NovelToon NovelToon
Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Icha cicha

Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.

Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.

Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA JALAN YANG BERBERTEMU KEMBALI

Setelah badai emosi yang menggoyangkan fondasi hubungan mereka berlalu seperti ombak yang surut menyapa pasir, kini kehangatan cinta kembali menyelimuti setiap sudut hidup Khem dan Murni. Senyum yang dulu terkunci dalam kedalaman hati, kini mekar seperti bunga melati di pagi yang sejuk—lembut, harum, dan penuh janji akan hari yang cerah.

Pagi-pagi sekali, sinar matahari mulai menyebarkan cahayanya ke setiap lorong kota, menyentuh permukaan aspal yang masih mengandung titisan embun seperti mutiara yang tertinggal dari dunia mimpi. Khem sudah siap dengan jasnya yang sedikit mengkilap, meskipun nantinya akan tercampur debu dan uap panas dari mesin-mesin besi. Tangannya yang kasar akibat bekerja keras memegang setir motor dengan lembut, seolah itu adalah bagian dari dirinya yang tak terpisahkan. Motor tua itu seperti sahabat setia yang telah menyaksikan segala lika-liku perjalanan hidupnya—kadang jalan licin penuh genangan air, kadang jalanan berliku menanjak tinggi, namun selalu membawa dia sampai tujuan.

"Jangan terlalu cepat ya, Khem... Hati-hati menghindari truk-truk besar yang sering melaju liar di jalan raya," ujar Murni dengan suara yang lembut seperti aliran sungai yang mengalir tenang. Tangannya sedikit menggenggam lengan Khem sebelum mereka berpisah di perempatan jalan yang menjadi titik belokan bagi masing-masing tujuan kerja.

Murni mengenakan baju kerja berwarna biru muda yang membuat wajahnya tampak lebih cerah. Rambutnya yang hitam seperti malam pekat diikat rapi dengan jepit rambut berbentuk bunga, seolah ingin menyembunyikan kelembutannya di tengah hiruk-pikuk pabrik makanan ringan yang selalu penuh dengan aroma rempah dan suara mesin pencetak kemasan yang berdenyut seperti detak jantung. Setiap langkahnya menuju pabrik adalah seperti menari dalam irama kehidupan—kaki kanan menginjak harapan, kaki kiri membawa semangat, dan hatinya selalu mengarah pada satu titik: bertemu kembali dengan Khem saat matahari mulai menyembunyikan diri di balik kejauhan langit kota yang penuh asap dan cerita.

Di pabrik besi dan baja tempat Khem bekerja, suara mesin yang menggergaji dan membengkokkan logam terdengar seperti simfoni yang keras namun penuh makna. Setiap percikan percikan api dari proses las adalah seperti bintang jatuh yang menyaksikan kerja kerasnya untuk membangun masa depan. Besi yang dingin dan kaku di tangan Khem perlahan-lahan berubah bentuk sesuai keinginan—seperti hubungan mereka yang dulu kaku karena kesalahpahaman, kini menjadi lentur dan kokoh setelah melalui proses peleburan emosi yang menyakitkan namun membersihkan.

Sementara itu, di dalam ruangan pabrik makanan ringan yang hangat dan penuh dengan aroma gula, tepung, dan coklat, Murni sedang sibuk mengatur kemasan produk baru yang akan dijual ke seluruh pelosok kota. Jari-jarinya yang terampil menyusun kemasan dengan kecepatan yang terlatih, seperti seorang seniman yang menciptakan karya kecil namun berharga. Setiap paket makanan yang dia susun adalah seperti buah cinta yang dia tanam—penuh dengan rasa manis dan kehangatan, mengharapkan bisa memberikan kepuasan bagi siapa pun yang menikmatinya.

Ketika matahari mulai bergeser ke arah barat, warnanya menyebarkan kain kemerah-merahan dan keemasan di atas langit kota yang sibuk. Khem sudah selesai bekerja, tangannya yang penuh dengan debu besi namun hati yang penuh dengan harapan, mulai menghidupkan motornya yang setia. Bunyi mesin motor yang menyala terdengar seperti suara panggilan bagi dirinya untuk segera bertemu dengan cinta hatinya. Ia melaju melalui jalanan yang ramai dengan kendaraan beragam, namun pandangannya selalu fokus pada jalan menuju tempat mereka bertemu—sebuah warung kecil pinggir jalan yang menjual soto ayam hangat dan tempe bacem yang menjadi makanan favorit mereka berdua.

Sementara itu, Murni juga telah menyelesaikan tugasnya hari itu. Ia keluar dari pabrik dengan langkah yang ringan, meskipun tubuhnya sedikit lelah. Udara sore yang segar menyegarkan wajahnya yang berkeringat, dan dia melihat ke arah jalan yang sama tempat Khem akan datang. Waktu seolah berjalan lebih lambat di saat itu—setiap detik yang berlalu adalah seperti menunggu kembalinya burung yang terbang jauh mencari makan.

Akhirnya, bunyi motor yang sudah begitu dikenal oleh telinganya terdengar dari kejauhan. Murni mengangkat kepalanya, dan wajahnya langsung terpancar senyum yang lebih indah dari pelangi setelah hujan. Khem berhenti di depannya, senyumnya yang hangat seperti sinar matahari sore menyinari wajah Murni. Tanpa perlu banyak kata, mereka saling memandang—mata mereka adalah jendela hati yang bercerita tentang segala rasa syukur yang mereka miliki.

"Makan apa hari ini, sayang?" tanya Khem dengan suara yang sedikit kasar namun penuh kasih sayang.

"Soto aja ya, Khem... Rasanya selalu jadi obat untuk lelahku," jawab Murni sambil meraih tangan Khem yang masih hangat dari panas mesin motor.

Mereka masuk ke warung kecil itu, duduk di meja kayu yang sudah cukup tua namun penuh dengan kenangan. Ketika mangkuk soto hangat ditempatkan di depan mereka, uap panasnya naik ke udara seperti doa yang mengangkat harapan. Mereka makan dengan tenang, terkadang saling melihat dan tersenyum tanpa suara—karena dalam diam mereka sudah mengerti bahwa cinta yang telah melalui ujian adalah cinta yang akan tumbuh lebih kuat, seperti pohon yang akarnya semakin dalam setelah melalui badai yang dahsyat.

Setelah makan, mereka berjalan bersama-sama menuju rumah mereka yang sederhana namun penuh dengan kehangatan. Langkah mereka bersandar satu sama lain, bayangan mereka menyatu di atas jalanan yang diterangi oleh lampu jalan yang mulai menyala. Di langit yang sudah mulai gelap, bintang-bintang mulai muncul satu per satu—seperti harapan-harapan kecil yang mereka tanam bersama, bersinar terang di tengah kegelapan malam yang akan datang.

Mereka tahu bahwa kehidupan tidak akan selalu mulus seperti permukaan air yang tenang. Akan ada lagi badai yang datang, akan ada lagi jalanan yang licin dan berliku. Namun kini, mereka telah memiliki perisai yang kokoh bernama cinta dan pengertian. Khem dan Murni adalah seperti dua bahan yang berbeda—besi yang kuat dan makanan yang lembut—namun ketika digabungkan dengan cinta sebagai perekatnya, mereka menjadi sesuatu yang tak terpisahkan, penuh dengan makna dan tujuan dalam hidup...

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Setelah malam yang penuh kehangatan itu, tiba pula hari libur yang mereka tunggu-tunggu seperti anak kecil menanti hadiah hari raya. Matahari pagi menyingsing cerah, menyinari kamar kecil mereka dengan cahaya emas yang memanggil untuk meraih kebahagiaan di luar dinding rumah. Khem telah menyusun rencana dengan hati-hati—membawa Murni ke kolam renang terkenal di pusat kota, tempat ombak buatan seperti pelukan samudra yang menjanjikan kesegaran di tengah panasnya Jakarta.

“Siap belum, sayang? Kita jangan terlambat, nanti tempatnya penuh!” teriak Khem dari luar kamar, suaranya penuh semangat seperti anak-anak yang akan pergi berlibur.

Murni keluar dengan pakaian renang berwarna biru muda yang menyatu dengan warna langit, ditutupi rok pantai putih yang melayang seperti awan lembut. Rambutnya yang panjang diikat dengan aksesori bunga laut, membuatnya tampak seperti seorang putri yang datang dari dunia bawah laut—cantik, anggun, dan membawa kehangatan yang tak terlukiskan.

Perjalanan menuju kolam renang penuh dengan candaan dan tawa yang mengalir seperti air yang jernih. Khem mengendarai motornya dengan hati-hati, sementara Murni menyandarkan wajahnya pada punggungnya—merasakan getaran tubuhnya yang kuat dan aman, seperti kapal yang membawa dirinya menuju pelabuhan kebahagiaan. Ketika mereka tiba, kolam renang yang luas terbentang seperti hamparan biru laut yang ditanam di tengah kota, dikelilingi oleh pepohonan rindang yang memberikan naungan sejuk. Suara tawa anak-anak dan deru ombak buatan menyatu menjadi simfoni kehidupan yang penuh semangat.

Mereka berlari ke tepi kolam, kemudian melompat bersama-sama ke dalam air yang segar dan menyegarkan. Air menyelimuti tubuh mereka dengan kehangatan yang menyenangkan, mencuci lelah dari tubuh dan pikiran. Khem menyelam ke dalam kolam, kemudian muncul kembali di sisi Murni, menyemprotkan air ke wajahnya yang tertawa riang. Murni segera membalasnya, dan dalam sekejap, permainan air yang penuh keceriaan menyelimuti mereka berdua—seolah waktu berhenti, dan dunia hanya terdiri dari mereka berdua dan kolam renang yang biru itu.

Setelah lelah bermain, mereka duduk di tepi kolam, menikmati jus kelapa segar yang dingin dan manis. Murni menyandarkan kepalanya pada bahu Khem, sementara mata mereka menyaksikan orang-orang yang sibuk menikmati hari libur mereka. Namun tiba-tiba, pandangan Khem terhenti pada satu titik di kejauhan—seorang pria dengan rambut pendek dan jas putih yang sedang berdiri di dekat area kios makanan, tangan kirinya menggandeng seorang wanita dengan pakaian renang berwarna merah muda yang cantik. Wajah pria itu tak bisa lebih jelas—Aksa, cowok itu yang dulu pernah dekat dengan Murni .

Hati Khem tiba-tiba seperti dicengkeram oleh tangan yang dingin. Detak jantungnya berdebar kencang, seperti drum perang yang mengganggu kedamaian yang ada. Ia melihat ke arah Murni, yang masih asik menyaksikan pemandangan di sekitar kolam, tak menyadari apa yang sedang dilihat oleh kekasihnya. Khem ingin berkata sesuatu, namun lidahnya seperti terikat oleh sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Pikirannya berputar seperti daun yang tertiup angin kencang—Mengapa dia ada di sini? Siapa wanita yang digandengnya itu? Apakah mereka sudah bersama?

Sementara itu, Aksa seolah merasakan bahwa ada orang yang melihatnya. Ia menoleh ke arah tempat Khem dan Murni duduk, dan matanya langsung bertemu dengan pandangan Khem. Sebentar saja, kemudian dia mengangguk perlahan sebagai tanda sapaan, namun wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun—seolah mereka adalah orang asing yang hanya pernah bertemu sekali di jalanan. Wanita yang digandengnya menarik lengannya perlahan, dan Aksa segera mengalihkan pandangannya, kemudian berjalan menjauh bersama wanita itu ke arah area kursi yang terletak di bawah pepohonan rindang.

Murni yang akhirnya menyadari bahwa Khem sedang tidak nyaman, menoleh ke arahnya dengan wajah penuh kekhawatiran. “Kemana saja pikiranmu, sayang? Kamu tiba-tiba diam seperti patung batu,” ujarnya dengan suara lembut, menyentuh pipi Khem yang sedikit memerah akibat panas matahari dan juga emosi yang sedang bergulir di dalam dirinya.

Khem terkejut sejenak, kemudian segera menyembunyikan kekhawatiran di dalam hatinya dengan senyum yang dipaksakan. “Tidak apa-apa, sayang... Aku hanya sedikit lelah saja,” jawabnya dengan suara yang sedikit terdengar kaku. Namun Murni bukanlah orang yang bodoh—dia tahu bahwa ada sesuatu yang salah, bahwa pandangan Khem yang melihat ke arah kejauhan tadi bukanlah pandangan orang yang hanya lelah.

Tanpa berkata apa-apa, Murni mengikuti arah pandangan Khem yang dulu, dan matanya juga melihat ke arah tempat Aksa dan wanita itu duduk. Wajahnya sedikit memerah, namun kemudian dia mengambil tangan Khem dengan erat. “Itu Aksa,” ujarnya dengan suara yang tenang namun penuh kejelasan. “Aku melihatnya juga. Tapi kamu tidak perlu khawatir, sayang... Dia sudah punya hidupnya sendiri sekarang, dan aku hanya punya kamu di hatiku.”

Kemudian Murni berdiri, menarik tangan Khem untuk ikut berdiri. “Ayo, kita pergi ke sana saja,” katanya dengan keyakinan yang membuat hati Khem sedikit terasa lega. “Biarkan kita menyapa dia, agar kamu tidak berpikir terlalu jauh tentang hal yang tidak perlu.”

Tanpa banyak pikir lagi, Khem mengikuti langkah Murni yang menuju arah tempat Aksa duduk. Ketika mereka sampai di dekatnya, Aksa sudah berdiri, bersama wanita yang digandengnya itu. “Hai, Khem... Murni,” ujar Aksa dengan suara yang tenang, kemudian dia memperkenalkan wanita di sisinya. “Ini Maya, pacar baruku.

Maya tersenyum ramah kepada mereka berdua, menyapa dengan sopan. Murni segera memberikan ucapan selamat yang tulus, sementara Khem yang masih sedikit terkejut akhirnya bisa mengeluarkan ucapan selamat juga. Hatinya yang dulu penuh dengan keraguan dan kekhawatiran sekarang seperti terbuka oleh sinar matahari—semua kekhawatiran yang ada ternyata hanya khayalan belaka.

Mereka berbincang sebentar singkat, berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Aksa memberitahu bahwa dia kini bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan konstruksi, dan Maya adalah seorang perawat di rumah sakit lokal.Setelah itu, mereka berpisah dengan senyum, masing-masing kembali menikmati hari libur mereka.

Kembali ke tepi kolam, Khem memeluk Murni dengan erat, seperti ingin menggenggam seluruh dunia dalam pelukannya. “Maafkan aku ya, sayang... Aku seharusnya tidak berpikir buruk seperti itu,” ujarnya dengan suara yang penuh rasa malu dan rasa syukur.

Murni membalas pelukan itu dengan lembut, menyentuh rambut Khem dengan lembut. “Tidak apa-apa, sayang... Kadang hati kita memang mudah takut kehilangan sesuatu yang kita cintai. Tapi ingat ya, cinta kita sudah melalui badai yang lebih besar dari ini. Tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi,” jawabnya dengan suara yang penuh kehangatan dan keyakinan.

Mereka kembali masuk ke dalam kolam, menikmati kesegaran air dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Matahari mulai bergeser ke arah barat, menyebarkan warna-warni indah di atas langit dan permukaan kolam yang tenang. Kini, hati Khem sudah benar-benar lega dan damai—dia tahu bahwa cinta yang dia miliki adalah cinta yang sesungguhnya, cinta yang telah terbukti kuat dan tulus melalui segala ujian yang datang...

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Hari-hari berlalu dengan cepat seperti aliran sungai yang tak pernah berhenti. Ucapan selamat yang mereka berikan pada Aksa dan Maya masih terngiang di telinga Khem dan Murni, bahkan ketika mereka kembali menyusun rutinitas harian mereka—Khem dengan shiftnya yang semakin padat, terkadang harus bekerja hingga larut malam di pabrik besi dan baja yang selalu terpancar panasnya bahkan di tengah malam kota yang sejuk.

Salah satu malam yang mendung, awan gelap seperti tirai yang menutupi bulan dan bintang, Khem sedang sibuk memantau mesin las yang sedang bekerja keras. Api las berkelip-kelip seperti nyala api yang berbisik tentang pekerjaan berat namun penting yang dia lakukan. Tangan yang tangguhnya memegang kontrol mesin dengan cermat, fokus penuh pada setiap sambungan besi yang harus dibuat rapi dan kokoh. Ia tidak menyadari bahwa jauh di luar sana, sebuah badai kecil sedang mulai membentuk diri di dalam kehidupan Murni.

Pada malam itu, Murni sudah selesai memasak dan berada di rumah sendirian. Ia sedang membersihkan rumah sambil menyanyi lembut lagu kesukaannya, ketika suara ketukan pintu yang pelan namun terus-menerus membuatnya terkejut. Ia mendekati pintu dengan hati-hati, dan ketika melihat melalui celah pintu, wajahnya langsung memucat—Aksa berdiri di luar, wajahnya tampak pucat dan penuh dengan rasa sakit yang terlihat jelas meskipun hanya dilihat dari kejauhan.

“Murni... tolong buka pintunya,” ujar Aksa dengan suara yang lemah dan bergetar. “Aku perlu bicara denganmu.”

Murni ragu sejenak. Ingatannya kembali pada hari di kolam renang, ketika Aksa dengan bangga memperkenalkan Maya sebagai pacar barunya. Namun melihat wajah Aksa yang seperti itu membuat hatinya sedikit lunak. Ia membuka pintu perlahan, namun tetap menjaga jarak dengan hati-hati.

“Apa yang terjadi, Aksa? Bukankah kamu sudah jadian dengan Maya?” tanya Murni dengan suara yang penuh kekhawatiran namun juga waspada.

Aksa masuk ke dalam rumah dengan kaki yang terasa berat, kemudian duduk di kursi kayu yang sudah tua. Matanya mulai berkaca-kaca, dan air mata perlahan-lahan menetes di pipinya yang pucat. “Kita sudah putus, Murni... Dia bilang aku tidak cukup baik baginya, bahwa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan tidak pernah bisa memberikan apa yang dia inginkan,” ujarnya dengan suara yang hancur seperti kaca yang pecah. “Dan aku hanya bisa berpikir pada kamu... kamu yang pernah mengerti aku dengan benar, kamu yang pernah memahami setiap rasa sakit yang aku rasakan.”

Murni terdiam sejenak, hatinya bercampur aduk antara rasa iba dan rasa tidak nyaman. Ia mengambil segelas air putih dan memberikannya pada Aksa, kemudian duduk di kursi yang berlawanan dengannya. “Aku menyesal mendengarnya, Aksa... tapi kamu harus mengerti, aku sudah bersama Khem sekarang. Hubungan kita sudah berlalu jauh sekali,” ujarnya dengan suara yang tenang namun tegas.

Namun Aksa seolah tidak mendengar kata-katanya. Ia berdiri dan mendekati Murni dengan langkah yang lambat. “Tidak ada yang lebih penting darimu, Murni... aku masih mencintaimu. Mari kita mulai lagi dari awal, ya? Kita jauh lebih cocok daripada kamu dengan Khem yang selalu sibuk bekerja dan tidak pernah ada untukmu!” ujarnya dengan nada yang semakin tinggi, bahkan mulai menarik tangan Murni dengan keras.

Murni segera menarik kembali tangannya, wajahnya tampak marah dan tegas. “Jangan seperti itu, Aksa! Aku mencintai Khem dengan tulus, dan dia adalah satu-satunya untukku. Kamu harus menerima bahwa hubungan kita hanya sebatas teman dan kamu harus melanjutkan hidupmu sendiri!” ujarnya dengan suara yang semakin keras, matanya penuh dengan keyakinan.

Pada saat itu juga, suara kunci yang diputar di pintu membuat mereka berdua terkejut. Khem berdiri di pintu, jasnya masih penuh dengan debu besi dan wajahnya tampak sangat marah—matanya merah karena kemarahan dan matahari yang terbakar di siang hari, namun juga ada rasa sakit yang mendalam di dalamnya. Ia sudah selesai bekerja lebih awal karena mesin mengalami kerusakan, dan ketika sampai di rumah, ia mendengar suara yang semakin memanas dari dalam.

“Apa yang sedang terjadi di sini?” tanya Khem dengan suara yang dalam dan penuh dengan emosi yang terkendali namun jelas terasa panasnya.

Aksa melihat ke arah Khem, wajahnya mulai memerah akibat kemarahan dan rasa malu. “Ini urusan antara aku dan Murni, Khem! Jangan campur tangan!” ujarnya dengan nada yang menantang.

Namun Khem hanya menatapnya dengan pandangan yang dingin seperti besi yang belum dipanaskan. Ia mendekati Murni dan menempatkan tangannya di pundaknya dengan lembut namun penuh dengan perlindungan. “Murni adalah kekasihku ,sekarang, jadi urusannya adalah urusanku juga. Kamu hanya teman dalam hidupnya, Aksa... dan sekarang waktumu sudah berlalu. Kamu harus pergi dari sini dan jangan pernah mengganggunya lagi,” ujarnya dengan tegas, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut.

Aksa melihat ke arah Murni, yang kini sudah berdiri di sisi Khem dengan tangan yang menggenggam lengannya erat. Ia tahu bahwa tidak ada yang bisa dia lakukan lagi—semua harapannya untuk mendapatkan kembali Murni hanya khayalan belaka. Dengan wajah yang penuh dengan rasa malu dan kehilangan, ia berjalan keluar dari rumah tanpa berkata apa-apa lagi, dan suara langkahnya yang semakin menjauh terdengar seperti rengekan hati yang terluka.

Setelah Aksa pergi, Khem memeluk Murni dengan erat, seperti ingin melindunginya dari segala bahaya di dunia ini. “Mengapa kamu tidak memberitahuku, sayang? Aku akan selalu ada untukmu,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan kasih sayang dan sedikit rasa bersalah karena tidak bisa ada di sampingnya ketika dia membutuhkannya.

Murni menangis pelan di dalam pelukan Khem, air matanya mengalir ke bajunya yang sudah penuh dengan debu besi. “Aku tidak ingin mengganggumu saat kamu bekerja, Khem... aku tahu betapa pentingnya pekerjaanmu untuk kita berdua,” jawabnya dengan suara yang bergetar.

Khem mengangkat wajah Murni dengan lembut, menyeka air matanya dengan ujung bajunya. “Tidak ada yang lebih penting darimu, Murni. Tidak ada satu pun pekerjaan yang bisa menggantikan kamu di hatiku. Dari sekarang, janjikan padaku bahwa kamu akan selalu memberitahuku jika ada sesuatu yang salah, ya?” ujarnya dengan pandangan yang penuh dengan cinta dan janji.

Murni mengangguk perlahan, kemudian mencium bibir Khem dengan lembut seperti embun yang menyentuh bunga. Ia tahu bahwa cinta yang dia miliki dengan Khem adalah cinta yang sesungguhnya—cinta yang kuat, cinta yang melindungi, dan cinta yang akan selalu ada untuknya bahkan di tengah malam yang paling gelap...

 

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!