"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.
"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. PERBURUAN SERIGALA PUTIH
Malam di pinggiran Moskow bukanlah sekadar waktu untuk beristirahat bagi Alexei Dragunov, malam adalah kanvas di mana ia melukiskan otoritasnya dengan warna merah darah.
Tiga puluh menit setelah meninggalkan Alana di kamar yang terkunci, Alexei berdiri di sebuah gudang tua di pelabuhan sungai yang membeku. Udara di dalam gudang itu berbau karat, minyak mesin, dan ketakutan yang pekat. Di depannya, lima orang pria dengan wajah babak belur berlutut di atas lantai semen yang dingin, tangan mereka terikat kawat baja di belakang punggung.
Mereka adalah sisa-sisa kelompok penyerang di gereja tadi siang. Tentara bayaran yang cukup bodoh untuk menerima uang dari Sergei Volsky guna mengganggu pernikahan sang Pakhan.
Alexei perlahan melepas sarung tangan kulit hitamnya, gerakannya tenang dan presisi, seolah-olah ia sedang bersiap untuk makan malam mewah, bukan untuk melakukan interogasi berdarah. Di sampingnya, Ivan Petrov berdiri seperti patung, memegang sebuah tas perkakas kecil yang isinya sudah sangat dikenal oleh orang-orang di dunia bawah Rusia.
"Siapa yang memberikan koordinat pintu belakang gereja?" suara Alexei rendah, hampir seperti bisikan, namun gema suaranya membuat para tawanan itu gemetar hebat.
Tidak ada jawaban. Salah satu dari mereka, pria bertubuh gempal dengan tato salib di lehernya, justru meludah ke arah sepatu Alexei.
Alexei tidak marah. Ia bahkan tidak berkedip. Ia hanya menoleh sedikit ke arah Ivan. Tanpa perlu perintah verbal, Ivan melangkah maju dan menghantamkan gagang senapannya ke wajah pria itu hingga tulang hidungnya hancur berderak.
"Aku tidak suka mengulang pertanyaan," ucap Alexei sambil mengambil sebuah pisau bedah kecil dari tas Ivan. Ia memutar-mutar pisau itu di antara jemarinya dengan kemahiran seorang virtuoso. "Kalian menyerang saat upacara suci berlangsung. Kalian membuat istriku ketakutan. Dan yang paling penting... kalian membuatku harus meninggalkan ranjang pengantinku lebih awal."
Alexei berlutut di depan pria yang meludahnya tadi. Ia menekan ujung pisau bedah itu ke sudut mata pria tersebut. "Katakan padaku, atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melihat cahaya matahari bahkan jika kau berhasil keluar dari sini hidup-hidup."
"S-Sergei... Sergei Volsky," pria itu akhirnya mengerang kesakitan. "Dia bilang... dia bilang gadis itu adalah kunci. Jika dia mati, Dragunov tidak akan punya hak atas wilayah Barat. Sergei menjanjikan kami dua juta dolar jika kepala gadis itu dibawa padanya."
Mata Alexei menggelap. Mendengar nama istrinya dijadikan target dengan harga kepala, sesuatu yang primitif di dalam dirinya bangkit. Baginya, Alana mungkin saat ini hanya sebuah "aset politik", namun di dunia Bratva, apa yang sudah menjadi miliknya adalah suci. Menyentuh milik Dragunov berarti mengundang maut.
"Dua juta dolar," Alexei terkekeh dingin. "Dia menghargai ratuku terlalu murah."
Alexei berdiri, menyeka noda darah yang menciprat ke lengan kemeja putihnya dengan saputangan. "Ivan, habiskan mereka. Tapi sisakan pria ini. Kirim dia kembali ke markas Sergei di Saint Petersburg. Potong kedua tangannya, dan gantungkan kalung dari kelongsong peluru yang gagal mengenai Alana tadi siang di lehernya."
"Tentu, Pakhan," jawab Ivan datar.
"Sampaikan pesan pada Sergei," Alexei menatap pria bertato itu dengan tatapan predator yang lapar. "Katakan padanya, dia tidak hanya mencoba membunuh seorang gadis. Dia mencoba membunuh seorang Dragunov. Dan serigala tidak akan berhenti berburu sampai jantung mangsanya berhenti berdetak."
Alexei berjalan keluar dari gudang saat suara jeritan pertama mulai membelah kesunyian malam. Di luar, salju masih turun dengan tenang, menutupi jejak-jejak kekejaman yang baru saja terjadi.
Ia masuk ke dalam mobilnya, namun pikirannya tidak langsung beralih ke strategi perang berikutnya. Bayangan Alana di kamar pengantin dengan mata yang ketakutan namun tetap memancarkan pemberontakan muncul di benaknya. Ada sesuatu tentang gadis itu yang mulai mengusik rasa ingin tahu Alexei. Ia bukan sekadar boneka yang bisa dipindahkan dari satu kotak ke kotak lain. Ada api di dalam dirinya, api yang sama dengan yang dimiliki Elena Volskaya sebelum ia dihancurkan oleh dunia ini.
Alexei mengambil ponsel enkripsinya dan menelepon seseorang di seberang benua.
"Wira," ucap Alexei saat sambungan terhubung. Suaranya sedingin es di luar jendela mobil. "Anak buah Sergei hampir membunuh putrimu hari ini."
"Aku tahu," suara Wira Naratama terdengar tenang dari Jakarta, seolah-olah ia sedang membicarakan laporan cuaca. "Itulah sebabnya aku mengirimnya padamu, Alexei. Kau adalah satu-satunya orang yang bisa menjaganya tetap hidup saat perang ini pecah."
"Jangan bermain-main denganku, tua bangka," desis Alexei. "Kau memberikan informasi koordinat gereja itu pada Sergei, bukan? Kau ingin mengetesku. Kau ingin melihat apakah aku cukup kuat untuk melindungi investasimu."
Keheningan panjang terjadi di seberang telepon.
"Aku ingin melihat apakah kau layak memilikinya," jawab Wira akhirnya. "Alana bukan sekadar kunci wilayah Barat, Alexei. Dia memiliki sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak tahu. Jika kau berhasil menjaganya, kau akan menjadi penguasa Eurasia. Jika kau gagal... maka kau pantas mati bersamanya."
Alexei memutus sambungan telepon dengan geram. Ia menyadari bahwa pernikahan ini jauh lebih rumit daripada sekadar penggabungan dua sindikat. Alana adalah pusat dari badai yang belum sepenuhnya ia pahami.
"Kembali ke mansion," perintah Alexei pada sopirnya.
"Kita belum memeriksa pelabuhan kedua, Pakhan?"
"Batalkan. Aku perlu mengawasi 'aset' itu secara langsung. Aku punya firasat dia tidak akan duduk diam di kamar menunggu aku kembali."
Saat mobil melaju kembali menembus hutan pinus, Alexei menyentuh bekas luka kecil di telapak tangannya. Ia sudah terbiasa dengan perang, namun ia baru menyadari bahwa perang yang paling sulit mungkin bukan melawan Sergei Volsky, melainkan melawan wanita yang sekarang menyandang namanya, wanita yang mungkin adalah senjata rahasia yang dikirim Wira untuk menghancurkannya dari dalam.
Malam itu, Alexei Dragunov pulang bukan sebagai suami yang merindu, melainkan sebagai penjaga yang curiga. Namun di sudut hatinya yang paling gelap, ada keinginan kecil yang mulai tumbuh, ia ingin melihat api di mata Alana membakar musuh-musuh mereka, bukan membakarnya.
Sementara itu, di mansion...
Alana tidak sedang tidur. Ia berdiri di depan perpustakaan mini di kamarnya, jemarinya meraba sampul buku-buku lama. Ia baru saja menemukan sesuatu yang terselip di balik bingkai foto tua di dinding kamar itu. Sebuah memo kecil dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali.
Tulisan tangan ibunya.
“Untuk putriku, jika kau membaca ini, berarti kau telah kembali ke rumah yang paling berbahaya. Jangan percayai siapa pun, bahkan pria yang berbagi tempat tidur denganmu. Carilah kotak di bawah lantai kayu ruang musik. Kebenaran tidak ada di tangan ayahmu, tapi di balik darah Volskaya yang kau bawa.”
Alana menahan napas. Ia menoleh ke arah pintu yang terkunci. Ia harus mencari cara keluar dari kamar ini. Sekarang juga.