NovelToon NovelToon
Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Almira

Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Yang Mengantar Ayah Pergi

Hari ini adalah hari ketika ayah akan pergi merantau ke luar kota. Tekadnya sudah bulat, tak bisa lagi digoyahkan. Sejak kehancuran yang melandanya setahun lalu, ayah sadar bahwa hidup tak akan berubah jika ia terus terpuruk di tempat yang sama. Ia harus bangkit, meski itu berarti meninggalkan rumah dan orang-orang yang paling ia cintai.

Ayah akan dibawa oleh seorang teman satu kampung menuju kota itu. Teman ayah sudah lebih dulu merantau dan berhasil di sana. Dari ceritanya, kota itu seperti menjanjikan harapan—tentang pekerjaan, tentang penghasilan, tentang kehidupan yang mungkin lebih layak. Harapan kecil pun tumbuh di hati kami, meski bercampur dengan rasa takut yang tak pernah benar-benar hilang.

Namun di balik semangat dan keyakinan ayah, ada hati yang dipenuhi kegelisahan dan kesedihan. Hati itu adalah milik ibu. Sejak malam sebelumnya, ibu nyaris tak bisa tidur. Ia bolak-balik bangun, duduk termenung, lalu kembali berbaring tanpa benar-benar memejamkan mata. Ibu begitu takut harus berpisah dari ayah, meski ia tahu kepergian itu semata-mata demi mencari nafkah dan menyelamatkan keluarga kami.

Sebenarnya ayah telah menawarkan agar ibu ikut bersamanya. Namun ibu tak bisa. Anak-anak masih kecil, dan sebagian dari kami sudah bersekolah. Adik bungsuku saat itu baru berusia tiga tahun, masih sering terbangun di malam hari dan menangis mencari ibu. Aku sendiri baru enam tahun, masih terlalu kecil untuk memahami keadaan, tapi cukup besar untuk merasakan perubahan. Ibu memilih bertahan—menjadi kuat di rumah, memeluk kami lebih erat, meski hatinya dipenuhi kecemasan yang tak terucap

.

Pagi itu, suasana rumah terasa begitu asing. Tidak ada tawa, tidak ada obrolan ringan seperti biasanya. Rumah yang sempit terasa jauh lebih sunyi. Hanya suara langkah pelan dan helaan napas panjang yang terdengar, seolah setiap orang sedang menahan sesuatu di dalam dadanya. Ibu sibuk menyiapkan bekal sederhana untuk ayah, meski tangannya sesekali gemetar, dan matanya berkali-kali basah oleh air mata yang ia tahan.

Ayah duduk di ruang tengah, memandangi kami satu per satu. Tatapannya lama, seakan ingin menghafal wajah-wajah kami. Ketika matanya berhenti pada ibu, ada raut lelah dan bersalah yang sulit disembunyikan.

“Jaga anak-anak ya,” ucap ayah pelan, hampir seperti bisikan.

Ibu mengangguk, matanya berkaca-kaca.

“Abang juga jaga diri di sana. Jangan terlalu memaksakan diri,” jawab ibu, berusaha tersenyum meski suaranya bergetar dan nyaris pecah.

Ayah meraih tangan ibu, menggenggamnya erat, seolah takut kehilangan kekuatan jika dilepaskan.

“Kalau sudah ada rezeki dan keadaan membaik, abang pasti pulang,” katanya penuh janji—janji yang terdengar begitu jauh.

Ibu menunduk. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi punggung tangan ayah. Ia cepat-cepat menyekanya, berpaling agar kami tak melihat betapa rapuh hatinya pagi itu.

Aku berdiri di Dekat pintu, memeluk adik bungsuku yang belum mengerti apa-apa. Adik hanya menempel di dadaku, sibuk memainkan bajuku, tak tahu bahwa pelukan ayah sebentar lagi akan menghilang. Baginya, ayah mungkin hanya pergi sebentar. Tapi bagiku, kepergian itu terasa panjang—terasa seperti sesuatu yang tak akan kembali dengan cara yang sama.

Ayah lalu mendekat dan berlutut di hadapanku. Tangannya mengusap kepalaku perlahan.

“Jadi anak yang baik ya. Jaga ibu dan adik,” katanya lembut.

Aku mengangguk pelan, meski ada sesuatu yang menekan dadaku. Aku ingin menangis, tapi air mataku tak juga jatuh. Entah mengapa, hatiku terasa kosong.

Setelah itu, ayah beralih ke abang-abang dan kakakku yang berdiri di ruang tamu. Satu per satu, ayah memeluk mereka erat dan menyalami tangan mereka, seolah ingin menitipkan seluruh rindunya dalam pelukan singkat itu.

Tangis pecah. Hampir semua anak-anaknya menangis, memanggil ayah, memeluk bajunya, tak ingin dilepaskan.

Namun aku tetap diam.

Entah mengapa, aku merasa semua ini seperti hal yang biasa saja, seakan tak ada yang benar-benar hilang.

Mungkin karena sejak kecil, aku tak pernah benar-benar merasakan kasih sayang ayah sepenuhnya. Aku mengenalnya, tapi tak pernah merasa benar-benar dimiliki olehnya.

Aku mengangguk lagi, meski dadaku terasa sesak dan perih. Aku belum sepenuhnya mengerti arti merantau, tapi aku tahu satu hal—setelah hari ini, rumah kami tak akan lagi sama.

Ketika langkah ayah menjauh dari rumah, ibu berdiri lama di ambang pintu. Ia tak bergerak, hanya menatap jalan hingga sosok ayah benar-benar menghilang dari pandangan. Pagi itu, untuk pertama kalinya, aku melihat ibu menangis tanpa suara—tangisan yang tak meledak, tapi perlahan menghancurkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!