Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.
Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 SWMU
Matahari pagi di Jakarta menyelinap masuk melalui celah-celah gorden sutra di kamar utama mansion Mahendra, membawa cahaya yang seharusnya terasa hangat, namun bagi Nadia, cahaya itu terasa seperti lampu interogasi. Ia terbangun dengan tubuh yang kaku, masih mengenakan gaun tidur yang sama dengan semalam, sementara sisi tempat tidur di sampingnya sudah dingin dan rapi. Bramantya selalu bangun lebih awal, seolah pria itu tidak butuh tidur setelah mengubur nurani seseorang di bawah lantai ruang kerjanya.
Nadia menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran klasik. Kepalanya berdenyut, memutar ulang rekaman video di basement itu berkali-kali. Senyuman tipis Bramantya saat menatap kamera setelah kematian Maya adalah bayangan yang kini menempel di retinanya.
"Selamat pagi, Non Nadia."
Suara parau itu membuat Nadia tersentak. Bi Inah berdiri di ambang pintu dengan baki berisi teh melati dan potongan buah segar. Wajah wanita tua itu tampak lebih kuyu dari biasanya. Mata mereka bertemu, dan dalam sekilas, ada komunikasi tanpa kata yang terjadi. Bi Inah masih hidup. Ancaman Bramantya semalam bukan sekadar gertakan, itu adalah rantai yang kini mengikat leher Nadia.
"Terima kasih, Bi," ucap Nadia lirih. Ia bangkit dan mendekati Bi Inah, tangannya gemetar saat menerima cangkir teh. "Bi... apa semuanya baik-baik saja?"
Bi Inah menunduk dalam, jari-jarinya yang kasar meremas ujung celemeknya. "Tuan sudah berangkat ke kantor pusat sejam yang lalu, Non. Beliau berpesan agar Non bersiap. Penata busana dan tim public relations akan sampai di sini pukul sepuluh." Bi Inah berhenti sejenak, suaranya nyaris hilang. "Non... tolong ikuti saja maunya Tuan. Jangan melawan lagi."
Nadia menyesap tehnya yang terasa pahit. "Aku tahu, Bi. Aku tidak punya pilihan lain, bukan?"
Pukul sepuluh tepat, mansion yang biasanya sunyi berubah menjadi pusat kesibukan. Tiga orang wanita dengan pakaian serba hitam masuk ke kamar Nadia, membawa deretan gaun dari perancang ternama dan koper-koper kosmetik yang mahal. Mereka bekerja dengan efisiensi yang menakutkan, memperlakukan Nadia seolah-olah ia adalah manekin yang harus dipoles demi kepentingan pameran.
"Tuan Bramantya meminta penampilan yang 'berwibawa namun rapuh'," ucap sang penata gaya sambil memakaikan setelan blazer berwarna creme yang dipadukan dengan rok sutra senada. "Beliau ingin publik melihat Anda sebagai sosok yang sangat peduli, namun masih berduka atas tragedi keluarga yang lalu."
Nadia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Riasan nude menutupi lingkaran hitam di bawah matanya. Bibirnya dipulas warna pucat yang elegan. Ia tampak seperti wanita sempurna, istri idaman dari seorang taipan besar. Namun, di balik blazer itu, Nadia merasa kulitnya meremang. Ia teringat foto dirinya di panti asuhan yang ditemukan di brankas. Bramantya memiliki masa lalunya, dan kini pria itu sedang membentuk masa depannya.
Di tengah sesi rias, ponsel Nadia bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Jangan biarkan dia melihatmu gemetar di depan kamera. Konsentrasi pada napasmu. Aku sedang mengawasi dari kejauhan. – Y.”
Yudhistira. Pria itu masih ada di luar sana, bergerak di bayang-bayang. Nadia meremas ponselnya. Kehadiran Yudhistira adalah satu-satunya jangkar yang membuatnya tidak tenggelam dalam kegilaan ini.
Gedung Mahendra Tower menjulang angkuh di pusat bisnis Jakarta. Ruang konferensi pers sudah dipenuhi oleh wartawan dari berbagai media ekonomi dan hiburan. Lampu-lampu flash kamera mulai menyambar saat Bramantya dan Nadia memasuki ruangan, bergandengan tangan dengan mesra yang dipaksakan.
Bramantya berdiri di podium, tangannya melingkar di pinggang Nadia dengan protektif—atau mungkin lebih tepatnya, bersifat mengekang.
"Saudara-saudara sekalian," suara Bramantya bergema, penuh otoritas dan karisma. "Hari ini bukan hanya tentang ekspansi bisnis Mahendra Group ke Singapura. Hari ini adalah tentang warisan. Istri saya, Nadia, akan memimpin Yayasan Mahendra Internasional secara penuh. Kami percaya bahwa transparansi dan dedikasi sosial adalah fondasi utama dari keberhasilan kami."
Nadia maju satu langkah menuju mikrofon. Ia bisa merasakan tatapan tajam Bramantya di sampingnya, mengawasi setiap gerak-geriknya. Di barisan depan wartawan, ia melihat Adrian—adik Bramantya yang ada di video semalam. Adrian tampak bersih, mengenakan jas mahal, namun matanya yang gelisah dan sering berkedip menunjukkan bahwa pria itu masih dihantui oleh bayang-bayang basement tua.
"Terima kasih," Nadia memulai, suaranya stabil meski jantungnya berdegup kencang. "Yayasan ini dibangun di atas cinta mendiang Ibu Maya Mahendra terhadap kemanusiaan. Di Singapura, kami akan fokus pada rehabilitasi mental dan perlindungan bagi mereka yang terpinggirkan. Kami tidak akan menyembunyikan apa pun. Setiap koin yang keluar dan masuk akan bisa diaudit oleh publik."
Kata "menyembunyikan" keluar dari mulutnya dengan penekanan yang sangat halus. Ia melirik Bramantya. Rahang pria itu mengeras sejenak, namun senyumnya tetap bertahan.
Seorang wartawan senior mengangkat tangan. "Nyonya Nadia, ada rumor yang beredar bahwa ekspansi mendadak ini adalah cara untuk menutupi investigasi internal terkait dana yayasan di masa lalu. Bagaimana tanggapan Anda?"
Ruangan mendadak sunyi. Bramantya hendak mengambil alih mikrofon, namun Nadia lebih cepat.
"Rumor tumbuh di tempat yang gelap, Tuan," jawab Nadia sambil menatap langsung ke mata wartawan itu. "Itulah sebabnya saya di sini. Untuk membawa cahaya ke tempat-tempat yang selama ini mungkin terlupakan. Mahendra Group tidak takut pada investigasi, karena kami sendiri yang akan memulainya."
Bramantya meremas pinggang Nadia dengan kuat, sebuah peringatan fisik yang menyakitkan. Namun, bagi para wartawan, itu tampak seperti gerakan dukungan yang penuh kasih sayang.
Setelah konferensi pers yang melelahkan, Bramantya mengajak Nadia makan siang di restoran privat di lantai teratas gedung tersebut. Hanya mereka berdua, di kelilingi oleh dinding kaca yang memperlihatkan hiruk-pikuk kota di bawah kaki mereka.
Bramantya menyesap anggur merahnya, matanya menatap Nadia dengan intensitas yang mengerikan. "Kau bermain dengan api di sana tadi, Nadia. 'Investasi internal'? Itu bukan bagian dari naskah kita."
Nadia memotong daging steaknya dengan tenang, meski tangannya gemetar di bawah meja. "Publik butuh drama, Bram. Jika aku hanya bicara seperti robot, mereka tidak akan percaya. Dengan mengatakan itu, aku baru saja memberi mereka umpan agar mereka merasa kita sangat jujur."
Bramantya tertawa pelan, suara tawa yang selalu membuat Nadia merasa kedinginan. "Kau memang cerdas. Itulah alasan mengapa aku memilihmu dari sekian banyak gadis di panti asuhan itu sepuluh tahun yang lalu. Kau punya insting bertahan hidup yang langka."
Nadia meletakkan garpunya. "Kau sudah mengawasiku sejak lama?"
"Aku tidak pernah membiarkan keberuntungan menentukan hidupku, Nadia. Semuanya adalah kalkulasi. Termasuk kau," Bramantya mencondongkan tubuh ke depan. "Jangan pernah berpikir bahwa Yudhistira atau siapa pun bisa membantumu. Di kota ini, akulah yang memegang peta."
Nadia hanya terdiam. Di dalam otaknya, ia mulai menyusun kepingan teka-teki. Jika Bramantya mengawasinya sejak panti asuhan, artinya pertemuannya dengan pria itu bukan sebuah kebetulan. Segala hal dalam hidupnya—beasiswanya, pekerjaan pertamanya, hingga lamaran pernikahan ini—adalah sebuah jebakan yang telah disiapkan selama satu dekade.
Malam harinya, di kantor barunya di gedung Yayasan, Nadia berpura-pura lembur. Ia memastikan semua asistennya sudah pulang. Ia menyalakan komputer kerjanya dan mulai mengakses basis data yayasan. Ia tahu Bramantya pasti memantau log aktivitasnya, jadi ia melakukan sesuatu yang cerdik.
Ia mencari berkas-berkas audit lama yang membosankan, namun di celah-celah dokumen digital itu, ia menyisipkan pesan tersembunyi yang hanya bisa dibaca jika dokumen itu diunduh dan dibuka dengan kata kunci tertentu—sebuah teknik steganography sederhana yang pernah ia pelajari saat kuliah.
Pesan itu ditujukan kepada Yudhistira.
“Bramantya memegang kendali penuh atas Adrian. Maya bukan korban pertama. Cari nama 'Panti Asuhan Kasih Ibu 2012'. Ada sesuatu yang dia ambil dari sana selain aku.”
Tiba-tiba, lampu kantor berkedip. Nadia segera menutup layarnya. Sosok Adrian berdiri di ambang pintu, tampak mabuk dan kacau.
"Kau pikir kau bisa menjadi pahlawan, Nadia?" Adrian berjalan sempoyongan masuk ke ruangan. "Kau tidak tahu apa-apa tentang kakakku. Dia bukan manusia. Dia adalah mesin."
Nadia berdiri, mencoba tetap tenang. "Adrian, kau harus pulang. Kau sedang tidak stabil."
Adrian mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari Nadia. Aroma alkohol menyengat dari napasnya. "Dia membunuhnya, Nadia. Dia tidak hanya membiarkannya mati. Dia yang menyuruhku mendorongnya! Dia ingin aku melakukan dosa itu agar dia bisa memegang leherku selamanya! Dan sekarang... dia akan melakukan hal yang sama padamu."
Nadia tertegun. Jadi Bramantya bukan hanya arsitek pembersihan jejak, tapi dia adalah dalang dari provokasi itu sendiri.
"Kenapa kau memberitahuku ini, Adrian?" bisik Nadia.
Adrian tertawa pahit, air mata mulai mengalir di pipinya yang kotor. "Karena aku ingin melihat mesin itu rusak. Dan kau... kau adalah satu-satunya bagian yang belum bisa dia pecahkan sepenuhnya."
Sebelum Nadia sempat bertanya lebih lanjut, dua orang petugas keamanan berpakaian safari masuk dan dengan kasar menyeret Adrian keluar. "Maaf, Nyonya Nadia. Tuan Adrian harus segera istirahat atas perintah Tuan Besar."
Nadia berdiri terpaku di tengah ruangan yang sunyi. Ia menyadari satu hal penting: Mahendra Group adalah rumah kartu. Bramantya memegang semuanya dengan rasa takut, dan jika ia bisa mengubah rasa takut itu menjadi kemarahan bagi orang-orang di sekitarnya, rumah kartu itu akan runtuh.
Ia berjalan menuju jendela, menatap kegelapan malam. Ia bukan lagi Nadia yang malang dari panti asuhan. Ia adalah racun yang telah masuk ke dalam sistem. Dan ia akan memastikan bahwa saat ia menghancurkan Bramantya, ia tidak akan menyisakan apa pun selain abu.
Perang ini bukan lagi tentang melarikan diri. Ini tentang kehancuran total. Nadia mengambil ponselnya dan mengetik satu balasan singkat untuk nomor tak dikenal itu.
“Aku masuk. Siapkan pemakamannya.”