara.
Namun saat Ren mendarat—
Selene sudah ada di depannya lagi.
Ia menyerang dengan pukulan cepat yang dipenuhi energi.
Ren menahan pukulan itu.
Namun dampaknya tetap membuat tanah di bawah mereka retak lebih jauh.
BOOM.
Penonton di tribun mulai berseru keras.
“Ini sudah seperti pertarungan para instruktur!”
Nyra terlihat semakin puas.
“Ya… ini yang kuinginkan.”
Sementara itu Mira akhirnya kembali bergerak.
Ia mengarahkan tangannya ke arah Lilia.
“Flame Comet!”
Bola api besar melesat seperti meteor ke arah gadis berambut perak itu.
Lilia mengangkat tangannya dengan tenang.
“Ice Fortress.”
Dinding es besar muncul di depannya.
BOOM.
Ledakan api dan es menciptakan awan uap panas yang menutupi sebagian arena.
Pertarungan kini terjadi di dua sisi sekaligus.
Namun pusat perhatian semua orang tetap pada Ren dan Selene.
Di tengah arena, keduanya kembali bertukar serangan dengan kecepatan tinggi.
Pukulan.
Tendangan.
Energi hitam yang bertabrakan di udara.
Setiap benturan membuat tanah arena semakin rusak.
Ren akhirnya melompat mundur beberapa meter.
Ia menarik napas panjang.
Selene berhenti dan menatapnya.
“Kamu masih menahan diri.”
Ren menjawab datar.
“Aku tidak ingin menghancurkan arena.”
Selene mengangkat alis sedikit.
“Kalau begitu…”
Energi di sekitar tubuhnya tiba-tiba meningkat drastis.
Kabut hitam di sekelilingnya menjadi jauh lebih tebal.
“…aku akan memaksamu.”
Tanah di sekitar kakinya mulai retak.
Lingkaran sihir besar muncul di tanah.
“Shadow Collapse.”
Tiba-tiba bayangan besar muncul dari tanah arena seperti ombak hitam yang naik ke udara.
Bayangan itu membentuk tangan raksasa yang mencoba menangkap Ren.
Beberapa siswa di tribun langsung berdiri karena kaget.
Ren mengangkat tangannya.
“Void Guard.”
Perisai energi hitam besar muncul di sekeliling tubuhnya.
BOOOOM.
Tangan bayangan menghantam perisai itu dengan keras.
Benturan energi membuat arena bergetar.
Beberapa batu kecil bahkan jatuh dari dinding arena.
Di tribun penonton, Gareth—yang sejak tadi mengawasi pertandingan—akhirnya mengerutkan kening.
“Energi mereka terlalu besar…”
Ia mengangkat tangannya sedikit, siap menghentikan pertandingan jika diperlukan.
Namun di arena, pertarungan masih berlanjut.
Ren mendorong tangannya ke depan.
“Void Pulse.”
Gelombang energi hitam meledak dari tubuhnya dan menghancurkan tangan bayangan itu.
BOOOOM.
Debu dan energi menyebar ke segala arah.
Ketika debu mulai menghilang—
Ren dan Selene masih berdiri saling berhadapan.
Keduanya terlihat sedikit terengah.
Namun mata mereka masih tajam.
Selene tersenyum tipis.
“Bagus.”
Ren menatapnya serius.
“Kamu juga.”
Beberapa detik mereka hanya berdiri diam.
Lalu Selene berkata pelan.
“Sekarang aku yakin.”
Ren mengerutkan kening.
“Yakin tentang apa?”
Selene menjawab dengan tenang.
“Kamu benar-benar pewaris kekuatan itu.”
Nyra tertawa kecil dari belakang.
“Tidak perlu diragukan lagi.”
Ren mengepalkan tangannya sedikit.
Energi di dalam tubuhnya kembali berdenyut.
Ia tahu satu hal sekarang.
Jika pertarungan ini terus berlanjut…
Ia mungkin tidak bisa menahan kekuatannya lebih lama.
Namun sebelum ia sempat bergerak—
Tiba-tiba sebuah suara keras bergema di seluruh arena.
“CUKUP.”
Suara Gareth menggema seperti petir.
Energi kuat muncul di tengah arena dan memisahkan Ren dan Selene.
Sebuah penghalang sihir besar langsung terbentuk di antara mereka.
Semua orang terdiam.
Gareth berdiri dengan ekspresi serius.
“Pertandingan dihentikan.”
Penonton langsung menjadi ramai.
“Apa?!”
“Kenapa dihentikan?!”
Namun Gareth tetap tenang.
“Jika pertarungan ini berlanjut, arena ini akan hancur.”
Ia menatap kedua tim.
“Pertandingan dinyatakan seri.”
Mira langsung menghela napas panjang.
“Serius?”
Nyra tertawa kecil.
“Sayang sekali.”
Selene hanya menatap Ren beberapa detik sebelum akhirnya memutar tubuhnya.
Ren juga menurunkan tangannya perlahan.
Energi gelap di sekelilingnya mulai mereda.
Namun di dalam hatinya…
Ia tahu satu hal.
Pertarungan ini belum benar-benar selesai.
Karena Selene masih menyimpan sesuatu.
Dan ia juga masih menyembunyikan kekuatan yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.
Turnamen mungkin dihentikan untuk hari ini.