Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secret
Enjoy your time gays....
10 menit sebelum waktu keberangkatan, Aurora dan teman-temannya sampai di pelabuhan.
Di bantu Amang yang kemarin membantu mereka, Aurora dan teman-temannya menurunkan koper mereka dari dalam bagasi mobil.
"Amang, makasih ya udah anterin kita. Maaf karena udah krepotin." Ucap Aurora.
"Sama-sama Non. Kalau gitu, Amang pamit pulang langsung ya Non?"
"Iya Mang. Sekali lagi makasih ya."
"Iya Non. Semoga perjalanannya aman dan selamat sampai tujuannya. Liburannya juga seru dan menyenangkan."
"Aminn....makasih Mang. Kita pergi dulu ya? Bye bye Amang...."
"Da Non Ara.... Hati-hati."
Sebelum memasuki kapal, Aurora terlebih dulu menunjukkan tiket yang sudah dia beli lewat online pada petugas kapal seperti penumpang lain yang juga akan melakukan penyebrangan ke Karimunjawa.
***
Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke karimunjawa sekitar 4-5 jam perjalanan, cukup melelahkan dan menguras tenaga memang. Tapi, itu semua terbayar dengan pemandangan yang memanjakan mata seperti yang tengah Aurora nikmati sekarang di luar kapal.
"Indah ya Ra?" Ucap seseorang yang tiba-tiba berdiri di samping Aurora dan mengejutkan.
"Iya." Balas Aurora setelah menoleh dan kembali ke arah depan.
"Naik kapal kayak gini ngingetin gue pas kita liburan ke Bali dulu." Ucap Aline mengingat kembali moment yang dulu pernah tercipta diantara mereka.
"Tapi bedanya sekarang pemandangannya lebih indah." Lanjutnya dengan senyum yang tercipta.
"Dan gara-gara itu lo udah gak takut lagi naik kapal." Sahut Aurora terkekeh.
"Berkat itu juga kalian harus kerepotan sendiri." Balas Aline ikut tertawa.
Dulu, sebelum mereka saling mengenal dan dekat satu sama lain, Aline memiliki trauma dengan laut dan kapal karena semasa kecilnya dia pernah hampir mati tenggelam saat berlibur bersama sang ayah.
Sedangkan ide untuk liburan ke Bali lewat jalur darat dan laut adalah saran dari Alice saudara kembarnya.
Itu adalah kali pertama mereka liburan bersama dan Aurora serta teman-temannya hanya mengikutinya saja tanpa pernah bertanya. Karena mereka merasa itu adalah pengalaman baru dan menyenangkan untuk mereka.
Sayangnya, Alice juga sengaja tak memberitahukan tentang trauma yang Aline miliki kepada mereka dengan alasan mungkin Aline sudah melupakannya karena kejadian itu sudah sangat lama.
Alhasil, saat mereka menaiki kapal dan menyebrang, Aline menunjukkan gelagat yang mencurigakan dan membuat mereka semua kerepotan karena harus menenangkan Aline yang tiba-tiba berteriak dan menangis histeris agar tidak mengganggu penumpang yang lainnya.
Tentu setelah kejadian itu Aurora dan teman-temannya langsung memarahi Alice dan menyalahkannya karena kecerobohannya itu jelas sudah membahayakan kesehatan mental Aline dan dirinya juga yang tak mau sepenuhnya terbuka pada mereka tentang keadaan Aline yang sebenarnya.
Tapi, karena semuanya sudah terlanjur terjadi juga, mereka memutuskan untuk tidak memperpanjang pertengkaran itu dan lebih memilih untuk saling mengerti serta memahami satu sama lain.
Sejak saat itu, hubungan pertemanan mereka pun jadi jauh lebih baik, lebih dekat, dan lebih terbuka satu sama lain seperti sekarang.
"Ra? Foto berdua bareng gue yuk?" Ajak Aline yang sudah mengeluarkan handphonenya.
"Tumben lo ngajakin foto? Biasanya paling anti kalo masalah gituan." Ledek Aurora tapi tetap memposisikan dirinya lebih dekat dengan sang sahabat untuk siap di foto.
"Sekali doang......Mumpung pemandangannya lagi bagus juga." Mengangkat handphonenya di depan mereka, Aline mengambil beberapa foto dengan beberapa gaya dan enggel yang berbeda.
"Fotoin gue juga dong? Sendiri aja tapi." Tak mau ketinggalan dengan Aline, Aurora pun mengeluarkan handphonenya dari dalam saku celana lalu memberikannya pada sang sahabat.
Mengambil benda persegi panjang itu dari tangan Aurora, Aline membuat jarak diantara mereka agar bisa memfoto Aurora dengan hasil yang bagus.
Beberapa hasil di dapat, Aline kembali mendekat seraya menyerahkan handphone Aurora kembali.
"Thanks Aline." Ucap Aurora seraya menerima handphonenya.
"Mau di kirim ke Luca ya?" Tanya Aline menebak sekaligus menggoda seraya berdiri di sebelah Aurora kembali seperti awal mereka tadi.
"Tau aja lo." Sahut Aurora yang masih sibuk dengan handphonenya memilih foto yang pas untuk di kirimkan pada Luca.
"Gue perhatiin kayaknya lo udah mulai krasa nyaman sama dia. Udah mulai jatuh cinta?" Seperti halnya Audrey yang akhir-akhir ini menanyakan hal itu, Aurora sama sekali tak tersinggung ketika Aline juga mempertanyakan hal yang sama.
"Gak tau juga. Tapi kalo nyaman.... Mungkin iya." Aurora tak bohong. Jujur, dia mulai merasa nyaman dan sedikit ketergantungan dengan kehadiran Luca di sisinya sekarang.
"Bagus deh kalo gitu. Yang penting lo bahagia, kita juga ikut bahagia buat lo."
"Thanks Aline."
Setelah memastikan foto yang dia kirim di terima dengan baik oleh Luca, Aurora menyimpan kembali benda pipih itu ke dalam saku celana lalu ikut menikmati pemandangan laut yang ada di depannya sama seperti yang tengah Aline lakukan sekarang.
"Woi! Kalian berdua!" Entah tertuju pada siapa teguran itu karena tak hanya mereka yang ada di luar kapal, tapi Aurora dan Aline yang mendengarnya spontan menoleh ke belakang karena terkejut.
"Kita cariin kemana-mana, taunya ada disini." Ucap Alice.
"Siapa suruh nyariin? Kan telfon juga bisa." Balas Aurora.
"Lupa gue."
"Gays? Foto bareng yuk?" Ajak Audrey yang langsung mengatur tripod di tangannya lalu memasang kameranya di sana dan mengarahkannya ke sudut yang tepat.
Background pemandangan yang indah dan tak pernah mereka lihat sebelumnya adalah satu alasan Audrey untuk mengabadikan momen mereka. Selain sebagai pelengkap memori kenangan yang sudah ada juga sebagai pengingat jika mereka begitu bahagia saat bersama-sama.
***
Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya mereka sampai di pelabuhan karimunjawa.
Turun dari kapal, Aurora dan teman-temannya langsung di sambut seorang pria dewasa untuk menjemput dan mengantar mereka ke penginapan.
Setibanya di penginapan, Aurora dan teman-temannya diarahkan ke sebuah ruangan untuk makan siang. Meski sejatinya hal itu sudah terlewat sebab mereka masih ada dalam perjalanan tadi.
"Makasih mas." Ucap Alexa seraya duduk di salah satu kursi di sana.
"Sama-sama mbak. Kalo mbak butuh apa-apa, mbak langsung hubungin saya aja." Balas laki-laki itu seraya menata koper milik Aurora dan teman-temannya di samping pintu tak jauh dari meja makan.
"Kamar kita ada di sebelah mana mas?" Tanya Audrey.
"Di sebelah ruangan ini mbak." Beritahu laki-laki itu menunjuk pintu yang ada di belakang Audrey.
"Oke." Mengangguk sekilas, Audrey pun duduk di sebelah Aurora.
"Kalo gitu saya pamit mbak, mari." Pamit laki-laki itu lalu pergi.
"Gue ada booking 3 kamar, siapa yang mau tidur sendiri?" Tanya Aurora menatap keempat temannya.
"Gue." Sahut Aline tanpa basa-basi.
Awalnya, Aurora berharap jika salah satu diantara mereka kecuali Aline yang akan menjawabnya. Tapi, justru Aline yang lebih dulu meminta. Membuat mereka hanya bisa diam menerima dan mengangguk setuju sebab sudah menjadi kebiasaan Aline selalu tidur sendiri.
***
Menyia-nyiakan waktu di karimunjawa adalah sesuatu yang sangat tidak bermanfaat. Karena itu, Aurora dan teman-temannya memutuskan untuk jalan-jalan sore di sekitar pantai sembari menikmati senja setelah sejenak beristirahat guna memulihkan tenaga.
Mengirim foto📷
"Cantik."
^^^"Eh? Dapet darimana?" Kaget Aurora dengan cepat mengetik pesan balasan karena itu adalah fotonya yang di ambil dari belakang saat dia dan Aline sedang bercanda. ^^^
"Audrey yang barusan kirim."
Seketika menolehkan wajahnya ke belakang, Aurora langsung menatap pada sang sahabat yang tengah asyik bercengkrama dengan Aline.
"Rey? Lo yang kirim foto gue ke Luca?" Tanya Aurora.
"Iya. Hadiah dari gue buat lo berdua. Gak kaleng-kaleng kan hasil jepretan gue?" Jawab Audrey dengan senyum bangga dan tanpa rasa bersalah sama sekali.
Kembali menatap layar handphonenya, Aurora sejenak memperhatikan foto dirinya. Dia tersenyum karena hasil foto Audrey memang tak terlalu mengecewakan untuk di bagikan.
Beralih melihat jam yang ada di pojok layar, Aurora jadi berinisiatif untuk menanyakan sesuatu pada Luca.
^^^"Udah pulang kerja?"^^^
Kurang dari satu menit pesan balasan sudah Luca kirimkan.
"Udah."
Tak hanya membalas lewat sebuah kata-kata, Luca juga menunjukkan foto dimana keberadaannya.
Mengirim foto📷
Mengklik foto yang Luca kirimkan, Aurora memicingkan kedua matanya seraya memperbesar foto itu untuk memastikan keberadaan Luca di mana sebelum akhirnya mengirim pesan balasan.
^^^"Ngapain beli martabak?" Tanya Aurora penasaran. Itu adalah foto penjual martabak yang tengah membuatkan pesanan. ^^^
"Lagi kangen aja sama seseorang."
^^^"Siapa?"^^^
"Seseorang nan jauh di sana."
^^^"Ohh...... Kenapa di kangenin? Emang dia sespesial itu buat lo?" ^^^
"Lebih dari spesial."
"Dia itu.... Pelengkap tulang rusuk gue. Seseorang yang di kirim Tuhan buat gur."
^^^"Pasti lo sayang banget ya sama dia?" ^^^
"Pasti dong..... Gue gak akan pernah biarin air mata kesedihan dia keluar sedikitpun. Apalagi karena gue."
"Kecuali pas dia nemuin buku diary gue."
"Pokoknya, sampe kapanpun gue akan selalu ada buat dia."
Awalnya, Aurora hanya berniat untuk memancing Luca. Tapi melihat pesan balasan Luca yang justru menanggapinya dengan serius membuat Aurora yang justru terpancing sendiri dan mulai merasa kesal.
^^^"Gue jadi iri sama dia. Pasti tuh cewek beruntung banget bisa dimilikin sama cowok sebaik dan setulus lo."^^^
"Gak tau juga sihh.... Soalnya dia belum pernah bilang cinta sama gue."
^^^"Emang kalo boleh tau, tuh cewek siapa namanya? Gue mau tanya sama dia biar bisa dapetin cowok sama kayak cowoknya."^^^
"Gak gampang buat kenalan sama dia. Dia orangnya gak suka di ekspos soalnya."
"Tapi gue bisa kasih tau inisial namanya sama lo."
^^^"Siapa?" ^^^
"Pengen tau aja deh. Hehehe...." 😀😀😀
^^^"Ohh... Gitu?" 😶😶😶^^^
Sementara itu, Luca yang sejak awal tahu jika Aurora sengaja menguji dan memancing kesetiaan hatinya justru dengan senang hati menanggapinya. Bahkan, dia juga dengan sengaja membumbuinya agar Aurora semakin kesal di buatnya.
Terbukti, pesan terakhir yang istrinya itu kirimkan sudah sangat jelas membuktikannya jika Aurora memang benar-benar kesal.
Tak berniat menyudahinya begitu saja. Luca berpikir untuk menjahili Aurora sedikit lagi.
"Hahahaahaha..." 😂😂😂
"Becanda doang kali...." ✌
"Gitu aja ngambek?"
^^^"Lo duluan yang mulai."^^^
^^^"Dasar Luca nyebelin." 😡😡😡^^^
"Eh eh, gak boleh marah beneran dong?"
^^^"Bodo amat!!"^^^
Sadar jika Aurora benar-benar marah padanya, Luca tak lagi mengirimkan pesan untuk menenangkan sang istri. Melainkan langsung menekan ikon panggilan di pojok kanan atas layar untuk menelfon Aurora.
"Waduh, marah beneran dia." Gumam Luca panik saat panggilannya di matikan begitu saja.
Tak kehabisan akal, Luca langsung menscroll nomor lain di kontak handphonenya untuk meminta bantuan orang itu.
"Kenapa Ca?" Tanya seseorang di ujung sana tanpa Luca harus menunggu lama.
^^^"Lo masih sama Ara kan' Rey?" Tanya Luca tanpa basa-basi. ^^^
Tut tut... Tut tut....
Tapi, belum sempat Luca mendapat jawaban atas pertanyaannya, suara panggilan terputus sudah lebih dulu terdengar. Menandakan jika seseorang di sebrang sana mematikannya secara sepihak.
Tak mau menyerah dan kehabisan akal, Luca berusaha untuk menelfon Audrey kembali. Tapi sayangnya, panggilan itu kembali di tolak berkali-kali bahkan tidak aktif.
Di tempat berbeda, Audrey yang handphonenya tiba-tiba di rebut begitu saja oleh Aurora dengan wajah masam, cemberut bercampur marah dan kesalnya, seketika merebut handphonenya kembali dari tangan Aurora saat untuk kesekian kalinya sang sahabat mematikan panggilan yang masuk ke sana.
"Ra? Astaga......Main rebut-rebut aja. Dimatiin lagi." Omel Audrey seraya menekan tombol on di pinggir handphone karena handphonenya sudah di matikan oleh Aurora.
"Kenapa lo? Berantem sama Luca?" Tanya Audrey menebak seraya melihat wajah Aurora yang begitu jutek.
"Bukan urusan lo. Pokoknya kalo Luca telfon lagi gak usah diangkat." Peringat Aurora meminta.
"Sensi amat mbaknya, pms lo?"
"Gak usah banyak tanya!" Setelah mengatakan itu, Aurora melangkah pergi begitu saja meninggalkan teman-temannya.
"Beh......kalo Ara udah marah kayak gitu, bahaya ini mah tandanya." Sahut Alexa menatap punggung Aurora yang sudah jauh meninggalkan mereka.
"Lo sih Rey...." Ucap Alice menyenggol lengan Audrey dengan sikunya.
"Kok gue sih yang di salahin?" Balas Audrey tak terima.
"Ya kan lo yang awalnya kirim foto Ara ke Luca. Pasti mereka berantem gara-gara itu."
"Ya maaf, kan gue gak tau kalo ujung-ujungnya mereka bakalan berantem kayak gitu."
"Tapi tunggu deh, aneh gak sih kalo Ara marah cuma gara-gara hal kayak gitu?" Tanya Alexa merasa aneh.
"Maksud lo Lex?" Sahut Aline bingung.
"Ini kayak bukan Aurora yang kita kenal tau. Ara tuh biasanya lebih bisa tenang dan bersikap dalam situasi dan kondisi apapun."
"Gue setuju tuh. Gue rasa ada yang mulai berubah sama Ara sejak kita berangkat ke sini. Apa jangan-jangan...." Ucap Alice menggantungkan kalimatnya seraya menepuk-nepuk jari telunjuknya dengan dagu seolah berpikir kesimpulan apa yang tepat.
"Ara udah mulai jatuh cinta sama Luca." Jawab mereka kompak dan serempak dengan senyum bahagia setelah hampir satu menit terdiam.
"Mending lo angkat dulu itu deh telpon Si Luca. Tanpa sama dia apa yang ngebuat mereka berantem." Ucap Aline memberi perintah karena sejak tadi telfon Audrey terus saja berbunyi. Sekaligus, dia juga ingin lebih memastikan apa dugaan mereka tentang Aurora barusan benar atau tidak.
^^^"Hallo Ca."^^^
"Kok lo matiin sih Rey? Gue kan belum selesai ngomong." Omel Luca marah dan sedikit kecewa.
^^^"Bukan gue, tapi istri lo. Dia gak ngebolehin kita buat ngangkat telpon lo." Tak ingin terjadi salah paham dan kembali di salahkan, Audrey langsung memberi pembelaan dan penjelasan tentang apa yang terjadi sebenarnya. ^^^
"Ara beneran marah Rey?" Tanya Luca memastikan.
^^^"Ya gitu deh. Lo ngapain ha sampe bikin dia semarah itu?"^^^
Menghembuskan nafasnya berat. Luca benar-benar terlihat merasa bersalah karena sudah membuat Aurora marah padanya.
"Emang salah gue juga sih.... Becandanya kelewatan." Sesal Luca jujur akhirnya.
^^^"Haaa..... Gue kira kenapa? Kita aja sampe kaget Ara tiba-tiba bisa marah kayak gitu." Menghembuskan nafas lega, Audrey bersyukur karena ternyata itu bukan masalah besar. ^^^
"Makanya gue langsung telfon lo buat minta maaf sama dia, karena Ara tiba-tiba matiin hpnya."
^^^"Ara tuh biasanya gak bakalan kayak gitu. Menurut gue sih dia mulai jatuh cinta sama lo sekarang. Cuma, dia bingung aja cara nyampeinnya gimana. Gue harap lo mulai bisa ngerti sama perubahan sikap Ara yang kayak gitu."^^^
"Pasti. Gue juga gak nyangka dia bakalan semarah itu. Thanks ya Rey udah selalu ajarin gue tentang Ara."
^^^"Sama-sama. Mending lo telfon lagi nanti kalo Ara udah mulai agak tenangan."^^^
"Emang sekarang dia dimana? Gak bareng sama kalian?"
^^^"Gak. Dia lagi kabur, menjauh."^^^
"Lo mau bantuin gue buat bujukin Ara kan 'Rey?"
^^^"Iya. Nanti gue pasti kabarin lo."^^^
"Sekali lagi thanks ya Rey. Sorry kalo gue jadi krepotin kalian."
^^^"Gak sama sekali Luca. Santai aja kali."^^^
"Ya udah, gue mau jalan balik dulu."
^^^"Lo hati-hati. Gak usah ngebut."^^^
"Apa katanya Luca?" Tanya Alice sesaat setelah Audrey mematikan telfonnya.
"Cuma becanda doang...... Tapi Ara malah marah beneran."
"Aneh-aneh aja." Kekeh Alexa seraya menggelengkan kepala. Tak percaya jika yang membuat sahabatnya itu marah hanya hal sepele yang harusnya tak jadi masalah. Tapi ya.... Mau bagaimana? Namanya juga orang jatuh cinta, apapun bisa salah.
"Ya udah yuk, samperin Ara." Ajak Alice seraya tersenyum dan merangkul bahu Aline.
***
Mendudukkan dirinya di atas pasir pantai beralaskan sepasang sandal yang dia pakai, Aurora menatap langit di depannya dengan cahaya senja yang sudah menghilang.
Menghembuskan nafasnya berat, perasaan kesal di hati karena candaan Luca masih Aurora rasakan. Dia tak tahu kenapa dia bisa terpancing begitu saja padahal dia tahu jika Luca hanya menggodanya saja.
Kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar, Aurora berharap jika perasaan tak nyaman dan mengganggu itu bisa segera hilang.
"Senja emang selalu indah ya?" Ucap Aline diiringi senyum tipis seraya melirik Aurora di sebelahnya.
"Bad mood amat mbaknya, kenapa sih?" Tanya Audrey seraya tersenyum dan merangkul pundak Aurora.
"Gak papa."
"Kangen ya lo sama Luca?"
"Gak juga." Bukan tak mau mengakui, tapi Aurora sendiri masih bingung tentang perasaannya. Apakah dia memang sedang merindukan Luca atau hanya merasa asing karena terbiasa ada Luca di sisinya.
"Kita temenan itu udah lama Aurora..... Mau kayak apapun lo coba boong sama kita, itu percuma. Kita udah hafal sama sifat lo."
Menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan, terlihat jelas jika Aurora tengah di liputi perasaan galau sekarang.
"Haaa...... Jujur gue gak tau sama perasaan gue ke dia sekarang itu kayak gimana?" Ucap Aurora akhirnya mau berterus-terang. Memendamnya seorang diri rasanya hanya akan percuma karena dia pun tak akan mendapat solusi apa-apa tentang permasalahannya. Mungkin dengan membaginya akan jauh lebih baik. Pikir Aurora.
"Kenapa bingung? Kalo kangen kan tinggal bilang aja. Kalo emang udah cinta ya juga tinggal bilang aja. Apa susahnya?" Sahut Alice dengan begitu mudahnya. Seolah dia lupa jika sang sahabat tak sama dengan dirinya yang memang selalu mudah mengungkapkan perasannya. Aurora adalah gadis yang begitu tertutup jika soal cinta.
"Gue takut sikap Luca ke gue jadi berubah."
"Apanya yang lo takutin?" Tanya Alexa penasaran. Dia merasa ada sesuatu yang lain yang tengah mengganjal pikiran Aurora sekarang sehingga membuatnya ragu tentang perasaannya sendiri.
"Sebelum kita berangkat ke sini, gue gak sengaja nemuin rahasia Luca tentang gue."
"Huh? Rahasia? Gimana-gimana?" Tanya Alice terkejut namun antusias ingin tahu lebih.
"Cowok yang nolongin gue pas kejadian di Korea waktu itu..... Dia Luca."
"Huh? Serius lo Ra?" Aurora mengangguk lalu tertunduk lemas.
Berbeda dengan Alice yang masih bisa memperlihatkan ekspresi keterkejutannya, ketiga teman Aurora yang lain justru terlihat biasa-biasa saja saat Aurora mengatakan hal itu. Seolah secara tidak langsung memberitahu Aurora jika ketiganya sudah tahu akan hal itu.
"Rey, kayaknya emang udah waktunya kita jujur sama Ara soal masalah ini sekarang." Ucap Aline menatap Audrey serius. Membuat Aurora seketika mengangkat kepalanya dan menatap keduanya bergantian.
"Jujur masalah apa?" Tanya Aurora bingung.
Tak langsung menjelaskan, mereka berempat justru saling melempar pandang satu sama lain, seolah mengatakan jika sebenarnya tak ada satupun dari mereka yang siap untuk bercerita pada Aurora.
"Audrey. Lo dong yang jelasin ke Ara semuanya...." Perintah Aline sedikit kesal akhirnya karena jengah Audrey yang hanya diam saja. Pasalnya, di banding mereka Audrey lah yang paling berhak tentang itu.
Menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya, Audrey terlihat menguatkan diri dan hatinya untuk bercerita.
"Sebenernya..... Kita semua udah tau kalo Luca itu cowok yang udah nolongin lo di kejadian waktu itu. Kita juga udah tau kalo dia udah suka sama lo sejak lo SMA. Pertemuan lo sama Luca di toko buku waktu itu, itu bukan kebetulan. Semuanya udah kita rencanain dan kita setting sedemikian rupa. Dan..... Gue sama Luca itu.... Kita berdua sebenernya saudara sepupu." Ungkap Audrey panjang lebar seraya mencuri-curi pandang pada Aurora yang duduk di sebelahnya takut kalau-kalau Aurora tiba-tiba berubah marah padanya.
"Kenapa kalian semua lakuin ini ke gue?" Antara marah dan kecewa, Aurora tak tahu harus bersikap bagaimana dengan teman-temannya.
"Tadinya.... Kita cuma pengen buat Luca berani deketin lo. Eh, taunya dia malah langsung ngajakin lo nikah." Ucap Alexa dengan perasaan bersalah.
"Awalnya Luca juga mau ceritain semua ini ke lo sebelum kalian nikah, tapi kita semua yang gak setuju. Karena kita takut lo bakalan keinget lagi sama kejadian waktu itu dan malah mau nerima Luca karena rasa balas budi lo doang." Sahut Audrey lagi menambahkan.
"Kalo sekarang lo emang udah mulai jatuh cinta sama dia, ungkapin aja. Setau gue, Aurora yang gue kenal itu gak pernah overthinking sama perasaannya." Timpal Alice seraya tersenyum dan merangkul pundak Aurora.
"Tenang aja.... Perasaan Luca sama lo dari dulu sampai sekarang itu gak akan pernah berubah. Gue jamin. Gue tau dia dari kita kecil. Dia itu sama kayak lo, gak gampang buat jatuh cinta sama seseorang. Tapi, sekalinya udah nemu yang cocok pasti di jaga sampai kapanpun. Makanya, pas gue tau dia suka sama lo, gue langsung dukung 100%. Selain karena lo sahabat gue, gue juga yakin dan percaya kalo dia gak akan nyakitin lo." Melakukan perannya sebagai seorang sahabat yang baik, Audrey memberikan nasehatnya agar Aurora tak lagi ragu tentang perasaannya.
Aurora terdiam. Dia bingung harus berkomentar apa karena ulah teman-temannya. Perasaannya tentang Luca juga semakin berkecamuk di dalam hati. Apakah nanti dia bisa mencintai Luca dengan sepenuh hati atau justru perasaan Luca terbalas karena dirinya yang merasa enggan dan bersalah kepada Luca.
Di saat rasa bingung tengah melanda, handphone milik Audrey tiba-tiba berbunyi. Menandakan ada sebuah panggilan masuk.
Tak langsung menjawabnya, Audrey memberikan kode pada ketiga temannya jika panggilan itu dari Luca dan dia ingin Aurora yang mengangkatnya.
Mengambil benda pipih itu dari tangan Audrey, Alexa langsung meletakkannya di tangan Aurora yang membuat Aurora sedikit kebingungan menatap handphone itu.
"Udah.... Sekarang angkat dulu tuh telponnya. Kasian mas suaminya. Lagi dilanda rindu karena LDR, eh istrinya malah ngambek gak jelas gitu." Ucap Alexa memerintah diiringi ledekan yang membuat mereka terkekeh dan Aurora tersipu malu.
"Kayak anak ABG yang baru pacaran aja lo. Sama-sama kangen tapi gengsi." Sahut Alice ikut menggoda.
"Yuk gays." Ajak Audrey seraya berdiri. Berniat meninggalkan Aurora sendiri agar bisa menyelesaikan permasalahan hatinya sendiri.
"Da Ara....." Pamit Alice meninggalkan lalu benar-benar pergi bersama keempat temannya yang lain.
"Hey Ra." Sapa Luca dengan senyum sumringah karena akhirnya panggilannya di jawab dan yang mengangkatnya adalah Aurora. Sang istri tercinta. Awalnya Luca pikir itu Audrey.
^^^"Apa?" Tanya Aurora ketus tanpa mau melihat wajah Luca lebih lama. ^^^
"Galak banget sih istrinya Luca ini." Ucap Luca dengan senyum menggoda berharap Aurora mau meluluhkan hatinya. Tapi sayangnya, Aurora tetap teguh dengan sikap dinginnya yang membuat Luca mau tak mau akhirnya menyerah.
"Sorry ya kalo candaan gue tadi bikin lo tersinggung." Ucap Luca lagi. Kali ini dengan wajah serius tanpa candaan sedikitpun.
^^^"Hm." Seakan masih marah, Aurora hanya bergumam sebagai jawaban dan tetap tak mau menatap Luca. ^^^
"Kok masih jutek gitu mukanya? Di maafin gak?"
^^^"Iya."^^^
"Beneran di maafin?" Tanya Luca sekali lagi memastikan.
^^^"Iya Luca....." ^^^
"Kayak gak Ikhlas gitu?"
Mendengus kesal, Aurora benar-benar harus ekstra bersabar untuk menghadapi Luca yang terkadang memang menjengkelkan.
^^^"Terus lo maunya gimana?" Tanya Aurora dingin dan ketus namun mau menatap Luca. ^^^
"Nadanya yang lembut.... Sambil senyum juga."
^^^"Ya udah iya. Udah dimaafin Luca....." Berusaha memperlihatkan senyum terbaiknya dan menurunkan nada bicaranya selembut mungkin, Aurora benar-benar mengikuti keinginan Luca. Jika tidak, keduanya pasti hanya akan ada dalam perdebatan tak berujung yang membuat Aurora jengah dan justru benar-benar kembali marah. ^^^
"Nah..... Gitu dong..... Kan enak ngeliatnya." Tersenyum puas. Luca terlihat sungguh bahagia karena akhirnya Aurora mau memaafkannya. Padahal, Luca juga tahu jika Aurora sedikit terpaksa melakukannya. Tapi itu tak jadi masalah asalkan dia bisa melihat senyum Aurora.
Beberapa saat berlalu, keduanya hanya saling diam dan menatap satu sama lain.
^^^"Lo dimana?" Tanya Aurora akhirnya setelah menyadari jika Luca sedang tidak ada di kamarnya. ^^^
"Rumah Mama. Tadi Paps nyuruh dateng."
^^^"Luca?"^^^
"Hm? Kenapa? Kangen ya lo sama gue?" Seakan lupa jika Aurora baru saja marah padanya. Luca kembali melemparkan candaan yang membuat Aurora kembali memasang wajah masam dan cemberutnya.
^^^"Gak usah mulai lagi deh Luca." Peringat Aurora tak suka. ^^^
"Hehehehe....." Kekeh Luca seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu membuat tanda peace dengan tangannya.
Tok tok tok....
Ceklek..
Bersamaan dengan suara terbukanya pintu, Luca mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamarnya.
"Sayang, Papa udah pulang tuh. Kamu di suruh ke ruang kerjanya katanya." Beritahu Ny. Agnes dari ambang pintu.
"Iya Ma."
Pintu yang kembali di tutup oleh sang ibu membuat Luca kembali mengarahkan pandangannya ke layar handphone yang ada di tangannya.
"Ra, udah dulu ya?" Pamit Luca mengalihkan pandangnya kembali ke layar handphone untuk menatap Aurora.
^^^"Iya. Kalo sekiranya emang udah kemaleman buat balik, nginep di rumah Mama aja. Gak usah pulang."^^^
"Siap Bu Komandan. Da Ara..... Love you." Tersenyum dan melambaikan tangannya pada Aurora, Luca berharap ada balasan kata yang dia dapat. Tapi nyatanya, Aurora hanya tersenyum lalu mematikan panggilan mereka begitu saja.
Sedikit kecewa, Luca pun melempar handphonenya di atas tempat tidur lalu berjalan ke luar kamar untuk menemui sang ayah.