Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.
Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.
Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Gila
Hani mulai mengotak atik laptop nya, menyambungkan pada beberapa komputer yang berada tepat di depan mata nya. Ia tersenyum tipis mendengarkan pertanyaan Mutia. "Bukan kita, tapi aku yang memiliki misi ini." jawabnya.
...--------------------------------...
Mutia sedikit melongo akan jawaban Hani. "Jadi guna nya kamu suruh aku nginep disini apa coba?" tanya Mutia kesal, rupanya kehadiran nya tidak terlalu dibutuhkan oleh Hani.
Hani menatap Mutia sekilas, lalu mengalihkan lagi pandangan nya pada layar laptop dihadapan nya. "Tidak ada, aku cuma mau kamu temenin aku disini dan aku punya sedikit cerita menarik untuk dibahas setelah misi ini" jawab Hani.
Mendengar kata kata 'cerita menarik' dari jawaban Hani membuat jiwa gosip milik Mutia bangkit, ia menjadi sedikit antusias. "Wah jangan bilang kamu berencana mau jodohin aku sama CEO kaya di kota? yang ganteng ganteng itu! Ah kamu memang yang terbaik sih" ucap nya sembari menunjukkan dua jempol tangan kepada Hani.
Hani hanya menggeleng pelan, sudah terbiasa akan tingkah laku absurd sahabatnya. Jari jemarinya mulai mengetik lincah pada keyboard menampilkan deretan kunci kode berjajar pada layar berbagai komputer dihadapan nya. Ia memilih untuk tidak menanggapi ucapan Mutia.
Mutia menghela nafas ketika Hani tetap fokus pada layar sistem di depan nya tanpa menanggapi dulu ucapan antusias miliknya. "Misi kali ini apa sih? kayanya lebih besar dari pada yang kemarin" tanya Mutia penasaran.
Hani tersenyum misterius, ekspresi nya tidak dapat dibaca oleh sembarang orang. "Aku akan membuat perusahaan utama milik Steven Lorenzo De Luca beralih tangan pada musuhnya sendiri" jawab Hani.
Mutia melongo, ia tidak mengenal siapa itu Steven Lorenzo De Luca. "Siapa orang itu?" tanya nya.
"Dia adalah orang yang berani mempermainkan ku, dulu aku pernah bekerja sama dengan nya. Tetapi setelah aku tahu bahwa dialah orang yang memecat ayahku secara tidak terhormat aku memilih untuk pergi dari kerjasama itu. Ku pikir dia tidak akan berbuat kesalahan lagi, tetapi ternyata salah. Dialah orang yang telah menabrak ayah dan ibuku" jelas Hani dengan tegas mengisyaratkan tekanan pada seseorang yang mengusik hidupnya.
Mutia mengangguk paham, walaupun ia sedikit terkejut ternyata Hani dapat dengan mudah menemukan pelaku tabrak lari kedua orang tua mu. "Terus siapa musuh dari Steven itu?" tanya Mutia lagi.
Hani terdiam sejenak, ia memang berencana untuk membuat perusahaan Steven jatuh ke tangan Darren. "Dia adalah Darren Maximilian Vireaux" jawab Hani.
Mutia tersentak kaget. "Apa?! Darren yang memiliki keluarga berpengaruh itu?" tanya Mutia.
Hani mengangguk setuju, keluarga Darren memang berpengaruh, tetapi lebih berpengaruh lagi keluarga nya yaitu Arclight. "Iya, dia seorang mafia kelas kakap nomor 1 dunia" jawab Hani yang tidak ragu untuk membocorkan identitas Darren, karena dia yakin Mutia sangat bisa menjaga rahasia ini.
Mutia melotot tak percaya, bagaimana bisa ada seseorang yang bekerja seperti itu. "Hah serius?" tanya nya memastikan.
"Aku ga pernah bohong" jawab Hani, kemudian mulai melanjutkan lagi aktivitas nya yaitu untuk membuat virus langka yang menyerang sistem perusahaan, begitu seseorang menyalahkan sistem komputer diperusahaan itu maka virus yang Hani buat akan langsung meledakkan sistem komputer itu hingga mati total dan hanya bisa diatasi setelah 5 hari.
Successful tampilan besar pada layar laptop Hani, sedangkan di komputer lainnya masih terdapat deretan kode misterius. Mutia hanya diam memperhatikan, walaupun ia bosan tapi dia penasaran.
Hani tersenyum ketika berhasil membuat virus virus itu dan menerobos masuk sistem keamanan perusahaan Steven. "Cih sistem keamanan abal-abal, langkah selanjutnya dimulai..." ucap nya.
Mutia menghela nafas kasar, ia mendengus pelan. "Misi gila" gumamnya yang masih terdengar ditelinga Hani.
Hani hanya terkekeh kecil mendengar gumaman Mutia. "Tidak ada yang gila mut, ini cuma pemanasan" jawabnya.
Hani menyambar ponsel nya yang berada di meja sebelah laptop nya. Ia segera menghubungi Darren untuk memberitakan informasi yang cukup menarik ini.
****
Tepat di gedung pencakar langit, Darren sedang berdiri diruangan nya menatap langit-langit malam yang menenangkan. Pikiran jatuh pada gadis pujaan hatinya yang selalu membuatnya rindu.
Dreett.. drettt
Getar ponsel dari dalam saku celana Darren membuat nya langsung terbuyar dari pikiran nya. Darren mengambil ponsel tersebut, dan rupanya takdir sedang berpihak kepadanya. Gadis nya menghubungi 3 kali dalam sehari ini membuatnya tambah berbunga-bunga akan cinta.
Darren segera mengangkat telepon tersebut dengan senyum yang mengembang diwajah tampan nya. "Ya sayang kau merindukan ku lagi?" ucap Darren.
Hani berdecak malas pada sambungan telepon, jika bukan karena misi nya dia tidak akan sudi untuk menghubungi Darren. "Ck tidak usah terlalu percaya diri tuan Darren yang terhormat. Pukul 19.30 nanti saham utama perusahaan Steven akan anjlok karena adanya virus asing yang menyerang sistem nya, jadi segera siapkan tim devisi terbaik perusahaan mu untuk membeli saham-saham perusahaan Steven dari para investor dengan harga yang cukup murah. Ingat kau harus tepat waktu pukul 19.30, masih ada waktu 15 menit untuk mempersiapkan ini" ucap Hani panjang lebar.
Tutt
Lagi dan lagi Hani mematikan sambungan telepon nya tanpa mendengarkan jawaban Darren. Darren hanya mengangguk anggukan kepalanya mendengar setiap kata kata yang baru saja diucapkan oleh Hani melalui sambungan telepon.
"Virus asing tepat jam 19.30? bagaimana bisa dia mengetahui akan hal itu, kau benar-benar cerdik gadis kecil" ucap Darren tersenyum bangga.
Darren segera menghubungi Jack untuk mempersiapkan semua yang diucapkan oleh Hani kepadanya tadi, dan ternyata hal yang diucapkan oleh gadisnya di sambungan telepon benar-benar terjadi tepat pukul 8.30 saham perusahaan utama milik Steven anjlok, dan Darren berhasil membeli sebanyak 70% dari saham itu.
Jack yang baru saja melaporkan bahwa berhasil membeli 70% saham dalam sekejap melongo, ternyata apa yang diucapkan oleh calon nyonya nya sesuai dengan cerita Darren itu benar-benar terjadi. "Nyonya Hani sangat hebat tuan, bagaimana bisa dia mengetahui akan hal ini?" ucap Jack terkagum-kagum.
Darren tersenyum tipis mendengar pujian Jack yang sedikit berlebihan menurutnya. "Tidak ada yang mengetahui akan kejadian seperti ini, kecuali dia sendiri yang telah merencanakan nya" sahut Darren.
Dahi Jack berkerut tak paham. "Maksud anda tuan?" tanya Jack hati hati.
"Dia yang menciptakan kekacauan ini, lalu dia membalaskan sebagian besar dendam nya pada pria brengsek itu dengan mengacaukan perusahaan utama nya dan membuat aku membeli saham saham itu, sungguh cara penghancuran yang rapi tapi sangat cerdik. " ucap Darren bangga.
Jack mengangguk mengerti. "Jadi nyonya bisa menciptakan hal seperti ini tuan?" tanya Jack yang semakin penasaran.
"Apapun selalu bisa ditangan gadisku, dan kau tidak perlu terlalu banyak bertanya tentangnya Jack" ucap Darren menatap tajam Jack.
"B-baik tuan" ucap Jack gugup. 'Dasar budak cinta' batin Jack mengumpat tuan nya itu.
***
Disisi lain dua sejoli sedang menikmati malam panas mereka disebuah kamar hotel ternama. Ya, orang itu adalah Steven dan salah satu wanita nya. Steven belum bisa melepaskan sifat nya sebagai seorang Casanova sedari dulu setelah kejadian kematian Amora.
"Ugh lebih cepat stev" rancau wanita itu ketika Steven terus memompa tubuh nya.
"ahh" desah Steven yang menikmati permainan nya, cepat terus-menerus memompa tubuh wanita itu lebih cepat.
Hingga beberapa saat kemudian keduanya mendapatkan pelepasan dipuncak permainan nya.
Steven kemudian langsung pergi kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya tanpa mempedulikan wanita yang telah ia ajak bermain.
Steven keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya, ia langsung mengenakan kembali pakaian yang tadi dikenakannya, Ia menyambar ponsel nya yang berada diatas nakas lalu keluar dari kamar hotel itu meninggalkan wanita yang ia ajak bermain begitu saja.
Steven terkejut ketika melihat sang asisten telah berdiri menunggunya tak jauh dari depan pintu kamar hotel. "Ada apa?" tanya Steven ketika melihat sang asisten sedikit gugup.
"Tuan beberapa waktu lalu anggota perusahaan utama memberikan informasi bahwa sedang terjadi kekacauan yang berakibat fatal, hingga membuat para investor menjual saham nya lebih dari 80%" ucap Beno yang merupakan asisten Steven.
Rahang Steven mengeras, ia mengepalkan tangannya. "Kekacauan apa yang terjadi?" tanya nya penuh penekanan.
Beno sedikit gemetar melihat Steven yang sudah menahan amarah. "S-saya tidak tahu tuan, pihak perusahaan melaporkan bahwa ada sebuah virus yang menyerang situs dan sistem perusahaan yang mengakibatkan komputer mati total jika ingin dioperasikan, sampai saat ini tim IT belum mengetahui pasti virus apa yang menyerang sistem kita"
Amarah Steven semakin memuncak, "Siapa yang berani bermain-main denganku?" tanya nya dengan membentak kepada Beno.
Beno semakin menunduk tak tahu akan menjawab apa. "Sepertinya bukan seorang biasa tuan" jawab Beno.
Tanpa sepatah kata pun Steven pergi dari lantai hotel itu, ia segera menuju markas nya yang berada di negara ini, karena perusahaan utamanya berada di London.
Beno hanya mengikuti sang tuan nya itu, sudah tahu bahwa tujuan utamanya sekarang adalah markas.
Sesampainya dimarkas Steven tampak melangkah denan tergesa-gesa walaupun pada setiap langkah nya mengandung amarah. Ia masuk ke dalam ruangan nya dengan disusul oleh Beno.
"Segera pastikan kekacauan itu dapat diatasi, rebut kembali saham saham yang telah dijual. Dan yang paling penting aku ingin kau mencari tahu siapa dalang dibalik ini" ucap Steven pada Beno.
"T-tapi tuan tim IT mengabarkan bahwa virus virus itu baru dapat diatasi setelah 5 hari, Dan... sebanyak 70% saham itu telah dijual pada tuan Darren" ucap Beno.
Steven mengepalkan tangan nya kuat kuat "pria brengsek, Siapkan penerbangan untuk besok aku akan melihat kekacauan ini. Dan terus selidiki siapa dalang dibalik ini" ucap Steven lalu mengibaskan tangannya agar Beno keluar dari ruangan itu.
"Baik tuan" jawab Beno.
"Siapa yang telah bekerja sama dengan Darren sampai sejauh ini untuk mengacaukan ku, B*jing*n." ucap Steven sembari memijat pelipis nya yang terasa pusing.
Steven menghela nafas berat, "Hanya ada 1 nama yang bisa membuat kekacauan seperti ini tanpa ada jejak. The Velvet Phantom, dia bahkan sudah menghilang bertahun-tahun walaupun namanya tetap abadi didunia bayangan"
"Untuk apa dia menghentikan kerja sama secara sepihak dan pergi menghapuskan jejaknya dariku? apa dia akan kembali untuk sekedar balas dendam? bahkan aku tidak pernah bersih tenggang dengan nya, identitas aslinya pun aku tidak mengetahui nya. Arghh sial!" geram Steven kesal.
****
Jam demi jam terus berlalu, sekarang sudah tepat pukul 01.00 dimana Hani dan Mutia tengah bersiap-siap untuk tidur bersama. Sedari tadi Hani sangat muak mendengar pujian heboh sang sahabat ketika ia menceritakan tentang kejadian siang tadi dan juga pertemuan nya dengan Darren.
"Bener bener luar biasa, tuan Darren udah tergila-gila itu sama paras cantik mu. Aduhay sebentar lagi sahabat ku nikah nihh" ucap Mutia ketika menggoda Hani yang sudah mencoba menutup matanya.
"Brisik, cepat tidur sana" ucap Hani tanpa membuka matanya.
"Tapi kalian berdua cocok sih, selain punya musuh yang sama, kalian juga punya pekerjaan yang sama-sama diluar nalar manusia. Pasti dia bisa suka sama kamu karena wajah mu itu yang kaya orang bule, ahaha kamu memang beda sih dari ayah dan ibumu. Menurut ku ga mirip" ucap Mutia blak-blakan.
Hani tidak menanggapi ucapan itu, ia memilih untuk pura-pura tidur. 'Andai kamu tau kalau Tio Mahendra dan Lilis Setiawati itu bukan orang tua kandung ku, tetapi anak buah kakek ku dulu. Tapi karena rasa sayang ku yang besar semua itu tidak terlihat dimata semua orang.' batin Hani.
Mutia menatap Hani yang tidak membalas perkataan nya, akhirnya ia menyerah untuk menggoda sahabat nya itu dan memilih untuk menyusul ke alam mimpi dengan posisi yang saling membelakangi.