NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tergadai

Cinta Yang Tergadai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Senada

Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.

Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Balada Pagi Hari

Bumi berotasi dengan cepat, cerah telah mengusir gelap kala tugasnya harus segera terlaksana. Menyingsing indah mengiringi manusia memulai hari.

“Ya ampun!”

“Mas, bangun! Kamu kesiangan.” Pekik Anin riweh kala ia yang baru terjaga lantas panik setelah melihat jam menunjukkan tepat pukul tujuh. Harsa jelas terlambat.

Seakan melupakan amarah yang rencananya akan ia hukum Harsa dengan mendiamkan dan mengabaikan pria itu atas kesalahannya semalam, ia malah mengguncang tubuh yang masih terlelap di sisinya itu. Padahal, biasanya saat marah ia memilih tak peduli. Tapi kali ini berbeda, mungkin karena semalam Harsa masih mau membantunya mengurus Zura yang demam hingga amarahnya agak mereda.

“Mas, bangun! Udah jam tujuh, loh ini.” Ia masih berusaha mengguncang tubuh yang begitu pulas dalam lelapnya, tampak tak ingin diganggu.

Anin tahu mereka baru tidur sekitar hampir dua jam, namun suaminya itu harus segera berangkat kerja.

“Mas! Ih, bangun!“ pekik Anin kesal dan langsung beranjak ke kamar mandi. Terserah saja jika suaminya itu masih ingin tidur.

Begitu Anin beranjak, Harsa tampak menguap, “Huaaammm ....” Laki-laki itu merentangkan tangan, meregangkan otot yang terasa pegal dan kaku efek salah tidur plus kurang tidur membuat tubuhnya terasa lemas.

Mata yang masih berat itu sayup-sayup mengedar ke seantero ruang, menelisik kamar mereka yang sudah seperti kapal pecah dengan berbagai macam barang berserakan di lantai dan tepat saat matanya tertuju pada benda yang dicari, Harsa bereaksi kaget persis seperti Anin tadi. Belum lagi siang ini ia ada jadwal BAP (Berita Acara Pemeriksaan).

“Ck, buset, udah jam tujuh aja,” decaknya sambil menggaruk wajah, ia pun segera melipir menyusul sang istri.

Dibukanya begitu saja pintu toilet di sudut kamar yang memang tidak pernah mereka kunci digunakan, toh kamar mandi pribadi di dalam kamar–menampakkan Anin yang tengah gosok gigi, wanita itu sekilas melirik padanya.

“Ini udah telat banget. Jam segini pasti udah macet-macetnya.”

“Berangkat sekarang pun pasti tetap gak keburu, tetap telat. ” Harsa mengoceh seraya membuka tutup closet, ia membuang urin setelah sedikit menurunkan bagian depan celana pendeknya.

“Coba kalau pipis tuh duduk atau jongkok, kalau gitu semua bakal kena percikan!” tegur Anin dengan tatapan sinis, suaranya agak tak jelas karena mulut yang berbusa.

“Udah kebelet.”

Anin hanya melengos. Lalu kembali berkata, “salah sendiri!”

Membuat Harsa yang balik melengos, tahu jika Anin akan segera membahas kesalahannya semalam. Hmm, padahal tadi ia sempat berpikir bahwa Anin sudah tak marah karena mau membangunkannya. Tapi bukan perempuan namanya jika tak mengungkit kesalahan prianya. Ini adalah masalah internasional kaun Hawa.

“Mabuk aja tiap hari, terus pulang tengah malam.”

“Ya, kan pulangnya cepet, loh, Nin.” Harsa mencoba membela diri dengan nada serendah mungkin, takut dikira nyolot dan membantah kalau ia tak mengontrol suara. Anin dalam mode marah tuh nyeremin, Harsa gak sanggup ngehadepin.

“Begadangnya kan karena kita jagain Zura, loh, ibu.”

Anin menoleh sinis, ia mencebikkan bibir. Kesal sekali mendengar mulut manis itu. “Oh, jadi jam dua belas lewat tuh termasuk pulang cepat, ya?”

“Lagian jagain anak sendiri aja kamu ngeluh, giliran begadang karena ngumpul sambil mabuk aja dianggap benar.”

Dan Harsa yang baru ingin membele diri lantas urung begitu melihat kilat emosi dari wanita yang kini tengah cuci tangan itu kian memuncak. Sepertinya ia lebih baik diam saja untuk cari aman.

Anin berdecak, “terserah deh. Mau kamu salah sekali pun pasti tetap merasa benar.”

“Sia-sia ngomong sama kamu, tuh.”

Harsa hanya bisa diam melihat istrinya melengos sambil menatapnya julid. Ia lebih memilih langsung mandi saja biar segar daripada menghadapi Anin yang masih diliputi emosi.

“Mau ke mana?” Namun, Harsa yang katanya mau mandi itu malah mencondongkan kepala untuk mengintip ke luar–kepo saat mencium aroma parfum Anin menguar hingga ke toilet. Ia penasaran.

“Mau ke Klub, cari minuman buat mabuk!”

Sialan! Anin memang ahli sarkas dan ia hanya bisa menghela napas resah sambil mengelus dada. Hmm, Istriku gini amat, ya Tuhan. Harsa menjerit tragis.

“Ya, mau cari makan lah, mau cari apa lagi emang? Emang kamu? Yang taunya cuma cari minum doang?”

Double kill. Harsa akui ia telah kalah, mati kutu jika sudah disinggung parah begini. Artinya kesalahannya memang sangat besar dan ia akui itu. Tapi haruskah Anin sekejam ini? Ia bertanya-tanya dalam hati.

Hening.

Keduanya tak ada lagi yang bersuara sebelum Anin kembali bertanya, “Hari ini sarapan makanan jadi dulu aja ya, aku beliin nasi warteg mpok Eti aja?!”

Meski begitu, Bibirnya melengkung menahan senyum mendengar ucapan istrinya. Ia senang karena Anin masih memedulikannya walau sedang marah.

“Eh, gak usah repot-repot. Aku makan di kantor aja nanti. Udah gak keburu juga.”

“Nanti kamu capek, lagi.” Dan ia malah sok jual mahal, bertingkah layaknya kebanyakan sifat khas wanita saat sedang ngambek. Ingin dibujuk dan dipaksa dan ia malah ikut memakai trik itu. Sungguh Harsa lelah dimarahi dari semalam, ia ingin dimanja oleh istrinya. Apalagi pagi ini ia memang agak turn on lagi, ia butuh Anin. Hmmm, dasar jantan! Soal Hasrat, jelas ia tak bisa mengendalikan, seks adalah pelarian terbaik saat pusing. Dan Harsa menyesal malah memilih minuman sebagai pelarian dibanding bercinta dengan Anin yang jelas lebih hala, aman dari masalah.

“Makan di kantor apanya?”Anin menyergah cepat. Membuat Harsa tersentak, bayang-bayang mencumbu Anin lenyap karena ucapan ketus wanitanya.

“Yakin banget aku kamu gak bakalan langsung sarapan. Mana sempet, paling langsung sibuk.” Anin menyahut ketus. Ia yakin laki-laki itu tak akan sempat sarapan kalau sudah bilang begitu.

“Mau maag kamu kambuh lagi? ” Anin masih berseloroh, ia melangkah ke depan rak custom serbaguna dan mencari dompetnya. Tak lupa pula ia mengecek Zura, takut anaknya akan segera terjaga sementa anak itu baru bisa tidur nyenyak setelah demamnya agak reda. Tak lupa juga Anin mengatur kecepatan ayunan listrik itu agar tak terlalu kencang.

Setelahnya ia langsung melipir ke luar.

“Soto ayamnya tambahin daging sapi, Nin.”

“Itu yang katanya gak usah sarapan? ” sindir Anin lagi sambil mencebik, ia yang sudah hampir menutup pintu kembali menceloskan kepala ke dalam, menatap Harsa dengan ekspresi julid maksimal. Suaminya itu baru ke luar dari toilet.

Sementara Harsa, selepas Anin menutup pintu, ia hanya bisa manggut-manggut seraya mengasihani diri. Mengusap dadanya pelan agar lebih sadar dan tahu diri karena ini memang salahnya.

.

.

Wanita dengan setelan piyama motif pita berwarna pink pastel mix putih itu sebenarnya hendak pergi dengan berjalan, tapi karena mengingat waktu yang mepet, akhirnya Anin lebih memilih menggunakan sepeda motor ke ujung pengkolan sana.

“Mau ke man lo, Nin?” Nana yang sudah akan berangkat kerja menyapa.

“Biasa, mau cari sarapan.”

“Sana, berangkat gih, Na. Ntar kesiangan,” lanjut Anin setelah menutup pagar lalu naik kembali ke motor matic berbadan besar itu.

“Lah, udah jam berapa nih, dan lu baru gerak nyari makan sekarang?” Nana yang bisa menebak jika Anin kesiangan hanya bisa terkekeh kala istri Harsa itu sudah melajukan motor ke arah warung mpok Eti di ujung sana setelah mencebik padanya.

Udara pagi yang segar Anin hirup dalam-dalam seraya menatap Nana dari kaca spion tengah mengejeknya. Ia melajukan motor dengan sesekali menyapa ramah orang yang dikenal yang dilalui.

Pikiran yang semalam berkecamuk lantaran pertengkaran dan demam yang dialami Zura sedikit membuat Anin lebih rileks, tubuh yang sebelumnya berat mendadak lebih ringan.

Anin mengembuskan napas gusar.

Riweh. Satu kata yang menggambarkan kondisi keluarga kecil mereka pagi ini. Bangun telat dan harus buru-buru seperti ini sebenarnya agak melelahkan karena terasa seperti dikejar waktu dan ia paling tak suka itu.

Dan tak sampai lima menit, akhirnya Anin tiba di warung mpok Eti.

“Eh, Anin.” Wanita paruh baya itu menyapa ramah. “Tumben lu baru dateng jam segini, Nin?”

“Assalamualikum ....” Sebagai seorang yang berbudi pekerti luhur seperti kata Harsa setiap kali membual tentang dirinya, tentu Anin harus mengucap salam terlebih dulu.

“Hehe, iya mpok. Kesiangan, soalnya anak saya semalem rewel, demam.”

“Waduh ... pantes aje lah kalo gitu, Neng.” Mpok Eti turut prihatin. “Ngomong-ngomong mau yang mane nih, neng Anin?” tanya mpok Eti saat Anin tengah sibuk memerhatikan berbagai macam masakan jadi dan kue-kue tradisional serta gorengan yang ada.

“Emmmm, soto ayamnya dua. Sama ayam goreng tiga iris aja, orek telur, terus ... ini juga,” tunjuk Anin menentukan, pilihan terakhirnya jatuh pada sayur asem komplit. Mengingat Zura sedang sakit, ia pasti akan kesulitan masak. Jadi, daripada repot, lebih baik ia beli saja agar bisa agak santai dan tinggal menyelesaikan pekerjaan rumah yang lain.

Mpok Eti mengangguk paham, lalu mulai meracik rangkaian isian soto ayam ke mangkuk yang menjadi ukuran satuan porsi dagangannya.

“Ini buat Pak Jaksa kan, yak?” teba mpok Eti yang memang sudah sangat hafal menu makanan tetap yang dipesan keluarga mereka. Apalagi sebelum menikah dengan Anin, Harsa memang sudah jadi langganan tetap selama kurang lebih hampir empat tahun tinggal di komplek perumahan ini.

Anin tersenyum memberi jawaban.

“Berarti pakai tambahan daging kan, yak?” Mpok Eti kembali memastikan yang mana membuat Anin mengangguk lagi. Ia terkekeh menyadari betapa mpok Eti bahkan sudah sangat hafal soal Harsa, walau ia tadi sempat lupa menjelaskan.

Anin terus memerhatikan betapa cekatannya wanita 40 tahun, berdarah Betawi-Sunda ini mengemas pesanannya satu-persatu.

“Sama gorengannya 10 ribu deh, mpok. Campur ya.”

“Semua ini dicampur?” tanya Mpok Eti memastikan, ditunjuknya semua jenis gorengan yang ada di boks per-jajanan itu.

“Iya. Bisa kan, mpok?”

“Bisa dong, neng. Ya kali gak bisa.”

Anin lantas tersenyum.

“Ini, neng. Semuanya 95 rebu.”

Anin lalu meraih kresek belanjaannya, memberikan uang merah dan langsung pulang begitu diberi kembalian dan berpamit.

.

.

Di rumah, Harsa tengah mengancing kemejanya setelah sempat membereskan kamar mereka agar lebih meringankan pekerjaan Anin. Tepat sampai pada kancing terkahir, Zura malah menggeliat. Membuat ia buru-buru meraih buah hatinya itu.

“Ouw, sayangnya Papa udah bangun?” Ia berseloroh sembari mengangkat tubuh gembul Zura dari kain ayunan.

“Kenapa cepet banget bangunnya? Bobonya belum lama loh, padahal.” Didekapnya tubuh yang masih agak hangat meski demamnya tak setinggi semalam.

Membuat Harsa kian khawatir. Ia berpikir untuk izin saja hari ini lalu akan membawa Zura ke dokter. Toh, kasian Anin jika harus pergi sendiri.

Rencananya tadi ia akan menjemput saat jam istirahat lalu sama-sama membawa Zura ke dokter, tapi ia langsung berubah pikiran begitu melihat kondisinya pagi ini. Ia tak sampai hati kalau harus menunda Zura untuk diperiksa.

Zura meringkih seraya menggeliat, tampak tak nyaman dengan suhu tubuhnya.

“Tunggu mama bentar ya, abis itu kita ke dokter.” Dikecupnya pipi Zura seraya mengusap lembut punggung bayi yang berbalut jumper panjang berlengan pendek, ia lalu melangkah membawanya keluar dengan hanya mengenakan kemeja dan bagian bawahnya hanya berbungkuskan bokser. Tampilan Harsa agak cringe memang dan meski demikian, entah mengapa suami Anin itu tetap kelihatan keren memesona.

Seraya melangkah turun, tak lupa Harsa membuka satu persatu gorden jendela terlebih dulu. Juga tak lupa mematikan lampu yang masih menyala. Begitu di ruang tamu, ia mendudukkan diri di sofa sambil menunggu Anin di sana, tempat di mana semalam Anin memarahinya. Hmm, kini Harsa sudah mengingat jelas bagaimana semalam Anin mencecarnya. Istrinya itu jelas menangis dan frustasi menghadapinya.

Harsa mengulas senyum saat menatap Zura yang tampak anteng dalam dekapan. Ia mengecup pipi hangat putrinya. Anin telah memberinya kebahagiaan yang sangat tak ternilai ini. Ia memang dilanda masalah, tapi tak seharusnya ia membuat wanita yang sudah mau menyerahkan hati dan hidup padanya itu sedih dan terluka. Harsa mengaku salah, ia menyesal.

“Loh, Zura bangun?”

Suara Anin yang tiba-tiba menyergah membuat Harsa yang sempat melamun sontak menoleh. Ia tak mendengar suara motor bahkan pagar dan pintu yang terbuka. Anin tiba-tiba sudah ada di hadapannya saja, ia terkejut.

“Gaya kamu nggak banget, mas!” seloroh Anin sembari terkekeh saat menyadari outfit suaminya yang hanya menggunakan kemeja tapi bagian bawahnya seksi, belum lagi kaos kakinya sudah terpasang membuat tampilannya tampak aneh.

Harsa pun ikut tersenyum menyadari tampilannya.

“Kayak orang mabuk!”

Damn! Harsa yang sudah sempat senang melihat reaksi istrinya ternyata malah dihempaskan begitu saja. Wanita ini memang agak kejam. Harsa lantas memutar mata jengah, diikutinya Anin melangkah menuju dapur yang langsung menghadap taman mini dengan pintu geser sebagai sekatnya.

“Ya, mau gimana. Orang belum siap, Zura udah bangun minta digendong.”

“Udah gak sempat pakai calana, daripada dia nangis?!” Harsa memilih buka suara untuk menjelaskan situasinya. Tak terima Anin masih mengiranya dalam pengaruh alkohol. Tuduhan itu terlalu kejam untuk niat baiknya.

Anin manggut-manggut seraya mencebik. Meski masih agak kesal, tapi ia dibuat senang karena suaminya selalu bisa menjalin kerjasama dengan baik. Harsa selalu bisa diandalkan. Jadi, kali ini ia tak berniat mengungkit masalah dan lanjut marah. Anin memilih damai. Entah kalau nanti?!

“Sini, nak, sama Mama. Biar Papa sarapan dulu.” Begitu selesai menyajikan makanan ke wadah, Anin lalu mengarahkan tangan untuk meraih Zura. Harsa harus segera sarapan, ia harus mengejar waktu.

Namun, alih-alih menyerahkan Zura, Harsa lebih memilih duduk dan mulai menyantap makanan yang sudah Anin sajikan ke mangkuk dan piring yang lengkap berisi nasi.

“Aku udah izin gak masuk hari ini,” ujarnya yang lebih dulu menyeruput kuah soto lalu menyuap nasi setelahnya. Ia makan sambil memangku anaknya, membuat aura ke-bapakan seorang Harsa Adiwijaya terpancar nyata. The real cowok mateng yang sesungguhnya.

Sambil mencomot satu buah gorengan Anin menyerngit dengan ekspresi heran disela hatinya yang berdebar–sekali lagi kagum dengan sikap suaminya. Ia terharu dan ia sangat menyayangi laki-laki ini jika ia sedang tidak buat onar dan membuatnya kesal.

 'Kenapa gitu?' kalimat itu mendefinisikan apa yang tersirat di wajah Anin. Namun ia tak mengeluarkan suara sebab sibuk mengunyah gorengan sembari menatap kagum suaminya yang entah sudah keberapa kali membuatnya jatuh hati.

Dan Harsa yang paham isi benak Anin pun lekas menjawab, “kita ke dokter aja, kasian kamunya juga. Bakal kewalahan ngurus Zura sendiri kalau kondisinya gini.”

..........

1
kalea rizuky
klo harsa selingkuh cerai nin harsa ini g bs move on kayaknya dr mantannnya
kalea rizuky: orang pendiem itu malah yg rawan selingkuh kak /Curse//Curse/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!