NovelToon NovelToon
Nayara'S Story

Nayara'S Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Action
Popularitas:509
Nilai: 5
Nama Author: Aini Nuraini

JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI

Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.

Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.

Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.

Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.

"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."


Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Koma

Begitu sampai Rumah sakit, Lorenzo langsung membawa Nayara masuk ke dalam ruang IGD VVIP Rumah Sakit Utama milik keluarga Moretti. Lorong rumah sakit yang biasanya sunyi malam itu mendadak gaduh oleh deru langkah kaki para pengawal dan tim dokter yang berlarian.

Lorenzo merebahkan tubuh Nayara secara perlahan di atas brankar kosong. Sebelum dia sempat menjauh, jemari Nayara yang gemetar dan bernoda darah kering mendadak mencengkeram kuat ujung kemeja Lorenzo.

"Dante... di mana Dante?" bisik Nayara, suaranya parau, matanya yang sembap menatap Lorenzo dengan tatapan memohon yang amat sangat.

Lorenzo menghela napas berat, menepuk pelan punggung tangan Nayara agar cengkeramannya mengendur. "Dia sudah di dalam ruang operasi, Nayara. Tim dokter terbaik sedang menanganinya."

"Dia... dia tidak akan mati, kan?" tanya nayara lirih dan mulai terisak lagi. "Lorenzo, jawab aku! Dia tidak akan mati, kan?!"

"Nona, permisi, kami harus memeriksa kondisi Anda terlebih dahulu," potong seorang dokter wanita yang baru datang bersama dua perawat, mencoba mendekati brankar.

"Aku tidak apa-apa! Periksa saja Dante! Jangan urus aku!" jerit Nayara histeris, menepis tangan perawat yang hendak menyentuh tensimeter ke lengannya.

"Nayara, tenang!" bentak Lorenzo, suaranya yang tegas dan sarat otoritas seketika membuat seisi ruangan bungkam. Lorenzo menatap tajam langsung ke manik mata Nayara yang bergetar. "Dante sedang bertaruh nyawa di dalam sana. Kalau kau terus histeris seperti ini, kau hanya akan menyulitkan para dokter. Biarkan mereka memeriksa lukamu, atau aku tidak akan mengizinkanmu mendekati ruang operasi Dante!"

Nayara tertegun. Napasnya naik turun menahan sesak di dada, namun ancaman Lorenzo berhasil membuatnya bungkam. Dia akhirnya pasrah saat dokter mulai membersihkan luka-luka gores di kaki dan tangannya.

"Bagaimana keadaan dante, Dokter?" tanya Lorenzo dingin, beralih menatap dokter utama yang baru saja keluar dari ruang resusitasi sebelah.

Dokter pria paruh baya itu menjauhkan masker medisnya, wajahnya tampak sangat tegang. "Kondisi Tuan Muda Dante sangat kritis, Tuan Lorenzo. Dua peluru berkaliber besar bersarang di punggungnya. Peluru pertama melesat sangat dekat dengan aorta jantungnya, sedangkan peluru kedua menghancurkan sebagian tulang belikat kanan. Pendarahan dalamnya sangat hebat."

Mendengar kata 'aorta jantung', jantung Nayara serasa berhenti berdetak. "A-Apa maksudnya? Dia... dia bisa diselamatkan, kan?" potong Nayara dengan suara bergetar dari atas brankarnya.

Dokter itu menatap Nayara sekilas, lalu kembali menatap Lorenzo. "Kami sedang melakukan operasi darurat untuk mengangkat kedua peluru dan menghentikan pendarahan. Namun, tensi beliau terus merosot. Kami membutuhkan pasokan darah golongan O-negatif dalam jumlah besar sekarang juga, sedangkan stok di bank darah rumah sakit kami sedang menipis karena jenis darah ini sangat langka."

"Ambil darahku!" seru Nayara spontan, langsung mendudukkan tubuhnya di atas brankar hingga jarum infus yang baru dipasang di tangannya hampir terlepas. "Golongan darahku O-negatif! Ambil sebanyak yang kalian butuhkan! Cepat!"

Lorenzo menoleh cepat, menatap Nayara dengan dahi berkerut. "Kau baru saja syok dan demammu belum pulih sepenuhnya, Nayara. Jangan nekat."

"Aku tidak peduli, Lorenzo!" sentak Nayara, air matanya kembali meluncur deras membasahi pipinya yang pucat. "Punggungnya tertembak karena melindungiku! Dia sekarat karena aku! Jadi ambil darahku sekarang juga, Dokter! Aku mohon..."

Dokter itu memandang Lorenzo, meminta persetujuan sang tuan muda kedua Moretti. Lorenzo terdiam sejenak, menatap lekat sorot mata Nayara yang dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan yang luar biasa.

"Periksa sel darahnya," ujar Lorenzo akhirnya pada dokter. "Jika memenuhi syarat, lakukan transfusi langsung ke ruang operasi Dante."

"Baik, Tuan Lorenzo. Nona, mari ikut saya ke ruang sebelah," ucap dokter wanita segera membantu Nayara turun dari brankar.

Satu jam berlalu. Di koridor depan ruang operasi VVIP yang mencekam, Lorenzo berdiri bersandar di dinding sambil melipat tangan di dada. Tak lama kemudian, Marco berjalan cepat mendekatinya dengan wajah kaku.

"Bagaimana di lokasi, Marco?" tanya Lorenzo tanpa mengubah posisinya.

"Semua bersih, Tuan Lorenzo. Mayat para penyusup sudah dimusnahkan tanpa sisa. Namun, dari analisis senjata yang mereka gunakan... mereka bukan bagian dari faksi lokal," bisik Marco, merendahkan suaranya. "Mereka pembunuh bayaran profesional yang disewa dari luar negeri. Seseorang dari dalam sengaja membocorkan rute perjalanan Tuan Muda Dante ke pelabuhan."

Lorenzo mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Cari tahu siapa tikus di dalam organisasi kita yang berani bermain api dengan nyawa anakku. Begitu tertangkap, bawa kepalanya langsung ke hadapanku."

"Dimengerti, Tuan." Marco membungkuk hormat.

Pintu ruang operasi mendadak terbuka. Nayara keluar dengan langkah gontai, wajahnya jauh lebih pucat dari sebelumnya setelah dua kantong darahnya diambil untuk disalurkan ke tubuh Dante. Tangannya menekan kapas di lipatan siku.

"Bagaimana? Apa operasinya sudah selesai?" tanya Nayara langsung, suaranya sangat lemah, nyaris seperti bisikan.

Lorenzo melangkah mendekati Nayara, menahan pundak gadis itu agar tidak terjatuh karena tubuhnya yang tampak limbung. "Operasinya masih berjalan, Nayara. Kau harus duduk."

"Tidak mau! Aku mau tunggu di sini sampai pintunya terbuka!" keras Nayara, menepis pelan tangan Lorenzo dan memilih bersandar pada dinding koridor yang dingin, tepat di sebelah lampu operasi yang masih menyala merah.

"Kau keras kepala sekali, persis seperti Dante," cibir Lorenzo pendek, namun dia tidak lagi memaksa Nayara untuk duduk.

Satu jam berikutnya terasa seperti siksaan neraka bagi Nayara. Setiap detik yang berlalu di koridor itu terasa begitu lambat dan menyakitkan. Pikirannya dipenuhi ketakutan yang belum pernah dia rasakan seumur hidup.

Klik.

Lampu di atas pintu ruang operasi akhirnya berubah warna menjadi hijau. Pintu besar itu terbuka, dan dokter utama keluar dengan pakaian operasi yang masih bernoda darah. Wajahnya tampak luar biasa lelah.

Nayara langsung melompat maju, mencengkeram lengan baju dokter itu tanpa memedulikan sopan santun. "Dokter! Bagaimana Dante?! Dia selamat, kan?! Katakan padaku dia selamat!"

Dokter itu menghela napas panjang, menatap Nayara lalu beralih ke Lorenzo yang kini sudah berdiri di samping gadis itu.

"Peluru berhasil kami angkat secara keseluruhan. Berkat bantuan darah dari Nona ini, pendarahan dalam Tuan Dante akhirnya bisa dikendalikan," ujar dokter itu perlahan.

Nayara mengembuskan napas lega yang teramat sangat, air mata syukurnya runtuh. "Syukurlah... Ya Tuhan, syukurlah..."

"Tapi, Nona... Tuan Lorenzo..." kalimat dokter yang menggantung itu seketika memutus kebahagiaan sesaat Nayara. Jantungnya kembali mencelos ke dasar perut.

"Apa maksudmu 'tapi', Dokter? Katakan dengan jelas," desak Lorenzo, rahangnya kembali mengeras.

"Kondisi tubuh Tuan Dante terlanjur drop terlalu parah sebelum sempat mendapat penanganan. Benturan peluru kedua merusak jaringan saraf di sekitar tulang belakangnya. Saat ini, Tuan Dante dinyatakan koma," ucap dokter itu dengan nada berat.

"Koma...?" beo Nayara, seluruh tubuhnya mendadak lemas bagai kehilangan tulang penyangga. "Sampai kapan, Dokter? Kapan dia akan bangun?!"

"Kami tidak bisa memprediksinya, Nona. Semua tergantung pada kekuatan dan respons tubuh Tuan Dante sendiri. Masa kritisnya adalah dua puluh empat jam ke depan. Jika dalam waktu itu kondisinya terus menurun... kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk."

1
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!