Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Terakhir dan Ledakan
CHAPTER 12
Pertarungan sengit antara Shun dan Nine masih terus berkecamuk. Gerakan mereka begitu cepat hingga Yuzuriha dan Frederica kesulitan untuk ikut campur.
"Hahahahah!..." Nine terus menyerang dengan brutal. "Bagus sekali, bocah! Siapa namamu!" Nine menendang Shun hingga terpental jauh.
Shun bangkit dan melesat maju, menyerang Nine secara horizontal. "Namaku Shun! Tapi aku benci jika namaku diingat oleh orang sepertimu!"
Pertarungan mereka sangat cepat, sulit diikuti oleh mata telanjang. Namun, jika diamati dengan saksama, Yuzuriha dan Frederica tahu siapa yang terpojok dalam pertarungan ini.
Ya, Shun lah yang terdesak. Tubuhnya dipenuhi goresan pisau Nine, dari atas hingga bawah. Meskipun tubuh Nine juga terkena goresan belati Shun, namun setiap goresan yang muncul di tubuh Nine entah mengapa malah membuatnya semakin kuat. Itulah mengapa Shun mulai terpojok. Hampir semua serangan Shun berhasil ditangkis oleh Nine.
Shun menghentikan serangannya dan berkata, "Oi, oi, oi! Monster saja kalau kena serangan tidak tambah kuat, loh!"
Shun melepaskan serangannya. Nine yang sedikit tersungkur tiba-tiba langsung ditendang oleh Shun hingga terjatuh ke tanah. Tanpa basa-basi, Shun langsung menerjang Nine dan memukulinya berkali-kali. Saat ini, di pikiran Shun hanya ada pukul dan pukul. Dia merasa kalau ini bukan dirinya.
Karena, Shun yang asli tidak mungkin berani memukuli orang terus-menerus. Saat pukulan yang cukup kuat akan mendarat, Shun mulai mengerti bahwa mentalnya mulai terasah.
Sejak ia berada di Nightshade, berlatih bersama Kai dan bonyok, latihan pertarungan satu lawan satu melawan Emon, dan sampai akhirnya misi pertama ini.
Pukulan itu mendarat, namun... pukulan itu dihentikan oleh Nine. Nine mengangkat tangannya secara paksa.
Dan berkata, "Kau mau tahu kenapa aku semakin kuat?..."
Ia menendang Shun hingga terlempar ke atas. Nine melompat dan memukul Shun kembali ke permukaan, membuat beberapa tulang Shun mengeluarkan suara yang seharusnya tidak ingin ia dengar.
"Karena... AKU MENCINTAI RASA SAKIT!! Setiap seranganmu yang mengenaiku membuatku bersemangat dan sangat ingin membunuhmu, Shun!!" teriak Nine histeris.
Teriakan Nine membuat Shun merinding. Seluruh tubuhnya bergetar. Wajar saja, Shun baru pertama kali bertarung di misi sungguhan dan harus melawan seorang monster berwujud manusia seperti Nine.
Namun, tekad Shun yang ingin menemukan siapa pembunuh orang tuanya membuatnya tersadar bahwa Nine adalah salah satu rintangan yang harus ia lewati.
Pertarungan kembali berlanjut. Serangan demi serangan dilancarkan, ada yang tertangkis dan mengeluarkan percikan api, dan ada juga yang mengenai sasaran.
Yuzuriha dan Frederica hanya bisa terdiam melihat pertarungan itu. Keinginan untuk membantu Shun menghilang karena mereka tersadar bahwa mereka tidak bisa mengikuti cara Shun dan Nine bertarung.
Shun melihat Yuzuriha dan Frederica yang terdiam. Itu adalah kesalahan fatal saat bertarung. Nine langsung menendang wajah Shun dengan keras.
Nine mendekat untuk membalas pukulan Shun tadi. Namun, saat ia akan melancarkan pukulan, Shun menghindar dengan cepat.
Ia berdiri dengan satu tangan dan langsung menendang belakang kepala Nine hingga tersungkur. Gerakan Shun tadi adalah salah satu teknik bertarung saat tersudut yang diajarkan Kai kepadanya.
"Ha... Ha..." Napas Shun tersengal-sengal. "Maaf saja, monster... Kau terkecoh jadinya," Shun tersenyum kecil.
Nine berdiri lagi. Shun terkejut, seharusnya tendangannya tadi bisa membuat orang biasa pingsan. Namun, dengan cepat ia tidak heran lagi.
Karena Nine bukanlah orang biasa. Nine berdiri sambil tersenyum bahagia yang aneh. Matanya memerah karena darah.
"Baru kali ini aku merasakan rasa sakit seperti ini!" Ia menggenggam rambutnya dengan erat.
Melihat ekspresi Nine yang tidak biasa, kembali membuat Shun gemetar. Kali ini berbeda, insting Shun seakan menyuruhnya untuk kabur dari sana.
Karena ia merasa jika melawan Nine saat ini, Shun bisa mati.
Nine bergerak dengan sangat cepat, berlari menuju Shun. Ia menarik lengannya, mengepalkan jari-jarinya, dan saat ia ingin melancarkan serangan...
BOOM!!
Suara ledakan dari belakang Nine terdengar. Nine menghentikan gerakannya. Ternyata ledakan itu berasal dari markasnya.
"Apa!... Deset!" Nine berlari menuju markasnya.
Shun yang melihat itu seakan tidak terima karena Nine berlari begitu saja. Ia mengambil panah kecil di dalam tasnya.
Dan melakukan perubahan yang ketiga. Perubahan ini membuat hidung, mulut, dan matanya mengeluarkan darah. Saat perubahan selesai, ia muntah darah. Kepalanya terasa pusing.
Panah kecil itu berubah menjadi tombak hitam merah yang besar. Dengan sedikit tenaga, Shun melempar tombak itu ke arah Nine.
Nine yang masuk ke markas yang penuh dengan api tiba-tiba tertusuk dari belakang di area perutnya. Ia terjatuh, namun bangkit lagi. Amarah di dalam diri Nine sangat membara.
Ia mencabut tombak yang menembus dari belakang ke depan itu seakan tidak terjadi apa-apa. Nine berjalan dengan langkah gontai. Di belakang ia melihat Deset yang tergeletak tak berdaya.
Napas berat Nine terdengar. "Deset! Deset! Oi, oi, sadar cepat!"
Deset membuka mata dengan susah payah. "Berisik sekali, Nine. Kau pergi saja sana."
"Sial! Sial! Aku terlalu senang melawan Shun!" Nine memukul tanah dengan keras. "Siapa yang meledakkan markas ini dan mengalahkanmu!" tanya Nine serius.
"Ni.. Nin... Ninja," Deset memejamkan mata.
Ya, Deset mati akibat luka yang cukup dalam dan terkena dampak ledakan.
Tapi, bagaimana bisa ledakan itu terjadi?
Saat pertarungan melawan Nine dimulai...
Shinji terbangun dari pingsan karena dipukul oleh Nine dengan cukup keras. Melihat mereka sibuk melawan Nine, Shinji tidak melewatkan kesempatan ini.
Ia bergerak cepat ke arah belakang markas lawan. Setelah sampai, ia melihat penjaga yang menjaga markas itu. Shinji menarik pedang ninja yang ada di punggungnya.
Mengaktifkan Ten. Energi abu-abu melingkupinya. Perubahan di pedangnya tidak terlihat, namun terasa. Bilah pedang itu berubah warna menjadi abu-abu dan juga sangat tajam.
Penjaga itu melihat Shinji dan langsung menembakinya. Namun, itu percuma saja. Dengan kecepatan yang luar biasa, Shinji sudah berada di belakang dua penjaga itu.
Ia berjalan santai, dan tiba-tiba dua penjaga itu terpenggal.
Di dalam markas, ia melihat sekeliling. Di sana ada tiga jeriken minyak bensin.
Ia melangkah mendekat ke arah itu. Shinji membuka tutup jeriken minyak bensin itu dan...
Suara langkah kaki terdengar.
"L-lumayan juga ya... bisa menyusup ke sini," ucap Deset dengan sinis.
Mendengar itu, tatapan Shinji berubah menjadi tajam. Ia mempercepat gerakan dan menebas punggung Deset.
"Diam!..." Ia mengayunkan pedang ninjanya dari darah Deset. "Luka di punggung mungkin bisa membuatmu diam."
Shinji kembali menyerang saat Deset ingin berdiri. Shinji kali ini menyerang di pergelangan kaki. Ia menebas keduanya sekaligus hingga membuat Deset terjatuh dan tidak bisa berdiri. Ia memasukkan pedang ninjanya ke sarung pedang di punggungnya.
Shinji bergerak santai mengambil dua jeriken minyak bensin. Tidak lama kemudian, ia menaburkan minyak bensin itu ke seluruh ruangan.
Ia menarik pedang ninjanya lagi. Ia mengangkat pedang itu dengan satu tangan, dan saat ingin mengayunkan, suara tembakan terdengar.
Ternyata masih ada dua penjaga yang masih hidup. Tanpa basa-basi, Shinji bergerak cepat ke arah mereka dan menebas satu per satu.
Setelah itu, ia langsung mengayunkan pedangnya di dekat minyak bensin. Saat bergesekan dengan tanah yang terselimuti bebatuan, muncullah percikan api karena goresan ayunan pedangnya.
Shinji langsung pergi dari sana karena sebentar lagi akan...
BOOM!
Ledakan dahsyat terjadi.
Kembali ke masa kini setelah ledakan...
Shun yang sudah menggunakan Ten sebanyak tiga kali mendadak pingsan. Yuzuriha langsung mendekat dan menggendong Shun untuk dibawa ke mobil.
"Kenapa harus digendong?" ucap Frederica dengan nada protes. "Kan bisa dirangkul," ia menoleh ke arah Yuzuriha.
"Eeee... biar mudah, hehe," Ia tersenyum dan tertawa kecil.
Saat memasuki mobil, Yuzuriha dan Frederica terkejut karena melihat Shinji berada di dalam mobil.
Mereka semua duduk dan mulai tancap gas menuju Kediaman Nightshade.
"Shinji..." ucap Yuzuriha dengan nada berat. "Dari mana saja kau, haa!" Yuzuriha mengepalkan tangannya.
"Bukan urusanmu," jawab Shinji datar.
Misi pertama Shun yang seharusnya hanya memata-matai malah menjadi misi pertarungan hidup dan mati.
Namun, yang tidak diketahui oleh mereka adalah fakta tentang Nine yang masih hidup dan sedang menuju ke sebuah gedung yang memiliki simbol: wanita buta.
Ya, Nine menuju ke gedung organisasi Justice. Apakah ia akan bertemu dengan Voda?
Yang pasti, sang ninja akan dalam bahaya.