Zivanya Aurelia Wardana (20) pergaulan bebas membuatnya mengalami mimpi terburuk dalam hidup. Menjadi ibu diusia yang masih begitu muda
Amarah Keluarga membuatnya mengambil keputusan besar untuk mengakhiri hidupnya. Namun hal itu bisa dicegah oleh seorang dokter tampan bernama Zionathan (24)
Ziva memberontak, memberi syarat pada Zio untuk mencarikan ayah bagi bayinya, menggantikan sang kekasih yang pergi entah kemana
Tak disangka jika Zionathan menjadikan dirinya sendiri sebagai ayah untuk bayi itu sekaligus suami untuk Zivanya
Bagaimana pernikahan atas dasar tanggung jawab itu dapat bertahan? dan bagaimana Zio bertindak saat ayah kandung bayi itu datang dan meminta Zivanya serta anaknya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulat Bulu
Sesampainya disana, ruangan tersebut kosong. Ziva bertanya pada seorang perawat ternyata suaminya tengah menangani seorang pasien
Ziva memilih untuk menunggu, sesekali ia memandangi kotak makan tersebut lalu tersenyum
Setelah menunggu hampir satu jam lamanya, Ziva tersenyum begitu seorang pria masuk kedalam ruangan tersebut
Zio yang awalnya merasa lelah, seketika tersenyum begitu melihat wanita yang paling ia cintai berdiri menyambut dengan senyum manisnya
"Kamu disini?" Zionathan mendekat lalu memberikan kecupan lembut di kening
"Kak Zio capek banget yaa? Udah makan siang?" Tanya Ziva dan suaminya itu menggeleng
"Pas banget kalau gitu! Tadi Ziva masak untuk kak Zio!"
Zio memaksakan senyumannya, istrinya ini tak pernah memasak. Apa semua akan baik-baik saja
"Ayo kak!"
Dokter tampan itu hanya pasrah saat sang istri menarik tangannya hingga keduanya duduk diatas sofa panjang
Dengan senyum bahagianya Ziva membuka satu-persatu kotak tersebut. Zio terlebih dahulu menelan salivanya
Tampilannya saja sudah tidak meyakinkan, tapi ingin menolak juga ia tak sampai hati. Terlebih melihat bagaimana istrinya ini begitu bahagia
"Ziva masak sendiri loh!" Ujarnya seraya menata makanan diatas meja
"Istri kakak ini emang hebat!"
Zio tersenyum lalu mengusap kepala istrinya dengan lembut
"aaa!"
Zio pasrah, ia buka mulutnya dan menerima suapan dari istrinya. Wajah tampannya berubah, namun dokter muda itu masih memaksakan senyumanya
"Gimana?" Tanya Ziva antusias, ia menunggu tanggapan suaminya tentang masakan pertamanya
Zio mengangguk, berusaha mengunyah lalu menelan walaupun terasa sulit. Cinta membuatnya harus menelan makanan yang bahkan lidahnya saja menolak
"Enak!"
Mendengar itu, wanita cantik didepannya ini tersenyum bahagia. Zio suka jika melihat istrinya tersenyum lebar seperti ini
Biarlah tersiksa, asalkan wanita yang dicintai merasa bahagia
"Kalau gitu makan lagi!" Ziva menyodorkan lagi dan suaminya menerima lagi, Ziva jadi yakin jika masakannya ini enak
Sekarang ia tak merasa tersaingi lagi oleh wanita bernama Mawar itu, dirinya juga bisa meraih hati suaminya melalui lidahnya
"Kayaknya enak banget, Ziva mau coba!" Saat dirinya hendak menyuapi ke mulut sendiri, hal itu dicegah oleh suaminya
"Jangan sayang!"
Ziva mengerutkan keningnya, ia merasa penasaran kenapa suaminya seperti tak mengizinkan dirinya untuk ikut mencicipi
"Kenapa? Ini banyak kok, Ziva gak akan habisin!" Ujarnya, namun sang suami tetap Keukeh tidak mengizinkan
"Tapi kamu bawain ini buat kakak, harusnya ini buat kakak aja!" Zio menyuapi lagi dan kembali memaksakan senyumannya
"Tapi Ziva sengaja bawa banyak biar kita bisa makan bareng!" Ujarnya
"Kamu makan makanan dari kantin aja yaa! Biar kakak pesenin!"
Zio tak akan mengizinkan istrinya ini menyicipi masakan neraka' ini. Ia tak ingin sampai bayinya kenapa-napa
Ziva merasa jika suaminya menyembunyikan sesuatu, dengan gerakan cepat wanita itu meraih sendok dan menyuapi capcay kedalam mulutnya
Wajah cantik itu berubah, Ziva bahkan melepeh makanan itu dari mulutnya, dengan cepat wanita itu meraih gelas air lalu menenggak nya
"Kamu gak pa-pa sayang?" Tanya Zio khawatir, ia takut jika makanan ini akan berakibat buruk pada Ziva dan bayinya
Pria itu semakin khawatir karena tiba-tiba saja Ziva menangis, bahkan berteriak
"Kenapa? Perutnya sakit? Kita ke dokter Laura yaa!"
Sungguh, Zio benar-benar dibuat khawatir pada istrinya ini. Bagaimana jika bayinya ikut kenapa-napa
"Maafin Ziva kak" Wanita hamil itu terisak
"Kenapa Ziva minta maaf?"
"Ziva malah bawain racun buat kakak, bukannya makan siang!" Ujarnya dengan wajah penuh penyesalan
Terlebih saat ia melihat jika pria itu memakan masakannya lebih dari satu kali, tak terbayangkan bagaimana tersiksanya sang suami karena masakannya
Zio membawa sang istri dalam pelukannya, mengusap kepala hingga punggungnya dengan lembut
"Kamu gak salah sayang! Kakak suka kok makanannya!" Ujar Zionathan berusaha agar istrinya tak lagi merasa bersalah
"Kak Zio gak usah bohong! Kalau makanannya gak enak ya jangan maksa buat makan"
Zio mengurai pelukannya, menangkup kedua pipi istrinya itu "Emang kenapa kamu sampai belajar masak? Hmm?"
"Biar kak Zio gak pindah kelain hati!"
Zionathan mengerutkan keningnya "Kelain hati gimana?"
"Kata orang kalau mau ngerebut hati cowok itu dari perutnya dan Ziva mau ngelakuin itu!" Ujarnya dengan sisa-sisa tangisannya
"Kata siapa?"
"Ya kata orang! Udahlah Ziva mau pulang aja!"
Tiba-tiba saja moodnya rusak, Ziva tak ingin lagi disini, ia malu dan merasa bersalah karena telah membuat suaminya menderita dengan masakannya
"Mau kemana?" Zio menarik lengan istrinya hingga Ziva kembali duduk disampingnya
"Mau pulang!"
"Kamu belum makan siang kan?"
Ziva mengangguk, rencananya gagal. Tadinya ia ingin menikmati makan siang bersama suaminya
"Kita makan siang dulu!"
"Tapi makanannya gak bisa dimakan kak!"
"Kita makan di kantin aja, gimana? Mau?"
Ziva mengangguk lemas, tadinya ia begitu bersemangat menemui suaminya namun sekarang yang ada hanya penyesalan
"Lagian kamu aneh-aneh aja! Kakak kan udah bilang kalau kamu gak perlu repot dirumah, ini malah masak!"
Keduanya tengah menuju kantin rumah sakit untuk makan siang bersama. Untuk masakan neraka' itu biarlah tetap didalam wadahnya
"Aku gak suka kalau mbak Mawar rebut hati kakak karena masakannya enak!"
Pria itu hanya menggelengkan kepalanya, rasa cemburu itu membuat Ziva hampir membunuh suaminya sendiri
"Kamu pikir kakak bakal tergoda hanya karena masakan aja?" Keduanya saling menatap "Kamu pikir kakak laki-laki seperti apa?"
Ziva berpikir sejenak, suaminya bukanlah pria yang mudah dirayu, terlebih oleh wanita seperti Mawar
Ia yang bo doh karena cemburu tidak jelas pada suaminya sendiri
Jelas saja keduanya menjadi pusat perhatian, pasangan yang begitu serasi jika dilihat. Suami yang tampan serta istri yang cantik membuat beberapa pengunjung kantin merasa iri
Deretan penggemar dokter tampan itu juga tak kalah histeris, melihat pria yang diidam-idamkan tengah menikmati kebersamaan bersama istrinya
"Semua orang ngeliatin kita!" Bisik Ziva
Zio melihat sekelilingnya dan memang benar jika semua orang melihat kearah mereka
"Kita gak perlu peduli sama orang lain Ziva, kamu fokus saja sama makanan kamu!"
Keduanya kembali makan, setelah makan siang Zio kembali membawa sang istri keruangannya
Hari ini ia akan bekerja dengan ditemani oleh wanita itu
"Sayang!"
"Hmm" Ziva yang semula sibuk pada ponselnya menoleh karena panggilan dari suaminya
"Gimana kalau kita pindah secepatnya? Soal furniture nya nanti kita pikirin setelah tinggal disana?"
Zio merasa tidak nyaman tinggal bersama wanita lain ditempat yang sama, terlebih Mawar secara terang-terangan mendekatinya
Jika Ziva menyadari itu wanita itu akan melakukan hal-hal di luar nalar
"Ziva setuju, Ziva juga mulai gak nyaman tinggal di apartemen. Banyak ulat bulu nya!"
Zio yang mengerti ucapan istrinya hanya menggelengkan kepala saja, wanita memang aneh, ia sendiri yang membawa wanita lain kedalam rumah ia sendiri yang cemburu