Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.
Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.
Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.
Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.
Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?
Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Dia Tahu
Komodo Entertainment pagi itu terasa lebih tegang dari biasanya.
Bukan karena proyek baru.
Bukan pula karena tenggat waktu.
Melainkan karena satu hal sederhana, bos mereka datang terlambat.
Jam di dinding ruang rapat baru saja melewati pukul sembilan ketika pintu terbuka. Renan Morris melangkah masuk dengan wajah datar, jas rapi, dasi terikat sempurna. Dari luar, tak ada yang tampak salah.
Namun, begitu ia duduk di kursi utama, semua orang tahu.
Sesuatu jelas tidak beres.
“Mulai,” katanya singkat.
Tanpa sapaan. Tanpa basa-basi.
Presentasi dimulai. Kepala departemen konten baru saja membuka slide pertama ketika Renan mengangkat tangan.
“Berhenti.”
Ruangan langsung membeku.
“Kamu menyebut ini strategi?” tanya Renan dingin, matanya menyapu layar. “Timeline tidak realistis, target audiens terlalu luas, dan anggaranmu, terlalu malas untuk dihitung ulang.”
Kepala departemen itu menelan ludah. “Kami pikir—”
“Berpikir?” Renan menyela. “Kalau kamu benar-benar berpikir, kamu tidak akan duduk di sini dengan data setengah matang.”
Satu kalimat. Namun, cukup untuk membuat bahu beberapa orang menegang.
Rapat berlanjut.
Dan semprotan itu tidak berhenti.
Departemen pemasaran kena.
Produksi kena.
Bahkan tim legal ikut terseret.
“Kalau semua keputusan harus aku koreksi satu per satu,” ujar Renan tajam, “maka keberadaan kalian patut dipertanyakan.”
Adrian duduk tepat di kursi di kanan Renan, menatap tablet di tangannya tanpa benar-benar membacanya. Alisnya berkerut tipis.
Ini tidak normal.
Renan memang tegas. Kritis. Perfeksionis.
Tapi, biasanya ia tidak meledak tanpa arah seperti ini.
Rapat berakhir dengan suasana yang jauh dari kata baik.
Begitu Renan berdiri dan keluar tanpa menoleh ke siapa pun, pintu belum sepenuhnya tertutup ketika beberapa kepala departemen langsung menoleh ke Adrian.
“Pak Adrian,” bisik salah satu dari mereka. “Anda dekat dengan Pak Renan, kan?”
“Bisa tolong cari tahu apa yang terjadi?”
“Bos seperti petasan hari ini.”
“Padahal kemarin dia masih—”
Adrian mengangkat tangan, menghentikan mereka. “Aku akan bicara dengannya.”
Ia menghela napas pelan begitu ruangan kembali kosong.
Kemarin malam, Renan masih baik-baik saja. Adrian mengingatnya dengan jelas. Pesta Edric. Cara Renan berdiri di samping Ayuna. Tenang. Protektif. Bahkan sempat tersenyum kecil saat mereka berpamitan lebih dulu.
Tidak ada tanda-tanda badai.
Namun, pagi ini? Renan seperti membawa sesuatu yang meledak di dadanya ke kantor.
Adrian berdiri dan melangkah menuju ruang kerja Renan. Ketukan di pintu belum sempat ia lakukan ketika suara di dalam lebih dulu terdengar.
“Masuk.”
Nada itu dingin.
Renan berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap ruangan, satu tangan di saku celana. Layar ponselnya menyala di meja, tak disentuh sejak rapat berakhir.
“Kamu datang terlambat hari ini,” kata Adrian hati-hati. “Dan semua orang hampir kehilangan nyawa barusan.”
Renan tidak menoleh. “Kalau mereka tidak siap disemprot, mereka tidak perlu bekerja di sini.”
“Itu bukan gaya kamu,” balas Adrian.
Hening beberapa detik.
Renan akhirnya berbalik. Tatapannya tajam, tapi lelah. Bukan lelah fisik, melainkan jenis lelah yang datang dari pikiran yang tidak berhenti berputar.
“Katakan apa yang ingin kamu katakan,” ujarnya.
Adrian menghela napas kecil. “Aku cuma mau tahu satu hal.”
Ia menatap Renan lurus-lurus. “Kemarin malam masih baik-baik saja. Apa yang berubah sejak itu?”
Untuk sepersekian detik ekspresi Renan retak.
Bukan marah.
Bukan kesal.
Melainkan terganggu.
Ia mengangkat pandangannya menatap menatap mata Adrian. “Apa terjadi sesuatu setelah aku pergi kemarin?” tanyanya.
Adrian bingung mendengar pertanyaan Renan. Namun, dia tetap menjawab dengan cepat. "Tidak ada hal istimewa yang terjadi. Pestanya berlanjut seperti biasa."
Adrian melihat Renan sepertinya hanyut dalam pikirannya sendiri. Ia mencoba mengingat pesta semalam dan teringat sesuatu. "Oh, ya, Leo mengungkit tentang taruhan lebih dari dua tahun lalu."
Renan yang sedang berpikir langsung menatap tajam pada Adrian mendengar kata taruhan.
"Periksa CCTV klub kemarin!" Perintahnya. Rahangnya mengeras, "Sekarang."
Adrian tertegun. Ia jarang melihat Renan terguncang seperti ini.
"Renan…” suaranya diturunkan, hati-hati. “Apakah ini ada hubungannya dengan Ayuna?”
Adrian telah melihat perubahan Renan selama ini semuanya terkait dengan Ayuna.
Renan tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke meja, meraih ponselnya, lalu meletakkannya kembali dengan gerakan kasar. Rahangnya masih mengeras, matanya gelap.
"Sikap Ayuna berubah setelah kembali kemarin. Dia pasti telab mendengar sesuatu," ungkap Renan.
"Apakah dia mendengar tentang taruhan itu dari orang lain?" pikir Adrian tidak yakin.
“Aku tidak akan membiarkan dia berpikir semua ini hanya permainan,” ucapnya akhirnya, suara rendah tapi penuh tekanan. “Kalau perlu, aku akan menjelaskan semuanya sendiri. Tapi bukan sekarang. Bukan dengan cara seperti ini.”
Adrian menghela napas. “Kamu sadar, kan? Taruhan itu mungkin terdengar sepele bagi yang lainnya, tapi bagi Ayuna itu bisa menghancurkan semua kepercayaan yang sudah kamu bangun.”
Renan menoleh cepat, tatapannya tajam. “Justru itu. Aku tidak bisa membiarkan orang lain yang mengatakannya. Kalau dia tahu dari mulut orang lain, aku akan kehilangan segalanya.”
Hening sejenak.
Adrian akhirnya mengangguk. “Baik. Aku akan minta rekaman CCTV dari klub. Kebetulan klub itu telah diakuisisi oleh kakakku. Aksesnya tidak akan sulit."
Renan menatap keluar jendela, jemarinya mengetuk kaca dengan ritme tak sabar. “Kalau dia mendengar,” suaranya melemah, hampir seperti gumaman, “aku tidak akan sanggup kehilangan Ayuna lagi.”
Adrian menatap sahabatnya, menyadari satu hal yang jelas. Renan Morris, pria yang biasanya tak tergoyahkan, kini benar-benar takut. Bukan pada bisnis, bukan pada lawan, melainkan pada kehilangan satu orang yang berarti segalanya.
❀❀❀
Rekaman CCTV tiba satu jam kemudian.
Renan duduk di kursinya, menatap layar monitor tanpa berkedip. Adrian berdiri di sampingnya, napas tertahan.
Rekaman diputar.
Semua terlihat normal saat Ayuna menuju kamar mandi. Namun, ketika ia keluar langkahnya terhenti tepat sebelum berbelok. Ia berdiri diam beberapa detik.
Lalu, raut wajahnya berubah.
Renan mencondongkan tubuh. “Siapa di lorong itu?”
Adrian segera mengganti sudut kamera.
Di layar, tampak Edric dan Leo berdiri tak jauh dari sana.
Renan mengepalkan tangannya, matanya tajam.
Meskipun tanpa suara keduanya tahu bahasa bibir dan benar saja keduanya membicarakan topik itu.
Renan membeku.
Adrian meliriknya, ekspresi khawatir. “Ayuna pasti mendengar pembicaraan mereka.”
Renan menutup mata sejenak, jemarinya mengepal di atas meja. Semua yang ia bangun kepercayaan, kedekatan, perlindungan bisa runtuh hanya karena satu kata taruhan.
“Dia tahu,” gumamnya pelan, suara nyaris pecah.
Adrian menahan diri untuk tidak bicara. Ia tahu, saat ini Renan sedang berperang dengan dirinya sendiri.
Renan membuka mata, tatapannya gelap. “Aku harus bicara dengannya," ucapnya tegas. "Hari ini.”
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻
Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta