Asiyah Musfiroh adalah fenomena di Pondok Pesantren Ar-Rahma. Kecerdasannya melampaui logika; mengkhatamkan 30 juz Al-Qur'an hanya dalam setahun hingga dijuluki sang "Permata". Namun, cahaya itu justru mengundang takdir yang tak pernah ia pilih.
Ustadz Ahmad Zafran Al Varo, pengajar muda yang karismatik, terpikat pada kedalaman ilmu dan adab Asiyah. Tanpa menunggu lama, di depan wali santri, Zafran mengutarakan khitbahnya. Tanpa diskusi, apalagi restu sang putri, orang tua Asiyah langsung menerima lamaran sang Ustadz.
Bagi semua orang, ini adalah pernikahan impian. Namun bagi Asiyah, ini adalah penjara. Ia terjepit di antara pengabdian kepada orang tua dan kejujuran hatinya yang menolak sosok Zafran yang dianggapnya terlalu "sempurna".
"Bagaimana mungkin aku bisa menjaga wahyu Tuhan di dalam dadaku, jika hatiku dipenuhi kepura-puraan terhadap imam yang tidak pernah kupinta?"
Saat ketaatan berbenturan dengan rasa, mampukah cinta tumbuh di sela-sela ayat suci...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khaassyakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DEBU KAIRO DAN CEMBURU YANG MEMBARA
Cahaya fajar mulai menyelinap melalui jendela kecil pesawat, membiaskan warna oranye ke dalam kabin yang masih sunyi. Getaran mesin pesawat terasa halus saat roda-roda besi mulai bersiap untuk menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Kairo. Asiyah perlahan membuka matanya. Ia merasakan kehangatan yang asing, sebuah kenyamanan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Saat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, jantungnya nyaris berhenti berdetak. Kepalanya ternyata bersandar nyaman di bahu kokoh Zafran. Lebih dari itu, jemarinya masih menggenggam erat telapak tangan suaminya di atas sandaran kursi. Suhu kabin yang dingin seolah tidak terasa karena panas tubuh yang menjalar dari tangan Zafran.
Asiyah tersentak, ia segera menarik tangannya dan menegakkan duduk dengan gerakan kaku. Pada saat yang sama, Zafran terbangun. Matanya yang sedikit merah karena terjaga semalaman menatap Asiyah dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada guratan kegugupan di wajah Zafran yang biasanya tenang.
"Sudah bangun? Kita hampir mendarat," ujar Zafran dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Ia mencoba merapikan lengan bajunya yang sedikit kusut karena beban kepala Asiyah tadi.
Asiyah memalingkan wajah ke arah jendela, jantungnya berdebar tidak karuan. "Kenapa Mas tidak membangunkan saya? Mas tahu sendiri saya tidak suka bersandar pada orang lain."
Zafran menarik napas dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya sendiri yang juga belum stabil. "Kau menggenggam tanganku begitu erat, Asiyah. Seolah-olah kau sedang bermimpi buruk dan tidak ingin aku pergi. Bagaimana mungkin aku tega melepaskanmu dalam keadaan seperti itu?"
Asiyah terdiam, ia hanya berbisik dalam hati dengan penuh gejolak. Kenapa aku bisa selemah ini di hadapannya? Kenapa tanganku seolah mengenali hangatnya tanpa seizinku? Namun, di permukaan, ia tetap memasang wajah cuek. "Itu hanya refleks karena kedinginan. Jangan terlalu besar kepala, Mas."
Begitu mereka menginjakkan kaki di aspal Kairo, hawa panas yang kering langsung menyergap. Zafran mengurus semua koper dan dokumen imigrasi dengan fasih, menggunakan bahasa Arab yang sangat lancar hingga membuat beberapa petugas kagum. Asiyah mengikuti di belakang, masih berusaha mengubur rasa malunya akibat kejadian di pesawat tadi.
"Kita akan tinggal di kawasan Nasr City. Apartemennya tidak mewah, tapi sangat aman untukmu," jelas Zafran sembari menaikkan koper ke bagasi taksi.
Apartemen itu berada di gedung tua berarsitektur klasik. Di dalamnya hanya ada satu kamar utama, sebuah ruang tamu kecil, dan dapur minimalis. Begitu pintu terkunci, Asiyah langsung memprotes.
"Hanya ada satu kamar, Mas? Bukankah Mas pemilik Ar-Rahma? Kenapa Mas pelit sekali tidak menyewa dua kamar?" tanya Asiyah dengan nada ketus.
"Ini Kairo, Asiyah. Keamanan adalah prioritas utama. Aku tidak akan membiarkanmu berada di kamar yang berbeda di gedung yang belum kukenal ini. Lagipula, kita sudah sah secara agama dan negara. Tidak ada yang salah dengan satu kamar," jawab Zafran sembari mulai merapikan buku-buku di rak.
Hari-hari pertama di Universitas Al-Azhar berlangsung sangat padat. Asiyah sibuk dengan pendaftaran di Fakultas Dirasat Islamiyah, sementara Zafran mengurus berkas doktoralnya. Namun, sebuah pertemuan di kantin fakultas mendadak mengubah segalanya.
Seorang wanita cantik mengenakan abaya modis berwarna biru dongker menghampiri meja mereka. Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar saat menatap Zafran.
"Zafran? Ya Allah, benar ini kau? Apa yang kau lakukan di Kairo lagi?" seru wanita itu dengan suara yang terdengar sangat akrab.
Zafran berdiri, tampak terkejut namun tersenyum ramah. "Fathimah? Masya Allah, sudah lama sekali. Aku sedang melanjutkan program doktoral di sini."
Asiyah merasa ada hawa dingin yang menusuk hatinya. Ia memperhatikan bagaimana wanita bernama Fatimah itu menatap suaminya dengan tatapan yang sangat dalam, seolah ada sejarah panjang di antara mereka.
"Fatimah ini adalah teman seperjuanganku saat mengambil gelar master dulu, Asiyah," jelas Zafran mencoba mencairkan suasana. "Fatimah, perkenalkan, ini Asiyah, istriku."
Senyum Fatimah sedikit goyah, namun ia segera menguasai diri. "Oh, jadi ini Hafizah yang sedang ramai dibicarakan? Selamat datang di Mesir, Asiyah. Zafran dulu sering bercerita tentang kriteria wanita idamannya, sepertinya kau memenuhi semua syarat itu."
Asiyah hanya mengangguk kaku. "Terima kasih. Mas Zafran tidak pernah bercerita kalau dia punya teman wanita yang sangat akrab di sini."
"Kami hanya teman diskusi yang serasi, bukan begitu Zafran?" Fatimah tertawa kecil, suara yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga Asiyah. "Besok ada diskusi terbuka tentang hukum kontemporer di perpustakaan. Kau harus datang, Zafran. Aku sangat merindukan debat-debat cerdasmu."
Setelah Fatimah pergi, Asiyah langsung membereskan bukunya dengan kasar. "Teman diskusi yang serasi? Sangat manis sekali kedengarannya, Mas."
"Kau kenapa, Asiyah? Sejak tadi wajahmu ditekuk seperti itu," tanya Zafran saat mereka sampai di apartemen.
"Kenapa Mas tidak bilang kalau punya teman lama yang sepertinya sangat merindukan Mas? Mas sengaja menyembunyikannya?" sindir Asiyah sembari membanting tasnya di meja.
Zafran menatap Asiyah dengan tatapan menyelidik, lalu senyuman tipis muncul di bibirnya. "Apakah kau sedang cemburu, Asiyah?"
"Cemburu? Jangan bermimpi, Mas! Saya hanya merasa tidak nyaman karena Mas membawa saya ke tempat di mana masa lalu Mas masih berkeliaran," kilah Asiyah dengan wajah memerah.
"Tidak ada yang aku sembunyikan. Fatimah hanya teman lama. Kenapa itu menjadi masalah? Bukankah kau yang ingin kita fokus pada urusan masing-masing?" tantang Zafran.
Asiyah terdiam, terjebak oleh ucapannya sendiri. "Terserah Mas saja. Mau pergi sampai malam dengan dia pun bukan urusan saya."
Keesokan harinya, Asiyah secara tidak sengaja melewati taman fakultas dan melihat Zafran sedang berdiri di bawah pohon kurma bersama Fatimah. Mereka tampak tertawa kecil melihat sebuah buku tua. Tanpa pikir panjang, Asiyah berjalan mendekat dengan langkah dihentak.
"Mas Zafran!" panggil Asiyah lantang.
Zafran menoleh, heran melihat istrinya sudah ada di sana. "Asiyah? Bukankah jadwal kuliahmu masih satu jam lagi?"
"Saya ingin meminjam kunci apartemen. Saya merasa kurang enak badan dan ingin pulang," bohong Asiyah, padahal kunci itu ada di tasnya.
"Lho, bukankah tadi kau bilang kuncinya kau bawa?" tanya Zafran bingung.
"Saya lupa! Cepat berikan kuncinya!" paksa Asiyah sembari menatap Fatimah dengan tatapan tajam yang penuh permusuhan.
Fatimah tersenyum tipis, seolah menyadari situasi. "Sepertinya istrimu sangat tidak ingin kehilanganmu, Zafran. Baiklah, aku pergi dulu ke aula. Sampai jumpa nanti malam di makan malam alumni."
Setelah Fatimah pergi, Zafran menatap Asiyah tajam. "Kau berbohong soal kunci itu, kan? Aku melihat kunci itu di kantong depan tasmu."
Asiyah memalingkan wajah, malu karena ketahuan. "Terserah! Saya tidak suka melihat Mas terlalu dekat dengan wanita itu di depan umum. Memalukan nama baik Ar-Rahma!"
"Atau itu memalukan bagi hatimu yang mulai mengakui keberadaanku?" Zafran melangkah maju, menghimpit Asiyah di dekat pohon kurma. "Aku tidak akan pergi ke makan malam itu jika kau memintaku tetap di rumah bersamamu malam ini."
Asiyah tertegun. Ia bisa merasakan hembusan napas Zafran. "Pergi saja. Saya tidak peduli."
"Benarkah? Kalau begitu, jangan salahkan aku jika Fatimah memberikan perhatian lebih padaku malam nanti," ujar Zafran sembari berbalik, menguji batas ego istrinya.
Asiyah mengepalkan tangan. Ia menyadari satu hal yang menakutkan: ia tidak sanggup melihat Zafran dimiliki wanita lain, bahkan dalam sebuah diskusi sekalipun.