NovelToon NovelToon
London’S Heart Surgeon

London’S Heart Surgeon

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pernikahan rahasia / Kehidupan alternatif
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan

Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
​Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Suasana koridor Delphi mendadak sunyi saat dua dokter cantik itu berpapasan di lorong menuju laboratorium. Iva dan Leon sudah berjalan lebih dulu, meninggalkan Lyra yang sempat berhenti untuk membetulkan tali sepatunya. Di situlah ia bertemu muka dengan Veronica yang berjalan dari arah berlawanan dengan gaya angkuh seorang pemenang.

​Veronica sengaja melambatkan langkahnya, berhenti tepat di depan Lyra sambil melipat tangan di dada. Ia memandangi Lyra dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan merendahkan.

​"Ternyata kamu punya harga diri juga ya, Lyra," ucap Veronica dengan nada bicara yang manis namun berbisa.

​Lyra hanya menaikkan sebelah alisnya, tetap tenang. "Maksud Anda, Dokter Veronica?"

​"Ya... soal undangan kerajaan itu. Baguslah kamu sadar diri untuk tidak mencoba 'menempel' pada Pharma besok malam," Veronica tertawa kecil, jemarinya yang berkutek merah menyentuh rambut pirang platinumnya sendiri. "Pharma itu pria yang sangat menghargai image. Dia butuh seseorang yang bisa mengimbangi kharismanya di depan para bangsawan, bukan asisten junior yang masih butuh banyak bimbingan."

​Lyra tersenyum tipis, hampir terlihat seperti seringai yang meremehkan. "Saya rasa Anda salah paham, Dok. Saya ke sana karena undangan resmi atas prestasi medis saya, bukan sebagai aksesori pendamping siapa pun. Tidak seperti Anda yang sepertinya sangat sibuk memastikan posisi Anda di lengan Dokter Pharma."

​Wajah Veronica sedikit berubah menegang, tapi ia segera menguasai diri. Ia melangkah lebih dekat, membisikkan sesuatu tepat di telinga Lyra. "Dengar ya, Anak Baru. Semua orang di Delphi tahu kalau Pharma itu milikku. Kamu mungkin bisa mencuri perhatiannya di ruang operasi, tapi di luar itu? Kamu bukan siapa-siapa. Jangan harap dia bakal melirik kamu besok malam."

​Lyra menarik napas panjang, menatap langsung ke mata Veronica tanpa rasa takut sedikit pun. Rasa cemburu yang kemarin sempat menyiksanya kini benar-benar sudah menguap, berganti dengan tekad untuk menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.

​"Terima kasih atas sarannya, Dokter Veronica," jawab Lyra mantap. "Tapi saya sarankan, Anda lebih baik fokus pada persiapan diri sendiri. Karena kalau Pharma memang 'milik Anda' seperti yang Anda klaim, Anda tidak akan terlihat seputus asa ini untuk meyakinkan saya."

​Setelah mengatakan itu, Lyra berjalan melewati Veronica dengan bahu tegak, meninggalkan dokter bedah saraf itu yang berdiri mematung dengan wajah memerah menahan amarah.

​Momen di Depan Ruangan Pharma

​Tanpa disadari keduanya, Pharma ternyata berdiri tidak jauh dari sana, tersembunyi di balik pilar besar. Ia mendengar setiap kata yang diucapkan Lyra. Hatinya mencelos. Kalimat Lyra yang menyebut dirinya "bukan siapa-siapa" dan rencana kepulangannya ke Indonesia benar-benar menghantui pikiran Pharma.

​Pharma melihat istrinya berjalan menjauh dengan keanggunan yang tidak pernah ia sadari sebelumnya. Ada rasa bangga, tapi sekaligus ketakutan yang luar biasa bahwa ia benar-benar akan kehilangan Lyra selamanya jika ia terus mengikuti egonya.

​"Lyra..." gumam Pharma pelan, suaranya hilang ditelan bising rumah sakit.Kenyataan ini memang pahit, tapi itulah yang terlihat di mata semua orang di Delphi. Pharma seolah sedang bermain di dua dunia. Di satu sisi, ada Lyra istri sahnya yang punya ikatan batin kuat dengannya. Di sisi lain, ada Veronica wanita yang menjadi representasi kesuksesan, ambisi, dan status sosialnya di London.

​Pharma mungkin punya perasaan pada Lyra, tapi egonya sebagai pria yang haus kekuasaan membuatnya lebih memilih memprioritaskan Veronica. Baginya, Veronica adalah "wajah" yang tepat untuk mendampingi sang CMO kebanggaan London.

​Diskusi di Meja Kerja

​Sore itu, Leon masuk ke ruangan Pharma tanpa mengetuk pintu. Ia melihat Pharma sedang menatap dua buah kotak perhiasan di atas mejanya. Satu berisi kalung berlian yang sangat mewah jelas seleranya Veronica. Satu lagi berisi gelang perak simpel yang elegan selera Lyra.

​"Mau sampai kapan kamu main dua kaki begini, Pharma?" tanya Leon dingin.

​Pharma menutup kedua kotak itu dengan cepat. "Saya tidak main dua kaki. Saya hanya menjalankan peran saya."

​"Peran apa? Suami yang mengabaikan istrinya demi gengsi?" Leon menyindir tajam. "Aku lihat cara kamu menatap Veronica tadi siang. Kamu menikmati perhatiannya. Kamu sengaja membiarkan dia menempel padamu karena itu membuatmu terlihat 'berkuasa' di depan dewan direksi, kan?"

​Pharma terdiam, rahangnya mengeras. "Veronica adalah aset. Dia membuat posisi saya di sini stabil. Sedangkan Lyra... dia asisten junior. Kalau saya terlalu menunjukkan kedekatan dengannya, orang-orang akan mempertanyakan integritas saya."

​"Jadi kamu lebih memilih integritas daripada istrimu sendiri?" Leon menggelengkan kepala. "Hati-hati, Pharma. Kamu mungkin merasa mencintai keduanya dengan cara berbeda, tapi saat kamu lebih mentingin Veronica hanya karena urusan status, kamu sebenarnya sudah kehilangan Lyra."

​Pharma tidak membantah. Di dalam kepalanya, dia merasa bisa mengendalikan keduanya. Dia pikir Lyra akan selalu ada di sana, menunggunya di apartemen, sementara dia bisa bersinar di panggung publik bersama Veronica.

​Malam Persiapan: Dua Sisi Pharma

​Malam itu di apartemen, suasana sangat canggung. Pharma keluar dari kamar dengan jas hitam yang sangat mahal. Ia melihat Lyra sedang merapikan kotak-kotak barangnya ke dalam koper, sesuai rencananya untuk pulang ke Indonesia.

​"Kamu beneran mau bawa semua barang ini?" tanya Pharma datar, sambil memakai jam tangan pemberian Veronica.

​Lyra menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada kopernya. "Iya. Supaya nanti nggak repot."

​"Aku sudah pesan mobil untuk besok malam. Veronica akan satu mobil dengan kita. Dia ingin kita berangkat bareng sebagai satu tim bedah," ucap Pharma tanpa merasa berdosa.

​Lyra berhenti bergerak. Ia menatap Pharma dengan tatapan yang sangat lelah. "Kamu beneran minta aku duduk di mobil yang sama dengan wanita yang seharian ini nempel sama kamu? Kamu lebih mentingin perasaan dia yang mau pamer, daripada perasaan aku yang harus nontonin kalian?"

​Pharma menghela napas, seolah Lyra sedang membicarakan hal yang sepele. "Ini cuma soal logistik, Lyra. Jangan dibesar-besarkan. Veronica adalah bagian penting dari acara besok. Saya harap kamu bisa bersikap dewasa."Pernyataan itu seolah menjadi rahasia kelam di balik dinding apartemen mewah mereka. Di rumah sakit, Pharma mungkin terlihat seperti pahlawan dengan tangan yang bisa menyelamatkan nyawa, tapi di rumah, "tangan tuhan" itu bisa berubah menjadi sesuatu yang sangat menakutkan bagi Lyra.

​Ketidakpedulian Pharma bukan hanya soal diam atau cuek, tapi juga tentang ledakan emosi yang kasar.

​Malam itu, sebelum Pharma berangkat menemui Veronica, suasana di apartemen mendadak mencekam. Lyra yang sedang menutup kopernya tidak sengaja menjatuhkan salah satu kotak perhiasan pemberian ibunya hingga pecah. Suara denting kaca yang pecah itu seolah memicu sesuatu di dalam diri Pharma yang sedang stres karena tekanan pekerjaan.

​Pharma berbalik dengan cepat, langkah kakinya terdengar berat di atas lantai kayu. "Bisa tidak sehari saja kamu tidak membuat kekacauan?!" bentak Pharma, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.

​"Aku nggak sengaja, Pharma. Ini cuma kotak..."

​"Diam!" Pharma mencengkeram lengan Lyra dengan sangat kuat cengkeraman yang jauh dari kata lembut, meninggalkan bekas kemerahan di kulit putih istrinya. Matanya berkilat penuh amarah yang tidak terkendali. "Kamu itu cuma asisten di sini! Kamu harusnya bersyukur saya bawa kamu ke London! Jangan sampai kecerobohanmu ini merusak konsentrasi saya untuk acara besok!"

​Lyra meringis kesakitan, mencoba melepaskan tangannya. "Sakit, Pharma... lepasin!"

​Pharma menghentakkan tangan Lyra dengan kasar hingga Lyra terhuyung ke arah sofa. Bukannya meminta maaf, Pharma malah merapikan jasnya dengan wajah dingin seolah tidak terjadi apa-apa. "Jangan memancing emosi saya lagi. Siapkan dirimu untuk besok, dan ingat, jangan buat malu saya di depan Veronica."

​Setelah pintu apartemen tertutup dengan dentuman keras, Lyra jatuh terduduk di lantai. Ia memegangi lengannya yang berdenyut sakit. Ini bukan pertama kalinya. Pharma sering kali menggunakan kata-kata kasar, bentakan, bahkan kontak fisik yang menyakitkan jika keinginannya tidak dituruti atau jika egonya terusik.

​Luka yang Tersembunyi

​Keesokan paginya di Delphi, Lyra memakai jas dokter lengan panjang untuk menutupi bekas memar di lengannya. Ia berjalan dengan kepala menunduk, berusaha menghindari kontak mata dengan siapa pun, terutama Pharma.

​Namun, ia justru berpapasan dengan Leon di dekat ruang sterilisasi. Leon yang sudah sangat mengenal gerak-gerik Lyra langsung menyadari ada yang salah.

​"Lyra? Kenapa jalanmu pincang sedikit? Dan kenapa pakai jas setebal itu di musim panas?" tanya Leon curiga.

​"Nggak apa-apa, Leon. Cuma kurang tidur," jawab Lyra pendek, mencoba melewatinya.

​Tapi Leon menahan pundaknya. "Lyra, lihat aku."

​Saat Lyra mendongak, Leon melihat sudut mata Lyra yang sedikit sembab. Leon menarik sedikit lengan jas Lyra dan matanya membelalak melihat bekas cengkeraman jari yang membiru di sana.

​"Dia melakukan ini lagi?" bisik Leon dengan nada suara yang penuh amarah. "Pharma keterlaluan. Dia pikir dia siapa bisa memperlakukanmu seperti ini?!"

​"Jangan, Leon... tolong jangan bilang siapa-siapa. Aku... aku bakal balik ke Indonesia sebentar lagi. Aku cuma mau bertahan sampai acara istana selesai," pinta Lyra dengan suara gemetar.

​Di kejauhan, terlihat Pharma sedang tertawa bersama Veronica, tampak sangat berwibawa dan penuh pesona, seolah pria yang baru saja menyakiti istrinya semalam adalah orang yang berbeda.

1
Cici Winar86
di sinopsis nya pharma dokter jantung..tapi ini di bilangnya di sini dokter saraf...
AEERA♤
bacaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!