Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8 (eight)
Sementara itu, di Situs S.K.-1, udara terasa mencekik. Asap hitam dari ledakan tangki solar membuat pandangan mata menjadi perih. Ratna Sari bergerak di antara bayangan alat-alat berat, jantungnya berdegup kencang seirama dengan suara sirine yang memekakkan telinga.
Ia berhasil menyelinap ke ruang administrasi utama. Lampu darurat berwarna merah berkedip-kedip, memberikan kesan horor pada ruangan yang kini berantakan itu. Ratna menuju brankas di balik meja besar Surya Atmadja. Menggunakan alat dekoder yang diberikan Hendra, ia mencoba membongkar kode keamanannya.
Beep...
Beep...
Click!
Pintu brankas terbuka. Di dalamnya, Ratna menemukan sebuah map kulit berwarna biru tua. Saat ia membukanya, matanya terbelalak. Itu adalah Manifest Asli Operasi Sapu Kayu. Isinya jauh lebih mengerikan dari yang ia duga. Di sana tertera daftar koordinat hutan lindung yang telah dibotaki, lengkap dengan jumlah suap yang mengalir ke rekening-rekening pejabat tinggi, termasuk nama gubernur yang tertulis jelas di kolom penerima 'dana hibah'..
"Jadi ini harganya..." gumam Ratna.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah pintu.
"Luar biasa, Detektif. Kau memang tidak pernah menyerah, ya?"
Ratna berbalik dengan cepat, senjatanya teracung. Di sana, berdiri Selina. Ia tidak membawa senjata api, melainkan sebilah pedang pendek tipis yang berkilau merah terpantul cahaya api dari luar. Di sampingnya, Komisaris Bambang berdiri dengan pistol yang terarah ke dada Ratna.
"Kembalikan map itu, Ratna," ujar Bambang dengan suara rendah yang mengancam. "Kau sudah cukup membuat kekacauan malam ini. Serahkan map itu, dan mungkin aku akan membiarkanmu mati dengan cara yang lebih terhormat."
Ratna tersenyum sinis, meski peluh membanjiri dahinya. "Terhormat? Kata itu tidak ada dalam kamusmu, Pak Komandan. Kau menjual hutan ini, kau membunuh Samsul, dan kau menculik anak-anak kecil. Kau adalah aib bagi seragam ini."
"Seragam ini hanya kain, Ratna! Kekuasaan adalah segalanya!" teriak Bambang.
Tepat saat Bambang hendak menarik pelatuk, sebuah ledakan susulan dari tangki kedua mengguncang seluruh bangunan. Plafon ruangan runtuh. Ratna menggunakan kesempatan itu untuk melompat ke balik meja jati yang besar.
DOR!
DOR!
DOR!
Bambang melepaskan tembakan membabi buta. Ratna membalas dengan dua tembakan terukur yang mengenai bahu Bambang hingga pria itu jatuh tersungkur. Namun, Selina bergerak lebih cepat. Ia menerjang maju dengan pedang pendeknya, menebas meja jati itu seolah hanya terbuat dari kertas.
Ratna berguling ke samping, nyaris saja lehernya terpenggal. Ia melepaskan tendangan ke arah lutut Selina, namun wanita itu menghindar dengan gerakan yang sangat luwes, seperti seorang penari.
"Kau punya nyali, Sari. Tapi kau tidak punya teknik," desis Selina.
Baku hantam terjadi di tengah ruangan yang mulai terbakar. Ratna menggunakan kemampuan bela diri tangan kosongnya untuk menahan serangan pedang Selina. Di satu momen, Ratna berhasil mencengkeram pergelangan tangan Selina dan menghantamkannya ke dinding kayu. Map biru itu terlempar ke dekat jendela yang pecah.
Ratna melihat kesempatan. Ia berlari dan melompat keluar jendela setinggi tiga meter itu, sambil menyambar map biru di udara. Ia mendarat di atas tumpukan serbuk gergaji yang empuk, lalu segera bangkit dan lari menuju kegelapan hutan.
"KEJAR DIA! JANGAN BIARKAN DIA KELUAR DARI HUTAN INI HIDUP-HIDUP!" suara teriakan Bambang terdengar dari dalam gedung yang terbakar.
Ratna terus berlari, napasnya memburu, paru-parunya terasa terbakar. Ia menekan tombol pada radionya. "Teguh! Aku sudah dapat manifestnya! Jemput aku di titik pertemuan delta! Sekarang!".
Suara deru mesin van tua milik Hendra terdengar terbatuk-batuk saat mendaki tanjakan terjal menuju persembunyian bunker. Di dalamnya, suasana begitu tegang. Teguh terus melirik kaca spion, memastikan tidak ada sorot lampu yang membuntuti mereka dari arah Bukit Hijau. Di kursi belakang, Santi mendekap Bagas dan Laras dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, anak-anak itu akan lenyap.
"Kita hampir sampai, Bu Santi," bisik Teguh menenangkan. Namun, kalimatnya terhenti saat ia melihat wajah Santi di bawah cahaya lampu dasbor yang redup. Wanita itu pucat pasi, bibirnya membiru, dan keringat dingin mengucur deras dari dahinya.
"Ibu... Ibu kenapa?" Laras mulai menangis lagi, menyentuh tangan ibunya yang sedingin es.
"Pak Teguh... tolong... sesak..." Santi terengah-engah. Penyakit pernapasannya, yang diperburuk oleh trauma penculikan dan udara malam yang lembap, mulai menyerang dengan ganas.
Teguh memacu mobil lebih kencang. "Hendra! Siapkan tabung oksigen di bunker! Bu Santi dalam kondisi kritis!"
Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di bunker. Mbah Mansur berlari keluar dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Saat pintu van terbuka, ia langsung memeluk Bagas dan Laras.
"Cucuku... ya Allah, kalian selamat!" isak Mbah Mansur. Namun, kegembiraannya sirna saat melihat Teguh dan Hendra membopong Santi yang sudah hampir tidak sadarkan diri ke dalam bunker.
Di tengah kepanikan itu, suara langkah kaki cepat mendekat dari arah semak-semak. Teguh segera mencabut senjatanya dan membidik ke arah kegelapan.
"Jangan tembak! Ini aku!"
Ratna muncul dengan kondisi yang mengenaskan. Jaket hitamnya sobek di beberapa bagian, lengannya berdarah, dan wajahnya penuh dengan jelaga hitam. Namun, di tangannya, ia mendekap erat map biru tua berisi manifest asli Proyek Sapu Kayu.
"Bu Ratna!" Teguh bernapas lega sejenak. "Ibu berhasil?"
"Aku berhasil, tapi mereka ada di belakangku," jawab Ratna dengan napas memburu. Ia segera masuk ke dalam dan meletakkan map itu di atas meja. Matanya langsung tertuju pada Santi yang sedang dibantu Hendra menggunakan masker oksigen manual. "Apa yang terjadi pada Bu Santi?"
"Dia syok berat dan asmanya kambuh parah, Bu," jawab Hendra sambil menekan tombol pada monitor kecil. "Kita butuh obat-obatan medis yang lebih lengkap. Jika tidak, paru-parunya bisa gagal berfungsi dalam hitungan jam."
Mbah Mansur bersimpuh di samping menantunya, memegang tangannya sambil berdoa. Bagas dan Laras hanya bisa berdiri mematung di sudut ruangan, ketakutan melihat ibu mereka berjuang untuk bernapas.
"Teguh, periksa koneksi satelit," perintah Ratna. "Kita harus mengirim foto manifest ini ke kontak media internasional yang kita miliki sekarang juga. Ini satu-satunya cara agar nyawa kita punya nilai tawar."
Teguh mencoba menghubungkan laptop ke jaringan satelit, namun dahinya berkerut. "Sinyalnya... mati, Bu. Total."