"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Ancaman dari "Atas"
## **Bab 21: Ancaman dari "Atas"**
Malam di kediaman Wijaya tidak pernah benar-benar sunyi sejak insiden *ballroom*. Di balik kemewahan dinding marmernya, dengung perangkat elektronik dan langkah kaki tim keamanan Bram menciptakan simfoni paranoia yang konstan. Kenzi duduk di tepi ranjang di barak staf yang terisolasi, bahu kirinya terbalut perban kaku yang ia pasang sendiri.
Rasa sakitnya kini berada pada level yang bisa dikelola, namun ada gangguan lain yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar cedera fisik. Perangkat komunikasi mikro yang tertanam di bawah tulang rahangnya bergetar—sebuah pola frekuensi terenkripsi yang hanya digunakan oleh "Atas", dewan operasional organisasi yang telah membesarkannya sebagai mesin pencabut nyawa.
Kenzi menyentuh titik sensor di lehernya. Koneksi terhubung.
"Laporan status, Agen 097," sebuah suara mekanis yang telah didistorsi memenuhi rongga telinganya.
"Target aman. Proyek Phoenix dalam tahap observasi akhir. Penyamaran masih utuh," jawab Kenzi secara subvokal, nyaris tanpa menggerakkan bibir.
"Laporan kami menunjukkan data yang berbeda," suara itu menjadi lebih berat, lebih mengancam. "Visual satelit dan intersepsi audio menunjukkan Anda baru saja melakukan tindakan non-optimal. Mengorbankan tubuh untuk melindungi aset dalam situasi di mana eliminasi target justru akan mempercepat kehancuran Wijaya. Mengapa?"
Kenzi terdiam. Logikanya mencoba merumuskan pembenaran taktis, namun memori tentang air mata Alana di unit medis mendistorsi jalur pemikirannya.
"Alana Wijaya adalah kunci akses biometrik sekunder untuk sistem inti Phoenix," dalih Kenzi. "Kematiannya saat ini akan memicu *lockdown* total pada server yang belum sempat saya retas."
"Kebohongan yang lemah, 097," suara itu memotong tajam. "Kami mendeteksi anomali emosional. Denyut jantung Anda meningkat 15% saat berada di radius satu meter dari target. Anda mulai melunak. Ingat Proyek Serra. Ingat apa yang dilakukan Wijaya pada keluarga Anda. Organisasi tidak mentoleransi 'bug' dalam sistem operasional."
"Saya tahu misi saya," desis Kenzi.
"Bagus. Karena keraguan Anda, kami telah memutuskan untuk mengirim 'Pengawas' untuk memastikan eksekusi tahap akhir berjalan sesuai rencana. Jangan buat kami harus melikuidasi agen kami sendiri."
Klik. Komunikasi terputus.
---
Kenzi berdiri dan berjalan menuju jendela kecil yang menghadap ke halaman belakang. Di sana, di bawah lampu taman yang temaram, ia melihat sosok Alana. Gadis itu sedang duduk di bangku batu, memeluk lututnya, menatap kegelapan hutan yang mengelilingi rumah.
Sejak Kenzi melakukan 'operasi mandiri' di depannya, Alana tidak banyak bicara. Ada jarak baru yang tercipta—bukan lagi jarak antara majikan dan pengawal, melainkan jarak yang muncul dari rasa takut akan ketangguhan Kenzi yang tidak manusiawi.
*Analisis Risiko: Kedatangan Pengawas berarti batas waktu penyamaran tinggal hitungan hari. Jika organisasi mencium pengkhianatan, Alana adalah orang pertama yang akan mereka eliminasi untuk menghukum saya.*
Kenzi keluar dari kamarnya, mengabaikan protokol istirahat medisnya. Ia berjalan menuju halaman. Suara langkah sepatunya di atas kerikil membuat Alana menoleh dengan cepat.
"Kenzi? Kau tidak seharusnya berjalan," suara Alana terdengar parau.
"Luka ini bukan penghalang," sahut Kenzi kaku. Ia berdiri beberapa langkah di belakang Alana. "Nona, ada sesuatu yang harus Anda pahami. Dunia ini tidak seaman yang Anda bayangkan, dan orang-orang di sekitar Anda... termasuk saya... bukanlah siapa yang Anda kira."
Alana bangkit, menatap Kenzi dengan mata yang mencari kebenaran. "Bram terus memberitahuku bahwa kau berbahaya. Dan setelah apa yang kulihat tadi malam... cara kau menjahit kulitmu sendiri seolah-olah kau hanya menjahit kain perca... aku mulai percaya padanya."
Kenzi menatap lurus ke dalam mata Alana. Untuk sesaat, ia ingin memberitahu Alana tentang perintah dari "Atas". Ia ingin memberitahu bahwa pengawas sedang dalam perjalanan untuk menghancurkan hidupnya. Namun, dinding es di hatinya kembali membeku.
"Jika Anda takut, itu bagus. Ketakutan akan membuat Anda tetap hidup," ujar Kenzi dingin.
"Aku tidak takut padamu, Kenzi," Alana melangkah mendekat, memperpendek jarak yang secara logis dianggap Kenzi sebagai zona bahaya. "Aku takut akan apa yang telah dunia lakukan padamu hingga kau menjadi seperti ini. Siapa yang melukaimu begitu dalam?"
Kenzi merasakan getaran anomali lagi di dadanya. *Bug* itu kembali. Ia segera memutar tubuhnya, bersiap untuk pergi sebelum pertahanannya runtuh sepenuhnya.
"Istirahatlah, Nona. Badai yang sebenarnya belum tiba."
---
Di ruang kerja keamanan, Bram sedang menatap monitor besarnya. Ia baru saja menerima balasan email dari kontak intelijennya di Singapura. Foto tato Kenzi yang ia kirimkan telah diidentifikasi secara parsial.
*"Simbol tersebut terkait dengan sindikat tentara bayaran hitam yang dikenal sebagai 'The Erasers'. Mereka tidak hanya membunuh; mereka menghapus sejarah target mereka."*
Bram menyalakan rokoknya, asapnya mengepul menutupi wajahnya yang tegang. "Jadi kau seorang penghapus, Kenzi? Kita lihat saja, siapa yang akan terhapus lebih dulu di rumah ini."
Tanpa disadari oleh siapa pun, sebuah mobil SUV hitam tanpa plat nomor berhenti satu kilometer dari gerbang utama Wijaya. Seorang pria dengan setelan pengemudi baru turun, menyesuaikan kacamata hitamnya meski malam sedang gelap. Namanya adalah Vero. Dan dia adalah 'Pengawas' yang dikirim untuk memastikan Kenzi tidak gagal dalam misinya.
Kenzi kembali ke kamarnya, namun ia tidak tidur. Ia mulai membongkar senjata cadangannya, membersihkan setiap komponen dengan presisi obsesif. Ia tahu, ancaman dari "Atas" bukan sekadar gertakan. Perang antara loyalitas organisasi dan anomali perasaannya telah resmi dimulai.
---