NovelToon NovelToon
Fated Across Borders: Shared Wounds

Fated Across Borders: Shared Wounds

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiano R

Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.

Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 05

"Wah, wah, sekarang dia bawa kawan, terlebih lagi orang yang paling dibenci Michael!" seru salah satu murid.

Brian menatap semua murid di sekitarnya dengan ekspresi datar. Dengan tenang, ia mulai berbicara.

"Kamis, pukul setengah enam sore, Michael dan beberapa anak buahnya ditangkap oleh pihak kepolisian atas tuduhan pelecehan terhadap Amayah. Itu adalah kenyataannya. Aku adalah saksi mata. Jika tidak percaya, silakan datang ke kantor polisi."

Semuanya terdiam. Tidak ada satu pun yang berani berkata-kata.

"Dan bisa-bisanya kalian masih membela pelaku kejahatan? Lucu sekali," lanjut Brian tanpa mengubah nada suaranya.

Namun, kerumunan mulai menunjukkan ekspresi kesal, jelas tidak percaya pada ucapannya.

"Apakah dengan menyudutkan seseorang akan membuat kalian merasa puas? Itu sama saja dengan melakukan penindasan, seperti yang selama ini Michael lakukan. Ternyata para penggemarnya tidak jauh berbeda, ya," kata Brian datar.

"Beraninya kau menghina Michael!" teriak salah satu murid dengan emosi.

Namun tiba-tiba—

"Baik, hentikan!" seru seorang pria dari belakang kerumunan sambil menepuk tangannya dua kali.

Itu adalah William, guru BK yang dikenal berani dan tegas, meski wajahnya selalu dihiasi senyum ramah.

Sekejap, suasana menjadi sunyi. Tidak ada yang berani bersuara.

"Tidak boleh ada penindasan, terlebih lagi tuduhan sembarangan. Namun dalam kasus ini, semuanya telah terbukti. Michael dinyatakan sebagai pelaku dan akan dikeluarkan dari sekolah," ucap William dengan nada tegas.

Ia kemudian tersenyum tipis. "Jadi, berhentilah membahas kasus tersebut dan tolong jaga nama baik sekolah, ya."

"Baik, semuanya bubar," tambahnya santai.

Dalam sekejap, kerumunan pun pergi, meninggalkan Brian, Amayah, dan William.

"Terima kasih, Brian…" ucap Amayah pelan.

"Ya," jawab Brian singkat.

Dengan senyumannya, William berkata, "Jika kejadian seperti ini terulang, jangan segan-segan memanggilku. Aku tahu semua yang terjadi, bahkan tentang kasus kekerasan yang Amayah alami di luar sekolah."

Brian dan Amayah terkejut. Mereka tidak menyangka ada orang lain yang mengetahui hal itu.

"Bagaimana Anda bisa tahu?" tanya Brian datar.

"Kalian pikir bisa lolos dari pengawasanku?" balas William santai.

Amayah lalu membisikkan sesuatu pada Brian. "Dia guru yang sangat pintar, meskipun hanya guru BK."

Brian memahami situasinya. "Kalau begitu, mengapa Anda membiarkan Amayah tanpa sanksi?"

"Tentu saja karena aku tidak memiliki bukti," jawab William santai.

"Dan juga…"

Ekspresi William berubah serius. "Karena Barbara telah menitipkan Amayah padaku."

"Ibu… menitipkanku?"

"Aku tahu latar belakang keluargamu. Aku teman baik Barbara, dan dia memintaku untuk memantau serta membantu perkembanganmu. Tapi siapa sangka, justru orang lain yang berhasil menyadarkanmu," ucapnya sambil tersenyum kembali.

William pun melangkah pergi. "Sisanya, akan kuserahkan pada orang itu saja!" serunya dari kejauhan.

"Apa maksudnya? Siapa orang yang dia maksud?" Amayah tampak bingung.

Tanpa banyak pikir, Brian berniat kembali ke kelas. Namun sebelum itu—

"Brian…"

Brian menoleh. "Ya?"

"Sekali lagi… terima kasih."

"Sama-sama."

"Maaf karena merepotkanmu lagi…"

"Aku melakukannya karena keinginanku sendiri."

"Apa alasannya?"

"Tidak ada. Aku hanya ingin membantu sebagai teman."

Amayah terdiam. Kata itu terasa asing, namun hangat.

"Teman…?"

Brian pergi begitu saja, meninggalkan Amayah yang masih berdiri di tempatnya.

"Dia mengakuiku sebagai temannya?"

"Tapi… apa aku layak menjadi temannya?"

"Dia pintar, berani, dan selalu tenang…"

"Sedangkan aku… hanya batang kayu rapuh yang mudah tumbang… Aku tidak tahu apakah aku berguna atau tidak untuknya... Tapi mengapa... dia ingin berteman denganku?"

---

Suatu pagi, Amayah berniat mengunjungi rumah Brian sambil membawa kotak bekal sarapan, seperti yang biasa ia lakukan.

Setiap hari ia melakukan hal yang sama, termasuk untuk makan malam. Percakapan mereka perlahan bertambah, meski tetap singkat dan canggung. Keduanya sama-sama pendiam dan sulit memulai obrolan.

Sesampainya di rumah Brian, Amayah menekan bel pintu. Tidak ada jawaban.

Ia mencoba lagi. Tetap sunyi.

"Brian!" panggilnya. "Apa kau ada di dalam?"

Hanya kicauan burung pagi yang menjawab.

"Mungkin dia di toilet…" pikir Amayah.

Ia menunggu cukup lama, hingga waktu hampir menunjukkan jam masuk sekolah. Namun Brian tak kunjung muncul.

Merasa ada yang tidak beres, Amayah mencoba membuka pintu. Terkunci.

Dengan terpaksa, ia memanggil penjaga perumahan untuk membobol pintu.

Setelah pintu terbuka, mereka masuk dan mencari Brian.

"Brian?" panggil Amayah panik.

Mereka menemukan Brian tergeletak di lantai kamar, tertidur dengan wajah pucat dan tubuh lemas.

"Brian!" teriak Amayah.

Penjaga menyentuh dahi Brian. "Sepertinya dia terkena demam."

Tiba-tiba, Brian yang setengah sadarkan diri mengatakan sesuatu dengan pelan, nyaris tak terdengar. "Hannah... apakah itu kau...?"

"Hannah?" tanya Amayah kebingungan.

Amayah kebingungan, namun dia segera meminta bantuan untuk memindahkannya ke kasur.

"Biar saya yang merawatnya. Terima kasih banyak, Pak," ucap Amayah.

"Sama-sama," jawab penjaga itu singkat sebelum pergi.

Amayah mengambil air dingin, membasahi kain, lalu meletakkannya di dahi Brian. Ia menyelimuti tubuhnya agar lebih hangat.

Pandangan Amayah menyapu kamar Brian. Berantakan—pakaian berserakan, buku tidak tertata. Namun ia juga melihat komputer, peralatan teknologi, dan rak buku besar.

"Pantas saja dia pintar…" gumamnya.

Ia membereskan kamar, lalu mengecek dapur. Lemari pendingin hampir kosong—hanya susu dan beberapa camilan.

Amayah pun berencana untuk pergi ke minimarket. Namun pandangannya tertuju pada sebuah bingkai foto yang memperlihatkan Brian bersama kedua orang tuanya.

Dia memerhatikan Brian di foto tersebut, bahkan sampai melupakan tujuannya. "Oh ya!"

Beberapa jam kemudian…

Brian terbangun. Tubuhnya panas, kepalanya berat.

Ia merasakan dingin di dahinya. "Aku demam…?"

Ia duduk perlahan. "Sepertinya Hannah yang merawatku…"

Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dengan diiringi suara seseorang yang tidak asing di telinga Brian. "Kau sudah bangun?" suara lembut terdengar.

Brian terkejut. "Amayah? Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku yang merawatmu," jawab Amayah datar.

"Benarkah? Maaf karena merepotkanmu lagi..." ucap Brian menyesal. "Tapi bagaimana dengan sekolahmu?"

"Aku terpaksa tidak datang ke sekolah. Tapi tenang saja, karena ibuku telah menjelaskan situasinya kepada pak William."

"Begitu ya..."

Nada Amayah berubah sedikit kesal. "Aku menunggumu lama, dan ternyata kau terkena demam tinggi. Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Aku pingsan saat hendak mandi pagi... setelah begadang bermain gim semalaman… dan sempat lupa memakan makan malam darimu..."

"Lupa makan hanya karena gim, bahkan sampai tidak menjaga pola tidur? Itu tidak baik untuk kesehatanmu, kau tahu," katanya tegas.

Brian terdiam. "Maaf…"

Ekspresi Amayah melunak. "Aku membuatkan makanan. Jangan melakukan apapun."

Selang beberapa menit kemudian, ia kembali membawa semangkuk bubur dan obat.

"Kau membuatkannya untukku?"

"Habiskan. Lalu minum obat dan istirahat, jangan sampai bermain gim selagi belum sembuh total."

Brian tersenyum kecil. "Kau seperti ibuku."

"Jangan komentari cara bicaraku," balas Amayah datar.

Brian menyantap bubur itu perlahan.

"Enak…" katanya pelan.

Amayah menahan senyum. "Kalau begitu, aku pergi dulu."

"Amayah," panggil Brian.

Ia menoleh.

"Terima kasih banyak."

"Ya," jawab Amayah singkat—namun hatinya terasa hangat.

---

Keesokan paginya, Brian yang merasa tubuhnya telah kembali normal pun melangkah ke ruang tamu untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Namun, langkahnya terhenti ketika ia dikejutkan oleh sosok Amayah yang ternyata masih berada di rumahnya.

Amayah yang sedang memasak segera menyadari kehadiran Brian di dekat dapur. "Bagaimana kondisimu?" tanya Amayah dengan nada santai, meski sebenarnya terselip rasa khawatir.

"Aku sudah membaik. Itu semua karena kau telah merawatku," jawab Brian datar, dengan ekspresi tenangnya yang khas.

"Syukurlah. Tapi jangan sampai ini terulang lagi. Ini semua demi kebaikanmu sendiri!" ujar Amayah dengan tegas.

Nada suaranya membuat Brian merasa sedikit terancam. "B-Baiklah..."

"Kurasa dia agak sensitif gara-gara hal ini..." pikir Brian dalam hati.

Pandangan Brian kemudian tertuju pada dapur. Ia dibuat bingung oleh banyaknya bahan makanan yang sama sekali tidak pernah ia lihat sebelumnya di dapurnya sendiri.

"Kau membeli ini semua?" tanya Brian heran.

"Tentu saja," jawab Amayah singkat sambil tetap fokus memasak. "Tapi maaf karena menggunakan dapurmu tanpa seizinmu," tambahnya.

"Tidak masalah. Itu justru baik untukku."

"Hmm," respon Amayah pelan. Ia merasa senang mendengarnya.

"Kamu boleh duduk. Aku akan menyiapkan sarapan," kata Amayah santai dengan ekspresi datar.

"Baiklah."

Brian pun duduk dengan tenang di meja makan, menatap Amayah yang terlihat begitu serius saat memasak. Perasaan bingung kembali menyelimutinya. Dulu, mereka berdua bahkan hampir tidak pernah saling menyapa. Kini, tanpa ia sadari, mereka justru menjadi begitu dekat.

Amayah yang dulu selalu menghindarinya, kini rela merawatnya saat demam, bahkan memasakkan makanan setiap hari. Semua itu terasa asing bagi Brian.

Beberapa menit kemudian, meja makan telah terisi oleh beragam hidangan. Brian dan Amayah duduk saling berhadapan untuk menyantap makanan tersebut.

"Kau membuat makanan sebanyak ini, serius?" tanya Brian dengan nada tak percaya.

"Biasanya seseorang yang baru sembuh dari sakit, nafsu makannya akan meningkat," jawab Amayah datar.

"Kau seperti dokter."

"Ayahku seorang dokter. Jadi aku tahu," balasnya singkat.

Brian pun mulai menyantap makanan dengan lahap. Rasa nikmat yang ia rasakan seolah menjadi hadiah setelah demam panjang yang sempat membuatnya menderita.

Amayah hanya terdiam menatap laki-laki itu dengan ekspresi sedikit bingung. Namun, senyum tipis tak mampu ia sembunyikan saat melihat Brian menikmati masakannya.

"Brian, ada yang ingin aku katakan," ujar Amayah tiba-tiba.

"Ya?" Brian menatapnya bingung.

"Jadi... itu..." Amayah tampak ragu dan gugup untuk melanjutkan.

Brian memilih diam, menunggu hingga Amayah menemukan keberanian untuk berbicara.

"Ibuku akan pindah ke wilayah yang sama dengan tempat kerjanya..."

Brian bertanya, "Jadi kau akan pindah ke sana dengannya?"

"Tidak. Aku akan tetap melanjutkan sekolahku di sini..."

"Mengapa? Bukankah itu lebih baik? Kau bisa mendapatkan tempat yang lebih layak, di mana orang-orang tidak mengenal masa lalumu."

Amayah langsung merasa kesal. "Jadi kau ingin mengusirku dari sini, ya?"

"Bukan begitu," Brian segera membela diri.

"Aku ingin tetap tinggal di sini. Itu keinginanku," ucap Amayah dengan tegas.

"Begitu ya..."

Suasana pun hening. Keduanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya Amayah memecah keheningan itu.

"Maka dari itu... aku ingin mendiskusikan sesuatu denganmu."

Brian menatap Amayah yang kini memandangnya dengan wajah serius. "Apa itu?"

"Bagaimana jika mulai hari ini aku memasak di rumahmu saja?"

"Hah?" Brian terkejut. "Maksudnya?"

"Aku akan tinggal sendiri, tapi tetap ingin menjalankan rutinitasku memberimu makan. Hanya saja, akan terasa boros waktu jika aku harus bolak-balik mengantarkan makanan," jelas Amayah datar.

"Jadi aku berpikir, lebih baik aku memasak di rumahmu. Kita bisa makan bersama, dan aku tak perlu lagi mengantarkan makananmu..."

Brian menanggapinya dengan santai. "Benar juga. Itu memang tidak efisien. Sejak kapan kau memikirkan hal ini?"

"Baru saja. Terlebih setelah aku mengingat pola makan dan tidurmu yang kurang baik. Aku ingin mengawasimu juga."

"Kau benar-benar berperan seperti ibuku," kata Brian santai. "Tapi bagaimana dengan biayanya?"

"Kita bagi setengah saja, bagaimana?" tanya Amayah, meminta pendapatnya.

"Baiklah. Aku akan menanggung setengahnya juga."

"Terima kasih," ucap Amayah.

"Lalu, apa kesepakatan lain yang ingin kita buat?" tanya Brian.

Amayah berpikir sejenak. "Kita mencuci piring bekas makan masing-masing," jawabnya datar.

"Terdengar adil," kata Brian. "Tapi apakah ibumu sudah mengetahui hal ini?"

"Aku sudah memberitahunya. Dan ia setuju. Aku sendiri tidak mengerti alasannya, tapi ia terlihat sangat senang."

"Ibumu sangat murah senyum pada siapa pun. Berbeda dengan anaknya."

Mendengar ucapan itu, Amayah langsung tersinggung. "Apa? Mau jatah makanmu aku kurangi?" tanyanya kesal.

"Maaf. Aku hanya bercanda, sungguh," ujar Brian dengan sungguh-sungguh.

Sejak saat itu, hubungan antara dua tetangga yang dulu saling diam pun perlahan berubah. Mereka tak lagi sekadar bertetangga, melainkan mulai merasakan benih-benih pertemanan yang tumbuh di antara mereka.

Brian menyadari bahwa Amayah kini menjadi lebih tegas. Namun, ia justru merasa lega karena suasana di antara mereka tak lagi canggung. Sementara itu, Amayah merasa bahwa sudah saatnya ia menunjukkan sisi aslinya kepada Brian—seseorang yang telah menolongnya keluar dari kegelapan.

Perasaan itulah yang diam-diam menyalakan cahaya kecil di hati mereka. Sebuah cahaya yang perlahan akan semakin terang, seiring berjalannya waktu.

---

Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)

---

Suatu sore, ketika matahari perlahan merunduk menuju ufuk barat, Brian dan Amayah berdiri berdampingan di tepi jalan perumahan mereka. Cahaya jingga senja menyelimuti sekitar, seolah ikut mengiringi perpisahan yang tak terelakkan. Di hadapan mereka, Barbara berdiri sambil menggenggam sebuah koper besar, sementara sebuah mobil taksi telah menunggu di belakangnya dengan mesin menyala pelan.

Sore ini, Barbara akan berpamitan dengan mereka berdua. Ia akan pindah ke California demi pekerjaannya, agar bisa tinggal lebih dekat dengan tempat kerjanya. Selama ini, ia harus pulang pergi dari New York ke Universitas Stanford—jarak yang jelas bukan hal mudah untuk ditempuh setiap hari.

"Ibu, hati-hati di jalan ya..." ucap Amayah lembut. Wajahnya berusaha tegar, meski kesedihan jelas terlihat di matanya.

"Ya, jaga kesehatanmu. Brian juga," balas Barbara dengan senyum tipis yang menyimpan rasa berat di hatinya.

Barbara kemudian menambahkan, suaranya penuh perhatian, "Sekolah yang rajin, perbaiki nilaimu, jangan nakal lagi ya. Ibu tidak ada, jadi jaga dirimu sendiri."

"Baik, Bu..." jawab Amayah pelan.

"Dan juga, Brian..." Barbara menoleh ke arah remaja itu. "Saya titipkan Amayah padamu," ucapnya tulus.

"Eh? Mengapa saya?" tanya Brian dengan raut kebingungan.

"Hanya kamu satu-satunya orang terdekat Amayah saat ini. Jadilah teman baiknya."

Brian membalasnya dengan senyuman tipis. "Baiklah, saya akan menjaga putri Anda meskipun nyawa saya taruhannya," katanya, meski nada suaranya terdengar menyimpan niat untuk mengejek.

"Mengapa kau mengatakan itu seolah-olah aku akan mengancam nyawamu?" tanya Amayah, merasa tersinggung.

"Sudah, sudah, jangan bertengkar," potong Barbara, menghentikan mereka sebelum suasana menjadi canggung.

Barbara lalu memberi isyarat pada sang sopir untuk memasukkan kopernya ke dalam bagasi. "Kalau begitu, Ibu berangkat dulu."

"Bu!" panggil Amayah tiba-tiba.

Tanpa ragu, Amayah melangkah maju dan memeluk ibunya dengan erat. "Sampai jumpa lagi, Bu..."

Barbara sedikit terkejut, namun perasaan hangat segera menyelimuti dirinya. Ia membalas pelukan putrinya dengan penuh kasih sayang. Dalam pelukan itu, Amayah merasakan kehangatan yang menenangkan, seolah seluruh kecemasan di hatinya perlahan mencair.

"Ya..." balas ibunya lirih.

Namun, bukan hanya itu. Amayah tiba-tiba mengangkat wajahnya dan memperlihatkan sebuah senyuman—senyuman yang membuat seolah-olah lingkungan sekitar kembali hidup. Senyuman tulus yang belum pernah Barbara lihat sebelumnya.

Barbara terpukau. Dadanya terasa sesak, dan tanpa disadari, air mata perlahan jatuh dari sudut matanya. Dengan berat hati, ia akhirnya menaiki taksi dan menutup pintu. Mobil itu pun mulai bergerak, membawa Barbara menjauh dari mereka.

Hatinya terasa berat meninggalkan putrinya. Namun, di sisi lain, ia merasa tenang. Momen ketika Amayah menemukan seseorang yang bisa menjadi teman dekatnya adalah saat-saat yang telah lama Barbara nantikan. Kini, ia bisa meninggalkan kota ini dengan keyakinan bahwa putrinya tidak sendirian.

Amayah mengusap air matanya perlahan, meski kesedihan masih tertinggal di hatinya. Brian, yang berdiri di sampingnya, dengan santai mengulurkan selembar tisu.

Namun, Amayah segera menolaknya.

"Tidak, terima kasih..."

"Kau menolaknya? Padahal kau sedang menangis."

"Siapa yang menangis? Mataku hanya perih!"

"Aku melihatmu menangis barusan. Sangat jelas sekali."

"Berhenti mengada-ada! Lebih baik kau mandi, karena baumu sudah sangat menyengat."

"Apa?!" seru Brian kesal.

Mereka berdua pun memasuki rumah Brian sambil terus berdebat kecil. Anehnya, setelah perpisahan yang begitu memberatkan hati, Amayah justru merasa cukup tenang. Entah mengapa, berada di sisi Brian membuatnya merasa tidak sendirian.

Meski mereka sering saling mengejek, kehadiran Brian perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Bersambung.

1
Rama Iskandar
end ny gk nikah?
Zildiano R: Ini baru tamat part 1, part 2 nya menyusul, join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini 🙏
total 1 replies
Rama Iskandar
p
Rama Iskandar
sepi amat
Rama Iskandar
p
SaeKanai
Saya puas dengan endingnya🤣🤣
semangat terus bang!!!
Zildiano R: thank you👍
total 1 replies
sakura
...
gralsyah
diam-diam menghanyutkan tuh si amayah ya 😭 gk ketebak wkwk
Zildiano R: wkkwk🤣
total 1 replies
gralsyah
mampir kak author. ihh seruuuu. ceritanya
Zildiano R: terima kasih~
total 1 replies
Marley Howard
keren cuy
Zildiano R: makasih🙏
total 1 replies
Arisell
semangat oi
Zildiano R: makasih, siap🙏
total 1 replies
Khai Dok
udah chat ke editor ya... covernya?
Zildiano R: sudah👍
total 1 replies
Khai Dok
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!