NovelToon NovelToon
Tergoda Paman Tunanganku

Tergoda Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Cinta Terlarang
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.

------------- 💫

‎Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.

‎Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.

‎"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.

‎Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.

‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 : Janji yang terjalin dan rencana baru.

‎Wajah Viona langsung memucat, matanya berkeliaran dengan cepat ke seluruh penjuru kamar Arsen untuk mencari tempat bersembunyi. Tangannya yang masih menggenggam lengan Arsen mulai berkeringat dingin.

‎‎"Paman, aku harus bersembunyi sekarang juga!" bisiknya cepat, wajahnya sudah sangat panik.

Langkahnya mulai bergerak ke arah lemari besar di sudut kamar, membukanya sebentar lalu menggelengkan kepalanya cepat saat merasa lemari itu bukan tempat yang cocok untuk bersembunyi. ‎‎Tanpa berpikir panjang, Viona berlari ke arah kamar mandi, lalu berpindah ke balkon, namun ketenangannya makin sirna saat suara ketukan pintu terdengar lagi, lebih keras dari sebelumnya.

‎‎"Arsen, apa kamu sudah tidur?" suara itu kembali terdengar, membuat denyut jantung Viona berdebar lebih kencang.

‎‎Viona melihat ke arah ranjang sebentar, lalu pandangannya berpindah ke arah sofa besar yang menghadap langsung ke arah pintu kamar. Tidak ada waktu untuk ragu lagi, kakinya meluncur cepat kebelakang sofa yang ada disamping lemari pajangan kaca besar. Dia langsung berjongkok dan menutupi bibirnya dengan kedua tangan.

‎Sementara itu, Arsen tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Viona yang justru terlihat sangat menggemaskan ketika gadis itu sedang panik seperti ini. Dia mengambil napas dalam sebelum akhirnya berjalan ke arah pintu dan membukanya.

‎‎"Kak Saskia, ada apa? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Arsen dengan nada yang tenang.

‎‎Saskia mengangguk dengan senyuman tipis diwajah, "Maaf mengganggu, Arsen. Kakak ingin bicara sebentar, boleh Kakak masuk?"

‎‎Arsen melirik ke arah sofa sebelum menoleh kembali pada kakak iparnya yang sedang berdiri di depan pintu, kemudian dia mengangguk dan mempersilahkan Saskia untuk masuk.

‎‎Saskia memasuki kamar dengan langkah santai, matanya mengamati setiap sudut ruangan dari lemari pajangan kaca yang menampilkan patung keramik antik hingga tirai gorden navy blue yang menggantung rapi di sekitar balkon.

‎‎Arsen berjalan menuju sofa besar tempat dimana Viona sedang bersembunyi di belakangnya, menjadikan tubuhnya sebagai penghalang antara Saskia dan bagian belakang tempat duduk itu.

‎‎"Silahkan duduk, Kak," ucap Arsen.

‎‎Saskia mengangguk dan duduk di sofa lain, "Maaf Kakak mengganggumu malam-malam begini."

‎‎"Tidak apa-apa Kak, aku juga belum tidur kok," jawab Arsen dengan senyuman tipis, namun fokusnya tetap terarah pada belakang sofa, "Ada apa? Apa ada hal serius yang ingin Kakak katakan?"

‎‎Saskia mengangguk, "Ayah menyuruh Kakak mencarikan wanita untuk dikenalkan denganmu. Kakak minta maaf karena tidak memberitahumu dulu sebelumnya. Ayah hanya ingin melihat kamu menikah sebelum tanggal pernikahan Farel dan Viona ditentukan, Arsen."

‎‎"Kakak tahu kan kalau aku belum berpikir untuk menikah sekarang ini," ucapnya dengan nada yang tetap tenang, namun di dalam hatinya khawatir jika pembicaraan ini membuat Viona semakin tertekan.

‎‎Saskia menghela napas lembut, "Kakak tahu kamu belum siap, tapi setidaknya kamu mau ya bertemu dengan Clara dulu besok siang. Kakak sudah terlanjur membuat janji dengannya, dan Viona juga sudah setuju untuk menemanimu supaya kamu tidak terlalu tegang saat bertemu dengan Clara nanti. Kamu mau ya?"

‎Arsen hanya terdiam, seolah dia sedang mempertimbangkan permintaan kakak iparnya itu, padahal sebenarnya dia sedang memikirkan perasaan Viona jika dia menyetujui untuk bertemu dengan wanita yang akan dikenalkan dengannya itu.

"Atau kamu masih berharap pada Elena?" tanya Saskia yang membuat Arsen mengangkat pandangannya cepat saat kakak iparnya itu menyebutkan nama wanita yang pernah singgah dihatinya. "Ayolah Arsen, Elena sudah menikah, dan mungkin sekarang dia juga sudah bahagia bersama dengan suaminya. Kakak harap kamu bisa membuka hati kamu lagi untuk wanita lain selain Elena."

‎Arsen menggelengkan kepalanya pelan, ekspresi wajahnya menjadi lebih serius. "Jangan salah paham, Kak. Aku sudah lama menerima bahwa Elena memiliki hidupnya sendiri dan bahagia dengan suaminya. Tidak ada lagi harapan apapun dariku untuknya."

‎‎Saskia menghela napas lega, "Baiklah, kalau begitu kamu setuju untuk bertemu dengan Clara kan? Bertemu dengan Clara bukan berarti kamu harus langsung menikah, kalian cukup kenalan saja dulu."

‎‎Di belakang sofa, Viona mendengar setiap kata dengan jelas. Rasa cemasnya semakin bertambah saat menyadari bahwa Arsen mungkin akan menyetujui permintaan Tante Saskia untuk datang menemui Clara besok siang.

‎‎Arsen mengambil napas dalam, matanya melirik ke arah belakang sofa sebelum kembali menghadap Saskia. "Baiklah , aku akan pergi bertemu dengan wanita itu besok," ucapnya dengan nada yang tetap tenang, "Tapi aku akan datang sendirian, jadi tidak perlu mengajak Viona untuk ikut menemani."

‎Saskia tersenyum lebar mendengarnya, "Begitu malah lebih bagus, jadi kalian bisa ngobrol dan saling mengenal lebih dekat,"

‎‎"Ya sudah, kalau begitu Kakak pamit dulu. Jangan lupa besok siang ya, nanti Kakak kirim alamat dimana kalian akan ketemuan," lanjutnya, kemudian berdiri dan memberikan senyuman tipis pada Arsen.

‎‎Arsen mengangguk dan segera berdiri. "Baik, Kak."

‎‎Saskia melangkahkan kakinya ke arah pintu yang memang sengaja dibiarkan terbuka oleh Arsen, dia menoleh sebentar sebelum keluar. "Jaga dirimu ya, Arsen. Dan... kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk bilang pada kakak ya?"

‎‎Setelah pintu kamar tertutup dan keheningan menyelimuti ruangan, Viona segera keluar dari belakang sofa. Kakinya melangkah cepat menuju Arsen yang masih berdiri di depan sofa.

‎‎"Paman setuju untuk bertemu wanita itu?!" tanya Viona dengan suara sedikit meninggi, menatap Arsen dengan tatapan masih tidak percaya.

‎Arsen melangkah mendekat, meraih tangan Viona dan menggenggamnya erat. "Aku hanya menyetujui untuk bertemu, bukan untuk mengenalnya sebagai calon pasangan," jelasnya dengan nada yang lembut namun tegas. "Aku perlu menjelaskan pada wanita itu dan wanita-wanita lain diluar sana bahwa aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai."

‎Viona tersanjung mendengarnya, bibirnya mengulum senyum tipis. "Tapi kenapa Paman harus datang sendiri? Kenapa tidak mau aku ikut menemani Paman?"

Arsen mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pipi Viona, menyeka sedikit kelembapan yang masih menempel di sana. "Karena aku tidak ingin kamu melihat atau mendengar hal-hal yang mungkin akan menyakitimu. Aku ingin menjelaskan semuanya pada wanita itu tanpa harus membuat kamu merasa tidak nyaman."

‎‎Viona mengangguk perlahan, "Aku mengerti, Paman. Tapi setelah itu kamu harus memberitahuku semua detailnya dan jangan sampai kamu terlena dengan kebaikan dan kecantikan dia ya, Paman."

‎‎Arsen tertawa lembut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, kedua tangannya dilipat di depan dada. ‎‎"Bukankah kamu seharusnya mendapatkan hukuman karena sebelumnya kamu menyetujui untuk menemaniku bertemu wanita itu tanpa bertanya lebih dulu padaku," ucapnya dengan tatapan sedikit menyindir namun penuh kasih.

‎‎Viona segera menggeleng kepalanya dengan cepat, wajahnya sedikit memerah karena merasa bersalah. "Tadi kan aku sudah meminta maaf, aku tidak punya pilihan lain selain menjawab iya."

‎‎Arsen menurunkan tangannya kembali, senyumnya tetap hangat. "Tapi tetap saja harus dihukum. Jadi kira-kira hukuman apa ya yang pantas untukmu?"

‎‎Viona melihat wajah Arsen yang perlahan mendekat, rasa gugupnya kembali muncul. Dia menutup matanya secara perlahan. Bibirnya sedikit terbuka, menunggu sentuhan yang sudah dia tunggu-tunggu.

‎‎Namun Arsen hanya mendekatkan wajahnya hingga hampir bersentuhan dengan pipinya, dia tersenyum saat melihat Viona sudah menutup mata lalu mengarahkan bibirnya ke telinga gadis itu.

‎‎"Hukuman yang benar-benar pantas untuk kamu," bisiknya dengan suara yang dalam, membuat kulit Viona meremang dan langsung membuka mata dengan cepat.

‎‎Arsen hanya tersenyum licik sebelum sebelum kembali berbisik, "Sekarang kembalilah ke kamarmu sebelum aku menahanmu untuk menemaniku tidur disini."

‎‎Viona menjauhkan kepalanya cepat, wajahnya langsung merona merah, "P-Paman..." bisiknya dengan suara terbata, "Aku akan kembali ke kamarku sekarang!"

‎‎Viona segera berbalik dan melangkah cepat menuju pintu kamar. Dia berhenti sebentar di depan pintu dan menoleh ke arah Arsen.

‎‎"Selamat malam, Paman." ucapnya sebelum akhirnya membuka pintu dan keluar dengan cepat.

‎‎Arsen hanya tersenyum melihatnya pergi. Begitu pintu kamarnya sudah tertutup kembali, senyuman diwajahnya perlahan memudar seperti kabut pagi yang menghilang saat terkena sinar matahari. Dia menghela napas panjang, kemudian berjalan menuju balkon dengan langkah yang tenang.

‎Udara malam yang segar langsung menyapa wajahnya begitu dia membuka pintu geser. Arsen bersandar pada railing balkon, matanya memandang jauh ke arah langit yang penuh dengan bintang-bintang berkilau.

‎‎"Aku memang tidak mengenal ayahmu, tapi aku berjanji akan selalu menjagamu Viona."

-

-

-

Farel membuka pintu ruangan kerja papanya tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Dia melangkahkan kaki masuk, melihat papanya yang sedang duduk di kursi kerjanya dengan beberapa tumpukan dokumen dan berkas merah masih terbuka di atasnya.

‎"Pa, sabtu nanti aku mau ajak Viona untuk menginap di villa boleh ya?" ucap Farel dengan penuh percaya diri, berhenti di tengah ruangan dengan senyum lebar diwajahnya.

-

-

-

Bersambung...

1
Zuri
drama perpisahan di depan mata noh paman Bima🤧🤧
Zuri
mna bisa begitu... cobranya udah dapet sarang yg enak mana mau dilepas.. ehh/Silent//Silent/
Zuri
jujur lebih baik ya Vio
Zuri
mana bisa bgituu... yg jebol gawang Arsen loh/Slight//Slight/
Zuri
Farel itu ngamuknya gegara gagal unboxing🤣🤣
Zuri
disidang🤧🤧
zee
wah tambah seru nih
🔥Violetta🔥: Terimakasih kakak masih setia menyimak 🙏😁
total 1 replies
Zuri
salah sendiri punya pikiran kotor🤧🤧
🔥Violetta🔥: Nggak kotor nggak anuuun🤣🤣
total 1 replies
Zuri
sadar kali kak, bukan dasar/Silent/
🔥Violetta🔥: Efek mabok tulisan 🤣🤣🤣
total 1 replies
Zuri
tenang saja vio.. pamanmu akan melindungimu🤭🤭
🔥Violetta🔥: Melindungi sampai kedalam-dalam 😅😅
total 1 replies
Mita Paramita
Arsen dan viona udh ga bisa dipisahkan ini🤣 🤣🤣
🔥Violetta🔥: Sudah menyatu seakar-akarnya, Kak🤭🤣🤣
total 1 replies
Zuri
mereka lagi main bareng🤣
🔥Violetta🔥: Main bola /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Zuri
sedia payung sebelum hujan🤣🤣
🔥Violetta🔥: Udah nahan dia dari lama 😅😅😅
total 1 replies
Zuri
jebol juga akhirnya kalo godaannya gini
🔥Violetta🔥: Mana tahan /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Zuri
mau nerkam apa gimana dirimu Arsen😏😏
🔥Violetta🔥: Sudah tidak tahan dia 🤭🤭🤭
total 1 replies
Zuri
dirimu kn emang gak bisa jaga Vio. mau ngrusak iya/Smug/
Zuri
udah di bawa kabur🤣🤣
Zuri
rencanamu mau unboxing gagal total rell🤣
Zuri
mendadak jadi maling/Facepalm//Facepalm/
🔥Violetta🔥: Maling cinta 😅😅😅
total 1 replies
Zuri
bukannya eemang itu ya yang kamu harapkan? hayoo ngakuu😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!