NovelToon NovelToon
Jejak Cinta Nirmala

Jejak Cinta Nirmala

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / CEO / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama / Berondong
Popularitas:428
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ibu Menjadi Korban

Rini menyeringai, menatap pintu gudang yang besar dan berkarat. Ia telah memasang beberapa kaleng berisi bahan bakar di sekitar pintu masuk. Ia ingin Ale merasakan apa yang ia rasakan: kepungan api dan keputusasaan.

"Dendamku abadi, Bu Nurdin," Rini mulai tertawa lagi, tawa yang seolah-olah membelah langit malam yang mulai turun. Ia menyeka air mata bahagianya dengan ujung gaun merahnya. "Setelah Ale mati di depan matamu, aku akan pergi menemui Nirmala. Aku akan membawa kabar bahwa pelindungnya sudah menjadi abu. Bukankah itu akhir cerita yang indah? Hahahaha!"

Rini menyeka ingusnya, menarik napas dalam-dalam seolah-olah sedang menghirup aroma darah yang akan segera tumpah. Kegilaannya telah mencapai puncak kebrutalan; ia tidak lagi peduli pada uang atau perusahaan. Ia hanya ingin melihat kehancuran di mata orang-orang yang telah meruntuhkan kerajaannya.

Di kejauhan, suara deru mesin motor terdengar mendekat. Rini berdiri tegak, memegang belatinya erat-erat. Matanya berkilat-kilat oleh cahaya bohlam yang bergoyang.

"Dia datang... Pahlawanku sudah datang!"

Rini meledakkan tawanya sekali lagi, suara histeris yang memantul di dinding-dinding gudang yang dingin, menandakan bahwa malam ini, Jakarta akan menyaksikan babak paling berdarah dari dendam seorang Rini Susilowati.

****

Suara deru mesin motor Aleandra Nurdin membelah sunyinya kawasan pelabuhan lama seperti raungan serigala yang terluka. Motor itu berhenti dengan decitan ban yang kasar di depan Gudang Sektor 4. Bangunan itu tampak seperti monster purba yang sekarat; dinding sengnya berlubang, dan aroma karat serta air laut yang membusuk menusuk indra penciuman.

Ale melompat turun. Napasnya memburu, matanya merah karena amarah dan debu jalanan. Di tangannya, ia hanya menggenggam sebuah kunci roda besi—senjata darurat yang ia sambar dari bagasi motornya. Ia tidak peduli jika harus mati, asalkan ibunya selamat.

"RINI! KELUAR KAU, IBLIS!" teriakan Ale menggema, memantul di antara kontainer-kontainer kosong yang membisu.

****

Pintu gudang yang berkarat itu terbuka perlahan, menimbulkan suara decit yang menyayat telinga. Di tengah ruangan yang hanya diterangi oleh satu lampu bohlam kuning yang berayun pelan, Rini Susilowati berdiri dengan gaun merahnya yang compang-camping. Di sampingnya, dua pria bertubuh besar dengan tatapan dingin sudah bersiap.

"Hmph... Mmph... Hahahaha!"

Tawa Rini pecah, melengking tinggi hingga ke atap seng. Ia menunjuk ke arah kursi di sudut ruangan di mana Bu Nurdin terikat lemas. "Lihat, Bu Nurdin... putra pahlawanmu sudah datang untuk menyerahkan nyawanya!"

Tanpa aba-aba, kedua pria suruhan Rini merangsek maju. Ale tidak menunggu. Ia mengayunkan kunci roda besinya dengan kekuatan yang lahir dari keputusasaan. Hantaman pertama mengenai bahu lawan, terdengar suara tulang yang retak. Namun, pria kedua berhasil mendaratkan pukulan keras di perut Ale hingga ia terhuyung ke belakang.

Ale terbatuk darah, namun ia segera bangkit. Bayangan wajah ibunya yang ketakutan memberikan energi yang tidak masuk akal. Ia menerjang kembali, membenturkan kepala salah satu penyerang ke tiang besi hingga tak sadarkan diri. Ia bertarung layaknya binatang buas yang terpojok; brutal, tanpa teknik, hanya ada keinginan untuk bertahan dan menyelamatkan.

****

Rini melihat pertarungan itu dengan mata yang berkilat-kilat senang. Baginya, ini adalah hiburan terbaik yang pernah ia miliki. Ketika ia melihat Ale mulai mendominasi pertarungan dengan menjatuhkan pria kedua, seringai jahat muncul di wajahnya.

"Cukup permainannya, Ale!" teriak Rini.

Rini mendekati Bu Nurdin, jemarinya yang kurus mencengkeram belati karatan. Dengan gerakan yang sangat cepat dan tak terduga, ia menyayatkan ujung belati itu ke lengan atas Bu Nurdin.

"AAAGHHH! Nak... Ale...!" jerit Bu Nurdin, rasa perih yang luar biasa membuatnya hampir pingsan. Darah segar merembes membasahi baju lusuhnya.

"IBU!" Ale berteriak histeris. Seluruh fokusnya hancur seketika. Pertahanannya terbuka lebar saat ia berlari menuju ke arah ibunya.

Itulah yang ditunggu-tunggu. Salah satu pria suruhan Rini yang masih sanggup berdiri menyambar balok kayu besar dan menghantamkannya tepat ke arah punggung bawah Ale.

BRAK!

Ale tersungkur dengan keras di atas lantai semen yang dingin. Kepalanya menghantam pinggiran mesin tua, menciptakan luka robek yang membuat darah mengalir menutupi pandangannya. Ia mencoba bangkit, tangannya meraba-raba lantai, namun tubuhnya terasa seperti lumpuh. Kesadarannya mulai memudar seiring dengan tawa Rini yang kian melengking.

"Hahahaha! Kau lihat itu? Pelindung yang gagah berani kini merangkak seperti cacing!" Rini meludahi tubuh Ale yang tak berdaya. Ia menarik rambut Ale, memaksanya menatap ibunya yang menangis tersedu-sedu. "Dendamku tidak akan kenyang hanya dengan melihatmu mati, Ale. Aku ingin kau melihat ibumu menderita lebih dulu!"

****

Sementara itu, di lantai eksekutif Dizan Holding, Nirmala Dizan berdiri terpaku di depan jendela kaca besarnya. Perasaan tidak enak hati yang menyiksa sejak sore tadi kini berubah menjadi ketakutan yang nyata. Ia sudah mencoba menghubungi Ale puluhan kali, namun hanya suara operator dingin yang menjawabnya.

"Ale... di mana kau?" bisiknya, tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat.

Nirmala duduk di kursinya, mencoba menarik napas panjang, namun dadanya terasa seperti dihimpit batu besar. Ia teringat tatapan Ale terakhir kali—tatapan yang penuh janji untuk melindunginya. Tapi sekarang, ia merasa ada sesuatu yang patah di kejauhan sana.

Ia segera memanggil kepala keamanannya. "Cari lokasi terakhir sinyal ponsel Ale! Sekarang! Dan hubungi Januar Suteja, katakan padanya aku butuh bantuan taktis segera!"

Nirmala menyadari bahwa keheningan Ale adalah sinyal bahaya paling besar yang pernah ia terima. Ia tidak peduli lagi pada laporan dividen atau harga saham. Jika sesuatu terjadi pada Ale karena ulah bibinya, Nirmala bersumpah akan menjadi iblis yang lebih mengerikan daripada Rini sendiri.

****

Kembali ke gudang, Rini Susilowati memerintahkan orang suruhannya untuk melepaskan ikatan Bu Nurdin dari kursi, namun tetap mengikat tangannya. Ia menyambar selendang imajinernya, melilitkannya ke lehernya sendiri sambil menatap Ale yang mulai kehilangan kesadaran dengan tatapan meremehkan.

"Permainan di sini sudah selesai, Ale. Tapi jangan khawatir, aku tidak akan membunuhmu sekarang. Aku ingin kau tetap hidup sedikit lebih lama lagi... agar kau bisa mendengar kabar kematian ibumu dari tempat lain," Rini tertawa lagi, tawa yang seolah-olah menyedot seluruh udara di dalam ruangan itu.

Rini menarik paksa Bu Nurdin yang lemas untuk berdiri. "Ayo, Wanita Desa! Kita akan pergi ke panggung berikutnya. Aku punya tempat yang lebih indah untuk perjamuan terakhir kita."

Ia menyeret Bu Nurdin menuju sebuah mobil van hitam yang terparkir di dalam bagian belakang gudang. Sebelum masuk, Rini sempat berbalik, menatap tubuh Ale yang terkapar bersimbah darah.

"Sampai jumpa di neraka, Ale! Hahahaha!"

Suara deru mesin van itu menggema di dalam gudang, sebelum akhirnya melesat keluar menembus kegelapan malam pelabuhan. Rini membawa pergi Bu Nurdin lebih jauh lagi, menuju sebuah lokasi yang tidak akan pernah terpikirkan oleh siapa pun—sebuah tempat di mana dendam abadi Rini akan mencapai puncaknya.

Di tengah kesunyian gudang yang kini hanya menyisakan bau darah dan debu, Aleandra Nurdin tergeletak tak berdaya. Jemarinya bergerak lemah, mencoba menggapai arah perginya mobil itu, sebelum akhirnya matanya terpejam total, meninggalkan segalanya dalam kegelapan yang sunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!