Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”
Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Transaksi dan Realita Kemiskinan Mantan Dewa
Setelah meninggalkan area penampungan kotoran yang berbau menyengat itu, Li Fan melangkah santai menuju pusat keramaian di Pos Kedua. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya. Ia sudah menanam benih ambisi liar di dalam hati Lei Bao, dan sekarang ia hanya perlu menunggu benih itu tumbuh menjadi monster yang akan mengacaukan skenario klise sang Putra Langit.
Langkah kaki Li Fan membawanya ke sebuah pelataran luas yang disulap menjadi pasar dadakan. Berbeda dengan Pos Pertama yang sepi dan dipenuhi aura keputusasaan, pasar di Pos Kedua ini memancarkan vitalitas yang jauh lebih hidup. Ratusan tenda kecil dan lapak beralaskan kain digelar di sepanjang jalan berbatu. Para pedagangnya bukanlah rakyat jelata biasa, melainkan para murid gagal yang mencoba mencari peruntungan lain, serta beberapa murid luar berseragam biru muda yang turun gunung untuk mencari bahan menukar barang.
Suasana pasar terdengar riuh oleh suara tawar-menawar. Di tempat ini, alat tukar resmi seperti koin emas dan perak masih berlaku, namun nilainya mulai menurun. Sebagian besar transaksi menggunakan sistem barter yang jauh lebih diminati oleh para kultivator pemula. Mereka menukarkan pil nutrisi tingkat rendah, potongan daging hewan buas, hingga berbagai macam tumbuhan roh yang mereka temukan di sekitar tepi hutan Pos Kedua.
Bagi calon murid yang ingin menembus gerbang nadi spiritual, berlatih meditasi di bawah tekanan gravitasi Sungai Roh Azure saja tidaklah cukup. Tubuh fana memiliki batas penyerapan energi. Mereka membutuhkan katalisator tambahan berupa obat-obatan atau energi murni dari tumbuhan roh untuk memperlebar jalur meridian mereka tanpa merusak organ dalam.
Sambil menyusuri lorong pasar, mata Li Fan yang setajam elang memindai setiap barang dagangan yang digelar di atas kain kotor. Sebenarnya, alasan utama ia datang ke pasar ini adalah karena rasa bosan yang luar biasa. Selama beberapa hari terakhir, rutinitasnya hanya makan, tidur, dan melihat Jin Tianyu berlatih.
Untuk membunuh waktu, Li Fan memutuskan untuk kembali menekuni hobi lamanya, yaitu meramu obat.
Namun, realita yang ia hadapi saat ini sungguh menampar wajah keangkuhannya. Di kehidupan sebelumnya, menyuling pil adalah sebuah seni suci yang dilakukan di dalam istana megah. Ia terbiasa melihat tungku alkimia raksasa yang terbuat dari emas surgawi, ditempa dengan api naga, dan dikelilingi oleh ribuan pelayan.
Kini, ia bahkan tidak memiliki satu pun tungku obat fana.
“Menyuling pil sejati di tempat sampah ini benar-benar sebuah kemustahilan yang menyedihkan,” batin Li Fan sambil menghela napas panjang.
Untuk menyuling pil yang layak, seorang alkemis mutlak membutuhkan tungku obat khusus yang mampu menahan tekanan energi. Tungku seperti itu harganya sangat mahal, dan hampir pasti hanya bisa dibeli menggunakan Batu Roh Spiritual, mata uang sejati di dunia kultivasi. Li Fan saat ini adalah pemuda miskin yang hanya mengandalkan koin emas hasil rampasan dari preman asrama. Ia tidak memiliki satu keping pun Batu Roh Spiritual. Bahkan, ia sangat ragu ada pedagang di Pos Kedua ini yang menjual tungku alkimia, karena barang mewah seperti itu biasanya hanya beredar di sekte bagian dalam.
Masalah kedua yang lebih mendasar adalah ketiadaan Api Spiritual. Tubuh fana Li Fan saat ini baru berada di tahap pembukaan nadi spiritual, ia belum melangkah ke tahap Qi Gathering. Hanya kultivator di tahap Qi Gathering yang mampu memanipulasi aliran energi Qi untuk diciptakan dan diproyeksikan ke luar tubuh menjadi wujud nyata seperti api spiritual.
Memang benar ada cara alternatif untuk menyuling pil tanpa menggunakan api dari Qi internal, yaitu dengan menggunakan Kayu Roh. Kayu dari pohon spiritual tertentu memiliki kandungan Qi yang sangat padat dan stabil. Jika dibakar, kayu itu bisa menghasilkan suhu yang setara dengan api alkimia. Namun, mengatur stabilitas suhu dari arang Kayu Roh membutuhkan tingkat kendali yang sangat merepotkan, apalagi jika dilakukan tanpa bantuan segel formasi dari sebuah tungku.
“Terlalu banyak keributan untuk sebuah pil kecil. Jika aku memaksakan diri menyuling pil tingkat tinggi sekarang, tempat ini bisa meledak dan aku akan kehilangan rambut indahku,” gumam Li Fan sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Ia akhirnya menurunkan standarnya. Daripada menyuling pil yang padat, ia akan meracik sebuah ramuan cair atau cairan obat dengan metode ekstraksi sederhana. Itu adalah teknik dasar yang sangat primitif, namun di tangan seorang ahli, hasilnya tidak akan kalah jauh.
Li Fan berhenti di depan sebuah lapak milik seorang murid luar bertubuh kurus. Di atas kain lapaknya, terdapat beberapa potong Kayu Roh Pinus Merah dan sekumpulan rumput obat yang terlihat sedikit layu.
“Senior, berapa harga untuk tiga potong Kayu Roh Pinus Merah dan dua ikat Rumput Bambu Ungu ini?” tanya Li Fan dengan nada sopan namun matanya memancarkan ketajaman seorang pedagang veteran.
Murid luar itu melirik Li Fan dari atas ke bawah, melihat jubah mewahnya dan langsung memasang senyum serakah. “Ah, Tuan Muda yang terhormat memiliki mata yang bagus. Kayu ini sangat padat, dan rumput ini baru saja dipetik pagi tadi. Semuanya dua keping emas murni, tidak bisa kurang.”
Li Fan mendengus pelan, ekspresinya berubah menjadi sangat dingin. “Dua keping emas untuk ranting kering yang basah oleh embun dan rumput liar yang urat spiritualnya sudah bocor ini? Senior, apakah kau berlatih kultivasi Dao Perampokan? Kayu ini hanya memiliki kandungan Qi kurang dari sepuluh persen, dan Rumput Bambu Ungu ini akarnya sudah terpotong asal-asalan sehingga khasiatnya hilang setengah. Lima keping perak untuk semuanya. Jika tidak mau, aku akan membeli di lapak ujung sana yang jelas lebih segar.”
Mendengar analisis yang sangat akurat dan tajam itu, wajah murid luar tersebut seketika memerah karena malu dan terkejut. Ia tidak menyangka bocah belasan tahun di depannya memiliki wawasan botani yang begitu mengerikan. Setelah beberapa saat beradu argumen dan tawar-menawar yang cukup sengit, Li Fan akhirnya memenangkan perdebatan. Ia berjalan pergi dengan membawa semua bahan tersebut hanya dengan harga delapan keping perak.
Li Fan tersenyum puas. Barang-barang ini sudah cukup untuk membuat ramuan cair yang sama persis seperti Pil Pemurni Tulang cair yang ia berikan kepada Lei Bao beberapa jam yang lalu.
Memikirkan botol kecil yang ia berikan pada Lei Bao, senyum Li Fan semakin melebar. Meskipun ia meraciknya dengan cara yang terlihat sederhana dan kasar, khasiat cairan hitam itu benar-benar di luar nalar dunia fana ini. Li Fan sangat yakin, jika Lei Bao memiliki mental yang tidak mudah hancur dan berhasil menyerap seluruh khasiat obat itu tanpa pingsan, malam ini akan terjadi keajaiban. Obat itu akan membersihkan kotoran di meridian pria itu secara paksa. Jika sesuai ekspektasinya, Lei Bao tidak hanya akan memperkuat tiga nadinya, tapi pasti bisa mendobrak paksa satu hingga dua gerbang nadi spiritual lagi. Memiliki empat hingga lima gerbang nadi spiritual dalam satu malam akan menjadikan Lei Bao monster baru yang akan mengejutkan seluruh calon murid besok pagi.
Cerdas...
Lucu...