Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.
Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.
Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.
Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.
Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.
bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.
#System
#Transmigrasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27. Tarian politik
Ruang Dewan Kekaisaran – Pagi Hari
Kaisar memasuki ruangan dengan langkah terukur. Jubah ungu berbordir emas menjuntai anggun di belakangnya, sementara mahkota runcing bertatahkan permata berkilau di bawah cahaya matahari yang menembus jendela tinggi istana. Di tangan kanannya tergenggam tongkat kerajaan dari mithril murni—simbol kekuasaan yang tak tergoyahkan.
Ia adalah pria paruh baya dengan wajah yang terukir oleh empat puluh tahun pengalaman memerintah. Rahangnya tegas, sorot mata birunya tajam dan waspada, seakan tak ada satu detail pun yang luput dari pengamatannya. Janggut hitamnya mulai dihiasi uban di sisi-sisinya, menambah kesan wibawa dan kebijaksanaan.
“Duduk,” perintahnya dengan suara yang berwibawa, tidak keras namun cukup untuk membuat seluruh ruangan hening seketika.
Lebih dari lima puluh bangsawan—mulai dari Arcduke hingga Baron—segera duduk serempak. Suara gesekan kursi terdengar singkat sebelum kembali tenggelam dalam keheningan penuh hormat.
Kaisar menaiki singgasananya dan duduk dengan sikap tegap. Pandangannya menyapu ruangan seperti elang yang mengawasi wilayahnya, memastikan setiap hadirin menyadari kehadirannya.
“Rapat Dewan Kekaisaran Luar Biasa ini resmi dibuka,” ucapnya dengan nada formal. “Agenda pertama: evaluasi kondisi wilayah pascaperang melawan Alam Iblis. Kanselir Fellborn, silakan sampaikan laporan.”
Lord Chancellor Marcus Fellborn—pria tinggi kurus dengan rambut abu-abu dan kacamata bundar—berdiri dari kursinya. Dengan gerakan hati-hati, ia membuka gulungan perkamen panjang yang berisi laporan terperinci.
“Yang Mulia,” ujarnya sambil sedikit membungkuk, “berdasarkan laporan dari berbagai wilayah kekaisaran, kami telah mengidentifikasi sejumlah area yang memerlukan perhatian segera.”
Ia mulai membacakan daftar panjang: kerusakan infrastruktur di wilayah perbatasan, jembatan yang runtuh, ladang yang terbakar, kota-kota yang kehilangan separuh penduduknya. Ia juga memaparkan kerugian ekonomi akibat terhentinya jalur perdagangan serta jumlah korban perang yang masih terus diperbarui.
Di antara para bangsawan, beberapa wajah tampak tegang, sebagian lainnya menyembunyikan kecemasan di balik ekspresi datar.
Arthur duduk diam di salah satu sisi ruangan, mendengarkan dengan saksama setiap kata yang terucap.
Sebagian besar kerusakan terjadi di wilayah selatan. Itu masuk akal—karena berbatasan langsung dengan Alam Iblis. Namun angka yang dilaporkan untuk wilayah Vancroft… sedikit dilebih-lebihkan.
Mata Arthur menyipit tipis.
Mereka mulai membangun narasi. Membuat wilayahku tampak lebih parah dari kenyataan untuk membenarkan intervensi.
Setelah Kanselir menyelesaikan laporannya—yang memakan waktu hampir dua puluh menit—Kaisar mengangguk pelan.
“Terima kasih, Kanselir. Sekarang kita akan mendengar langsung dari para Duke mengenai kondisi wilayah masing-masing. Kita mulai dari—”
“Yang Mulia.”
Suara feminin namun tajam memotong kalimat sang Kaisar.
Seluruh kepala di ruangan itu menoleh.
Duchess Helena Montclair berdiri dari kursinya dengan gerakan anggun dan terkontrol. Ia wanita paruh baya dengan rambut pirang yang dikuncir rapi ke belakang, memperlihatkan wajah tegas dengan mata hijau menyerupai zamrud. Gaun hijau gelap yang dikenakannya tampak mahal dan dibuat dengan detail sempurna—mencerminkan status serta kekayaannya.
Ia adalah satu dari empat Duke di kekaisaran—penguasa wilayah timur yang makmur dengan hasil pertanian melimpah dan produksi anggur terbaik di seluruh negeri. Kaya, berpengaruh, dan dikenal memiliki kecerdikan bisnis yang tajam.
“Dengan izin Yang Mulia,” lanjutnya dengan senyum sopan yang tak sepenuhnya mencapai sorot matanya, “saya ingin mengangkat kekhawatiran mengenai salah satu wilayah yang… saat ini berada dalam kondisi yang sangat rentan.”
Kaisar mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar ia melanjutkan.
Duchess Montclair memandang sekeliling ruangan, seolah sengaja membangun ketegangan. Langkahnya perlahan menyusuri sisi meja panjang dewan—dramatis, seperti seorang jaksa yang tengah menyampaikan dakwaan.
Akhirnya, pandangannya berhenti pada Arthur.
“Wilayah Archduke Vancroft.”
Bisikan pelan segera menyebar di antara para bangsawan. Beberapa menoleh ke arah Arthur dengan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan.
Arthur tidak bergerak sedikit pun. Wajahnya tenang, setenang permukaan danau di pagi hari tanpa riak.
“Berdasarkan data yang saya terima dari sumber-sumber terpercaya,” lanjut Montclair, “wilayah Vancroft telah mengalami defisit sebesar tiga juta koin emas dalam dua bulan terakhir.”
Bisikan berubah menjadi gumaman yang lebih keras.
Tiga juta koin emas adalah angka yang luar biasa—cukup untuk membeli beberapa county kecil atau membiayai satu legiun penuh selama setahun.
Namun Arthur tetap diam.
Dan justru dalam diamnya itulah, ketegangan mulai terasa jauh lebih berat.
“Perekonomian turun empat puluh persen. Tambang mithril ditutup. Pelabuhan beroperasi jauh di bawah kapasitas. Infrastruktur terbengkalai.”
Duchess Montclair berhenti di belakang kursinya dan meletakkan kedua tangannya dengan anggun di sandaran. Sikapnya tenang, namun setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti bilah tipis yang diarahkan tepat ke jantung lawan.
“Dan semua ini terjadi ketika Archduke Vancroft sedang… beristirahat pascaperang.”
Implikasinya jelas.
Arthur dianggap terlalu lemah untuk mengelola wilayahnya sendiri.
“Saya mengangkat kekhawatiran ini bukan untuk menyerang,” lanjutnya dengan nada yang dibuat terdengar penuh kepedulian, “melainkan karena tanggung jawab kita sebagai bangsawan adalah menjamin kesejahteraan rakyat.”
Ia menatap Kaisar secara langsung, tanpa gentar.
“Wilayah Vancroft mencakup seperempat dari seluruh kekaisaran. Terlalu besar untuk dibiarkan terpuruk di bawah kepemimpinan yang tidak optimal.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya menggantung di udara.
“Dengan segala hormat kepada Archduke Vancroft, saya mengusulkan agar beberapa bagian wilayah tersebut direalokasikan kepada Duke lain yang saat ini lebih mampu mengelolanya.”
Keheningan mendadak memenuhi ruangan.
Beberapa bangsawan bahkan menahan napas, dan memiliki satu pemikiran yang sama.
Cari mati!!!
Itu bukan sekadar kritik. Itu adalah usulan berani—hampir lancang—yang pada dasarnya meminta Kaisar untuk mencabut sebagian wilayah Arthur dan memberikannya kepada orang lain.
Duke Torrhen dan Marquis Blackwell menatap ke arah Montclair dengan kepuasan yang nyaris tak tersembunyi. Count Ashford tersenyum tipis, seolah sedang menyaksikan permainan catur yang menghibur.
Di sisi Arthur, Valerine tetap duduk tanpa bergerak. Namun di bawah meja, tangannya mengepal erat di pangkuannya.
Jalang, pikirnya dingin.
Tatapannya mengeras sesaat.
Haruskah aku membekukannya di tempat ini juga?
Namun Arthur tetap tak bergeming.
Ia duduk dengan tenang, tangan bertumpu tenang di sandaran kursi, matanya terarah lurus kepada Duchess Montclair.
Sorot matanya sangat tenang.
Dan ketenangan itu—terasa dingin dan entah mengapa terasa jauh lebih menakutkan.
Kaisar menatap Arthur dengan saksama, menunggu tanggapan.
“Archduke Vancroft,” panggilnya tenang. “Apakah Anda ingin menanggapi kekhawatiran Duchess Montclair?”
Arthur meletakkan tangannya pada gagang pedang yang tergantung di pinggangnya sebelum berdiri perlahan.
Namun yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaan.
Seluruh bangsawan tersentak. Kursi bergeser keras. Dalam hitungan detik, seluruh bangsawan diruangan ikut berdiri dan mundur ke belakang kursi masing-masing, membentuk penghalang sambil memasang barier pelindung sihir secara refleks. Kilatan cahaya tipis berlapis-lapis muncul di udara.
Para Penjaga Bayangan Kaisar bahkan langsung bergerak keluar dari bayangan dinding, membentuk formasi pertahanan di sekitar singgasana dan memasang barier pelindung berlapis.
Arthur yang awalnya berekspresi datar kini justru terlihat bingung.
Ia hanya berdiri. Dan tidak melakukan apapun.
Di sampingnya, Valerine hampir saja tertawa.
Jelas-jelas mereka takut padanya, tetapi masih saja berani mengusiknya, pikirnya geli.
Keheningan terasa berat.
Tatapan Arthur menyapu ruangan. Perlahan, rasa malu merayap di wajah para bangsawan. Satu per satu, barier sihir menghilang. Mereka kembali duduk dengan tertib, seolah tidak terjadi apa-apa.
Arthur berdehem pelan.
Lalu ia tersenyum.
Senyuman tipis—yang entah bagaimana tampak seperti senyum seorang predator yang menemukan sesuatu yang menghibur.
“Duchess Montclair,” ucapnya, suaranya tenang namun cukup jelas terdengar di seluruh ruangan, “terima kasih atas perhatian yang begitu mendalam terhadap wilayah saya.”
Nada halus sarkasme terselip pada kata perhatian, tetapi cukup samar untuk tetap terdengar sopan.
“Data yang Anda sebutkan—defisit tiga juta koin emas—adalah benar. Saya tidak akan menyangkalnya.”
Bisikan kembali terdengar, kali ini lebih keras. Beberapa bangsawan tampak terkejut. Mereka mengira Arthur akan membantah atau membela diri.
“Namun,” lanjut Arthur, suaranya sedikit mengeras, “tampaknya Duchess Montclair keliru dalam menafsirkan arti dari defisit tersebut.”
Ia melangkah perlahan mengelilingi meja panjang—mencerminkan gerakan Montclair sebelumnya.
“Defisit tiga juta koin emas itu bukan akibat kegagalan ekonomi. Itu adalah investasi strategis.”
Ia berhenti dan menatap seluruh ruangan.
“Dalam dua bulan terakhir, wilayah saya telah mengalokasikan satu juta koin emas untuk pembangunan sistem irigasi baru di distrik Thornhaven dan Greenfields—yang diproyeksikan meningkatkan hasil panen hingga lima puluh persen dalam enam bulan.”
Beberapa bangsawan mulai saling pandang.
“Delapan ratus ribu koin emas digunakan untuk perbaikan infrastruktur: tujuh jembatan utama, jalan raya penghubung antarwilayah, serta sistem saluran pembuangan di Crimsonvale—yang akan memperlancar perdagangan dan mencegah krisis kesehatan publik.”
Ia melangkah satu langkah kedepan.
“Lima ratus ribu koin emas diinvestasikan untuk membuka kembali tambang mithril dengan protokol keamanan baru. Tambang tersebut akan beroperasi penuh dalam tiga minggu.”
Suasana ruangan berubah.
“Dan tujuh ratus ribu koin emas dialokasikan untuk program beasiswa di Akademi Sihir serta perekrutan instruktur baru—guna memastikan wilayah kami tetap memiliki sumber daya manusia terbaik di kekaisaran.”
Ia berhenti tepat di hadapan Duchess Montclair.
“Total tiga juta. Itu investasi, bukan kerugian.”
Arthur kembali ke posisinya semula, tetapi tetap berdiri. Posturnya tegak, bahunya lurus, kehadirannya secara alami menarik seluruh perhatian ruangan.
“Dan seluruh investasi ini akan menghasilkan keuntungan. Dalam enam bulan, saya memproyeksikan wilayah saya bukan hanya akan mencapai titik impas, tetapi juga menghasilkan surplus sebesar dua juta koin emas dibandingkan pendapatan sebelum perang.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan angka itu meresap ke benak setiap bangsawan yang hadir.
“Itu berarti peningkatan lima puluh persen dari kondisi sebelumnya.”
Beberapa wajah berubah pucat. Yang lain mulai menghitung dalam diam.
Di singgasananya, Kaisar menatap Arthur dengan sorot bangga yang tipis namun jelas. Ia mengenal Archduke Vancroft dengan baik. Ia tau Arthur pasti bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. Namun, biasanya Arthur membuat para bangsawan terdiam dengan ayunan pedangnya. Tapi kali ini, ia melakukannya dengan angka dan strategi.
Dan itu justru lebih mengejutkan.
“Tentu saja,” lanjut Arthur dengan nada santai, “saya memahami jika Duchess Montclair merasa skeptis terhadap proyeksi saya. Angkanya memang ambisius.”
Senyum tipis kembali terukir di wajahnya.
“Karena itu, saya ingin menawarkan sesuatu.”
Ia menatap langsung ke mata Montclair.
“Taruhan.”
...***...
Catatan:
Kalau aku mulai update lebih dari satu chapter dalam satu waktu, itu artinya aku udah sembuh. Tapi kalau masih 1 chapter, itu artinya aku masih sekarat.