"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sesampainya di pemakaman umum, Arkan turun terlebih dahulu.
Kemudian ia membuka pintu mobil asistennya dan meminta Gladis untuk turun.
Gladis yang masih menangis sesenggukan langsung turun dari mobil.
Angin pemakaman berembus dingin, membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja.
Arkan berdiri tegak di samping pusara Widya yang masih merah.
Kacamata hitam menutupi matanya, namun rahangnya yang mengeras menunjukkan ia sedang menahan emosi yang besar.
Di sampingnya, Gladis bersimpuh, jemarinya gemetar mengusap nisan kayu ibunya.
Isakannya sudah tidak bersuara, hanya menyisakan napas yang tersenggal.
Setelah pelayat lain membubarkan diri, Arkan berlutut di samping Gladies.
Tangannya yang besar terulur, namun kali ini ia tidak menyentuh Gladis.
"Dengarkan aku baik-baik, Gladis. Di depan semua orang, di depan teman-temanmu, dan keluarga besarmu. Kamu akan tetap memanggilku Ayah. Tidak ada yang boleh tahu soal pernikahan di ICU tadi."
Gladis langsung menoleh saat mendengar perkataan dari Arkan.
"Kenapa? Kamu malu menikahiku?" tanya Gladis.
"Bukan soal malu, Gladis. Tapi soal reputasi dan ketenangan. Aku tidak ingin ada desas-desus liar yang bisa merusak karierku atau masa depanmu. Secara hukum agama dan negara kita suami-istri, tapi secara sosial, aku tetap walimu. Paham?"
Gladies tertawa getir di sela tangisnya. "Tentu saja. Semuanya harus sesuai dengan kendalimu, kan, Kapten?"
Arkan berdiri dan mengabaikan sindiran yang dilontarkan oleh Gladis.
"Ayo pulang. Mobil sudah siap."
Gladis ikut berdiri, namun ia tidak melangkah menuju SUV hitam Arkan.
"Aku mau pulang ke rumah Mama. Aku tidak mau ke rumahmu."
"Rumah itu tidak aman untukmu sendirian, Gladis. Mulai hari ini, kamu tinggal di kediamanku."
"Aku bilang tidak mau, Arkan. Cukup kamu ambil kebebasanku dengan pernikahan ini, tapi jangan ambil satu-satunya tempat di mana aku bisa merasakan kehadiran Mama!"
Gladis bangkit dan berniat lari menuju gerbang pemakaman. Namun, ia lupa siapa yang sedang ia hadapi.
Arkan bukan pria yang bisa dilawan dengan adu argumen.
Bagi Arkan, pembangkangan adalah gangguan yang harus segera dipadamkan.
"Gladis Anindita, jangan paksa aku menggunakan cara kasar di depan makam ibumu," peringat Arkan.
Gladies tetap melangkah dan tidak memperdulikan Arkan.
Baru tiga langkah, ia merasakan sepasang lengan kuat melingkar di pinggangnya.
Dalam satu gerakan cepat yang efisien, Arkan mengangkat tubuh Gladis, memanggulnya di atas bahu seperti membawa beban logistik kapal.
"Lepaskan! Arkan, lepaskan aku! Ayah!" teriak Gladies sambil memukul-mukul punggung Arkan yang sekeras dinding beton.
Arkan sama sekali tidak memperdulikan teriakan Gladis
Ia berjalan dengan langkah lebar dan tegas menuju mobil.
"Tadi aku bilang apa? Jangan panggil aku Ayah jika kita hanya berdua. Tapi karena kamu keras kepala..."
Arkan membuka pintu belakang mobil dengan satu tangan, lalu memasukkan Gladis ke dalam dengan gerakan yang tidak bisa dibantah.
Sebelum Gladis sempat keluar, Arkan sudah mengunci pintu secara otomatis dari kursi pengemudi.
Ia masuk ke mobil, menghidupkan mesin, dan menatap Gladis dari spion tengah dengan tatapan yang membuat nyali gadis itu menciut.
"Selamat datang di pelabuhanmu yang baru, Gladis. Suka atau tidak, nakhodanya adalah aku."
Gladis menghapus air matanya dan meminta Arkan untuk menghentikan mobilnya.
"Diam! Atau aku akan menaruh mu di bagasi belakang." Ancam Arkan.
Selama perjalanan menuju apartemen, suasana di dalam mobil terasa begitu mencekam.
Gladis hanya bisa memandang ke luar jendela dengan bahu yang bergetar hebat.
Arkan mengemudi dengan kecepatan stabil namun sorot matanya tetap tajam tertuju ke depan.
Tidak ada musik, tidak ada suara, hanya deru mesin dan suara napas Gladies yang sesak.
Setiap kali Gladies mencoba membuka pintu mobil saat berhenti di lampu merah, suara kunci otomatis yang diaktifkan Arkan terdengar seperti guntur yang menegaskan dominasinya.
"Kamu penculik," bisik Gladis dengan nada penuh kebencian.
Arkan tidak menoleh. Rahangnya hanya mengeras.
"Aku suamimu. Dan seorang suami tidak menculik istrinya, dia membawanya pulang."
Sesampainya di gedung apartemen mewah tempat Arkan tinggal, Arkan memarkirkan mobilnya di area privat.
Ia turun dan membukakan pintu untuk Gladies, namun gadis itu tetap bergeming.
Tanpa peringatan kedua, Arkan meraih pergelangan tangan Gladies dan menariknya keluar dengan kekuatan yang tidak bisa dilawan.
Mereka naik ke unit penthouse Arkan dengan lift pribadi.
Begitu pintu terbuka, kemewahan yang dingin menyambut mereka.
Ruangan itu didominasi warna abu-abu, hitam, dan putih dimana mencerminkan kepribadian pemiliknya yang kaku.
Arkan melepaskan cengkeramannya dan menunjuk ke arah tangga spiral yang menuju ke lantai dua.
"Naik ke atas. Kamarmu ada di sana, pintu kedua sebelah kiri," perintah Arkan dengan suara baritonnya yang berat.
Gladis tidak bergerak. Ia justru berdiri menantang di tengah ruang tamu yang luas.
"Aku tidak mau! Aku bukan tawananmu, Arkan! Kenapa kamu harus melakukan ini? Kamu tahu aku punya pacar, kamu tahu aku punya hidup sendiri!"
Arkan meletakkan kunci mobilnya di atas meja marmer dengan bunyi klak yang keras.
Ia berbalik dan menatap Gladies dengan intensitas yang membuat gadis itu mundur satu langkah.
"Pacarmu?" Arkan tertawa sinis, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata.
"Pria yang bahkan tidak datang ke rumah sakit saat ibumu kritis? Pria yang membiarkanmu menangis sendirian di koridor ICU? Itu yang kamu sebut masa depan?"
"Dia sedang ada urusan! Kamu tidak berhak menghakiminya!" teriak Gladis.
"Kamu cuma orang asing yang kebetulan dititipkan oleh ayahku. Kamu tidak punya hak atas hidupku, apalagi atas tubuhku dan statusku!"
Arkan melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Gladis terdesak ke pinggiran sofa.
Atmosfer di ruangan itu mendadak terasa tipis sekali.
"Dengarkan aku, Gladis. Mama mu memberikanmu kepadaku karena dia tahu hanya aku yang bisa menjinakkan sifat keras kepalamu. Aku tidak butuh cintamu, dan aku tidak peduli pada pria pengecut yang kamu banggakan itu. Tapi selama kamu menyandang nama Maulana di belakang namamu, kamu akan tunduk pada aturanku."
Gladis mengepalkan tinjunya, air mata kemarahan mengalir deras.
"Aku benci kamu! Aku benci karena kamu memanfaatkan wasiat Mama untuk memilikiku!"
Arkan tidak bergeming. Wajahnya tetap sedingin es.
"Benci lah aku sesukamu. Itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa malam ini kamu tidur di rumahku, bukan di rumah Mamamu yang sudah kosong itu."
Arkan menunjuk kembali ke arah tangga. "Masuk ke kamar atas. Sekarang. Jangan membuatku harus menggendongmu lagi seperti di pemakaman, atau aku akan memastikan kamu tidak akan bisa keluar dari kamar itu sampai besok pagi."
Gladis menatap Arkan dengan tatapan nanar, pipinya memerah karena amarah dan tangis.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menyambar tasnya dan berlari naik ke lantai atas, sengaja menghentakkan kakinya keras-keras di setiap anak tangga sebagai bentuk protes.
BAM!
Suara pintu kamar yang dibanting Gladies bergema di seluruh ruangan.
Arkan berdiri diam di ruang tamu yang kini sunyi. Ia melonggarkan dasinya dan menghela napas panjang.
Ia menuangkan wiski ke dalam gelas, tangannya sedikit bergetar.
Menghadapi badai di tengah samudra jauh lebih mudah daripada menghadapi amarah gadis yang kini resmi menjadi istrinya itu.
lanjut💪💪
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget