Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritme yang Kami Jaga
Hari-hari setelah itu terus berjalan dengan ritme yang hampir sama, dan justru di situlah aku mulai menyadari betapa kehadirannya pelan-pelan menjadi bagian dari hidupku. Tidak ada perubahan besar yang langsung terasa, tidak ada kejutan yang membuat jantungku berdegup terlalu kencang.
Semuanya mengalir dengan sederhana, seolah kami hanya menjalani hari seperti biasa, hanya saja kini saling terhubung lewat layar dan suara.
Yeye tetap menelepon hampir setiap hari. Kadang pagi, saat aku baru membuka mata dan masih berusaha mengumpulkan kesadaran. Kadang malam, ketika tubuhku sudah lelah setelah bekerja. Kami tidak pernah benar-benar menyepakati waktu tertentu, tapi selalu ada momen di mana panggilannya datang, dan aku mengangkatnya tanpa ragu.
Perbedaan waktu kami hanya dua jam, jadi semuanya terasa wajar. Tidak ada yang harus berkorban terlalu banyak. Ketika dia bangun, aku juga hampir bangun. Ketika aku bersiap tidur, dia juga mulai melambat. Jarak geografis terasa jauh, tapi waktu seperti berpihak pada kami.
Setiap hari, dia selalu menceritakan pekerjaannya. Tentang bagaimana hari itu berjalan, tentang hal-hal kecil yang mungkin tidak penting bagi orang lain, tapi bagiku terasa berarti. Dia bercerita tentang hujan yang turun tiba-tiba, tentang pakaian kerjanya yang basah, tentang tubuhnya yang mulai lelah tapi masih bisa bertahan. Kadang dia memvideokan sekelilingnya, memperlihatkan tempat dia bekerja, alat-alat yang dia gunakan, atau sekadar langit yang terlihat abu-abu.
Aku mendengarkan dengan penuh perhatian. Aku tidak selalu tahu harus merespons apa, tapi aku selalu ada. Kadang hanya dengan mengatakan, “Be careful,” atau “You must be tired.” Dia tidak pernah menuntut respons yang panjang. Kehadiranku saja sudah cukup.
Aku pun mulai mengenali pola suaranya. Ketika dia bicara dengan cepat dan ringan, aku tahu dia sedang baik-baik saja. Ketika suaranya lebih pelan dan kalimatnya pendek, aku tahu dia sedang lelah. Aku belajar membaca itu tanpa perlu bertanya terlalu banyak. Aku belajar untuk tidak selalu menggali, tapi menemani.
Di sela-sela semua itu, aku tetap menjalani hidupku sendiri. Bekerja, pulang, beristirahat, lalu bekerja lagi. Tidak ada yang berubah secara drastis, tapi ada satu perbedaan kecil yang terasa besar: aku selalu punya seseorang untuk diajak berbagi. Bahkan ketika ceritaku tidak penting, dia tetap mendengarkan. Bahkan ketika aku hanya mengeluh sebentar, dia tetap ada di ujung sana.
Aku sering mengatakan padanya bahwa aku merasa beruntung memilikinya. Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa aku pikirkan terlalu lama. Aku tidak tahu apakah dia menyadari betapa jujurnya kalimat itu bagiku. Dia tidak pernah menjawab dengan kata-kata besar. Kadang hanya tersenyum, kadang hanya berkata, “I’m glad,” atau “Me too.” Tapi itu cukup.
Kami jarang membicarakan masa depan. Tidak ada pembahasan serius tentang rencana jangka panjang atau ke mana arah hubungan ini. Aku tidak bertanya, dan dia juga tidak membuka topik itu. Mungkin karena kami sama-sama tahu, belum saatnya. Atau mungkin karena kami sama-sama tidak ingin merusak sesuatu yang sedang terasa nyaman.
Ada hari-hari ketika kami hanya terhubung lewat panggilan tanpa banyak kata. Dia melakukan aktivitasnya, aku melakukan aktivitasku. Kadang hanya suara napas, suara langkah, atau suara lingkungan yang terdengar. Anehnya, itu justru terasa menenangkan. Seolah aku tidak perlu terus bicara untuk merasa dekat.
Namun, di balik semua ketenangan itu, ada perasaan yang pelan-pelan tumbuh di dalam diriku. Bukan ketakutan yang besar, tapi kesadaran kecil bahwa segala sesuatu yang berjalan baik pun bisa berubah. Aku tidak membiarkan pikiran itu mengambil alih, tapi aku juga tidak menolaknya. Aku menyimpannya, membiarkannya ada tanpa mengganggu.
Aku belajar untuk tidak menuntut lebih. Aku tidak bertanya ke mana hubungan ini akan pergi. Aku tidak meminta kepastian yang belum siap diberikan. Aku memilih untuk hadir, sama seperti yang dia lakukan. Aku memilih untuk menikmati hari-hari yang ada, tanpa terlalu jauh melangkah ke depan dalam pikiranku.
Yeye tetap konsisten. Tetap menelepon. Tetap bercerita. Tetap mengingat hal-hal kecil tentangku. Kadang dia mengingat jam kerjaku, kadang dia mengingat aku sedang lelah, kadang dia hanya mengingat hal sepele yang pernah aku ceritakan.
Hal-hal kecil itu membuatku merasa dilihat.
Di malam-malam tertentu, setelah panggilan berakhir, aku menatap layar ponselku lebih lama dari biasanya. Bukan karena menunggu pesan selanjutnya, tapi karena aku mencoba memahami perasaanku sendiri. Ada rasa hangat yang tertinggal, ada rasa tenang, tapi juga ada ruang kosong yang belum terisi sepenuhnya.
Aku tidak tahu apakah ruang itu akan terisi suatu hari nanti, atau akan tetap kosong selamanya. Aku tidak mencoba mencari jawabannya. Aku hanya tahu, pada saat itu, aku tidak merasa sendirian.
Aku belajar bahwa kedekatan tidak selalu harus diberi label. Tidak selalu harus diumumkan. Kadang ia hadir dalam bentuk kebiasaan, dalam bentuk suara yang selalu muncul di waktu-waktu tertentu, dalam bentuk perhatian yang tidak riuh.
Dan mungkin, itu yang membuat semuanya terasa nyata. Tidak berlebihan, tidak dibuat-buat. Hanya dua orang yang memilih untuk tetap hadir, meski terpisah jarak dan kehidupan yang berbeda.
Aku tidak tahu bagaimana cerita ini akan berakhir. Aku tidak tahu apakah suatu hari kami akan berhenti menelepon, atau justru semakin dekat. Aku tidak menuliskan bab ini dengan tujuan mencari akhir yang jelas. Aku hanya ingin jujur pada satu hal: pada masa itu, aku bahagia.
Bahagia karena ditemani. Bahagia karena didengarkan. Bahagia karena, untuk sementara waktu, aku merasa memiliki seseorang yang memilihku setiap hari.
Dan mungkin, untuk cerita ini, itu sudah cukup.