Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28:Labirin Jiwa Dan Penghujat Kebencian
Setelah mengalahkan Ignar, Naga Gelap yang ganas di Pegunungan Api, Kaelen dan Lira melanjutkan perjalanan mereka. Udara di sekitar mereka kini terasa lebih ringan, namun mereka tahu bahwa ketenangan itu hanya sementara. Malakar tidak akan berhenti mengirimkan pasukannya sampai mereka tiba di bentengnya. Dan benar saja, beberapa hari setelah meninggalkan Pegunungan Api, mereka tiba di sebuah tempat yang terlihat biasa namun menyimpan misteri yang mengerikan—Dataran Batu Kelabu.
Dataran ini terbentang luas dengan bebatuan abu-abu yang kering dan tandus. Tidak ada pohon, tidak ada rumput, dan tidak ada suara hewan. Hanya ada keheningan yang mencekam dan angin yang berhembus membawa suara bisikan-bisikan samar yang terdengar menyedihkan dan menakutkan. Di tengah dataran itu, terdapat sebuah struktur batu yang besar dan kuno yang tampak seperti pintu gerbang menuju ke suatu tempat yang gelap dan dalam.
Saat Kaelen dan Lira mendekati struktur batu itu, mereka merasakan sebuah tarikan yang kuat dan aneh yang menarik mereka ke dalamnya. Sebelum mereka sempat bereaksi atau berbicara satu sama lain, pemandangan di sekitar mereka berubah seketika. Mereka tidak lagi berada di Dataran Batu Kelabu yang terbuka. Mereka kini berada di dalam sebuah labirin yang sangat besar dan gelap yang terbuat dari dinding-dinding batu yang tinggi dan dingin.
"Yang Mulia?" bisik Lira pelan, suaranya terdengar gugup dan sedikit takut. "Di mana kita? Apa yang terjadi?"
Kaelen menoleh ke arah Lira, dan dia mencoba untuk tersenyum meskipun dia juga merasa bingung dan cemas. "Aku tidak tahu, Lira. Tapi sepertinya kita telah masuk ke dalam sebuah jebakan lagi. Jangan khawatir, aku ada di sini. Kita akan mencari jalan keluar dari sini bersama-sama."
Mereka pun mulai berjalan menyusuri lorong-lorong labirin itu. Lorong-lorong itu tampak sama persis satu sama lain—dinding batu yang tinggi, lantai batu yang dingin, dan langit-langit yang gelap dan tinggi. Tidak ada jendela, tidak ada pintu, dan tidak ada tanda-tanda arah. Mereka berjalan berputar-putar, namun sepertinya mereka tidak pernah maju ke mana-mana. Mereka selalu kembali ke tempat yang sama.
"Ini seperti labirin yang tidak ada ujungnya," keluh Kaelen, merasa frustrasi. "Kita sudah berjalan selama berjam-jam, tapi kita masih di tempat yang sama."
Tiba-tiba, suara tawa yang dingin dan sinis terdengar menggema di seluruh labirin itu. "Hahaha... Kalian benar-benar bodoh. Kalian berpikir bahwa kalian bisa keluar dari labirin ini dengan hanya berjalan-jalan seperti itu? Kalian salah. Labirin ini adalah labirin jiwa. Dan siapa pun yang masuk ke dalam sini tidak akan pernah bisa keluar kecuali mereka bisa melewati ujianku."
Kaelen dan Lira segera mengeluarkan pedang es mereka, siap untuk bertarung. "Siapa kamu? Keluarlah dan tunjukkan dirimu!" teriak Kaelen.
Dari dalam kegelapan di ujung lorong, sebuah sosok perlahan-lahan muncul. Sosok itu adalah seorang pria yang memiliki rambut yang panjang dan berantakan berwarna abu-abu, dengan wajah yang pucat dan mata yang bersinar dengan cahaya ungu yang dingin dan menakutkan. Dia mengenakan jubah yang compang-camping berwarna hitam dan abu-abu, dan di tangannya, dia memegang sebuah tongkat yang terbuat dari tulang-tulang manusia yang berkilauan dengan energi gelap.
Itu adalah Malphas, Penghujat Kebencian—salah satu bawahan Malakar yang paling licik dan paling berbahaya. Malphas dikenal karena kemampuannya untuk memanipulasi pikiran dan perasaan orang lain, terutama perasaan benci, marah, dan ketidakpercayaan. Dia bisa menciptakan ilusi yang sangat nyata, dan dia bisa membuat orang-orang saling membenci dan saling membunuh satu sama lain hanya dengan beberapa kata yang manis dan memfitnah.
"Aku adalah Malphas," kata sosok itu dengan suara yang dingin dan sinis. "Dan aku adalah penjaga labirin ini. Tuanku Malakar telah mengirimku untuk menghalangi jalan kalian. Dan aku berjanji padamu, kalian tidak akan pernah bisa melewati labirin ini hidup-hidup. Kalian akan mati di sini, dikubur hidup-hidup di dalam kebencian dan keputusasaan kalian sendiri."
"Kami tidak takut padamu, Malphas!" teriak Lira, suaranya tegas. "Kami sudah mengalahkan Morgana dan Ignar. Dan kami juga akan mengalahkanmu. Kami memiliki kekuatan yang besar, dan kami memiliki cinta yang abadi satu sama lain. Kamu tidak bisa memisahkan kami atau membuat kami saling membenci."
Malphas tertawa dengan suara yang keras dan mengerikan. "Cinta? Hahaha! Itu adalah hal yang paling menyedihkan dan paling lemah di dunia ini. Cinta hanyalah sebuah ilusi yang diciptakan oleh orang-orang yang lemah untuk menipu diri mereka sendiri. Dan aku akan membuktikannya kepada kalian. Aku akan menunjukkan kepada kalian bahwa di balik cinta itu, ada kebencian yang mendalam, ada ketidakpercayaan, dan ada rasa sakit yang akan menghancurkan kalian berdua."
Tanpa peringatan apa pun, Malphas mengangkat tongkat tulangnya ke udara, dan dia mulai mengucapkan mantra-mantra gelap yang terdengar aneh dan menakutkan. Segera, dinding-dinding labirin itu mulai berubah. Gambar-gambar dan bayangan-bayangan mulai muncul di dinding-dinding itu, gambar-gambar yang menceritakan tentang hal-hal yang menyakitkan, tentang kesalahpahaman, dan tentang rasa sakit yang pernah dirasakan oleh Kaelen dan Lira di masa lalu.
Dan kemudian, suara Malphas terdengar di telinga mereka, bisikan-bisikan yang manis namun mematikan.
"Dengarlah, Kaelen," bisik suara Malphas di telinga Kaelen. "Lihatlah Lira. Apakah kamu benar-benar percaya padanya? Apakah kamu benar-benar percaya bahwa dia mencintaimu? Atau apakah dia hanya bersamamu karena dia ingin menggunakan kekuatanmu, karena dia ingin menjadi Ratu, dan karena dia ingin mendapatkan kekuasaan? Ingatlah saat dia terluka di benteng Malakar. Apakah itu benar-benar karena dia ingin melindungimu? Atau apakah itu karena dia ceroboh dan membuatmu kesulitan? Bagaimana jika suatu hari nanti, dia akan mengkhianatimu? Bagaimana jika dia akan meninggalkanmu saat kamu paling membutuhkannya?"
Pikirannya Kaelen mulai terganggu. Dia teringat saat Lira terluka di benteng Malakar, dan rasa bersalah itu kembali muncul. Tapi sekarang, bisikan Malphas menanamkan keraguan baru. Apakah Lira benar-benar mencintainya? Atau apakah ada alasan lain? Dia mencoba untuk menolak bisikan itu, tapi bisikan itu terus terdengar, semakin keras dan semakin meyakinkan.
Sementara itu, di telinga Lira, Malphas juga membisikkan hal-hal yang menyakitkan.
"Dengarlah, Lira," bisik suara Malphas. "Lihatlah Kaelen. Apakah dia benar-benar mencintaimu? Atau apakah dia hanya menganggapmu sebagai alat, sebagai senjata yang bisa dia gunakan untuk mengalahkan Malakar? Ingatlah saat dia tidak bisa melindungimu di benteng itu. Apakah itu karena dia lemah? Atau apakah itu karena dia lebih mementingkan dirinya sendiri daripada kamu? Bagaimana jika suatu hari nanti, dia akan mengorbankanmu demi tujuan dia sendiri? Bagaimana jika dia tidak benar-benar mencintaimu seperti yang dia katakan?"
Air mata Lira mulai menetes. Dia teringat rasa sakit dan rasa tidak berdaya yang dia rasakan saat terbaring lemah di benteng itu. Dan sekarang, bisikan Malphas membuatnya meragukan cinta Kaelen. Apakah Kaelen benar-benar mencintainya? Atau apakah dia hanya sebuah alat?
Perlahan-lahan, Kaelen dan Lira mulai menoleh ke arah satu sama lain. Tapi kali ini, mata mereka tidak lagi penuh dengan cinta dan kepercayaan. Mata mereka kini penuh dengan keraguan, kecurigaan, dan bahkan sedikit kebencian.
"Kau..." kata Kaelen pelan, suaranya terdengar dingin dan asing. "Apakah apa yang dikatakan oleh Malphas itu benar? Apakah kau hanya bersamaku karena kau ingin kekuasaan?"
Lira terkejut mendengar kata-kata itu. "Apa? Tidak, Yang Mulia! Kau tahu itu tidak benar! Aku mencintaimu! Tapi bagaimana denganmu? Apakah kau benar-benar mencintaiku? Atau apakah aku hanya sebuah alat bagimu?"
Pertengkaran pun pecah di antara mereka. Mereka mulai saling menuduh, saling menyakiti dengan kata-kata yang tajam dan menyakitkan. Mereka melupakan semua cinta yang mereka miliki, mereka melupakan semua perjuangan yang telah mereka lalui bersama, dan mereka melupakan semua janji yang telah mereka buat satu sama lain. Mereka hanya mendengarkan bisikan Malphas, dan mereka hanya melihat keraguan dan kebencian yang ada di dalam hati mereka.
Mereka bahkan mulai mengarahkan pedang mereka satu sama lain, siap untuk menyerang. Malphas tertawa dengan gembira melihat hal itu. "Bagus! Teruslah seperti itu! Saling membenci dan saling membunuh! Itu adalah hal yang paling indah yang pernah aku lihat!"
Tapi saat Kaelen melihat mata Lira yang penuh dengan air mata dan kesedihan, sesuatu di dalam hatinya tersentak. Dia teringat momen indah di Lembah Bunga, saat mereka menyatukan raga dan jiwa mereka menjadi satu. Dia teringat cinta yang mendalam yang dia rasakan terhadap Lira. Dan dia teringat kata-kata Eldric tentang bagaimana menghadapi rasa takut dan keraguan di dalam hati.
"Tidak!" teriak Kaelen dalam hati. "Ini tidak nyata! Ini hanyalah ilusi yang diciptakan oleh Malphas! Aku mencintai Lira! Dan Lira mencintaiku! Kita adalah tim yang hebat! Dan tidak ada apa pun yang bisa memisahkan kita!"
Saat dia menyadari itu, cahaya biru dan cahaya emas mulai bersinar dari dalam dirinya. Cahaya itu menyebar ke seluruh tubuhnya, dan itu membantunya untuk melawan bisikan-bisikan jahat Malphas.
Dia menoleh ke arah Lira, dan dia berteriak dengan sekuat tenaga. "Lira! Bangunlah! Ini hanyalah ilusi! Malphas sedang memanipulasi pikiran kita! Aku mencintaimu, Lira! Dan aku tahu bahwa kau juga mencintaiku! Jangan biarkan dia menang!"
Lira mendengar teriakan Kaelen, dan dia terkejut. Dia melihat cahaya yang bersinar dari tubuh Kaelen, dan dia teringat semua hal indah yang telah mereka alami bersama-sama. Dia teringat cinta yang dia rasakan terhadap Kaelen, dan dia teringat bahwa mereka adalah satu.
"Tidak!" teriak Lira. "Kau salah, Malphas! Aku mencintai Kaelen! Dan Kaelen mencintaiku! Kamu tidak bisa memisahkan kita!"
Cahaya emas yang ada di dalam diri Lira juga bersinar terang, menyelimuti tubuhnya dan membantunya untuk melawan bisikan-bisikan jahat Malphas.
Mereka saling menatap, dan mereka bisa melihat bahwa keraguan dan kebencian yang tadi ada di mata mereka telah hilang. Sekarang, mata mereka kembali penuh dengan cinta dan kepercayaan.
Mereka pun berjalan mendekati satu sama lain, dan mereka memegang tangan satu sama lain. Saat mereka menyentuh tangan satu sama lain, cahaya biru dan cahaya emas di dalam diri mereka bersatu menjadi satu, menjadi sebuah cahaya yang sangat terang dan sangat kuat yang menyelimuti seluruh labirin itu.
"Kau... kalian berdua..." kata Malphas, matanya terbelalak karena kaget dan takut. "Bagaimana mungkin? Kalian seharusnya saling membenci dan saling membunuh! Bagaimana mungkin kalian bisa melawan kekuatanku?"
"Karena cinta yang kami miliki satu sama lain lebih kuat daripada kebencianmu, Malphas!" teriak Kaelen dan Lira secara bersamaan.
Dengan sekuat tenaga, mereka melemparkan cahaya gabungan itu ke arah Malphas. Malphas mencoba untuk melindungi dirinya dengan menciptakan perisai energi gelap, tapi itu tidak berguna. Cahaya itu menembus perisainya dan menghantam dirinya dengan kekuatan yang besar.
Malphas menjerit kesakitan, dan tubuhnya mulai hancur menjadi potongan-potongan kecil yang kemudian hilang di udara. Labirin di sekitar mereka juga mulai hancur dan menghilang, dan mereka kembali berada di Dataran Batu Kelabu yang terbuka, di bawah langit biru dan matahari yang bersinar terang.
Kaelen dan Lira berdiri di sana, napas mereka terengah-engah dan tubuh mereka lelah. Tapi mereka tersenyum bahagia dan lega. Mereka berhasil. Mereka berhasil mengalahkan Malphas, Penghujat Kebencian yang licik dan berbahaya itu.