NovelToon NovelToon
Sistem: Suplai Tak Terbatas

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia hanya ingin kaya.

Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.

Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Langkah Pertama di Hutan Besi

Bunyi patahan ranting itu kering. Melengking pelan sejenak, lalu mati ditelan raungan angin.

Wan Chen menarik napas panjang. Udara di tempat ini sama sekali tidak terasa seperti oksigen segar. Lebih mirip partikel debu besi tua yang dipaksa masuk ke dalam batang tenggorokan.

Baru kemarin ia mencium aroma pinus sintetis dan feromon mahal di bar eksklusif distrik atas. Sekarang bau karat pekat langsung menyengat pangkal hidungnya secara brutal. Kontras lingkungan yang sangat ekstrem hingga membuat isi perutnya sedikit bergejolak.

Ia mengamati sekeliling dengan tatapan datar. Pohon-pohon di wilayah ini cacat secara biologis. Kulit kayu organik sama sekali tidak eksis di sini. Permukaan batang itu digantikan oleh lapisan tebal yang membatu, bersisik kasar layaknya tiang penyangga baja berkarat yang ditancapkan paksa ke perut bumi.

Angin berembus lagi menyapu dahan. Dedaunan di atas sana saling bergesekan satu sama lain. Bunyinya berdenting tajam. Persis seperti ratusan lempeng metalik kotor yang siap menggorok leher siapa saja jika dibiarkan rontok ke bawah.

'Satu tarikan napas kencang di sini, dan paru-paruku bisa radang parah,' batinnya pasrah.

Ia menekan ritme jantungnya perlahan. Insting hunter miliknya yang sempat karatan karena terlalu lama di zona aman kini dipaksa menyala penuh. Setiap ayunan langkah kakinya mulai diukur secara presisi. Tidak boleh ada ranting kedua yang patah.

Suara gesekan halus tiba-tiba terdengar dari arah dahan di sudut butanya.

Bukan suara angin. Gesekan itu terlalu memiliki pola.

Wan Chen tidak mendongakkan kepala sama sekali. Ia hanya menggeser titik berat tubuhnya perlahan ke tumit kaki kiri. Mata abu-abunya melirik tajam ke ujung bayangan tidak wajar yang jatuh di atas tanah berdebu.

Sesuatu yang memiliki ukuran sebesar anjing ras besar sedang merayap turun. Cangkangnya memiliki warna yang sama persis dengan karat basah. Sebuah kamuflase yang nyaris tanpa cela di ekosistem Hutan Besi.

Laba-laba Karat. Hama perbatasan tingkat rendah.

Benda itu menjatuhkan diri ke bawah. Cakar berbulu kawatnya terarah lurus menuju pangkal leher Wan Chen dengan kecepatan tinggi.

Alih-alih menguras energi otaknya untuk memanggil senjata dari dimensi hampa seperti semalam, ia merespons murni dengan refleks biologis. Tangan kanannya meluncur cepat merogoh sarung taktis di sisi pahanya. Sebuah tarikan fisik yang sangat membumi.

Pisau Taktis Karbon itu tercabut keluar. Bilah hitam kelamnya seolah menyerap sisa cahaya redup di area sekitar.

Ia memutar pinggangnya secara mendadak. Mengayunkan sebelah lengannya dalam satu garis tebasan diagonal yang sangat efisien.

Tidak ada suara benturan keras yang memekakkan telinga. Tidak ada gesekan logam beradu.

Bilah bermaterial khusus itu menembus cangkang tebal si monster seolah ia sekadar membelah gumpalan mentega di suhu ruangan. Lurus. Rapi. Tidak ada perlawanan massa yang berarti.

Tubuh laba-laba itu terbelah menjadi dua bagian di udara. Jatuh berdebum mengotori permukaan tanah berbatu dengan cairan hijau kental. Cairan tersebut langsung mendesis dan menguap saat menyentuh permukaan keras di bawahnya.

Bau busuk menyebar tajam. Aroma bangkai yang bisa memancing kerumunan hama lain dalam hitungan menit.

"Masuk," desis Wan Chen cepat.

Layar antarmuka menyala sekejap di sudut pandangnya. Ruang hampa terbuka. Dua potongan bangkai berlendir itu tersedot bersih masuk ke dalam kapasitas Penyimpanan Dimensional miliknya tanpa sisa. Tanah kembali bersih, hanya meninggalkan noda uap yang menguap di udara.

Ia mengusap punggung pisaunya yang tidak ternoda ke celana kargonya. Kepalanya masih menyisakan sedikit denyut nyeri mengingat ongkos kalori mahal yang ia bayar semalam untuk mencetak benda ini.

'Setidaknya sistem perampok itu tidak menipuku soal ketajaman material,' gumamnya pelan.

Berlama-lama meladeni hama perbatasan hanya membuang waktu. Target utamanya berada jauh di episentrum, bukan karapas rongsokan tak berharga ini.

Wan Chen menyarungkan kembali pisaunya. Ia mulai memusatkan pandangan menyisir tanah di depannya. Matanya mencari jejak dari rombongan eksklusif yang informasi rutenya ia tebus mahal dari informan bar.

Insting pelacaknya menangkap anomali pertama hanya belasan meter di depan.

Permukaan tanah kemerahan itu amblas cukup dalam. Membentuk jejak tapak sepatu bot tempur kelas berat berukuran besar. Tidak hanya ada satu tapak. Ada banyak jejak tumpang tindih. Mereka berjalan tanpa repot-repot menyembunyikan bobot tonase perlengkapan sama sekali.

Ia berjongkok sejenak. Mengusap pinggiran jejak tanah yang terinjak itu. Strukturnya masih rawan, tanda mereka baru saja lewat belum lama ini.

Pandangannya kemudian naik mengarah ke depan. Sebuah dahan baja seukuran paha orang dewasa terpotong paksa melintang di tengah jalur. Bekas potongannya meleleh dan menghitam pekat. Sisa residu dari tembakan senjata plasma bersuhu tinggi.

Bibir Wan Chen membentuk sebuah seringai miring. Sangat sinis.

"Bawa meriam besar untuk menebas ranting," gumamnya pelan. "Benar-benar kelakuan elit."

Pola pergerakan mereka sangat terbaca. Skuadron spesialis ini membelah hutan menggunakan kekuatan finansial dan amunisi murni. Mereka memilih menghancurkan apa pun yang menghalangi garis lurus menuju sarang terdalam.

Ini adalah situasi yang sangat menguntungkan.

'Teruskan saja membuang peluru kalian,' pikir Wan Chen seraya bangkit berdiri. 'Bersihkan hambatan di depan. Aku hanya perlu mengekor dan memungut kuncinya nanti.'

Ia melangkah perlahan mengikuti jejak hangus tersebut. Membiarkan para pion berharga mahal itu membuang tenaga dan konsentrasi mereka di barisan terdepan.

Satu jam penuh ia terus mengekor dalam keheningan total.

Jaraknya dijaga ketat sekitar setengah kilometer dari sumber kerusakan terbaru yang ditinggalkan para elit. Jarak ini cukup jauh dari jangkauan pemindai termal canggih milik mereka, tetapi masih cukup dekat bagi mata Wan Chen untuk membaca sisa rekam jejak di tanah.

Sesekali ia memungut serpihan lumpur karat dan mengoleskannya ke kerah jaket taktisnya. Bau metalik kotor dari tanah ini adalah metode paling rasional untuk menutupi feromon manusianya dari penciuman tajam monster penjaga.

Semakin jauh ia menyusup ke dalam, struktur pohon baja di sekitarnya tumbuh dengan kerapatan yang tidak wajar. Kanopi berkarat di atasnya memblokir total sisa cahaya sore dari luar. Area perbatasan liar ini berubah sepenuhnya menjadi lorong monokrom yang lembap.

Lalu, tanah di bawahnya memberikan respons tiba-tiba.

Bukan sekadar getaran ranting jatuh. Ini adalah rambatan gelombang seismik mentah.

Batu yang dipijak sepatu bot Wan Chen bergetar kasar. Mengirimkan sensasi kesemutan yang merayap cepat naik hingga ke tulang keringnya.

Ia menghentikan ayunan kakinya seketika. Menurunkan pusat gravitasi tubuhnya.

Suara ledakan redam menghantam gendang telinganya dari kejauhan. Ledakan itu disusul oleh kilatan cahaya biru pucat yang berkedip menembus celah dedaunan di arah jam dua belas.

Senjata berkaliber raksasa baru saja dilepaskan dari larasnya.

Semenit berselang, balasan dari pihak tuan rumah datang.

Itu bukan raungan hewan buas biasa. Melainkan lengkingan parau yang menggelegar hebat. Frekuensi suaranya merobek udara hingga membuat dedaunan besi di sekitar Wan Chen bergetar selaras.

Monster tingkat tinggi itu telah terbangun. Makhluk kelas berat yang mendedikasikan eksistensinya untuk menjaga sumber pemulihan seluler incarannya sedang mengamuk parah.

Siklus bentrokan mematikan antara pemodal besar dari distrik atas dan penghuni asli episentrum telah resmi dimulai.

Napas Wan Chen menjadi sangat pelan. Ritmenya turun drastis.

Ia membuka layar antarmuka sistemnya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Mengakses dimensi hampa penyimpanannya. Jari telunjuk kanannya secara refleks menyentuh bayangan proyeksi gagang pisau karbon cadangan di layar hijau tersebut. Sebuah langkah antisipasi.

Mata abu-abunya mengukur struktur batang pohon baja terdekat di sisinya. Sisik karat di permukaannya cukup menonjol untuk dijadikan pijakan sementara.

Ia menekuk kedua lututnya dalam-dalam.

Dengan satu tolakan kuat yang efisien, tubuhnya melenting naik ke udara. Telapak tangannya mencengkeram dahan metalik pertama, menarik bobot tubuhnya berayun mulus menembus bayangan kanopi yang jauh lebih tinggi. Titik buta yang sempurna untuk mengamati siapa yang akan jadi bangkai lebih dulu.

1
Yui
Karya ini sangat luar biasa, setelah baca novel ini aku jadi sedikit mengingat kenanganku yang telah lama menghilang, terimakasih Author 🔥🔥🔥🔥🔥
Ironside: /Toasted/
total 1 replies
Ironside
Ada error /Sweat/, biarlah, nanti di fix Editor
Gege
dan Wang Chen pun jualan obat...🤣😄
HiaTus
/Rose/
Wakana
wow sangat menarik & unik 👀
Ironside: Terima kasih telah membaca, semoga betah /Smile/
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir
ada insectnya gak kak?
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir: yah, kecewa kak.
total 2 replies
The Ironheart
darkfantasy ini kak☺️
Ironside: /Slight/
total 1 replies
Ironside
Pliss... Like, Subscribe dan Upvote jika kalian menyukai karya ini /Determined/.
Ironside: Mr. Willheim /Scare/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!