Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Rani menatap rumah megah itu dengan senyum yang mencoles, ada sesal yang menghinggap di dadanya, kenapa ia dulu pergi tanpa berpikir panjang.
"Aku bodoh Mas, meninggalkanmu yang sudah berjuang demi membiayai diriku," ucapnya sambil melangkah pergi.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu Melati berlari kecil ke kamar Mahendra karena teriakan anak kecil itu yang membuat langkahnya menghampiri.
"Mahen, kau kenapa Nak," ucap Melati.
Tangannya refleks langsung memeluk Mahendra yang sedang duduk meringkuk.
"Aku gak mau," sahut anak itu tiba-tiba.
"Takut apa Nak?" tanya Melati hati-hati.
Pelukan itu cukup lama, hingga pada akhirnya Melati mulai melepas, mencoba bertanya baik-baik pada anak sambungnya itu.
"Mahen, coba lihat wajah Mama Nak," kata Melati.
Mahen menarik nafas sejenak, lalu mencoba untuk tenang dan bercerita pelan-pelan. "Jangan tinggalkan kami, aku mohon," ucapnya lalu mulai memeluk kembali sang ibu.
Melati tersentuh, tangannya refleks mendekap tubuh anak itu kembali.
Sementara dibalik pintu kamar terdengar langkah Cokro mulai mendekat, ia melihat anaknya duduk meringkuk di dalam pelukan melati, semakin ia mendekat wajah sang anak semakin menekan di dada Melati seolah tidak ingin kehilangan sosok itu.
"Kenapa?" tanya Cokro pelan.
Mahen tidak langsung menjawab, justru anak itu lebih mengeratkan pelukannya.
"Aku bermimpi," katanya pelan. "Mama pergi meninggalkan kami."
Cokro Menegang, ia tidak pernah menyangka, jika anak sulungnya akan setakut itu, padahal dulu dia yang paling menentang Denga kehadiran Melati.
Sementara itu Melati menepuk punggung Mahen pelan. "Mama gak akan kemana-mana Nak," ucap Melati.
Mahendra menggeleng kecil. “Kata orang, Mama dulu ninggalin kami bertiga."
Kalimat itu jatuh pelan, tapi cukup untuk membuat ruangan terasa lebih sempit, Melati menggenggam tangan Mahen lebih erat seolah memberi tahu jika ia tidak akan seperti itu.
Sementara Cokro maju satu langkah. “Mahen—”
Anak itu langsung menoleh, lalu berkata cepat, hampir panik, “Papa jangan marah.”
Cokro terdiam. Nada suaranya melunak. “Papa nggak marah.”
Mahendra menatap ayahnya ragu, lalu kembali memeluk Melati. “Aku takut kalau Mama juga pergi.”
Melati menahan napas. Tangannya berhenti sejenak sebelum kembali mengusap rambut Mahendra.
“Aku bukan Mama yang dulu,” ucapnya pelan. “Aku di sini karena aku mau. Dan selama Mama di sini, Mama nggak akan ninggalin kalian.”
Mahendra diam lama. Lalu dengan suara kecil, nyaris malu-malu, ia berkata, “Kalau begitu… malam ini Mama sama Papa tidur di sini.”
Cokro refleks berdehem. “Mahen—”
“Sekali saja,” potong Mahendra cepat. “Biar aku tahu kalian beneran.”
Melati menoleh ke Cokro. Tatapan mereka bertemu. Ada canggung, juga ragu, namun sekali lagi mereka tidak dapat menghindar untuk menolak.
“Mas…” Melati membuka suara pelan.
Cokro menghela napas. Ia menatap anaknya, lalu kasur kecil itu, lalu Melati lagi. Akhirnya ia mengangguk. “Sekali.”
Mahendra langsung menarik selimut dengan semangat yang tidak ia tunjukkan sejak lama. “Di sini Papa,” katanya sambil menunjuk sisi kanan. “Mama di sini.”
Pembagian wilayah yang terlalu rapi, Melati hampir tersenyum saat melihat raut Cokro yang seperti menahan kesal, bukannya marah justru dalam hati ia tertawa melihat raut wajah suaminya itu.
'Astaga! Itu wajah seperti menahan beban berat,' batin Melati.
Mereka berbaring canggung. Jarak di antara mereka terasa seperti garis yang tak terlihat. Mahendra memaksa masuk ke tengah, tubuh kecilnya jadi jembatan.
“Pegang tanganku,” pinta Mahendra.
Melati dan Cokro saling pandang sekilas, lalu masing-masing mengulurkan tangan. Jari Mahendra menggenggam keduanya.
“Jangan dilepas ya,” katanya mengantuk.
“Tidur,” kata Cokro pelan.
Beberapa menit berlalu. Napas Mahendra mulai teratur, anak itu tidur dan kedua orang dewasa itu sedikit merasa lega, Melati mencoba menarik tangannya perlahan, tapi Mahendra bergumam, “Jangan…”
Ia berhenti.
Cokro juga tidak bergerak. Tangannya masih terbuka, jari-jari kaku. Hingga tanpa sengaja, jari mereka saling menyentuh di bawah genggaman Mahendra.
Tak ada yang menarik diri, mereka terdiam, hanya detak jantung yang terlalu jelas di ruang yang terlalu sunyi.
“Dia berat,” bisik Melati pelan.
“Hm,” sahut Cokro singkat. “Tapi lama-lama terbiasa.”
Melati menoleh. “Mas ngomong soal apa?”
Cokro tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya bergerak sedikit—nyaris senyum.
Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka tidur dalam satu ranjang bukan sebagai kewajiban, bukan sebagai peran, tapi sebagai dua orang dewasa yang sama-sama belajar tinggal.
Dan Mahendra tidur paling nyenyak di antara mereka, yang masih diliputi rasa canggung.
☘️☘️☘️☘️☘️
Pagi datang tanpa aba-aba. Cokro terbangun lebih dulu. Ia tidak langsung membuka mata refleks lama, sampai ia sadar ada sesuatu yang berbeda.
Hangat, satu kata yang mungkin ia temukan saat ini, Ia membuka mata perlahan. Mahendra masih tidur di tengah, satu tangan mencengkeram kausnya, tangan lain menggenggam jari Melati. Anak itu mendengkur pelan, wajahnya jauh lebih rileks dibanding malam-malam sebelumnya.
Cokro hendak menarik tangannya cukup pelan dan hati-hati. Namun Mahendra bergumam, alisnya berkerut. “Jangan pergi…”
Cokro langsung diam. Di sisi lain, Melati juga terbangun. Matanya terbuka setengah, refleks pertamanya adalah menoleh ke Mahendra, memastikan napas anak itu teratur. Setelah yakin, barulah ia menyadari posisinya.
Terlalu dekat bahunya hampir menyentuh bahu Cokro. Jarak mereka hanya selebar telapak tangan, Melati mencoba menenangkan diri meskipun hatinya merasa tak karuan, Mereka saling menoleh di saat yang sama.
Canggung, dan sunyi itulah yang saat ini tengah dirasakan keduanya.
“Pagi,” ucap Cokro akhirnya, suara rendah dan sedikit serak.
“Pagi,” balas Melati cepat, lalu langsung mengalihkan pandangan.
Mereka kembali mencoba menarik tangan masing-masing dengan sangat hati-hati dan akhirnya berhasil, Mahendra masih tertidur.
Keduanya menghela napas bersamaan dan kembali saling menoleh.
Cokro berdehem. “Tidurnya… nyenyak.”
Melati mengangguk. “Biasanya dia sering kebangun.”
Cokro mengamati wajah anaknya. “Aku jarang lihat dia tidur setenang ini.”
Melati tersenyum kecil, tanpa sadar dan saat Melati hendak bangun, Mahendra tiba-tiba membuka mata.
“Kok sepi?” tanyanya, masih setengah sadar.
“Masih pagi,” jawab Melati lembut.
Mahendra menguap, lalu menatap kanan kiri. Melihat Papa dan Mama masih di tempatnya, ia tersenyum puas.
“Kalian nggak kabur.”
Melati tercekat. “Mama mau bikin sarapan.”
Cokro menambahkan, “Papa kerja bentar lagi.”
Mahendra menatap mereka curiga, lalu berkata, “Tapi habis itu pulang, kan?”
“Iya,” jawab Cokro tanpa ragu.
Mahendra tersenyum lagi. “Oke.”
Ia menutup mata kembali.
Beberapa menit kemudian, Mahendra bangun benar-benar. Ia duduk, menatap kedua orang tuanya bergantian.
“Papa,” katanya tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Kalian kalau duduk jangan jauh-jauh.”
Cokro dan Melati sama-sama terdiam.
“Biar rumahnya kelihatan rame,” lanjut Mahendra polos.
Melati menahan senyum. Cokro mengangguk kecil.
Di dapur, Melati membuat sarapan. Cokro berdiri di dekat meja, pura-pura membaca ponsel tapi sebenarnya memperhatikan.
“Kopi?” tanya Melati.
“Biasanya,” jawab Cokro.
Melati menuang. Tanpa sengaja, tangannya menyenggol tangan Cokro lagi keduanya berhenti, lalu Melati berkata cepat, “Maaf.”
Cokro menggeleng. “Nggak apa.”
Kopi diletakkan sarapan diletakkan, kedua anak mereka datang dengan bersamaan, mereka terlihat lebih ceria, apalagi di sulung, dan pagi ini terasa jauh lebih berbeda pada pada pagi-pagi sebelumnya.
"Wah, tumben Kakak ceria banget," celetuk Mahesa.
Mahen terkekeh kecil, untuk kali ini ia tidak mau menutupi kebahagiaannya dihadapan sang adik. "Iya dong, aku sekarang senang karena ada Mama Melati.
Pagi ini cukup membawa suasana yang begitu berbeda, kehangatan yang mengalir tanpa dibuat-buat untuk pertama kalinya, Cokro berpikir: mungkin rumah ini memang tidak butuh sempurna tapi cukup ditemani.
Bersambung ....