NovelToon NovelToon
Menjadi Guru Sihir Putra Mahkota Kerajaan Sihir

Menjadi Guru Sihir Putra Mahkota Kerajaan Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irara

Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.

Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.

Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.

Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.

“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”

Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.

Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.

“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”

Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa bersalah Lucy

Pantulan dirinya yang ditekan dengan tak berdaya terpantul di pupil hijau zamrud itu. Mata tersebut sedikit menyipit, mengaburkan kejernihannya menjadi lebih keruh dengan noda kelicikan.

“Komandan?” Rhea memanggilnya pelan.

Tiba-tiba, Rhea merasakan pelukan erat. Tubuh kekar itu menekan tubuhnya yang kurus. Sedikit mengernyit, ia merasakan kepala pirang itu bersandar di lehernya.

“Batalkan mantra ilusi di tubuhku,” bisik Komandan Louise dengan suara riang. “Kejutannya setelah ini.”

Menahan rasa tidak nyaman, Rhea mendongak untuk menghindari rambut Louise yang menempel di wajahnya dan menemukan bahwa ada jejak mantra ilusi yang familiar di tubuh pria itu.

Rhea menekan punggung Louise dengan jarinya, menghilangkan mantra itu tanpa usaha. Saat itu, ia melihat rambut pirang di depannya memanjang hingga mencapai bahu.

Semuanya berubah dengan kecepatan yang mencengangkan, dari ujung rambut hingga lekuk tubuhnya. Singkatnya, tubuh kekar Komandan Louise menghilang, berubah menjadi tubuh seorang wanita dewasa yang seksi.

“Hai?” Wanita berambut pirang itu mengangkat tubuhnya dari Rhea, membenarkan poninya yang berantakan sambil menyapa santai. Mata hijaunya terangkat licik.

Rhea menegakkan tubuhnya dan sedikit menjauhkan posisi duduknya darinya. Ia menghela napas tanpa disadari.

“Terkejut?”

Menanggapi kata-kata Komandan Louise yang sekarang menjadi wanita, Rhea tersenyum kecut.

“Awalnya terkejut,” ungkapnya jujur. “Tetapi beberapa hari ini aku sudah berkali-kali dikejutkan oleh sesuatu yang lain. Jadi bisa dikatakan aku sudah menduganya.”

Merasuki tubuh orang lain di dunia fantasi tanpa ingatan tubuh aslinya benar-benar sebuah kecacatan yang merembet ke mana-mana.

Rhea hanya ingin menyarankan, jika seseorang menulis cerita transmigrasi yang menyenangkan, lebih baik protagonisnya diberi ingatan dengan benar. Atau ia akan berakhir sepertinya.

Wanita berambut pirang itu terkekeh, menatapnya dengan seringai lembut. “Sepertinya amnesia cukup menyenangkan. Kapan-kapan buat aku kehilangan ingatanku seharian.”

“...Jangan coba-coba,” jawab Rhea menasihati. “Rasanya menjengkelkan dikejutkan oleh sesuatu yang seharusnya kamu tahu.”

“Hahaha, jadi ini nasihat Rhea yang sudah mencobanya,” balasnya. “Kakakmu akan mengingatnya.”

“Ngomong-ngomong,” wanita itu melanjutkan, “karena Rhea pasti lupa, kakakmu ini namanya Lucy. Lucy Celeste.”

“Lucy Celeste?” Namanya memang membuatnya terkejut, tetapi Rhea menahan diri untuk bertanya, karena wanita itu akan menjelaskannya setelah ini.

“Jangan menatapku seperti itu,” Lucy melambaikan tangannya. “Meskipun nama belakang kita sama, kita bukan saudara kandung.”

“Celeste adalah nama panti asuhan tempat kita tinggal saat masih kecil.”

Sebuah masa lalu yang sesuai perkiraannya. Rhea menerima kenyataan sebagai yatim piatu dengan cepat dan juga sedikit lega. Karena dengan ini, ia tidak perlu menghadapi masalah keluarga pemilik tubuh aslinya.

“Waktu kecil, kita tinggal di Panti Asuhan Santo Celestius di Kadipaten Oravit, Kekaisaran Suci, lalu pergi ketika usiaku mencapai delapan belas tahun dan kamu ikut denganku.”

“Kamu tidak terkejut? Pasti sudah selesai membaca surat dari si penipu William.” Lucy menggelengkan kepalanya.

“Aku menyarankan untuk tidak membalas suratnya lagi.” Matanya tampak menahan kejengkelan ketika mengatakan ini, jelas ia membenci pria bernama William itu.

“Ya... aku tidak akan pernah membalasnya.” Sebuah pernyataan tegas. Rhea sudah memikirkannya sejak lama. Tanpa nasihat Lucy pun, ia tak pernah berniat membalas surat kepada pria yang sama sekali tidak dikenalnya itu.

“Syukurlah. Amnesiamu benar-benar berkah tersembunyi.” Lucy menepuk dadanya seolah lega. “Tahu tidak betapa lelahnya kakakmu memisahkanmu dari penipu itu? Hatiku hancur memikirkan adikku tercinta dimanfaatkan oleh pria seperti itu!”

Terlepas dari kekhawatirannya yang penuh kasih sayang, Rhea menyayangkan bahwa hal ini tidak menyentuh hatinya sama sekali. Bagaimanapun juga, ia sama sekali bukan pemilik tubuh asli. Namun, ia setuju dengan beberapa hal yang dikatakan Lucy.

“Pria itu memang penipu yang menjijikkan,” Rhea mengakui keluhan Lucy. Setelah membaca surat-surat dari William, ia menemukan hubungan palsu di balik kalimat-kalimat manisnya.

Pria seperti apa yang tega membiarkan kekasihnya pergi menjadi umpan di negara musuh hanya karena alasan konyol?

Jika ada yang bertanya alasannya, Rhea hanya bisa menyimpulkan samar-samar dari surat-surat itu dan tebakannya sendiri.

William mengetahui bahwa Rhea adalah seorang mage berbakat, lalu melaporkannya ke atasan atau keluarganya yang mungkin berpengaruh dan meminta keringanan. Tetapi jika William ingin menikahinya, Rhea harus menyelesaikan tugas kecil dari kekaisaran untuk membuktikan kesetiaannya.

Perlu diketahui, Kekaisaran Suci ternyata tidak menghormati mage seperti Kekaisaran Arcana. Itu sebenarnya tidak mengejutkan, karena dari nama kedua kekaisaran saja, mereka memiliki jenis tipe kekuatan yang berbeda untuk dikagumi.

Di sana, Paus, pendeta, dan antek-anteknya—yang tidak dimengerti Rhea—memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada bangsawan biasa. Hal ini memiliki kemiripan dengan Kekaisaran Arcana yang mengagungkan para mage.

Ada satu hal yang perlu digarisbawahi, Kekaisaran Suci sedikit bias terhadap perempuan. Rhea menyebutnya dengan istilah modern seperti anti-feminis. Dengan kata lain, mereka menganggap perempuan tidak berhak memiliki kekuasaan ataupun kekuatan yang sama dengan para pria.

“Kakakmu ini menyesal tidak membawamu ke sini empat tahun yang lalu. Kalau tidak, kamu mungkin tidak terjerat dengan pria penipu itu dan ketahuan sebagai mage.”

Kata-kata penyesalan Lucy sekarang menjelaskan banyak hal, seperti Rhea yang terpisah dari kakaknya selama empat tahun dan berteman dengan William pada waktu tersebut.

“Berapa umurmu sekarang, Lucy?” tanya Rhea, mengganti topik pembicaraan.

“Panggil aku kakak, Rhea. Umurku 27 tahun ini.”

Rhea menghitung dengan jarinya dan membuat kesimpulan. “Lu—maksudku, Kakak—berarti umurku saat itu baru 15 tahun?” tanyanya hati-hati.

Niat Rhea hanya bertanya untuk mengonfirmasi tebakannya, tetapi hal ini membuat Lucy merasa bersalah.

“Ma-maaf, aku benar-benar egois dan tidak bertanggung jawab...” Lucy tercekat, terbata-bata dengan suara bergetar. “Membawamu dari panti asuhan... lalu meninggalkanmu sendiri... walaupun tahu kamu masih perlu perhatian, aku salah, maaf, tapi aku tahu... semuanya sudah terlambat.”

“Tidak apa-apa,” Rhea bermaksud menenangkannya, tetapi dia juga bingung bagaimana melakukannya.

“Maaf. Saat itu aku terlalu gembira... menerima tawaran untuk menjadi ksatria dari kerajaan asing...” Lucy tiba-tiba memeluknya. Air mata mengalir di matanya.

“Kamu tahu, aku kecanduan menjadi laki-laki dengan sihir ilusimu, membuatku bersemangat menggapai impianku menjadi ksatria...”

Rhea menepuk punggungnya perlahan, memberinya waktu untuk menumpahkan kekhawatirannya.

“Saat itu aku hanya berpikir jika diriku sukses menjadi ksatria, aku bisa lebih baik membuatmu bahagia. Tetapi pergi ke negeri asing dengan orang yang tak dikenal berbahaya, jadi aku tak tega membawamu mengikutiku dengan ketidakpastian.”

“Aku tidak bermaksud meninggalkanmu begitu saja, Rhea.”

Rentetan penyesalan beruntun itu menenggelamkan Rhea dalam perasaan bersalah. Sayang sekali, orang yang dimaksud Lucy untuk meminta maaf tidak ada di sini. Menyampaikan kata-kata itu padanya hanya membuat Rhea merasa tersentuh dengan kasih sayang itu sebagai seorang pengamat.

Rhea menahan penyesalan dan menepuknya pelan.

“Pernahkah kakak mengatakan ini padaku sebelum aku kehilangan ingatan?” Ini sebuah pertanyaan yang menentukan bagaimana Rhea melanjutkan usahanya menghibur kakak perempuan yang menyedihkan ini.

Jika dia sudah mengatakannya, maka semuanya akan lebih mudah bagi mereka. Tetapi jika belum...

Untungnya, kekhawatirannya tidak menjadi kenyataan.

Lucy menjawab dengan suara serak, “Aku memang sudah memberitahumu, tetapi membicarakannya lagi membuatku merasa bersalah lagi.”

Setelah mendengar ini, Rhea merasa bebannya lebih ringan. Ia tertawa untuk mencairkan suasana.

“Seharusnya kakak tidak meminta maaf lagi, karena aku mungkin akan kehilangan ingatan terus selama naik lingkaran.” Rhea mendorong pelan Lucy menjauh dari pelukannya. “Kakak mau terus meminta maaf saat aku naik ke lingkaran sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas...?”

Lucy mengusap wajahnya dan ikut tertawa. “Sepertinya menyebalkan sekali. Tetapi mampukah Rheaku naik melebihi lingkaran sembilan? Bukannya bermaksud meremehkanmu, tetapi hingga saat ini belum ada yang melewati batas itu...”

1
Manisaja
Sudah kuduga /Yawn/Akuh bilang tahan atu
Lily air: apa si kak gak ngerti, aku pusing ;)
total 1 replies
Andi Ilma Apriani
hadiiirrr thooorr
Manisaja
Aku tau dari kebiasaan mu buat sama baca cerita sukanya buat mc lemah gampang sakit atau pingsan padahal latarnya op, aku tahu tapi tolonglah dikendalikan ya ya? gak maksud ngajak berantem aku jangan maragh 🙏🙏 Jangan ngambeg awas
Lily air: ❤️┐(︶▽︶)┌❤️
total 1 replies
Manisaja
Lanjut!!!! Udah lumayan ngalir lancar gak kaku kayak pertams
Manisaja
Keliatan banget ini putra mahkota kalau gak regresi atau reikarnasi juga tingkahnya gak kayak bocah, bener gak dugaanku? 🧐
Lily air: kamu maunya gitu? oke kutulis gitu (¬‿¬ )
total 1 replies
Manisaja
Ulah gurumu itu Yang mulia sihirnya gak bener ngerusak kaca
Manisaja
Bisa sok keren juga dia 🤣
Manisaja
Gilakk pantesan cowo pada takutt tapi pelayan cewe gak diapa apain ya sama dia
Manisaja
Tak kusangka sangka ternyata kejadiaannya kayak ginj
Manisaja
Mi apa to?
Manisaja
Lah iya siapa yang nyangka kalau ngancemnya pake candaan ggak masuk akal?
Manisaja
Sebenarnya gak lucu tapi apa hah? Makan daging bisa nguras energi sihir?? aku baru tahu di sini
Manisaja
Lo Kok di skip gimana ceritanya? Cerita yang diceritain John mana?!!
Manisaja
Lah elah dipotong gini gak jelas iih
Manisaja
Apaan tuh 🧐🧐
Manisaja
Cowo imut
Manisaja
Putra mahkota siapa namanya? Belum disebuttin
Manisaja
Mmemuji di bawah sinar bulan? aku bayanginnya ko lucu ya🤣 Apa si yang lo tulis ra aamh
Manisaja
Novel baru ya raaa 🤣 Oke ku baca
Lily air: terserah baca aja gak ada yang larang :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!