NovelToon NovelToon
Pesona Kakak Posesif Season 2

Pesona Kakak Posesif Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Keluarga / Cintamanis
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Dwi Asti A

Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.

Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.

Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.

Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terjebak di Dalam Lift

Hanin berada di atas tubuh Satya, Satya sempat menghindar ketika menyadari Hanin akan jatuh menimpanya, tapi tak bisa dihindari wajah mereka justru saling bersentuhan. Masing-masing menoleh membuat wajah mereka semakin dekat. Embusan nafas yang hangat membuat wajah Hanin bersemu merah.

Hanin ingin menarik dirinya menjauh, tapi Satya menahannya. Tatapan matanya yang biasa terlihat tajam, saat itu tampak teduh. Menatap Hanin tanpa berkedip.

Hanin menyadari sesuatu yang tak biasanya dari Satya. Hanin memegang wajah Satya untuk merasakan suhu badannya.

“Kak Satya sakit?” tanya Hanin.

Satya tak menjawabnya, dia meminta Hanin untuk duduk di sampingnya. Hanin menurutinya duduk di samping Satya melipat kakinya.

“Kakak sakit apa?” Hanin mengulang pertanyaannya yang belum Satya jawab.

“Hanya demam, setelah istirahat nanti juga sembuh.” Satya berbohong, keringat dingin jelas mengalir di balik kemejanya.

Hanin tidak percaya Satya hanya demam biasa, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Mereka terjebak di dalam lift, hanya bisa menunggu bantuan.

Satya memejamkan matanya meskipun ia tak tidur, lalu perlahan membaringkan diri di pangkuan Hanin. Keadaan dirinya yang masih merasa tak nyaman dan kerinduannya pada Hanin setelah berpisah sekian lama membuatnya ingin selalu dekat dengannya.

Hanin dengan ragu-ragu mengusap lembut rambut Satya yang hitam dan tebal. Berpikir tidak pernah Satya bersikap terlihat lemah dan manja.

“Apa mereka tahu kalau lift ini rusak?” tanya Hanin kemudian.

Satya mengangguk. “Mereka tidak akan membiarkan kita berlama-lama di sini, tidak usah khawatir,” jelasnya.

“Bagaimana tidak khawatir, kalau lift ini jatuh bagaimana?”

“Kalau pun mati, kita akan mati sama-sama.”

“Apa maksudnya mati sama-sama? Ayahku yang sakit parah saja aku ingin dia sembuh.” Jawaban Hanin menunjukkan dia sangat kesal.

“Jadi kau sudah tidak menyukai kakak seperti dulu, aku pikir kau akan selalu bersama dengan kakak dalam keadaan apa pun. Jadi meskipun mati di sini pun tidak akan apa-apa.”

“Berhenti berbicara seperti itu.” Hanin merajuk, Satya menyadari itu dan dia memutar posisi tidurnya menghadap ke atas. Di sana dia bisa melihat wajah Hanin yang murung.

Dipandangi cukup lama seperti itu membuat Hanin membuang pandangannya, bukan tidak suka, tapi dia tidak tahan diperhatikan seperti itu.

Satya mengulurkan tangannya, menarik dagu Hanin agar bisa melihat wajahnya.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan di sini, menghubungi seseorang pun akan sangat sulit, sebaiknya tenang saja untuk menghemat energi.”

Sudah hampir satu jam mereka terjebak di dalam lift. Satya beranjak bangun saat melihat Hanin benar-benar memilih diam saja. Satya khawatir Hanin kenapa-kenapa.

“Hani, kau baik-baik saja, kan? Bertahanlah ada kakak di sini tidak akan terjadi apa-apa.” Satya mendekatkan kepala Hanin menyandarkan di bahunya. Digenggamnya tangan Hanin yang dingin, mungkin dia sebenarnya cemas dan tegang, tapi Hanin berusaha menahannya.

“Aku benar-benar takut tidak bisa keluar dari sini,” ucap Hanin lirih.

“Kau masih takut meskipun sudah bersamaku?”

“Situasinya berbeda, ini di dalam lift, di tempat yang tinggi.” Alasan Hanin.

“Aku akan berusaha menghubungi seseorang.”

Satya mencari nomor Rio, meskipun agak sulit, tapi masih ada sinyal di ruangan tertutup itu.

Sayangnya panggilannya tidak terjawab. Dia ingin menghubungi Miranda dan Elvan, tapi mereka pasti cemas dan panik, apa lagi jika tahu ada Hanin di dalam lift itu.

“Kau punya nomor seseorang yang bisa membantu kita?” tanya Satya pada Hanin.

Hanin tak bergeming dari posisinya, tapi dia menjawab pertanyaan Satya meskipun tanpa sadar, “Nomor Kak Daniyal,” jawabnya, sembari menyerahkan ponsel di tangannya pada Satya.

Satya mengambilnya, lalu membuka di bagian kontak dan mencari nama Daniyal di sana.

Sebuah foto profil muncul di nomor kontak itu, seorang laki-laki dan cukup gagah. Hanin memberikan nama Daniyal Kakak ke tiga pada kontaknya.

‘Kakak ke tiga? Apa dia yakin hanya menganggapnya kakak? Dia cukup tampan untuk menarik perhatian gadis-gadis,’ batin Satya.

Melihat foto itu Satya merasa tidak senang, dia jadi bertanya-tanya siapa kakak pertama dan keduanya yang dimaksudkan Hanjn.

‘Kakak pertama sudah pasti itu aku, dan yang ke dua pasti anak jangkung, tidak mungkin kan aku yang jadi kakak ke dua?’ Satya terus saja berbicara sendiri dalam hati.

Meskipun tidak senang, tapi Satya tidak punya pilihan lain, dia tetap menghubungi Daniyal dengan mengirimkan pesan melalui ponsel Hanin dan mengirim pesan juga pada Rio. Setelah itu dia kembali duduk berusaha tenang di samping Hanin.

“Hani,” panggil Satya pelan untuk mengecek apa anak itu tidur atau tidak.

“Hemm,” jawab Hanin masih dengan mata tertutup.

“Siapa Daniyal?”

“Dia kakakku.”

“Apa semua laki-laki tampan yang kau suka selalu kau anggap kakak?”

“Apa lagi?”

“Kau bohong, apa dia pacarmu?”

Mendapat pertanyaan itu Hanin yang hampir merasa tenang tidur di bahu Satya harus terbangun, menatap penuh tanda tanya.

“Kakak cemburu?” selidik Hanin sembari memiringkan wajahnya dan terus menatap Satya sampai pemuda itu menjawab pertanyaannya. Hanin bisa melihat Satya berubah gugup.

“Tidak,” jawabnya tegas. Hanin merasa kecewa dengan jawaban Satya. Sudah lama tak bertemu tetap saja Satya masih tak memiliki perasaan apa pun padanya.

“Hani mengerti, kakak tidak akan berubah tetap tidak bisa menerima perasaan Hanin, tapi tidak apa-apa masih banyak laki-laki di luar sana yang menyukai Hani.”

“Daniyal?”

Hanin tersenyum.

“Dia memang baik dan selalu menjaga Hani selama di sini. Sikapnya tenang, penuh kasih sayang dan lembut, Hani merasa tenang di sampingnya.”

Mendengar Hanin terus memuji laki-laki itu sebagai pria yang sempurna tanpa cacat Satya mengepalkan tangannya.

“Tidak ada laki-laki sesempurna itu, Hani. Kebaikannya hanya untuk menarik perhatianmu agar kau menyukainya.”

“Hani tidak masalah kalau Kak Daniyal suka dengan Hanin, ketimbang mengharapkan laki-laki tidak jelas seperti...”

Satya tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Hanin selama lima detik. Di saat yang sama lift berhasil terbuka.

“Hani! Kalian baik-baik ....,”

Dua pria langsung masuk begitu lift terbuka, terkejut melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Kehadiran mereka yang tiba-tiba juga mengejutkan Hanin dan Satya. Bagaimana tidak malu, mereka terlihat sedang berciuman di dalam sana.

Melihat Hanin dicium laki-laki asing, Daniyal langsung menyingkirkan tubuh Satya dari Hanin dan membantu Hanin berdiri. Daniyal menatap tajam Satya.

“Berani-beraninya melecehkan perempuan di dalam lift, aku laporkan kau pada Tuan Aariz kau bisa langsung masuk penjara,” ancam Daniyal. Dia membimbing Hanin meninggalkan tempat itu. Hanin ingin menjelaskan sesuatu pada Daniyal tapi Daniyal tak memberinya kesempatan.

“Anda tahu tidak, Nona, saya sangat cemas begitu mendapat pesan dari Nona terjebak di dalam lift. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sikap Tuan Aariz jika tahu Anda kenapa-kenapa, saya pasti langsung dipecat.”

Melihat sikap Daniyal yang begitu cemas dan perhatian tadinya Hanin berpikir Daniyal menyukainya, ternyata Daniyal hanya khawatir dengan pekerjaannya.

Setelah berada di luar ruangan, petugas keamanan langsung memastikan keadaan keduanya.

“Maafkan tentang kejadian ini, sudah membuat kalian tidak nyaman,” kata kepala penanggung jawab keamanan rumah sakit. “Jika kalian tidak keberatan silakan datang untuk pemeriksaan, agar ke depannya tidak terjadi masalah akibat kejadian ini.”

“Apa bisa begitu?” tanya Satya.

“Bisa, jika terjadi benturan keras yang tidak kita sadari.”

“Kalau begitu kau periksa saja gadis itu bersama pacarnya,” ucap Satya, setelah itu mengeloyor pergi.

Sikap dingin yang ditunjukkan Satya dan tuduhannya pada Hanin ada hubungan dengan Daniyal sudah menunjukkan sikap cemburu. Namun, Hanin tak mengerti Satya masih tetap tidak mau mengakuinya secara langsung, juga ciuman barusan apa artinya?

1
Muhammad Raihan
Sudah sampai seperti itu masih saja tidak mau ngaku suka, Satya breng*** juga
Muhammad Raihan
Semangat Kakak 👍🏻
D Asti
Selamat datang di novel ke dua aku, ayo kakak pembaca yang terkasih beri author dukungannya dengan like, komentar, saran dan ulasannya ya, terima kasih😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!