NovelToon NovelToon
Not Our Time

Not Our Time

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Keluarga
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"

Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.

Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.

Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?

~~~~~~
Happy reading 🦋🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#10

Wewangian aromaterapi lavender yang menenangkan menguar di setiap sudut kamar bernuansa putih dan emas milik Vexana. Namun, bagi sang pemilik kamar, keharuman itu terasa mencekik.

Vexana perlahan membuka sepasang matanya. Gelap yang sempat merenggut kesadarannya di pemakaman kini telah memudar, digantikan oleh rasa pening yang luar biasa hebat, seolah kepalanya baru saja dihantam oleh godam besi.

Hal pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah langit-langit kamar yang familier, disusul oleh wajah cemas kedua orang tuanya yang duduk di sisi ranjang. Maximilian dan Amieyara menatapnya dengan binar kelegaan yang dipaksakan.

"Vexa, sayang... akhirnya kau sadar," lirih Amieyara, langsung menggenggam jemari tangan putrinya yang terasa sedingin es.

"Kau membuat Mommy sangat takut. Dokter bilang kau hanya kelelahan dan mengalami halusinasi akibat stres pasca ujian."

Vexana menarik napasnya dalam-dalam, merasakan sesak yang tertahan di dadanya.

Dia menarik tangannya perlahan dari genggaman sang ibu, lalu mendudukkan dirinya di atas kasur dengan bersandar pada kepala ranjang. Sepasang matanya yang jernih menatap Maximilian dan Amieyara bergantian dengan pandangan mata yang dingin, tajam, dan penuh dengan riak ketidakpercayaan.

"Halusinasi?" Vexana mengulang kata itu dengan nada suara yang bergetar sinis. "Jadi, semua yang dikatakan Andriana di makam tadi adalah halusinasi? Tentang usiaku yang sudah dua puluh enam tahun? Tentang kelulusan high school delapan tahun lalu? Dan tentang Amara yang dimakamkan di tempat lain enam tahun yang lalu? Apa semua itu hanya karangan otaku yang sakit, Dad?"

Maximilian mengembuskan napas panjang, memasang wajah tegas namun sarat akan kasih sayang seorang ayah yang sedang berusaha menenangkan anaknya yang tidak stabil.

"Andriana hanya mencoba mengacaukan pikiranmu, Vexa. Kau tahu sendiri bagaimana hubungan kalian berakhir di masa lalu. Dia iri padamu, dan melihatmu di pemakaman tadi membuatnya ingin membuka luka lama dengan cerita-cerita yang tidak masuk akal. Kau baru berusia dua puluh empat tahun, sayang. Jangan biarkan ucapan orang asing merusak kewarasanmu."

Vexana terdiam. Bibirnya terkatung, ingin mendebat, ingin berteriak bahwa tatapan mata Andriana tadi pagi terlalu nyata untuk disebut sebagai sebuah kebohongan.

Namun, melihat betapa rapinya pembelaan dan air muka kedua orang tuanya, Vexana tahu bahwa berdebat di dalam rumah ini tidak akan membuahkan hasil. Mereka telah mengunci rapat kebenaran di balik dinding mansion ini.

Cklek.

Pintu kamar yang sedikit terbuka perlahan terdorong. Sebuah kepala kecil berambut legam menyembul dari balik pintu. Itu AJ. Bocah laki-laki berusia enam tahun itu melangkah masuk dengan ragu-ragu, sepasang mata bulatnya yang jernih tampak sembap dan kemerahan, sisa dari tangisannya yang histeris beberapa saat lalu. Di tangannya, dia memeluk sebuah selimut kecil beludru miliknya.

"Kakak..." panggil AJ dengan suara cempreng yang serak. Dia berjalan mendekati ranjang Vexana, mengabaikan keberadaan Maximilian dan Amieyara.

Melihat sosok bocah kecil itu, seluruh pertahanan dingin dan kemarahan di wajah Vexana runtuh seketika.

Di tengah badai ketidakpercayaan dan keraguan yang dia rasakan terhadap kedua orang tuanya, AJ adalah satu-satunya oase yang murni.

Bagi Vexana, AJ hanyalah anak kecil tidak berdosa yang lahir sebagai pelengkap kebahagiaan di masa-masa sulit setelah dia terbangun dari kecelakaan maut itu.

"AJ... kemari, sayang," ucap Vexana, suaranya melunak drastis. Dia merentangkan kedua tangannya.

Dengan cepat, AJ memanjat ke atas ranjang dan langsung menghambur ke dalam pelukan Vexana. Lengan mungilnya memeluk leher Vexana dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang kakak.

"AJ takut... AJ pikir Kakak akan tidur lama lagi seperti dulu kata Mommy," bisik AJ dengan tubuh yang sedikit gemetar.

Vexana mengusap punggung AJ dengan penuh kasih sayang, mengecup puncak kepala bocah itu berulang kali. "Tidak, sayang. Kakak hanya mengantuk tadi. Sekarang Kakak sudah bangun dan baik-baik saja. Jangan menangis lagi, hm?"

Maximilian yang menyaksikan interaksi erat antara ibu dan anak kandung yang saling mengira sebagai saudara kandung itu hanya bisa mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Ada rasa bersalah yang menusuk, namun tekadnya untuk menyembunyikan kebenaran ini demi kebaikan Vexana jauh lebih besar dari apa pun.

"Vexa, istirahatlah hari ini. Jangan pikirkan apa pun dulu," ucap Maximilian berdiri, memberi kode pada istrinya untuk keluar dan memberikan ruang bagi Vexana dan AJ.

Setelah kedua orang tuanya keluar dari kamar, Vexana menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong sementara AJ mulai tertidur di sampingnya akibat kelelahan menangis.

Di dalam keheningan itu, sebuah keputusan bulat terpatri di dalam hati Vexana. Jika rumah ini tidak bisa memberikan jawaban yang jujur, maka dia harus mencarinya di luar.

Dan hanya ada satu orang di dunia ini yang tidak akan pernah sudi berbohong demi melindunginya, satu orang yang memandangnya dengan realitas yang paling jujur, meskipun itu menyakitkan.

Landon Desmon.

Besok... besok aku akan menemuinya di kampus, batin Vexana dengan tekad yang mengkristal bersama air mata yang mengalir di sudut matanya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan harinya, matahari pagi menyinari kompleks Universitas California, Los Angeles (UCLA) dengan begitu cerah.

Koridor-koridor kampus dipenuhi oleh hiruk-pikuk mahasiswa yang berlarian menuju kelas mereka.

Di salah satu sudut koridor Fakultas Teknik Elektro, Vexana berdiri dengan anggun, dibalut oleh blus putih dan celana kain formal yang memberikan kesan dewasa namun rapuh.

Sepasang matanya terus bergerak, mencari sosok pria yang selama bertahun-tahun ini menghuni sudut paling gelap sekaligus paling dirindukannya di dalam ingatan.

Langkah kakinya berhenti tepat di depan laboratorium robotika. Melalui kaca jendela yang transparan, dia bisa melihat Landon Desmon sedang berdiri di depan sebuah meja besar, berdiskusi serius dengan beberapa dosen pembimbing dan mahasiswa tingkat akhir.

Pria itu tampak begitu karismatik, dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan aura pria dewasa yang matang dan genius.

Vexana menunggu dengan sabar di luar selama hampir setengah jam, hingga akhirnya pintu laboratorium terbuka dan para mahasiswa lain mulai membubarkan diri.

Landon melangkah keluar dengan membawa beberapa berkas di tangannya. Begitu dia mendongak dan menangkap sosok Vexana yang berdiri beberapa langkah di depannya, langkah kaki Landon mendadak terhenti.

Ekspresi wajah Landon langsung berubah menjadi dingin dan datar, ekspresi yang sama yang dia tunjukkan setiap kali mereka berpapasan akhir-akhir ini.

"Mau apa lagi kau kemari, Vexa?" tanya Landon, suaranya berat dan sarat akan penolakan. "Jika kau ke sini hanya untuk membuat drama baru seperti kemarin bersama Luna, kurasa kau salah tempat. Aku sedang sibuk."

Vexana tidak membalas dengan kemarahan atau makian bar-bar seperti yang biasa dia lakukan.

Dia justru melangkah mendekat, menatap lurus ke dalam sepasang mata legam Landon yang selalu berhasil menggetarkan jiwanya.

Ada kelelahan dan kesedihan yang begitu mendalam di wajah cantiknya, membuat Landon untuk sejenak tertegun.

"Aku ke sini bukan untuk membuat drama, Landon," ucap Vexana, suaranya mengalun pelan namun terdengar begitu tulus. Dia meremas kedua tangannya sendiri, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dadanya.

"Aku... aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang seharusnya sudah kukatakan sejak lama," lanjut Vexana, menunduk sekilas sebelum kembali menatap Landon.

"Aku ingin mengatakan bahwa aku menyesal, Landon. Aku menyesal soal bagaimana cara kita mencintai di masa lalu. Aku menyesal karena keegoisanku, sikap kekanak-kanakanku, dan ketidakmampuanku untuk memahamimu membuat hubungan kita berakhir dengan cara yang begitu hancur. Aku minta maaf atas segala rasa sakit yang pernah kuberi padamu."

Mendengar untaian kata maaf yang meluncur dari bibir seorang Vexana Valerio—gadis yang biasa angkuh yang pernah dia kenal—membuat Landon Desmon terpaku.

Untuk beberapa detik, keheningan yang canggung menguasai mereka. Landon menatap Vexana dengan pandangan mata yang sulit diartikan, mencari-cari apakah ada kilat kebohongan atau manipulasi di sana. Namun, yang dia temukan hanyalah ketulusan yang telanjang.

Landon mengembuskan napas panjang, bersandar pada pilar koridor di sampingnya. Semburat senyuman sinis namun getir muncul di wajah tampannya.

"Aku pikir... selama enam tahun ini membuatmu menjadi lebih dewasa, Vexa," ucap Landon dengan nada suara yang merendah, menatap lurus pada mantan kekasihnya itu. "Ternyata kau memang butuh waktu yang sangat lama untuk akhirnya menyadari kesalahanmu."

Deg.

Kata-kata Landon bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, menghancurkan seluruh dinding pertahanan mental yang sejak kemarin Vexana bangun dengan susah payah. Tubuhnya mendadak kaku, laksana dibekukan oleh es.

"Enam tahun...?" Suara Vexana nyaris berupa bisikan yang tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya.

"Apa... apa maksudmu dengan enam tahun, Landon?"

Landon mengerutkan keningnya, merasa heran dengan reaksi Vexana yang tampak begitu terkejut, seolah kalimatnya adalah sebuah mantra terlarang.

"Kenapa kau bertanya lagi? Kita putus dan kecelakaan itu terjadi enam tahun yang lalu, Vexa. Apa kau mencoba berpura-pura amnesia untuk menarik empatiku lagi? Jangan konyol."

Mendengar konfirmasi yang keluar langsung dari mulut Landon Desmon—pria yang tidak memiliki alasan apa pun untuk ikut dalam skenario kebohongan daddynya—air mata Vexana akhirnya runtuh.

Setetes demi setetes cairan bening itu mengalir melewati pipinya yang pucat, membasahi blus putihnya.

Ternyata... ternyata dia memang benar-benar melupakan dua tahun di dalam hidupnya. Andriana tidak berbohong.

Realitas yang dia jalani selama ini adalah sebuah delusi yang dirancang dengan rapi oleh keluarganya.

Kemana dua tahunnya itu pergi? Apa yang terjadi padanya di antara usia 24 dan 26 tahun yang sesungguhnya? Mengapa otaknya menolak untuk mengingat, dan mengapa seluruh orang di mansion Valerio bersekongkol untuk membohonginya?

Sebuah kengerian yang amat sangat merayap di sekujur tubuh Vexana, membuatnya merasa seolah dia sedang berdiri di tepi jurang kegilaan.

Landon yang melihat air mata Vexana mengalir tanpa suara mendadak merasa tidak nyaman. Ada secercah rasa iba yang timbul di hatinya, namun ego lamanya menolak untuk menunjukkan kelemahan tersebut.

Sebelum Landon sempat membuka mulutnya untuk berbicara lagi, Vexana dengan cepat menghapus air matanya menggunakan punggung tangan.

Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menegakkan kembali punggungnya yang gemetar. Dia menolak untuk terlihat hancur di depan pria yang pernah sangat dicintainya ini.

Vexana berbalik perlahan, menatap lurus ke arah jalanan kampus di depan mereka, sebelum akhirnya memberikan tatapan terakhirnya pada Landon Desmon. Sebuah tatapan yang sarat akan perpisahan yang mutlak.

"Pernahkah kau bersyukur atas kehadiranku dalam hidupmu, Landon?" tanya Vexana dengan senyuman getir yang menghiasi bibirnya yang bergetar.

"Karena bagiku... meskipun akhirnya kita menjadi asing seperti sekarang, aku pernah sangat bersyukur karena Tuhan pernah mengizinkan pria sepertimu mencintaiku, walau hanya sesaat."

Landon tertegun, lidahnya mendadak kelu untuk membalas ucapan itu.

"Dan... aku berdoa semoga kau bahagia dengan kekasihmu, atau siapapun dia nanti," lanjut Vexana, suaranya kini terdengar lebih stabil, meskipun matanya memancarkan kepedihan yang mendalam.

"Aku kesini bukan untuk bernostalgia, Landon. Aku kesini juga bukan untuk menuntut janji masa depan yang pernah kita ucapkan bersama di bawah langit malam dulu. Janji itu... sudah mati bersama dengan hilangnya waktu."

Vexana membalikkan badannya, melangkah pergi meninggalkan Landon yang masih berdiri terpaku di koridor kampus tersebut.

Langkah kaki Vexana terasa begitu berat, namun pikirannya kini fokus pada satu hal yang jauh lebih besar dari sekadar patah hati.

Dia harus mencari tahu ke mana dua tahun hidupnya pergi, dan rahasia besar apa yang sedang disembunyikan oleh Maximilian Valerio di balik senyum hangat meja makan mereka.

1
Mei TResna Rahmatika
ngakak bangett🤣dady maximilian ada aja idenya ngerjain landon🤣
Ros 🍂: susuai reques pembaca 🤭😭😭😭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
satu kata buat pak Desmon"MAMPUSSS" ketawa jahat dulu aku Thor hahahahaha aduh sampai kering ini gigi ketawa Mulu dari tadi🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: huhuhu terharu loh aku kak, Kalo Cerita bikin ketawa 🤭🤣🤣🤣
btw ini kenapa pada musuhan sama bapak Desmon 😭
total 1 replies
nayla tsaqif
Baru bogem daddy max nihh,,, mana nih grandpa kensingtone,, gk mau kasih salam bogem jg,, 😌
Ros 🍂: entah kenapa Saya sulit menghadirkan para Tetua kak 🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
belum puas cuma tiga kali doang harusnya sampai masuk UGD🤭🤣🤣
Ros 🍂: kak astagaaa 🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Vibesnya kayak ketemu musuh bebuyutan waktu masa kcil lihat mommy Eleanor dan daddy max,, 🤣
Ros 🍂: Udahlah kak Author nggak tanggung-jawab sama mereka 🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Hukumannya ringan itu,, harusnya larinya pake baju balet warna pink,,,!!
Ros 🍂: kak😭 ngakak aku kak🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
aaah cuma sepuluh kali doang harusnya hukumannya yg lebih berat misal nyapu halaman mansion,nyabutin rumput mansion🤭🤣🤣🤣🤣🤣 itu terlalu ringan Thor mohon tambahkan hukuman pak Desmon🤭🤣
Ros 🍂: hahaha sesuai request para Reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
emaknya Mr. Desmon kocak asli🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Reader suka nggak ?🤭😅
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
akhirnya😍 gak sia" perjuangan landon🤣
Ros 🍂: Wkwkw 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Nunggu daddy max ngasih bogem dan khotbah sama landon,, 😌
Ros 🍂: wah ide bagus itu kak🤭 sesuai request 🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wahh landon siap bertarung ngadepin daddy max
Ros 🍂: semangatin kak🤭🤣
total 1 replies
Agus Hidayat
jreng jreenngggg akhirnya pak Desmon bisa liat jagoannya juga😍😍😍
Ros 🍂: Yahoooo🤭🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya bomnya meledak juga
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yunie
akhirnya mulai terungkap
Ros 🍂: iya kak🫶
total 1 replies
Yunie
ada apa selama 2 tahun?
Vanni Sr: ohh Aj ank ny vexa dn london , tp daddy ny nutupin seolah itu makam ank mereka , mkny london benci vexa.
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
pliss thorr abis ini bkin mereka sama" mengakui masih cinta😭 nyesek bangett baca dr bab 1 nangisin mereka mulu
Ros 🍂: huhuhu Maafkan author yaa kak 🤭🙏🏻 nanti dibuat sesuai request 😅
total 1 replies
N I S
kak ceritamu bagus banget😍
Ros 🍂: ma'aciww ya Kak 🫶🥰
total 1 replies
Thee-na Tooth
ayoo kak up maraton 🤭
Ros 🍂: siap ya kak🫶
total 1 replies
Kristina NellaWara
semngt up thorrr
Ros 🍂: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Kristina NellaWara
lnjut thor
Ros 🍂: siap kak 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!