Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.
Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Kapan kalian pacaran?
Jordan berhenti mendorong kursi roda sesaat di depan lift.
Ia menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras tipis.“Nek… soal Nana, itu urusan pasien. Jordan gak bisa cerita banyak. Bukan kapasitas Jordan.”
Nenek Rita mendongak, alisnya terangkat tinggi.
“Lho? Biasanya kamu paling cerewet kalau soal pasien yang menyedihkan. Kenapa tiba-tiba berubah?"
Jordan menekan tombol lift lebih keras dari perlu.
“Kali ini enggak. Pokoknya… nenek pulang aja ke rumah. Gak perlu tahu urusan orang lain. Masalah Nana biar Jordan yang urus.”
Lift berbunyi ting. Pintu terbuka.
Nenek Rita menyipitkan mata penuh selidik saat Jordan mendorongnya masuk.
“Oh~ sekarang jawabannya jadi dingin begitu."
Jordan menghela napas panjang.
“Wih~ sejak kapan cucu nenek jadi ksatria? Sok pahlawan deh."
Jordan menoleh malas.
“Nenek jangan mulai.”
“Tapi mulai lucu, lho,” sambung Nenek Rita semangat.
“Kamu tuh biasanya dingin sama pasien cewek. Paling banter senyum doang gak ikhlas lagi. Ini kamu anter sampai kamar, ngomong lembut pula.”
Jordan menggaruk tengkuknya, sedikit salah tingkah.
“Dia lagi gak stabil emosinya, Nek. Itu namanya empati.”
“Empati pakai tatapan kayak anak SMA jatuh cinta?”
Nenek Rita tertawa kecil.
“Nenek ini memang sudah tua, Jordan. Tapi bukan menuntup mata. Jelas sekali kalau kamu sama Nana ada rasa."
Jordan mendesah, tapi sudut bibirnya naik tipis tanpa sadar.
“Udah, Nek. Jangan lebay.”
Lift berhenti di lantai dasar. Mereka keluar menuju parkiran. Jordan mendorong kursi roda neneknya ke arah mobil. Nenek Rita kembali berdehem dramatis.
“Kamu perhatian banget sama dia. Biasanya pasien perempuan nangis di depanmu aja kamu cuek."
Jordan terdiam sejenak.
“…Dia beda.”
Nenek Rita langsung menoleh cepat.
“HAH.”
Jordan refleks menggeleng.
“Maksudnya… kasusnya beda. Masalah Nana kompleks banget."
Nenek Rita menyengir lebar.
“Yaaah~ makin manis aja alasanmu.”
Jordan membuka pintu mobil, membantu menaikkan kursi roda.
“Nenek kebanyakan nonton sinetron.”
“Justru pengalaman hidup, Nak,” balas Nenek Rita sok bijak.
“Tatapanmu ke Nana tadi itu bukan tatapan dokter ke pasien.”
Jordan masuk ke kursi pengemudi, menyalakan mesin.
“Terus tatapan apa, Nek?”
Nenek Rita mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
“Tatapan laki-laki yang pengen jagain perempuan.”
Jordan terdiam.
Mobil melaju keluar dari area rumah sakit.
Beberapa detik kemudian ia bergumam pelan, hampir ke dirinya sendiri.
“Dia cuma butuh orang yang gak nyakitin dia lagi.”
Nenek Rita tersenyum lembut.
“Nah. Itu dia.”
Lalu nadanya berubah jahil.
“Berarti nenek gak salah dong mau nyewa gedung.”
“Nenek—”
“Hehe. Bercanda, bercanda.”
Nenek Rita menepuk pahanya sendiri.
“Tapi nenek senang kamu akhirnya tertarik sama perempuan. Lalu wanita yang akan dijodohkan sama kamu, kamu tolak?"
"Dari awal aku udah gak mau dijodohkan. Salah nenek kalau itu."
"Loh kok jadi nenek sih? Enak aja kamu nyalahin nenek. Nenek tuh niatnya baik, Jordan. Masa pengen cucu gak boleh?”
Jordan tetap fokus ke jalan, tapi nadanya melunak. “Jordan tahu nenek niatnya baik. Tapi hidup Jordan bukan proyek pernikahan kilat.”
“Halah,” dengus Nenek Rita.
“Dulu waktu kecil kamu yang nempel terus ke nenek, sekarang udah gede, udah jadi dokter, ngomongnya tajam. Sakit hati tauk.”
Jordan menghela napas.
“Jordan gak bermaksud nyakitin nenek.”
“Tapi kamu nyakitin.”
Nenek Rita menyilangkan tangan di dada.
“Mana perempuan yang mau nenek jodohin itu anak teman lama nenek. Baik, sopan, kerja kantoran, gak ribet. Kamu tolak mentah-mentah.”
Jordan melirik sekilas.
“Aku gak mau nikah sama orang yang gak aku kenal, Nek.”
“Terus Nana itu kamu kenal dari mana?”
Nenek Rita menyergap cepat.
Jordan terdiam sepersekian detik.
“…Dari rumah sakit.”
“Nah kan!”
Nenek Rita menunjuknya dramatis.
“Berarti bukan soal kenal atau enggak. Tapi soal siapa orangnya.”
Jordan memijat pelipisnya.
“Nenek, jangan diplintir gitu.”
Nenek Rita mendengus lagi, kali ini lebih pelan.
“Nenek cuma pengen kamu bahagia, Jordan. Nenek takut keburu mati belum lihat kamu nikah.”
“Nenek jangan ngomong gitu,” potong Jordan cepat.
“Nenek masih sehat. Masih galak juga.”
“Hah! Kurang ajar,” gerutu Nenek Rita, tapi ujung bibirnya sempat naik tipis.
Mobil berhenti di lampu merah.
Suasana hening beberapa detik, sampai tiba-tiba ponsel di tas kecil Nenek Rita bergetar keras.
Brrrrt. Brrrrt.
Nenek Rita mengernyit, lalu merogoh tasnya.
“Siapa lagi sih nelpon sore-sore begini.”
Ia melirik layar.
“Oh. Ayahmu.”
Jordan refleks melirik.
“Ngapain dia nelpon nenek?”
Nenek Rita mengangkat telepon.
“Halo?”
Dari speaker terdengar suara laki-laki setengah berteriak.
“Mah! Jordan sama Mama, kan?”
Jordan langsung menghela napas panjang.
“Tuh kan.”
“Iya, sama nenek,” jawab Nenek Rita.
“Kenapa kamu teriak-teriak?”
“Aduh Mah, ini cucu mama bikin masalah lagi.”
"Apaan sih? Pelan-pelan ngomongnya Ferdi."
"Pak Jonathan ngamuk. Dia gak terima kalau Jordan mempermainkan perjodohan ini!"
***
Bersambung...