Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Di dalam mobil, tubuh Swari masih bergetar hebat.
Bayangan wajah Dimas yang penuh kebencian dan pertanyaan sinisnya tentang identitas si kembar seolah merobek luka lama yang baru saja ia jahit dengan susah payah.
Ia meremas jemarinya sendiri hingga perban di telapak tangannya kembali terasa nyeri.
Baskara yang duduk di sampingnya memperhatikan reaksi itu dalam diam.
Ia bisa merasakan aura ketakutan yang begitu pekat memancar dari wanita di sebelahnya.
Tanpa sepatah kata pun, Baskara memberi isyarat kepada Gandi.
"Gandi, air," perintahnya singkat.
Gandi dengan cekatan menyerahkan sebotol air mineral dingin.
Baskara kemudian merogoh saku jasnya, mengeluarkan botol obat yang kemarin sempat ia ambil di rumah sakit.
"Minumlah obat dari dokter kemarin. Kamu butuh ini agar sarafmu tidak meledak," ucap Baskara sambil menyodorkan satu butir pil putih dan botol air yang sudah dibuka tutupnya.
"T-terima kasih," ucap Swari dengan suara yang nyaris hilang.
Ia meminum obat itu dengan tangan yang masih gemetar.
Keheningan kembali menyelimuti kabin Rolls-Royce itu selama beberapa saat, hanya terdengar suara AC yang menderu halus.
Setelah napas Swari mulai sedikit teratur, Baskara akhirnya membuka suara.
"Siapa pria tadi? Dia menyebut dirimu 'Adik Kecil'," tanya Baskara, matanya menatap lurus ke depan, namun telinganya tajam menunggu jawaban.
"Dia Dimas, mantan kakak iparku," jawab Swari lirih, matanya menatap kosong ke arah luar jendela yang mulai dipenuhi gedung-gedung tinggi.
"Dulu dia menikah dengan mendiang kakak pertamaku, Gendis. Setelah Mbak Gendis meninggal, dia terobsesi denganku. Dia tidak pernah membiarkanku tenang, bahkan di hari paling menyakitkan dalam hidupku."
Baskara terdiam sejenak dan memutar memori tentang wajah pria tadi.
Seorang pria yang tampak haus akan kendali dan memiliki sorot mata yang kotor.
Tatapan Baskara beralih ke wajah Swari dari samping.
Sinar matahari pagi yang menembus kaca mobil menyinari garis wajah Swari yang sempurna; tulang pipi yang tinggi, hidung yang mungil, dan bibir yang meski pucat tetap terlihat ranum.
Baskara harus mengakui dalam hati bahwa Swari memang sangat cantik.
Kecantikan yang tidak hanya berasal dari fisik, tapi dari ketegaran yang tersimpan di balik matanya yang rapuh.
Kecantikan yang mampu membuat pria seobsesif Dimas kehilangan kewarasannya, dan membuat pria sedingin dirinya rela melakukan apa saja untuk menemukannya kembali.
"Pantas saja dia gila," gumam Baskara rendah, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.
Swari tidak menoleh, namun ia merasakan intensitas tatapan Baskara.
Suasana di dalam mobil kembali menegang ketika Baskara mengajukan pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalanya setelah mendengar teriakan Dimas.
"Swa, kamu sudah punya anak? Tadi aku dengar pria itu menyebutkan tentang anak kembar." tanya Baskara .
Baskara yang sebenarnya dia sudah tahu kalau Swari memang sudah mempunyai anak kembar dari pertemuannya dengan mamanya semalam.
"Iya, aku punya anak kembar. Alex dan Alexandria," jawab Swari singkat.
Ia segera memalingkan wajah, berusaha keras mengatur napasnya yang kembali terasa sesak.
Rasa sakit di dada kirinya berdenyut lebih kuat, seolah ada tangan yang meremas jantungnya.
Setiap kali topik tentang anak-anaknya muncul, ingatan tentang asal-usul mereka yang kelam selalu ikut terseret ke permukaan.
Swari memejamkan mata, tangannya tanpa sadar mencengkeram kain blazernya tepat di bagian dada.
Baskara menyadari perubahan raut wajah itu. Ia melihat bagaimana Swari menggigit bibir bawahnya untuk menahan rintihan, dan bagaimana buku-buku jarinya memutih karena cengkeraman yang kuat.
"Swari? Ada apa? Apa ini gejala serangan panik yang lain?"
"Aku tidak apa-apa," dusta Swari dengan suara serak, meski peluh dingin mulai membasahi pelipisnya.
Baskara menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Di satu sisi, ada rasa marah karena Swari terus mencoba menutup diri, namun di sisi lain, ada dorongan aneh untuk melindungi wanita ini dari rasa sakit apa pun.
"Berhenti berbohong padaku. Wajahmu sepucat kertas," desis Baskara.
Ia kemudian bersandar kembali, namun matanya tetap mengawasi setiap gerak-gerik Swari.
"Kalau kamu butuh istirahat, kita tidak perlu ke kantor sekarang. Aku bisa menyuruh Gandi memutar arah ke apartemenku."
"Tidak! Aku ingin ke kantor. Aku ingin bekerja," tolak Swari cepat.
Baginya, berada di tempat umum atau lingkungan kerja jauh lebih aman daripada hanya berdua dengan Baskara di tempat pribadi.
Baskara tidak mendebat, namun pikirannya mulai bekerja cepat.
Ia teringat laporan ibunya semalam bahwa Swari memiliki anak kembar, namun identitas ayahnya misterius.
Ditambah lagi reaksi trauma fisik Swari yang begitu hebat setiap kali masa lalu atau anak-anaknya disinggung.
"Siapa yang sudah menghancurkanmu sampai seperti ini, Swari?"batin Baskara.
Ia mengepalkan tangannya di atas lutut, tidak menyadari bahwa pelaku yang ia cari adalah bayangannya sendiri di masa lalu.
"Gandi, percepat laju mobilnya dan pastikan tidak ada yang mengganggu Nona Swari saat kami sampai di ruangan nanti," perintah Baskara dingin.
Gandi menganggukkan kepalanya dan mempercepat laju mobilnya.
Setibanya di gedung BSG, Baskara kembali menunjukkan sikap dominannya.
Ia berjalan tepat di samping Swari, membiarkan tangannya berada di belakang punggung Swari seolah-olah sedang membimbingnya, padahal itu adalah bentuk pengamanan agar tidak ada orang yang berani mendekat.
Begitu masuk ke ruang kantor Baskara yang luas, Swari mendapati meja kerjanya sudah tertata rapi.
Sebuah partisi kaca setinggi satu meter membatasi mejanya dengan meja Baskara, namun tetap membiarkan mereka bisa saling melihat satu sama lain.
Swari duduk dan mulai menyalakan laptopnya dan mencoba menenggelamkan diri dalam desain struktur Grand Mahameru untuk mengalihkan rasa sakit di dadanya. Namun, fokusnya terganggu ketika sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.
"Swa, Ibu Widya Surya tadi telepon Mbak. Beliau mengajak kita makan malam keluarga besok. Katanya ada hal penting soal proyek dan hubungan keluarga. Mas Navy juga setuju. Bagaimana menurutmu?"
Swari nyaris menjatuhkan ponselnya dan menatap ke arah Baskara dari balik partisi kaca.
Pria itu sedang berbicara di telepon dengan nada serius, sesekali mengusap rahangnya yang tegas.
"Pernikahan yang diatur?" gumam Swari lirih.
Ia menyadari bahwa klaim Baskara sebagai "calon suami" di depan Dimas tadi pagi mungkin bukan sekadar gertakan untuk mengusir mantan kakak iparnya, melainkan sebuah rencana besar yang sudah disusun di belakang punggungnya.
Tiba-tiba, Baskara menutup teleponnya dan menatap lurus ke arah Swari.
Ia bangkit dari kursinya, berjalan mendekat, lalu mengetuk permukaan partisi kaca itu dengan pelan.
"Malam ini aku akan mengantarmu pulang dan bertemu dengan Alex dan Alexandria," ucap Baskara.
"Kenapa Anda tiba-tiba ingin bertemu anak-anakku?"
Baskara menyeringai tipis, memberikan tatapan yang membuat Swari merasa seolah sedang ditelanjangi hingga ke relung jiwanya.
"Karena kalau aku akan menjadi ayah tiri mereka, aku harus tahu apakah mereka memiliki sifat keras kepala yang sama sepertimu, bukan?"
Swari mematung di balik meja kerjanya. Kata-kata "ayah tiri" itu bergema di kepalanya, terdengar seperti lonceng kematian sekaligus perlindungan yang aneh.
Ia menatap punggung Baskara yang mulai menjauh menuju pintu ruangan.
"Aku belum siap, Bas. Jangan malam ini," suara Swari gemetar, nyaris putus asa.
"A-aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Masih banyak revisi untuk Grand Mahameru."
Baskara menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu.
Ia menoleh perlahan, sorot matanya yang tajam mengunci pandangan Swari.
"Siap tidak siap, kamu harus siap, Swari," balasnya dengan nada dingin yang final.
"Pekerjaanmu bisa menunggu, tapi keputusanku tidak. Aku mau meeting dan jangan berani-berani mencoba keluar dari ruangan ini tanpa izinku."
Pintu kayu jati yang berat itu tertutup dengan dentuman pelan, meninggalkan Swari dalam keheningan yang menyesakkan.
Ia luruh di kursinya, menyandarkan kepala pada telapak tangan yang masih terbalut perban.
"Apa yang kamu rencanakan, Baskara?" bisiknya pada ruangan yang kosong.
Waktu berlalu dengan lambat. Swari mencoba fokus pada layar laptopnya, namun jemarinya hanya sanggup mengetik beberapa baris sebelum akhirnya terdiam lagi.
Swari bangkit dari duduknya dan berencana menuju ke sekolah si kembar
"Mau kemana kamu?" Tanya Baskara yang berdiri di depan pintu
"A-aku mau keluar sebentar. Aku lapar, Bas." jawab Swari.
Baskara mendorong tubuh Swari kembali masuk ke ruang kerjanya.
Dengan secepat kilat ia menutup mulut Swari dengan kain bius.
"MMMMPPHH!!"
Swari mencoba melepaskan tangan Baskara yang membiusnya.
Tubuh Swari langsung melemas dalam hitungan detik.
Aroma bahan kimia yang tajam merayap masuk ke paru-parunya, memutus kesadaran yang baru saja ia usahakan untuk pulih.
Pandangannya mengabur; sosok Baskara yang menjulang di depannya tampak berganda, sebelum akhirnya semuanya berubah menjadi kegelapan total.
Baskara menangkap tubuh Swari tepat sebelum wanita itu luruh ke lantai.
Ia membopongnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya dengan cepat memasukkan kembali kain bius itu ke dalam laci mejanya yang tersembunyi.
"Maafkan aku, Swari. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu lari lagi sebelum semuanya jelas," bisik Baskara rendah.
Suaranya tidak lagi dingin, melainkan bergetar oleh sesuatu yang menyerupai rasa bersalah yang amat dalam.
Ia menekan tombol interkom di mejanya. "Gandi, bawa mobil ke lift private. Sekarang."
Baskara melangkah cepat melintasi karpet tebal ruang kerjanya.
Tubuh Swari yang lemas terasa begitu ringan dalam dekapannya, sebuah kontras yang menyakitkan dengan beban rahasia yang ia pikul.
Begitu pintu lift pribadi itu terbuka, Baskara segera masuk dan menekan tombol menuju lantai parkir bawah tanah yang eksklusif.
Di dalam ruang lift yang sempit dan berdinding cermin, Baskara terpaksa menatap pantulan dirinya sendiri.
Ia melihat seorang pria yang tampak kalut, sangat jauh dari citra pengusaha dingin yang selama ini ia bangun.
Matanya beralih ke wajah Swari yang bersandar di bahunya.
Dalam tidur paksa ini, raut ketakutan yang biasanya menghiasi wajah wanita itu hilang, menyisakan kecantikan murni yang terlihat begitu rapuh.
"Kenapa setiap kali aku mendekat, kamu selalu terlihat ingin mati, Swari?" gumam Baskara, jemarinya mengusap helai rambut Swari yang menutupi pipi.
Ting!
Pintu lift terbuka di area parkir VVIP. Gandi sudah berdiri sigap di samping Rolls-Royce yang mesinnya sudah menyala.
Wajah Gandi tampak kaku, ia tahu tuannya baru saja melakukan sesuatu yang melampaui batas, namun kesetiaannya jauh lebih besar daripada moralitasnya.
"Ke vila di Puncak, Gandi. Jangan lewat jalan biasa. Dan pastikan ponsel Nona Swari dimatikan," perintah Baskara sambil membaringkan Swari dengan hati-hati di jok belakang yang luas.
"Tapi Tuan, bagaimana dengan anak-anaknya?" tanya Gandi sebelum melajukan mobilnya.
"Hubungi Yudha untuk menjemput mereka dan belikan apa yang mereka mau." jawab Baskara.
Gandi menganggukkan kepalanya dan segera menghubungi Yudha kaki tangan Baskara yang sangat dipercaya setelah Gandi.
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor