NovelToon NovelToon
Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Almira

Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 33

Aku bertanya kepada diriku sendiri…

Di mana sebenarnya salahku?

Apa aku terlalu ikut campur?

Apa aku terlalu keras membela Ibu?

Atau justru aku yang dianggap pembuat masalah karena tidak bisa diam?

Aku hanya ingin Ibu hidup tenteram dan damai di rumahnya sendiri.

Rumah yang dibangun dengan keringat dan air mata Ibu.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuknya beristirahat di usia yang tak lagi muda.

Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri…

Selama tinggal di kampung, yang berkuasa di rumah itu justru Kak Rini.

Nada suaranya paling keras.

Keputusannya paling menentukan.

Pendapatnya selalu dianggap paling benar.

Sementara Ibu… lebih sering diam.

Lebih sering mengalah.

Lebih sering menahan air mata yang tak Ingin terlihat.

Namun Kak Rini pandai membalikkan fakta.

Ia bisa menyusun cerita seolah-olah dirinya korban.

Ia pandai memilih kata hingga terdengar meyakinkan.

Dan entah bagaimana, semua orang lebih mudah percaya padanya.

Sedangkan aku?

Aku hanya dianggap terlalu sensitif.

Terlalu membesar-besarkan.

Terlalu ikut campur urusan orang lain.

Kadang terlintas di pikiranku untuk menghilang dari keluarga ini.

Pergi jauh… tanpa kabar… tanpa suara.

Meninggalkan semua luka dan drama yang melelahkan ini.

Mungkin jika aku tidak ada, keadaan akan lebih tenang.

Mungkin tidak ada lagi yang memperdebatkan kebenaran.

Mungkin tidak ada lagi yang menuduhku melawan.

Tapi bagaimana mungkin?

Aku masih sangat menyayangi Ibu.

Aku tahu hatinya lembut, tapi sering dipaksa kuat.

Aku tahu ia menahan banyak hal hanya demi menjaga keutuhan keluarga.

Aku juga masih peduli pada adikku.

Ia masih melihat dan belajar dari semua yang terjadi.

Aku takut ia tumbuh dengan menganggap ketidakadilan itu hal biasa.

Seberat apa pun rasanya,

hatiku tetap tertambat pada mereka.

Lalu sekarang… aku harus bagaimana?

Haruskah aku diam dan menutup mata setelah semua yang dilakukan Kak Rini kepada Ibu?

Haruskah aku pura-pura tidak melihat saat Ibu diperlakukan seperti tamu di rumahnya sendiri?

Haruskah aku tersenyum seolah semuanya baik-baik saja, demi menghindari konflik?

Atau aku tetap bersuara… meski risikonya aku akan semakin dibenci?

Aku lelah menjadi satu-satunya yang merasa ada yang tidak adil.

Aku lelah dianggap musuh hanya karena aku tidak setuju.

Tapi aku juga lelah melihat Ibu terus menelan luka sendirian.

Mungkin aku tidak bisa mengubah sifat Kak Rini.

Mungkin aku tidak bisa membuat semua orang langsung percaya padaku.

Namun aku masih punya pilihan.

Aku bisa tetap tenang tanpa harus diam.

Aku bisa tegas tanpa harus kasar.

Aku bisa melindungi Ibu tanpa harus membenci siapa pun.

Aku hanya perlu memastikan satu hal —

bahwa apa pun yang kulakukan, itu karena cinta.

Bukan karena amarah.

Bukan karena ingin menang.

Dan selama Ibu masih membutuhkan tempat bersandar,

aku tidak akan pergi.

Aku tidak akan menghilang.

Walau lelah…

aku akan tetap berdiri.

Malam itu aku tidak langsung menemukan jawaban.

Aku hanya duduk diam, membiarkan semua pertanyaan berputar di kepalaku.

Aku sadar satu hal…

Marah tidak akan menyelesaikan apa pun.

Membalas dengan nada tinggi hanya akan membuatku terlihat sama seperti yang kutentang.

Kalau aku terus melawan dengan emosi,

yang lelah justru Ibu.

Jadi mungkin… aku tidak harus diam.

Tapi aku juga tidak harus berteriak.

Aku memilih cara yang berbeda.

Aku akan tetap bersuara —

namun dengan tenang.

Aku akan tetap membela —

namun dengan bukti, bukan amarah.

Aku akan menjaga Ibu —

tanpa mempermalukan siapa pun.

Aku mulai belajar satu hal penting:

Tidak semua kebenaran harus diteriakkan.

Kadang cukup diperlihatkan lewat sikap.

Jika Kak Rini pandai membalikkan fakta,

maka aku harus lebih pandai menjaga sikap.

Jika ia bermain kata,

maka aku bermain kesabaran.

Aku tidak akan lagi terpancing.

Aku tidak akan lagi mudah tersulut.

Karena tujuanku bukan menang debat.

Tujuanku adalah menjaga Ibu tetap dihormati.

Aku juga mulai berpikir lebih jauh…

Bagaimana kalau suatu hari aku bisa membantu Ibu lebih mandiri?

Bagaimana kalau aku menyiapkan rencana agar Ibu punya pegangan sendiri?

Tabungan kecil, usaha kecil, atau mungkin tempat tinggal yang benar-benar membuatnya merasa aman.

Aku sadar…

Kadang kita tidak bisa mengubah orang lain.

Tapi kita bisa menguatkan orang yang kita sayangi.

Aku tidak akan menghilang.

Aku tidak akan menutup mata.

Tapi aku juga tidak akan bertindak gegabah.

Aku akan menjadi tenang.

Aku akan menjadi kuat.

Aku akan menjadi pelindung yang tidak terlihat,

namun selalu ada.

Dan suatu hari nanti,

Ibu akan tahu…

ada satu anak yang tetap berdiri di sisinya — tanpa syarat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!