Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bimbang
Setelah panggilan itu berakhir, aku tidak langsung meletakkan ponsel. Layarnya sudah gelap, tapi tanganku masih menggenggamnya, seolah di dalam benda kecil itu masih ada suara Moses yang tertinggal. Aku duduk di tepi tempat tidur, punggungku bersandar ke dinding, dan untuk pertama kalinya sejak pagi, aku membiarkan diriku benar-benar diam.
Kata-katanya berputar di kepalaku.
I’m going to be a father.
Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan hampir ringan. Tapi bagiku, kalimat itu seperti pintu besar yang terbuka tiba-tiba, memperlihatkan lorong panjang bernama masa depan—gelap, asing, dan belum pernah kupikirkan sebelumnya.
Aku menutup mata.
Tubuhku terasa lelah, bukan hanya secara fisik, tapi juga emosional. Ada sesuatu yang berubah sejak aku tahu. Cara aku bernapas. Cara aku memandang diriku sendiri. Bahkan cara aku memikirkan hidupku.
Aku menyentuh perutku, refleks. Tidak ada yang terlihat. Tidak ada yang terasa selain sedikit kembung dan mual yang masih setia menemani. Tapi di dalam sana, ada sesuatu yang tumbuh. Sesuatu yang nyata. Sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Dan Moses adalah ayah anak ini.
Aku mengulang kalimat itu pelan di dalam hati, seolah ingin membiasakan diri. Moses. Pria yang selama ini hadir lewat layar ponsel, lewat suara di tengah malam, lewat pesan singkat dan tawa jarak jauh. Pria yang kupikir sudah kukenal cukup baik. Pria yang terlihat dewasa, tenang, dan penuh kendali.
Sekarang, namanya terikat pada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar hubungan kami.
Malam itu aku sulit tidur. Setiap kali memejamkan mata, pikiranku justru semakin ramai. Aku memikirkan wajah Moses saat aku mengatakannya. Ekspresinya yang tidak berubah. Nada suaranya yang stabil. Cara ia berkata bahwa semuanya terserah padaku, bahwa ia akan bertanggung jawab apa pun keputusanku.
Kalimat itu seharusnya menenangkan. Tapi entah kenapa, aku justru merasa lebih berat.
Aku tidak tahu apakah aku menginginkan seseorang yang menyerahkan keputusan sepenuhnya kepadaku, atau seseorang yang berkata, kita hadapi ini bersama. Perbedaannya tipis, tapi dampaknya besar di hatiku.
Pagi datang dengan mual yang lebih kuat dari biasanya. Aku berlari ke kamar mandi, muntah dengan tubuh gemetar. Setelahnya, aku duduk di lantai dingin, bersandar pada dinding, napasku tersengal. Air mata jatuh begitu saja, tanpa suara.
Aku lelah.
Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Terlalu lambat, tapi juga terlalu cepat. Setiap pagi aku bangun dengan tubuh yang terasa asing. Setiap sore aku merasa emosiku naik turun tanpa alasan jelas. Aku bisa tertawa karena hal sepele, lalu menangis hanya karena lagu di radio.
Moses menghubungiku seperti biasa. Video call, pesan, perhatian kecil yang tetap konsisten. Ia bertanya keadaanku, menanyakan dokter, memastikan aku makan. Ia hadir. Tapi kehadirannya terasa berbeda sekarang—seolah ada jarak tipis yang belum bisa kami jembatani.
Aku ingin berkata banyak hal padanya. Tentang ketakutanku. Tentang kebingunganku. Tentang malam-malam saat aku merasa sendirian meski tahu aku tidak sendiri. Tapi setiap kali aku ingin membuka mulut, kata-kata itu menguap.
Aku takut terdengar lemah.
Aku takut terdengar menuntut.
Aku takut, jika aku berkata terlalu jujur, semuanya justru runtuh.
Di satu sore yang mendung, aku kembali duduk bersama teman-temanku. Mereka bertanya bagaimana reaksinya. Aku menceritakan semuanya apa adanya. Tentang ketenangannya. Tentang tanggung jawab yang ia ucapkan. Tentang keputusan yang diserahkan padaku.
Mereka saling pandang. Tidak ada yang langsung berkomentar.
Salah satu dari mereka akhirnya berkata pelan, bahwa mungkin Moses memang dewasa. Bahwa tidak semua orang mengekspresikan keterkejutan dengan cara yang sama. Aku mengangguk, mencoba menerima itu sebagai kemungkinan.
Tapi di dalam hatiku, ada suara kecil yang belum juga diam.
Malamnya, aku kembali melakukan video call dengannya. Ia berada di mobil, lampu jalan memantul di wajahnya. Kami berbicara lama, tentang hal-hal ringan, seperti biasanya. Lalu aku memberanikan diri bertanya, apa yang sebenarnya ia rasakan.
Ia terdiam sejenak, lalu berkata bahwa ia juga sedang mencerna semuanya. Bahwa ini tidak kecil baginya. Bahwa ia hanya tidak ingin menambah kepanikanku dengan kepanikannya sendiri.
Jawaban itu masuk akal. Dan aku ingin percaya.
Setelah panggilan berakhir, aku kembali menatap langit-langit kamar. Aku menyadari sesuatu yang pahit tapi jujur: kehamilan ini bukan hanya tentang hubungan kami, tapi tentang diriku. Tentang batasan yang harus kutetapkan. Tentang keputusan yang harus kuambil dengan kesadaran penuh.
Aku tidak tahu bagaimana akhir dari semua ini. Aku tidak tahu apakah aku siap menjadi ibu. Aku tidak tahu seperti apa Moses sebagai ayah anak ini nantinya. Yang aku tahu, hidupku sudah berubah, dan aku tidak bisa berpura-pura semuanya baik-baik saja seperti sebelumnya.
Di antara ketakutan dan harapan, aku belajar satu hal penting:
kadang cinta saja tidak cukup untuk membuat segalanya terasa aman.
Dan kedewasaan bukan hanya tentang bertanggung jawab, tapi juga tentang hadir sepenuhnya—tanpa jarak.
Aku menutup mata, menarik napas panjang, dan untuk pertama kalinya aku berkata jujur pada diriku sendiri: apa pun yang akan terjadi, aku harus berdiri di atas kakiku sendiri. Karena pada akhirnya, akulah yang akan menjalani semua ini—dengan atau tanpa siapa pun di sisiku.
Dan di dalam tubuhku, kehidupan itu terus tumbuh, tanpa menunggu aku siap.