Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Ritual
John memarkir mobilnya di area parkir. Ketiganya keluar dari mobil. Menyusuri jalan setapak menuju meja resepsionis.
"Masih ada kamar, Mbak? Untuk tiga orang?" John menyapu seisi ruangan dengan pandangannya, waspada!
"Maaf Pak! Yang tersisa hanya dua kamar lagi." John memandang Zach dan Carol bergantian. "Kebetulan Pak, salah satu kamarnya pakai ranjang dobel."
"Oke, kami ambil, Mbak." John menyerahkan tanda pengenal dan kartu ATM nya untuk pembayaran sewa kamar.
"Ini kuncinya Pak," sang resepsionis menyerahkan kunci dan tersenyum ramah. Seorang pelayan, mengantarkan mereka ke kamar sesuai dengan nomor kamar yang di sewa.
"Ini kamarnya, Tuan. Semoga betah." ucap sang pelayan pamit.
Ketika pelayan itu pergi, lima orang pria dengan pakaian serba hitam berpapasan dengan John. John menatap mereka tajam. Simbol di leher pakaian itu sepertinya tidak asing. Tapi John tidak ingat dimana pernah melihat simbol itu.
"Karena kamar cuma tersedia dua. Sebaiknya aku dan Zach tidur satu kamar. Carol, kamu tidur di kamar salah satunya." ucap John.
Zach dan Carol saling pandang. Sepertinya Carol ragu dengan putusan itu. "Apakah kamu keberatan?" John memandang Carol.
"Ah .... Ti-tidak Om," sanggah Caroll gugup. Dia memang ragu tidur sendirian di tempat yang masih asing baginya. Namun, tidak mungkin protes.
"Tidak apa-apa, Carol. Kami tidur di kamar sebelah. Kalau ada apa-apa kamu panggil kami." Zach menyakinkan Carol bahwa semua akan baik-baik saja.
"Iya. Aku masuk dulu," Carol memutar anak kunci dan membuka pintu kamar. Setelah Carol masuk ke dalam kamarnya. Zach juga mengikuti Carol.
"Kamu mau ngapain, Zach?" seru Carol kaget.
"Aku cuma mau memastikan kalau kamar ini aman." Zach memeriksa seisi ruang kamar. Kamar mandi, kolong tempat tidur. Bahkan lemari juga dibukanya. "Aman, Carol tidak ada apa-apa."
"Tapi aku takut, Zach. Tempat ini membuatku merinding." ucap Carol lirih. Seolah takut dinding mendengar ucapannya.
"Kamu biarkan saja lampunya menyala kalau kamu takut gelap." Zach mengusap kepala Carol. Zach merasakan kalau Carol sekarang bukan Carol yang dulu lagi.
Carol yang ceria, kuat, selalu punya ide-ide cemerlang kini tampak lemah dan rapuh. Kejadian demi kejadian mengubahnya pesimis.
"Zach, sampai kapan keadaan ini akan berubah? Apakah kita masih punya masa depan? Kenapa ini terjadi di kota kita. Apakah yang dibilang Om John itu benar?" Pertanyaan beruntun itu membuat Zach menghela napas panjang.
"Carol, percayalah. Semua ini pasti berlalu. Tuhan pasti melindungi kita. Jika sampai saat ini kita masih bisa bertahan, itu bukan karena kekuatan kita. Tapi ada Tuhan yang mendampingi. Om John bukan datang secara kebetulan. Mungkin Tuhan kirim beliau kepada kita, untuk melindungi kita. Kita cuma bisa berdoa, oke."
Carol menggangguk. "Jangan tinggalkan aku ya Zach, apapun yang terjadi. Maukah kamu berjanji?" Carol menatap Zach sendu. Dua butir air bening jatuh di kedua pipinya.
"Aku tidak akan meninggalkan kamu, Carol. Apapun yang terjadi. Aku janji!" ucap Zach. Membawanya ke dalam pelukannya. "Sekarang kamu istirahat ya. Besok kita mau melanjutkan perjalanan kita." Carol mengangguk lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Zach menarik selimut. Menyelimuti tubuh Carol sebelum keluar dari kamar Carol.
"Bagaimana, apakah Carol baik-baik saja?" ucap John yang tengah semedi di atas ranjang. Zach mengernyit heran.
"Apa yang sedang Om lakukan?" Zach mengabaikan pertanyaan John.
"Cuma bersemedi. Melepas pengaruh jahat." kelakar John. Tanpa bergeming dari posisinya. Bahkan kedua matanya tertutup rapat.
"Aku serius Om! Apa Om sedang melakukan ritual?" Zach mendekat, menatap John lekat.
John membuka kedua matanya. Pandangan keduanya saling menyorot. "Apa Om terlihat bercanda?" Zach menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku tau Om paham apa yang aku maksud," gerutu Zach membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Kamu juga harus melakukan hal ini, Zach. Untuk mengontrol emosimu. Supaya kekuatan yang kamu miliki bisa kamu pergunakan sebaik mungkin."
"Maksud Om apa? Aku tidak memiliki kekuatan apa-apa Om. Kalau aku bisa berubah wujud saat terdesak atau takut, itu karena kutukan Om. Akibat perbuatan Pak Edward, yang menyuntikkan obat itu padaku."
"Kamu pikir itu hanya karena kebetulan? Semua yang kau alami itu karena kebetulan? Jika bukan karena kamu adalah orang yang terpilih. Mungkin nasibmu sudah sama seperti Mang Karsa dan yang lainnya."
"Semua ini tidak kebetulan Zach. Pertemuan kita. Kamu dan Carol adalah yang selamat dari musibah itu. Ketiga temanmu selamat. Tapi bagaimana keadaan mereka, kamu sudah tau."
"Om membuatku bingung?" bisik Zach lirih.
Semua kejadian yang dialaminya seminggu terakhir ini, memang sudah mengubah dunianya. Pernikahan yang tidak masuk akal itu. Kejadian di rumah sakit, pertemuannya dengan John. Itu semua bukan kebetulan? Tapi sudah menjadi takdir yang harus dia jalani, begitukah?
"Iya, kamu orang yang terpilih untuk menyelamatkan situsi saat ini, Zach." sahut John seolah bosa menebak pikirannya. " Akan tetapi apa yang akan terjadi seterusnya. Tindakan apa yang akan kamu lakukan? Situasi apa yang akan terjadi di masa depan? Kita belum tau."
"Apakah dunia akan kiamat atau sedang menuju kiamat? Yang pasti dunia ini akan berakhir. Hanya Tuhan yang tau kapan itu akan terjadi. Kita hanya diberi tanda. Supaya kita mempersiapkan diri menghadapinya." John menyudahi ritual semedinya. Menghampiri Zach yang yang sudah berubah posisi dari berbaring.
"Apa memang saya layak Om. Bahkan saat ini saja darah dalam tubuh saya bukan lagi darah murni. Sudah tercemar oleh keserakahan yang ingin mengubah kendali Tuhan."
"Setiap masalah pasti ada hikmahnya. Kita tidak tau apa yang direncanakan Tuhan lewat tangan kita. Bisa saja darahmu sekarang ini, menjadi vaksin untuk menangkal wabah. Atau ada kekuatan yang akan memamfaatkan mu untuk membuat dunia ini lebih hancur. Kita tidak pernah tau. Tapi untuk itulah kita perlu mengasah mata batin. Supaya bisa melihat jalan mana yang harus kita pilih. Om, mandi dulu." John mengakhiri ucapannya. Menepuk pundak Zach sebelum beranjak pergi.
Zach merenungi semua ucapan John. Ucapan penuh makna dari seorang mantan imam. Yang kehilangan segalanya dalam hidupnya. Tapi mampu bertahan pada akhirnya.
Di sudut Utara penginapan itu. Tepatnya di aula ruang bawah tanah. Berpuluh orang mungkin hampir seratus, sesak memenuhi ruangan. Hanya dengan diterangi cahaya lilin di tangan masing-masing. Mereka mengumandangkan madah pujian. Di atas altar seseorang terbaring dengan tubuh terikat dengan kaki dan tangan yang terentang keempat pejuru mata angin.
Tatapannya kosong sepertinya dihipnotis. Seorang pria dengan memakai jubah bertudung merapal doa-doa. Sebilah pisau runcing berada ditangan kanannya dan sebuah cawan di tangan kirinya.
Suara kidung bergema, memenuhi ruangan. Begitu tenang, khusuk dan dalam. Tubuh mereka setengah membungkuk. Lalu pimpinan jemaat itu, mengarahkan pisau ke korban persembahan. Sret! ***