Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Cintya terdiam sesaat, tatapannya terarah ke cangkir teh yang masih menguap hangat di tangannya, tangan yang lainnya tak bisa diam begitu saja, mengetuk-ngetuk dagunya seolah berpikir keras. Sementara Arkana dan Rico saling menatap dengan tatapan penasaran akan jawaban gadis di hadapannya.
"Rencana ya ...?" cetusnya pelan, memutar cangkir teh di tangannya. "Hmm! Gue belum tahu, sih Kak. Tapi yang pasti aku akan kembali ke duniaku yang dulu, bekerja dan mencari kontrakan baru. Gue gak mau terus-menerus merepotkan May di sini, lagian sekarang baby Al sudah lebih aman sekarang sama keluarganya."
Arkana mengangkat alis, tapi tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Cintya dengan ekspresi datar, membiarkan gadis itu mengambil keputusan sendiri, dan dia sudah punya cara sendiri untuk melindungi gadis itu.
Rico tersenyum, menyadari betapa mandirinya Cintya. "Bagus banget, Cin. Sebagai bosmu di cafe, Kakak setuju banget kalau kamu mau kembali kerja." tambah Rico semangat.
May muncul dari dapur, membawa mangkuk kacang rebus. "Benarkah! Akhirnya kita bisa seru-seruan bareng lagi di cafe, dan cafe jadi semakin ramai lagi deh kalau ada lo!" seru May ikut senang akan keputusan sahabatnya itu.
Cintya tersenyum, merasakan perhatian yang tulus dari kedua orang itu. "Terima kasih ya, Kak Rico, May. Kalian selalu ada di saat gue butuh," balas Cintya tulus.
Tiba-tiba dering ponsel Arkana berbunyi nyaring. Semua mata beralih pada Arkana. Arkana gegas merogoh saku jaket dan mengambil ponselnya, ia gegas menekan tombol sambung setelah tahu siapa penelponnya. "Baik, Dav. Gue akan segera ke markas."
Ia menutup telepon dan berdiri. "Maaf gue harus pergi sekarang!"
Cintya ikut berdiri dengan tatapan khawatir, tapi ia tak berani bertanya. "Baiklah, Kak. Sekali lagi terima kasih ya, udah nganterin aku sampai ke kontrakan dengan selamat tanpa lecet sedikitpun," ucapnya tulus.
Arkana hanya mengangguk singkat, tanpa menambah kata apapun, lalu melangkah pergi ke mobilnya dengan langkah lebar.
Setelah Arkana pergi, Rico melirik jam di tangannya. "Wah, udah larut banget nih. Kakak juga harus pamit," seru Rico menatap dua gadis cantik di hadapannya dengan senyum manisnya.
Ia mendekati Cintya dan menepuk bahunya lembut. "Jangan khawatir terlalu banyak tentang Al ya. Dia aman di mansion. Kalau mau lihat dia kapan saja, bilang aja Kakak, Kakak akan antarin," tambahnya lembut.
"Terima kasih, Kak Rico. Sampai jumpa besok di cafe," ucapnya dengan senyum lebarnya.
Setelah Rico pergi, hanya tersisa Cintya dan May. Keduanya membersihkan meja sambil ngobrol, "Enggak nyangka banget, malam ini bener-bener penuh kejutan ya, Cin. Dari kamu hilang sampe ketemu cowok tampan, tapi datar yang ternyata pamannya baby Al. Terus si Bos ternyata sepupunya dari mendiang Mammi-nya baby Al dan bisa di kata juga pamannya baby Al."
Cintya mengangguk, tapi pikirannya masih tak tenang sepenuhnya. "Iya, ya." jawabnya sekenanya saja.
"Yuk, istirahat deh. Besok kamu harus buka cafe bareng Gue, kita harus bangun cepat," ajak May seolah mengerti apa yang dirasakan Cintya.
Mereka masuk ke kamar yang sempit tapi bersih dan nyaman. May langsung terlelap setelah mengantikan baju dengan baju tidurnya. Sedangkan Cintya masih sibuk dengan pemikirannya, menatap kosong langit-langit kamar, mata masih terjaga. Lalu mengalihkan pandangannya ke sampingnya, tempat yang biasanya ditempati baby Al saat tidur sambil dipeluknya.
"Al ... apa kamu tidur nyenyak di sana? Apa kamu kangen sama Bunda? Apa para pelayan itu ngasih susu yang kamu suka?" pikirannya berputar-putar tanpa henti. Rasanya seperti ada bagian dari dirinya yang hilang, perasaan kosong yang sulit dihilangkan.
"Bunda yakin Pus, pasti sedang mojok sama gebetannya!" kekeh Cintya membayangkan Pus yang sedang pacaran sama kucing imut itu.
"Andai Bunda punya ilmu teleportasi, Bunda pasti udah pindah ke sisi kamu Al, Bunda rindu, ingin rasanya memelukmu disana!" gumamnya pelan, hingga rasa kantuk akhirnya menghampirinya dan iapun menyelami alam mimpi.
_____&____&____
Matahari sudah mulai muncul dari balik jendela kamar. Malam yang panjang itu akhirnya berlalu, dan pagi menyapa dengan cahaya keemasan yang lembut. Cintya masih terlelap di alam mimpi tanpa terusik sedikitpun.
May yang terbangun lebih dulu tak mengusik Cintya, ia tahu Cintya pasti telat tidur makanya ia terlihat sangat nyenyak di pagi hari. Ia berencana akan membangunkan Cintya setelah membuat sarapan nanti.
Setengah jam kemudian Cintya mulai menggeliat pelan di bawah selimut, sinar matahari yang hangat, menembus tirai jendela mengusik tidurnya.
Cintya gegas bagus, duduk di atas ranjang sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Dah pagi aja!" gumamnya sambil menguap kecil menahan rasa kantuk yang masih tersisa.
Dengan langkah lemas ia meraih handuk yang mengandung di daun pintu, lalu menyeret kakinya ke kamar mandi, matanya masih setengah terpejam. "Pagi May!" sapanya saat berpapasan di pintu kamar mandi.
"Pagi! Udah bangun rupanya, baru aja gue mau bangunin lo. Tumben lo nyenyak di pagi hari, pasti semalam bergadang sambil mikirin pamannya Al yang tampan rupawan itu, kan?" goda May dengan senyum jahilnya.
"Gue masih waras May, lagian ngapain mikirin dia coba!" ketus Cintya kesal pagi-pagi udah di goda May.
"Masak sih, lo sama sekali gak terpesona sama tuh cowok?" lanjut May penasaran melihat reaksi Cintya yang biasa aja.
"Gak tuh, waktu dan pikiran gue masih fokus cari uang, buat kelangsungan hidup gue di masa depan."
"Cepat minggir, nanti kita telat ke cafe!" usir Cintya sambil mendorong pelan tubuh May yang masih terlilit handuk putih di badannya.
"Iya-iya, sekarang aja bilang gak-gak nanti pas dah sadar, dan di rebut orang baru nangis di pojokan," cibik May sambil berlalu ke kamar untuk bersiap.
Cintya tak menghiraukan ocehan May, ia gegas masuk ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian ia keluar dengan wajah yang lebih fresh, aroma sampo dan sabun menguar di udara membuat suasana rileks.
****
Kini kedua gadis abrusd itu sudah ada di jalan menuju ke cafe dengan mengendarai motor metic warna merah milik May.
Di persimpangan mereka harus berhenti karena Lampu merah.
Bertepatan dengan sebuah mobil sport hitam mengkilap juga ikut berhenti tepat di samping motornya Cintya.
"Cin! Bukannya itu mobil pamannya baby Al ya?" tunjuk May semangat pada Cintya.
Setelah mengamati beberapa saat, Cintya menggangguk pelan. "Iya keknya!" sahut Cintya cuek.
Bertepatan kaca mobil itu di buka, "Hay girls!" sapa Devano sambil mengedipkan matanya pada arah Cintya dan May.
Arkarna yang duduk di samping ikut menoleh penasaran, siapa korban si buaya kadal, kali ini!
"Cintya!" reflek Arkana menyebut nama Cintya saat tahu siapa gadis yang sedang di goda Devano.
Bersambung ....
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus