Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan Pertama
Rumah bernuansa abu-abu itu biasanya menjadi simbol ketenangan yang semu bagi Aris, sebuah tempat di mana ia bisa mengunci obsesi terbesarnya dari jangkauan dunia luar. Namun malam ini, atmosfer di dalam rumah tersebut mendadak berubah menjadi sangat pekat dan mencekam. Ketegangan tidak kasat mata merayap di antara dinding-dindingnya yang kokoh, seolah-olah pondasi rumah itu baru saja dihantam oleh gempa bumi yang tak terdengar.
Aris pulang ke rumah jauh lebih awal dari biasanya. Namun, tidak ada binar bahagia atau senyuman puas seperti malam sebelumnya saat ia mendengar kabar kehamilan Neya. Pria itu melangkah melewati pintu depan dengan rahang yang mengeras kaku, wajahnya yang tegas tampak luar biasa tegang, dan sepasang matanya menyiratkan kepanikan yang sangat pekat. Di tangan kanannya, ia mencengkeram selembar amplop cokelat tebal berlogo firma hukum ternama yang sudah agak lecek akibat remasan tangannya yang terlalu kuat.
Zalwa tidak membuang waktu. Wanita itu benar-benar bergerak dengan sangat cepat dan mematikan dari balik bayang-bayang, persis seperti yang telah diatur dalam garis taktik yang ditiupkan Neya di kafe siang tadi. Surat yang berada di tangan Aris saat ini adalah sebuah somasi rahasia—sebuah tuntutan hukum atas pemalsuan dokumen identitas dan pernikahan ilegal yang dilakukan Aris bersama ibunya demi mengikat Neya. Zalwa menyerang tepat di ulu hati Aris: mengancam akan membawa skandal ini ke papan direksi dan publik jika Aris tidak segera menceraikan Neya.
Di dalam kamar tidur utama, Neya sedang duduk di tepi ranjang sembari melipat beberapa pakaian rajutnya dengan gerakan yang sangat lembut dan teratur. Begitu mendengar suara langkah kaki Aris yang tergesa-gesa dan berdentum kasar di koridor, sudut bibir Neya terangkat sangat tipis—sebuah seringai dingin yang hilang hanya dalam hitungan sepersekian detik. Ketika pintu kamar didorong terbuka dengan kasar oleh Aris, wajah Neya dalam sekejap berubah menjadi sosok istri yang polos, lembut, dan penuh dengan kepedulian yang murni.
"Kak Aris? Kamu sudah pulang?" tanya Neya, suaranya mengalun lembut, sepasang mata bulatnya menatap Aris dengan binar kebingungan yang sangat alami. Ia meletakkan pakaian di tangannya, lalu berdiri dan berjalan mendekati suaminya. "Wajahmu pucat sekali. Apa ada masalah di kantor?"
Aris tertegun melihat kelembutan Neya. Pria itu menelan ludah dengan susah payah, buru-buru menyembunyikan amplop cokelat di tangannya ke balik jas hitam yang ia jinjing. Rasa bersalah, panik, dan ketakutan kehilangan Neya mendadak bercampur aduk di dalam dadanya, menciptakan badai emosi yang membuat napasnya memburu tidak teratur. Aris tidak tahu bahwa wanita yang sedang menatapnya dengan pandangan khawatir ini adalah dalang utama yang telah menyalakan api di rumah tangganya yang lain.
"Tidak... tidak ada apa-apa, Neya. Hanya urusan bisnis yang sedikit melelahkan," jawab Aris, suaranya terdengar agak serak saat ia mencoba memaksakan sebuah senyuman tipis yang tampak sangat tidak wajar. Ia mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Neya dengan gerakan protektif yang berlebihan, seolah takut wanita di hadapannya ini akan lenyap jika ia lengah sedetik saja. "Bagaimana kondisimu sore ini? Apa perutmu masih mual?"
Neya mengulas senyuman paling manis, sebuah senyuman yang tampak sangat tulus dan menenangkan, namun sebenarnya dirancang untuk menyiksa batin Aris lebih dalam. "Sudah jauh lebih baik, Kak. Bayi kita sepertinya sangat pengertian. Dia tidak membuatku terlalu lelah hari ini." Neya sengaja memberikan penekanan yang halus pada kata 'bayi kita', tahu betul bahwa kata-kata itu akan menghantam kesadaran Aris yang saat ini terancam kehilangan hak atas anak tersebut akibat tuntutan Zalwa.
Mendengar kalimat Neya, tubuh Aris seketika menegang kaku bagai batu. Sepasang matanya bergetar hebat menahan gejolak rasa bersalah yang teramat pekat. Bayi kita, batin Aris menjerit getir. Pria itu merasa seperti seorang penjahat besar yang sedang mengkhianati malaikat suci yang sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai dosa-dosa masa lalunya. Aris benci mendapati fakta bahwa posisinya kini terjepit di antara ancaman kehancuran karier dari pihak Zalwa dan obsesinya untuk mempertahankan Neya serta anak di dalam rahimnya.
"Baguslah kalau begitu," bisik Aris, suaranya terdengar sangat parau. "Aku... aku harus ke ruang kerja sebentar untuk menyelesaikan beberapa berkas. Kamu istirahatlah, jangan terlalu banyak bergerak."
"Baik, Kak. Aku akan membuatkanmu teh hangat dan membawakannya ke ruang kerja nanti," ucap Neya dengan nada suara yang begitu penurut dan penuh pengabdian.
Aris mengangguk pelan, lalu berbalik dan melangkah keluar dari kamar menuju ruang kerjanya yang berada di ujung lorong dengan langkah yang terasa sangat berat, seolah-olah ada beban ribuan ton yang sedang bergelayut di pundaknya.
Begitu pintu kamar kembali tertutup rapat dan menyisakan kesunyian, seluruh ekspresi hangat dan penuh cinta di wajah cantik Neya lenyap seketika tak berbekas. Kedipan matanya yang semula lembut berubah menjadi kilat mata elang yang teramat dingin, tajam, dan penuh dengan kalkulasi yang matang.
Neya berjalan perlahan menuju jendela kamar, menatap lurus ke arah kegelapan taman belakang rumah. Jemari lentiknya bergerak mengusap permukaan perutnya yang masih sangat rata di balik gaun tidurnya. Di dalam kepalanya yang jenius, ia sedang menikmati setiap detik penderitaan yang sedang dialami oleh Aris.
Neya tahu betul psikologi pria seperti Aris. Semakin ia bersikap sebagai istri yang sempurna, patuh, dan penuh perhatian di tengah situasi krisis ini, maka Aris akan semakin merasa berdosa jika harus menyakitinya atau membiarkannya terlibat dalam skandal hukum. Neya sengaja menciptakan kontras yang ekstrem: ia memosisikan dirinya sebagai korban yang paling suci dan rapuh, agar ketika bom waktu perceraian itu diledakkan oleh Zalwa nanti, seluruh dunia—termasuk bundanya—akan melihat Aris sebagai pihak penjahat yang paling kejam, sementara Neya keluar dari rumah ini dengan simpati penuh dari semua orang.
Setengah jam kemudian, Neya melangkah keluar dari dapur sembari membawa nampan berisi secangkir teh kamomil hangat yang aromanya menenangkan. Ia berjalan menyusuri lorong rumah yang temaram dengan langkah kaki yang sengaja dibuat lambat dan anggun. Begitu sampai di depan pintu ruang kerja Aris yang sedikit terbuka, ia menghentikan langkahnya.
Dari celah pintu yang terbuka itu, Neya bisa melihat Aris sedang duduk di balik meja kerjanya yang besar dengan kepala yang ditumpu oleh kedua tangannya. Pria itu tampak sangat frustrasi, rambutnya berantakan akibat remasan jemarinya sendiri. Di atas meja, lembaran somasi dari pengacara Zalwa terbuka lebar di bawah temaram lampu meja.
Neya menarik napas dalam, memajukan tubuhnya, lalu mengetuk daun pintu kayu itu dengan ketukan yang lambat dan lembut. "Kak Aris? Aku membawakan teh untukmu."
Aris tersentak kaget, dengan gerakan panik yang sangat kentara ia segera membalikkan kertas somasi tersebut dan menutupinya dengan tumpukan map perusahaan, sebelum mendongak menatap Neya. "Ah... iya, Neya. Masuklah."
Neya melangkah masuk dengan senyuman tipis yang tampak sangat polos, pura-pura tidak melihat kepanikan di wajah suaminya. Ia meletakkan cangkir teh itu di sisi meja yang kosong, lalu berdiri di samping kursi Aris. Dengan gerakan yang sangat halus dan terukur, Neya mengulurkan kedua tangannya, memijat lembut pundak Aris yang tampak sangat tegang.
"Pundakmu keras sekali, Kak. Kamu pasti sedang memikirkan masalah yang sangat berat di kantor, ya?" tanya Neya dengan nada suara yang dipenuhi kelembutan yang membuai. "Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, kamu bisa menceritakannya padaku. Walaupun aku mungkin tidak bisa membantu banyak dengan kondisiku yang seperti ini, setidaknya aku bisa mendengarkanmu."
Sentuhan tangan halus Neya dan perhatiannya yang begitu besar justru terasa seperti siraman bensin di atas bara api rasa bersalah yang sedang membakar dada Aris. Pria itu memejamkan matanya erat-erat, menikmati pijatan tersebut dengan hati yang kian hancur berkeping-keping. Bagaimana bisa ia menceritakan bahwa istri pertamanya sedang menuntut perceraian dan mengancam akan membongkar rahasia bahwa pernikahan mereka adalah sebuah kebohongan besar? Bagaimana bisa ia merusak senyuman polos di wajah wanita yang sangat terobsesi ia miliki ini?
Aris meraih salah satu tangan Neya yang berada di pundaknya, menggenggamnya kuat-kuat lalu mengecup punggung tangan itu dengan bibir yang bergetar. "Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Neya. Ini hanya masalah kontrak kerja sama dengan Wijaya Corp yang sedikit rumit. Aku bersumpah... aku akan menyelesaikan semuanya. Kamu hanya perlu fokus pada kesehatanmu dan bayi kita. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu atau memisahkan kita."
Neya menatap ubun-ubun kepala Aris yang sedang menunduk mencium tangannya. Di balik kegelapan malam yang mengurung ruang kerja itu, sepasang mata bulat Neya memancarkan kilat kemenangan yang teramat dingin dan penuh kendali.
"Kamu bilang tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita, Aris? batin Neya sembari menyunggingkan seringai misterius yang mengerikan di bibir cantiknya. Sayang sekali, karena justru istrimu sendiri yang akan memaksamu untuk melepaskanku. Berjuanglah sekeras yang kamu bisa untuk mempertahankan pernikahan ilegal ini, karena semakin keras kamu melawan Zalwa, semakin besar pula tuntutan aset yang harus kamu serahkan padaku nanti untuk membungkamku. Dan uang itu... uang itu yang akan membukakan jalanku untuk berjalan kembali merebut Kinan dari genggaman keluarganya"
Neya menarik tangan halusnya dari genggaman Aris dengan gerakan yang sangat lembut, lalu mengecup pipi Aris sekilas—sebuah kecupan palsu yang sarat akan racun manipulasi. "Aku percaya padamu, Kak. Kamu adalah pria terbaik yang pernah hadir di hidupku setelah kecelakaan itu."
Neya kemudian berpamitan dengan alasan ingin beristirahat lebih awal agar tidak mengganggu fokus Aris yang sedang berpura-pura sibuk di balik mejanya. Ia membalikkan tubuh, melangkah keluar dari ruang kerja itu dengan kelembutan seorang istri yang penuh pengertian.
Namun, begitu kakinya melangkah kembali ke dalam kamarnya sendiri dan pintu kayu ek itu tertutup rapat, seluruh kelembutan di wajah Neya menguap seketika. Langkah kakinya bergerak cepat menuju meja rias. Ia meraih ponsel pribadinya yang sengaja ia balik di dekat tumpukan buku, lalu menggeser layarnya dengan gerakan jemari yang cekatan.
Neya membuka aplikasi surat elektronik pribadinya. Manik matanya yang bulat kini berkilat tajam, menatap lurus ke arah kotak keluar (outbox).
Di sana, tertera sebuah draf pengiriman yang sebenarnya sudah ia luncurkan beberapa jam yang lalu ke sistem jaringan kantor pusat Wijaya Corp—sebuah laporan re-desain ruang eksekutif yang ia susun dengan sangat teliti. Namun, laporan itu bukan sekadar tugas divisi kreatif biasa. Di dalam lampiran file dokumen tersebut, Neya sengaja menyelipkan sebuah kode tersembunyi yang hanya dipahami oleh satu orang: koordinat waktu dan lokasi pengerjaan proyek lapangan berikutnya.
Neya menahan napas sejenak, beralih membuka kotak masuk (inbox) untuk memeriksa apakah ada notifikasi balasan dari alamat email resmi milik Kinan.
Kosong. Belum ada balasan apa pun dari pria itu.
Neya mengira email laporan kreatif yang ia kirimkan ke sistem kantor pusat hanya akan berakhir di layar komputer kerja Kinan yang terjaga ketat. Ia sama sekali tidak pernah menduga bahwa notifikasi pratinjau (preview) dari email laporan re-desain yang mencantumkan namanya sebagai penanggung jawab lapangan itu, justru telah menyala di atas meja rias sebuah penthouse mewah beberapa saat lalu—dan dibaca dengan saksama oleh sepasang mata milik Sherly, istri sah Kinan.
lalu Kinan ?