NovelToon NovelToon
Mereka Mengira Aku Buta

Mereka Mengira Aku Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?

On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Ketika Permainan Menunjukkan Giginya

Marcus tidak tidur malam itu.

Bukan karena pekerjaan. Bukan karena angka. Bukan karena ancaman nyata.

Melainkan karena perasaan yang tidak bisa ia beri nama.

Rumah terasa berbeda.

Bukan berubah secara fisik—semuanya masih berada di tempatnya. Sofa tetap sejajar. Lampu tetap hangat. Jam tetap berdetak. Namun Marcus merasakan sesuatu yang menggeser keseimbangan ruang.

Seolah rumah itu… tidak lagi sepenuhnya miliknya.

Ia berdiri di depan jendela kamar kerja, menatap kota yang masih menyala meski hampir dini hari. Biasanya pemandangan itu menenangkan. Mengingatkannya bahwa dunia bergerak sesuai ritme yang bisa ia baca.

Malam ini terasa asing.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari kepala keamanan internal:

Log sistem berubah. Ada akses yang tidak tercatat.

Marcus membaca ulang kalimat itu tiga kali.

Tidak tercatat.

Itu mustahil.

Sistem itu dirancang berlapis. Bahkan percobaan masuk saja meninggalkan jejak.

Kecuali…

Seseorang tahu persis bagaimana cara menghilang di dalamnya.

Marcus menekan panggilan.

“Jelaskan,” katanya begitu sambungan terbuka.

“Tidak ada pelanggaran langsung, Pak,” suara di ujung sana terdengar hati-hati. “Lebih seperti… pergeseran struktur log. Seolah seseorang merapikan ulang jalur.”

“Dari dalam?”

“Hanya akses internal yang bisa melakukan itu.”

Marcus diam.

Akses internal berarti lingkaran sangat kecil.

Sangat kecil.

Dan semua orang di lingkaran itu… loyal.

Atau setidaknya, seharusnya loyal.

“Pantau semua aktivitas,” kata Marcus. “Tanpa suara. Aku tidak mau kepanikan.”

“Baik, Pak.”

Panggilan berakhir.

Marcus menurunkan ponsel perlahan.

Instingnya berbicara lebih keras dari logika

Ini bukan sabotase.

Ini pesan.

Seseorang ingin ia tahu bahwa sistemnya bisa disentuh.

Dan itu lebih mengganggu daripada kerusakan nyata.

...****************...

Pagi datang terlalu cepat.

Elena sudah duduk di meja makan ketika Marcus turun. Aroma kopi memenuhi ruangan. Wanita itu tampak tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang hidupnya baru saja melewati kecelakaan, manipulasi, dan tekanan.

Tongkat putihnya bersandar rapi di kursi.

Simbol.

Marcus memperhatikannya.

“Kau bangun cepat,” katanya.

“Aku tidak tidur lama,” jawab Elena santai.

Marcus duduk. Menatapnya.

“Kau tidak terlihat lelah.”

Elena tersenyum kecil. “Aku terbiasa.”

Jawaban sederhana.

Namun Marcus merasa seperti sedang berbicara dengan seseorang yang menyembunyikan lapisan lain di balik setiap kata.

“Kau ada rencana hari ini?” tanyanya.

“Bertemu seseorang.”

“Siapa?”

Elena mengangkat cangkirnya. “Orang yang dulu tidak pernah melihatku.”

Marcus menahan napas sepersekian detik.

Kalimat itu terdengar ringan… tapi terasa seperti sindiran yang tidak ia pahami sepenuhnya.

“Kau sering bicara seperti itu akhir-akhir ini,” katanya.

“Seperti apa?”

“Seolah semuanya punya arti ganda.”

Elena menoleh ke arahnya.

“Bukankah semua hal memang begitu?”

Tatapan mereka bertemu.

Marcus merasakan sesuatu yang dingin merayap di dadanya.

Ia tidak suka tidak memahami arah percakapan.

Dan akhir-akhir ini… Elena selalu selangkah di depan.

...****************...

Kantor terasa lebih tegang dari biasanya.

Marcus berjalan masuk tanpa menyapa siapa pun. Tatapan staf mengikuti langkahnya—bukan karena takut, tapi karena atmosfer yang ia bawa.

Selene sudah menunggu.

“Ada perkembangan,” katanya pelan.

Marcus menutup pintu.

“Bicara.”

Selene menyerahkan tablet.

“Beberapa aset dipindahkan. Legal. Bersih. Tapi waktunya… mencurigakan.”

Marcus membaca cepat.

Transfer kecil.

Tidak signifikan.

Namun pola waktunya berlapis—seperti seseorang sedang menguji reaksi sistem.

“Siapa yang punya akses?” tanyanya.

Selene menelan ludah.

“Daftarnya pendek.”

Marcus menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya, Selene tidak langsung membalas tatapan itu.

Itu cukup.

“Kau tidak percaya aku?” katanya pelan.

Marcus menjawab tanpa emosi, “Aku percaya data.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari tuduhan langsung.

Selene mengangguk kaku.

“Aku akan periksa ulang.”

Marcus tidak menghentikannya saat ia keluar.

Namun pikirannya sudah bergerak ke arah lain.

Jika bukan Selene…

Siapa?

Dan kenapa semuanya mulai bergerak bersamaan?

...****************...

Di sisi kota lain, Elena duduk di ruang pertemuan kecil dengan Adrian.

Tidak ada formalitas.

Tidak ada basa-basi.

“Hari ini dia mulai curiga,” kata Adrian.

“Bagus,” jawab Elena.

“Kita hampir terlihat.”

Elena menatapnya tenang.

“Marcus hanya melihat apa yang ia percaya bisa ia kendalikan.”

Adrian menghela napas.

“Kau bermain dekat dengan api.”

Elena tersenyum tipis.

“Api hanya berbahaya jika kau takut terbakar.”

Ia mendorong map ke arah Adrian.

“Langkah berikutnya.”

Adrian membukanya—matanya sedikit melebar.

“Ini besar.”

“Belum,” kata Elena. “Ini hanya suara.”

“Dan setelah itu?”

Elena bersandar.

“Kita buat dia mendengar.”

Adrian menatapnya lama.

“Kau benar-benar ingin menghancurkannya.”

Elena menggeleng pelan.

“Aku ingin dia melihat.”

Perbedaan itu halus.

Namun bagi Elena… segalanya.

...****************...

Sore hari, Marcus menerima laporan yang membuat darahnya terasa dingin.

Salah satu anak perusahaan mengirim notifikasi audit mendadak.

Audit internal.

Tanpa perintahnya.

Marcus membaca ulang dokumen itu.

Otorisasi sah.

Tanda tangan digital valid.

Tapi bukan miliknya.

Mustahil.

Ia berdiri terlalu cepat hingga kursinya bergeser.

“Selene!” panggilnya.

Wanita itu masuk hampir berlari.

“Audit ini apa?” Marcus menunjukkan layar.

Selene membaca.

Wajahnya memucat.

“Aku… tidak tahu.”

Marcus menatapnya tajam.

“Kau tidak tahu?”

“Ini bukan jalur biasa,” katanya cepat. “Seseorang mengeksekusi dari akses eksekutif.”

Ruangan terasa mengecil.

Marcus merasakan sesuatu yang jarang ia alami:

Ketidakpastian total.

Seseorang menggunakan sistemnya.

Dengan izin yang tampak sah.

Dan ia tidak tahu bagaimana menghentikannya tanpa membuka semuanya.

Itu jebakan yang cerdas.

Sangat cerdas.

Dan untuk pertama kalinya—

Marcus tersenyum tipis.

Bukan karena senang.

Tapi karena ia mengenali satu hal:

Ia sedang ditantang.

Malam kembali turun.

Elena duduk di balkon rumah, angin malam menyentuh wajahnya.

Ponselnya bergetar.

Pesan masuk:

Audit berjalan. Dia bereaksi.

Elena mengetik:

Bagus. Biarkan dia mengejar bayangan.

Ia menutup ponsel.

Langkah Marcus terdengar mendekat.

“Kau menikmati malam?” tanyanya.

Elena mengangguk.

“Tenang.”

Marcus berdiri di sampingnya.

“Tenang itu menipu,” katanya.

“Kadang,” jawab Elena. “Kadang itu hanya menunggu.”

Marcus menoleh.

“Menunggu apa?”

Elena tersenyum samar.

“Kebenaran.”

Marcus menatapnya lama.

Dan di detik itu, sesuatu di dalam dirinya berbisik:

Wanita ini tahu sesuatu.

Lebih dari yang seharusnya.

Namun sebelum ia bisa bertanya—

lampu rumah berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu mati.

Kegelapan menyelimuti ruangan.

Marcus langsung siaga.

“Generator—”

Lampu menyala kembali.

Semua tampak normal.

Kecuali satu hal.

Layar televisi di ruang tamu menyala sendiri.

Tanpa suara.

Hanya satu kalimat putih di latar hitam:

KENDALI ADALAH ILUSI

Marcus berdiri membeku.

Elena tidak bergerak.

Dan di tengah keheningan yang terasa terlalu tajam

Marcus akhirnya menyadari:

Permainan ini…

tidak lagi diam.

Dan seseorang—

sedang berbicara langsung kepadanya.

Marcus tidak menyadari ia berhenti bernapas sampai dadanya terasa sesak.

Tulisan itu tetap menyala di layar.

KENDALI ADALAH ILUSI

Bukan ancaman. Bukan peringatan.

Pernyataan.

Dan justru itu yang membuatnya lebih mengganggu.

Marcus berjalan mendekat perlahan. Setiap langkah terasa berat, seolah ruangan berubah menjadi air. Ia meraih remote—layar tidak merespons. Tulisan itu tetap diam, bersih, tanpa efek visual.

Seperti seseorang yang yakin tidak perlu berteriak agar didengar.

“Elena,” katanya tanpa menoleh. “Kau melihat ini?”

Hening sepersekian detik.

“Aku mendengar perubahan suara di ruangan,”

jawab Elena tenang. “Ada apa?”

Marcus menatap layar lagi.

Ia ingin mengatakan semuanya. Ingin melihat apakah reaksi Elena selaras dengan situasi ini. Namun instingnya menahannya.

Jika ini permainan…

ia tidak ingin menunjukkan bahwa ia terkejut.

“Gangguan sistem,” katanya akhirnya.

Elena mengangguk kecil. “Teknologi memang sering merasa lebih pintar dari pemiliknya.”

Kalimat itu terdengar ringan.

Namun Marcus merasakannya seperti jarum tipis.

Ia mematikan listrik utama melalui panel dinding.

Layar langsung gelap.

Ruangan kembali normal.

Terlalu normal.

Marcus berdiri diam beberapa detik sebelum menyalakan kembali daya. Televisi tidak menyala lagi. Tidak ada jejak tulisan. Tidak ada indikasi gangguan.

Seolah tidak pernah terjadi.

Namun Marcus tahu lebih baik.

Ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi kepala keamanan.

“Aku ingin laporan penuh sistem rumah. Sekarang.”

“Masalah, Pak?”

“Seseorang masuk.”

Sunyi di ujung sana.

“Itu… tidak mungkin.”

Marcus menatap ruang tamu.

“Kau punya lima belas menit untuk membuktikan aku salah.”

Panggilan ditutup.

Ia menoleh pada Elena. Wanita itu duduk santai, jemarinya bertaut di pangkuan. Ekspresinya netral.

Terlalu netral.

“Kau tidak terganggu?” tanya Marcus.

“Haruskah aku?” Elena membalas.

“Seseorang baru saja masuk ke sistem rumah kita.”

Elena memiringkan kepala sedikit.

“Kalau seseorang bisa masuk,” katanya pelan, “berarti pintunya memang tidak pernah benar-benar terkunci.”

Marcus menatapnya tajam.

“Aku tidak suka filosofi saat menghadapi ancaman.”

Elena tersenyum tipis. “Ancaman selalu lebih jujur daripada rasa aman.”

Keheningan jatuh.

Marcus merasakan ketegangan merayap di tulang belakangnya. Percakapan ini terasa seperti duel—tanpa senjata yang terlihat.

Lampu ponselnya menyala.

Laporan masuk.

Ia membuka cepat.

Tidak ada akses ilegal terdeteksi. Sistem normal.

Marcus membaca ulang.

Mustahil.

Tulisan itu nyata. Ia melihatnya sendiri.

Atau…

seseorang menghapus jejaknya dengan sempurna.

Marcus perlahan menurunkan ponsel.

Untuk pertama kalinya sejak permainan ini dimulai, sebuah kemungkinan muncul di pikirannya—kemungkinan yang tidak ia sukai.

Ini bukan sekadar peretasan.

Ini demonstrasi.

Seseorang menunjukkan kemampuan… lalu menghilang.

Bukan untuk menyerang.

Tapi untuk membuatnya sadar:

Ia bisa disentuh kapan saja.

Marcus mengangkat pandangan.

Elena berdiri sekarang. Tanpa suara. Tanpa ragu. Tangannya menyentuh sandaran kursi dengan presisi yang terlalu akurat untuk seseorang yang tidak bisa melihat.

“Kau tegang,” katanya lembut.

Marcus tidak menjawab.

Elena melanjutkan:

“Orang yang kehilangan kendali biasanya bereaksi berlebihan.”

Tatapan Marcus mengeras.

“Aku tidak kehilangan apa pun.”

Elena mengangguk pelan.

“Tentu.”

Satu kata.

Namun terasa seperti keputusan.

Marcus merasakan sesuatu bergeser di dalam dirinya—amarah yang belum punya arah.

Dan di saat itulah ia mengerti:

Permainan ini bukan hanya tentang sistem.

Bukan tentang uang.

Bukan tentang kekuasaan.

Ini tentang persepsi.

Tentang siapa yang terlihat memegang kendali…

dan siapa yang sebenarnya menggerakkan papan.

Elena berjalan melewatinya dengan langkah tenang.

“Marcus,” katanya tanpa menoleh.

“Hm?”

“Kadang,” ucapnya lembut, “hal paling berbahaya bukan saat seseorang menyerang…”

Ia berhenti di ambang lorong.

“…tapi saat mereka ingin kau tahu bahwa mereka bisa.”

Langkahnya menjauh.

Marcus berdiri sendirian di ruang tamu yang tiba-tiba terasa lebih sempit.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak merasa marah.

Ia merasa diawasi.

Dan perasaan itu…

jauh lebih mengganggu.

1
Kaka's
pembohong kamu marcus horison...
Serena Khanza: kiper indo 😭
total 1 replies
Sean Sensei
asli sedikit kah? kok aku bacanya kurang puas ya /Sob/
Serena Khanza: maklum kak awal awal masih dikit 🤭🤣

baru belajar nulis 🤭🤭
total 1 replies
Hunk
Ya aku juga menunggu hasil nya elena🤣
Serena Khanza: perlahan lahan meledak kak 🤭
total 1 replies
Hunk
Mantap bukti nya banyak banget ples kuat.
cimownim
cara Elena menghadapi laki-laki udah keren cerdas banget ya
Serena Khanza: Elena menghadapi laki-laki dengan diam dan tenang 🤭
total 2 replies
APRILAH
kehangatan di dalam kegelapan
Tiara Bella
skrng ngurigain Selena ya Marcus....
Tiara Bella: hooh ...
total 2 replies
Hunk
Alasan umum untuk semua orang yg telat "Jalanan macet"
Sean Sensei
/Sweat/ : belum di update mungkin google map nya
Kaka's
saya suka narasi seperti ini. karna langsung sy praktekkan sesuai instruksinya.. terangkat tipis 🤭🤭
Kaka's: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Khusnul Khotimah
sampek sini q blom paham yg jd masalah itu pa?kok sampek segitunya ...ni masalah harta/warisan kah?perselingkuhan?.ato penghianatan?
Khusnul Khotimah: oooooohhhh.... gtu ditunggu kelanjutanya thor.
total 2 replies
Panda
mau pindahin aset kayanya marcus
Jing_Jing22
nggk sabar buka bab selanjutnya. pengen tau nasib tuh dua orang
Jing_Jing22
target mulai masuk kedalam rencana elena
CACASTAR
dialognya kenapa masih kaku Thor.. harusnya semakin lama di antara mereka tentunya semakin dekat. bahkan atasan dan bawahan sekalipun makin tahun pasti makin akrab. Kata sapaannya pun akan menggunakan kata sapaan yg lebih akrab walaupun sopan.
Serena Khanza: iya kak makasih masukannya 👍🏻😊

next aku perbaiki lagi di penulisan supaya bisa lebih natural lagi 😊😊
total 1 replies
APRILAH
Otewe gofood aja deh, ngeri kalo pesen gitu 😄
Kaka's
sudah terlambat marcus horison... su terlambat...
Serena Khanza: wkwkwk 🤭🤭
total 3 replies
Hunk
Elena menurut ku keren banget. Dokumen aj bisa sampai dia ingat isi nya. Padahal mungkin halaman nya banyak banget.👍
Serena Khanza: soalnya dia asisten marcus
total 1 replies
Hunk
Dia sendiri ga nyaman udah berbohong./Shame/
Murdoc H Guydons
Obat buat apa? Mata kabur segitu mah ga ngefek di kasi obat.. 🤭
Murdoc H Guydons: oh iy ya.. haha..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!