Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: TERANG DI BALIK PINTU BESI
Dini hari yang dingin di Jakarta mendadak bising oleh raungan sirine dan deru mesin kendaraan taktis. Di luar gedung A&A Venture, lampu biru-merah polisi memantul di kaca-kaca gedung, menciptakan suasana mencekam layaknya medan perang. Ratusan wartawan sudah berkumpul di balik garis polisi, kamera mereka terhunus ke arah pintu masuk utama, menunggu kehancuran sang mantan "Pangeran Arkananta".
Di dalam ruang observasi, Arlan mengencangkan kancing kemejanya. Ia menatap layar monitor yang menampilkan wajah ibunya, Victoria, yang sedang melakukan siaran langsung dari kediamannya. Wanita itu tampak sangat hancur—sebuah akting yang sempurna—sambil memegang foto Leon dan menuduh Arlan telah mencuci otak Arumi untuk menyekap ibunya demi riset ilegal.
"Dia benar-benar tahu cara memainkan emosi publik," gumam Dante yang berdiri di samping Arlan, sedang memeriksa amunisi pistolnya.
"Satu jam lagi, massa akan mencoba mendobrak pintu ini jika polisi tidak segera bertindak."
Arlan menoleh ke bawah, ke arah ruang operasi. Arumi baru saja keluar, masih mengenakan gaun bedah yang ternoda sedikit darah. Wajahnya lelah, namun matanya memancarkan ketenangan yang belum pernah Arlan lihat sebelumnya. Ia telah menyelamatkan ibunya, dan itu memberinya kekuatan yang tak terkalahkan.
"Raka," panggil Arlan melalui interkom. "Buka pintu depan. Biarkan mereka masuk."
"Tuan?" suara Raka terdengar ragu. "Polisi membawa surat perintah penggeledahan dan penahanan atas tuduhan malpraktik."
"Biarkan mereka masuk," ulang Arlan dengan nada yang tidak terbantahkan. "Tapi pastikan hanya tim penyidik utama dan dua kamera dari stasiun televisi nasional yang boleh naik ke lantai ini. Sisanya, tahan di lobi."
Sepuluh menit kemudian, lift berdenting. Komisaris Polisi Yudha melangkah keluar bersama pasukannya. Di belakang mereka, dua juru kamera menyiarkan langsung kejadian itu ke seluruh penjuru negeri.
"Arlan Arkananta," ucap Komisaris Yudha tegas.
"Anda ditahan atas dugaan penyekapan dan malpraktik medis terhadap Nyonya Salsabila.
Kami memiliki perintah untuk mengamankan pasien dan membawa Anda ke markas besar."
Arlan tidak bergerak. Ia berdiri dengan tangan di saku celana, wajahnya tenang. "Komisaris, saya menghormati hukum. Tapi sebelum Anda membawa saya, bukankah lebih baik Anda melihat 'korban' yang Anda maksud?"
Arlan memberi isyarat ke arah pintu ruang pemulihan. Arumi keluar dari sana, menuntun kursi roda ibunya. Nyonya Salsabila, meski masih terlihat sangat lemah dan pucat, sudah sadar sepenuhnya. Tabung oksigennya kini hanya berupa selang kecil di hidung, bukan lagi mesin ventilator yang berisik.
Kamera televisi segera menyorot wajah Nyonya Salsabila. Jutaan penonton di rumah menahan napas.
"Nyonya Salsabila," tanya Komisaris Yudha, suaranya melunak karena terkejut. "Apakah Anda disekap di sini? Apakah Anda merasa terancam?"
Ibu Arumi menatap kamera dengan mata yang jernih, meskipun suaranya masih parau. "Anak saya... Arumi... dia telah menyelamatkan nyawa saya. Jika saya tetap di Medika Utama, saya mungkin sudah dikuburkan pagi ini karena sabotase yang diperintahkan oleh Victoria Arkananta."
Suasana mendadak hening. Pernyataan itu seperti petir di siang bolong.
"Saya memiliki bukti," lanjut Nyonya Salsabila, sambil menunjuk ke arah tablet yang dipegang Arlan. "Sepuluh tahun lalu, saya dibungkam karena mengetahui kebohongan obat 'Arkananta-Plus'. Dan semalam, mereka mencoba membunuh saya lagi. Arlan dan Arumi bukan pelaku... mereka adalah pelindung saya."
Arlan melangkah maju, menyerahkan sebuah flash disk kepada Komisaris Yudha. "Di dalam ini terdapat rekaman pengakuan teknisi yang disewa ibuku, data enkripsi asli obat Arkananta-Plus yang ditemukan ibuku sepuluh tahun lalu, dan bukti transfer dana gelap dari Victoria ke sindikat farmasi internasional."
Arlan menatap langsung ke arah kamera televisi, seolah-olah ia sedang menatap mata ibunya di tempat lain.
"Ibu," ucap Arlan dingin. "Permainan selesai. Kau menggunakan hukum untuk menyerangku, maka hukum pulalah yang akan mengakhirimu. Aku tidak lagi peduli pada harta Arkananta. Ambil semuanya, tapi kau akan mengambilnya dari balik jeruji besi."
Di kediamannya, Victoria menjatuhkan gelas tehnya hingga pecah berkeping-keping. Ia melihat wajah putranya di televisi, wajah yang kini tidak lagi menyimpan keraguan. Ia menyadari satu hal: ia tidak pernah benar-benar mengenal Arlan. Arlan bukan lagi bayangannya; ia adalah matahari yang akan membakar seluruh kebohongannya.
Saat polisi bergerak menuju kediaman Victoria untuk melakukan penangkapan, kekacauan terjadi di lantai bawah gedung A&A Venture. Beberapa orang berpakaian preman—anggota sindikat farmasi yang panik—mencoba melepaskan tembakan untuk mengalihkan perhatian dan melarikan diri.
"Dante! Jaga Arumi dan ibunya!" teriak Arlan.
Dante bergerak cepat. Ia menarik Arumi dan kursi roda ibunya ke dalam ruang brankas yang paling aman. Namun, saat Dante sedang menutup pintu baja tersebut, sebuah peluru menyerempet lengannya.
"Dante!" teriah Arumi.
"Tetap di dalam!" perintah Dante. Ia membalas tembakan dengan akurasi mematikan.
Arlan berlari menuju lobi, bergabung dengan Raka untuk memukul mundur para penyerang. Pertempuran singkat namun intens itu berakhir dengan tertangkapnya tiga tentara bayaran asing. Polisi segera mengamankan gedung.
Namun, di tengah kekacauan itu, Dante menghilang. Ia tidak menunggu untuk berterima kasih atau diwawancarai. Ia pergi melalui jalur ventilasi, meninggalkan sepucuk surat kecil di atas meja kerja Arlan.
Tiga jam kemudian, matahari benar-benar terbit di ufuk timur Jakarta. Berita tentang penangkapan Victoria Arkananta dan skandal farmasi terbesar dekade ini mengguncang bursa saham hingga perdagangan harus dihentikan sementara. Dinasti Arkananta runtuh dalam satu malam.
Arlan duduk di lantai koridor rumah sakit pribadinya, menyandarkan kepalanya di bahu Arumi. Mereka berdua sangat lelah, namun ada rasa lega yang tak ternilai. Leon sudah kembali ke pelukan Arumi, tertawa kecil sambil memainkan jari ibunya.
"Kita benar-benar melakukannya, Arlan," bisik Arumi.
Arlan mengambil surat dari Dante yang tadi ditemukan Raka. Isinya singkat:
"Dendamku selesai. Rawatlah kakak iparku dan keponakanku dengan baik. Aku akan mengawasi dari bayang-bayang. Jika kau membuat mereka menangis lagi, aku yang akan menjemput kepalamu. - D"
Arlan tersenyum tipis. "Ya, kita melakukannya. Dan kita tidak melakukannya sendirian."
Arumi menyandarkan kepalanya di bahu Arlan. "Apa yang akan kita lakukan sekarang? Arkananta Group sudah hancur. Kau tidak punya jabatan lagi."
Arlan mengecup puncak kepala Arumi. "Aku punya sesuatu yang jauh lebih berharga. Aku punya sebuah perusahaan kecil bernama A&A Venture yang bersih dari darah. Dan aku punya seorang dokter hebat yang akan membantuku membangun yayasan medis untuk para korban 'Arkananta-Plus'. Kita akan mulai dari nol, Arumi. Tapi kali ini, kita membangunnya di atas kebenaran."